Banyu Capital

IHSG Turun 1,53% dan 542 Saham Melemah, tetapi Net Sell Asing Menyusut ke Rp688 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Tekanan yang terlihat pada sesi I berlanjut lebih dalam hingga penutupan. IHSG sempat jatuh ke 6.230,097 dan 10 dari 11 sektor melemah, tetapi net foreign sell All Market justru mengecil dari sekitar Rp775 miliar pada Midday menjadi Rp688 miliar.

Dashboard Market Notes EOD 11 Agustus 2026: IHSG turun 1,53%, 542 saham melemah, dan net foreign sell Rp688 miliar
Dashboard EOD 11 Agustus 2026. IHSG turun 1,53% ke 6.267,880 dengan 542 saham melemah, sementara net foreign sell All Market menyusut menjadi sekitar Rp688 miliar. Sumber: Bursa Efek Indonesia, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, dan CNBC Indonesia.

IHSG memperdalam koreksi dari 0,87% pada Midday menjadi 1,53% saat penutupan Selasa, 11 Agustus 2026. Indeks berakhir di 6.267,880 setelah sempat jatuh ke 6.230,097, sementara jumlah saham yang melemah bertambah dari 466 menjadi 542.

Tekanan harga dan breadth memburuk, tetapi foreign flow tidak bergerak searah. Net foreign sell All Market justru menyusut dari sekitar Rp775 miliar pada Midday menjadi Rp688 miliar pada EOD. Ini membuat pelemahan hari itu lebih tepat dibaca sebagai tekanan pasar yang luas, bukan akselerasi jual asing.

Tekanan Sesi I Bertahan dan Membawa IHSG ke Low Baru

IHSG membuka perdagangan di 6.383,810 dan sempat mencapai level tertinggi 6.388,581. Penguatan awal itu tidak bertahan. Indeks berbalik melemah dan pada sesi II jatuh hingga 6.230,097 sebelum ditutup di 6.267,880.

Dibanding posisi Midday di 6.309,905, IHSG kehilangan sekitar 42 poin lagi pada sesi II. Titik terendah juga bergeser turun sekitar 61 poin dari low sesi I di 6.291,195.

Pergerakan tersebut mengonfirmasi bahwa tekanan pada sesi pertama tidak berubah menjadi false breakdown intraday. Meski demikian, indeks tidak berakhir di titik terendah dan memantul hampir 38 poin sebelum penutupan.

RTI Business mencatat nilai transaksi All Market sekitar Rp14,51 triliun dengan volume 35,40 miliar saham dan frekuensi sekitar 2,20 juta kali.

Pantulan dari low menunjukkan tekanan mereda menjelang penutupan, tetapi belum cukup untuk mengonfirmasi stabilisasi. Perdagangan berikutnya akan menentukan apakah area low 11 Agustus dapat dipertahankan.

542 Saham Turun Menunjukkan Pelemahan Semakin Lebar

Sebanyak 542 saham berakhir melemah, berbanding 141 saham yang menguat dan 108 saham yang tidak berubah. Rasio saham turun terhadap saham naik mencapai sekitar 3,8 kali, memburuk dari sekitar 2,9 kali pada Midday.

Tekanan juga terlihat di kelompok small-mid cap. IDX SMC Composite turun 1,74% dan IDX SMC Liquid melemah 1,68%, keduanya lebih dalam daripada IHSG yang turun 1,53%.

Secara sektoral, 10 dari 11 sektor berakhir negatif. Industri turun paling dalam 3,49%, disusul siklikal 2,68%, teknologi 2,57%, properti 1,89%, bahan baku 1,79%, dan energi 1,78%. Healthcare menjadi satu-satunya sektor yang menguat, sebesar 0,19%.

Sejumlah saham besar tetap memberi tekanan signifikan. DCII mengurangi IHSG sekitar 9,76 poin, disusul BBCA 6,62 poin, ASII 5,29 poin, AMMN 5,05 poin, dan BMRI 4,90 poin.

Namun, LQ45 dan IDX30 turun lebih ringan, masing-masing 1,31% dan 1,23%. Tekanan karena itu tidak hanya datang dari beberapa saham berkapitalisasi besar. Pelemahan small-mid cap dan breadth yang semakin negatif menunjukkan tekanan sudah menyebar lebih luas.

Asing Tetap Net Sell, tetapi Tekanan Jual Tidak Berakselerasi

Investor asing tetap mencatat penjualan bersih pada akhir perdagangan. Stockbit dan RTI Business menunjukkan net foreign sell All Market sekitar Rp687,80 miliar, sangat dekat dengan angka resmi Bursa Efek Indonesia sebesar Rp687,84 miliar.

Pada Regular Market, asing mencatat net sell sekitar Rp279,98 miliar. Sekitar Rp407,82 miliar berasal dari pasar tunai dan negosiasi.

Posisi kumulatif net sell mengecil sekitar Rp87 miliar dibanding Midday. Data yang tersedia tidak memisahkan arus asing sesi II secara resmi, sehingga perubahan tersebut tidak dapat dibaca sebagai net buy sesi II.

Di tingkat saham, aliran asing tetap selektif.

Top 10 Net Foreign Buy

Saham Net Foreign Buy
BBRI Rp176,55 miliar
ANTM Rp75,11 miliar
AMMN Rp68,12 miliar
BRPT Rp35,02 miliar
INCO Rp28,07 miliar
AMRT Rp25,87 miliar
TINS Rp25,27 miliar
BRMS Rp23,42 miliar
GGRM Rp20,46 miliar
INKP Rp18,30 miliar

Top 10 Net Foreign Sell

Saham Net Foreign Sell
TPIA Rp173,46 miliar
BMRI Rp169,20 miliar
DSSA Rp136,99 miliar
ASII Rp67,29 miliar
BBCA Rp64,83 miliar
PGAS Rp27,69 miliar
BUMI Rp23,75 miliar
JECX Rp19,03 miliar
TLKM Rp15,92 miliar
BREN Rp15,16 miliar

Arus asing tetap selektif. BBRI menjadi tujuan pembelian asing terbesar, sementara BMRI dan BBCA berada di sisi jual. ANTM dan AMMN juga mencatat net foreign buy, sedangkan TPIA dan DSSA termasuk saham dengan penjualan asing terbesar.

Karena itu, net sell agregat belum cukup menjelaskan seluruh koreksi. Pada 11 Agustus, harga dan breadth memburuk lebih cepat daripada foreign flow.

Rupiah Melemah, tetapi Pasar Regional Bergerak Campuran

JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.824 per dolar AS, melemah sekitar 0,16% dari Rp17.795 sehari sebelumnya. Yield SUN 10 tahun berada di sekitar 7,226%. Keduanya menambah variabel risiko domestik, tetapi belum cukup menjelaskan koreksi IHSG secara tunggal.

Bursa Asia juga bergerak campuran, dengan Nikkei dan Kospi menguat sementara Hang Seng dan Shanghai melemah.

Kondisi lintas aset dapat memperbesar atau meredakan tekanan, tetapi data hari itu belum menunjukkan faktor eksternal sebagai penyebab tunggal koreksi IHSG.

Yang Perlu Dibuktikan pada Perdagangan Berikutnya

Low 6.230,097 menjadi referensi pertama. Pengujian atau penembusan kembali area tersebut, terutama jika disertai breadth yang tetap lemah dan net foreign sell yang membesar, akan mengonfirmasi bahwa tekanan 11 Agustus masih berlanjut.

Sebaliknya, kemampuan IHSG menjauh dari low dan kembali ke sekitar 6.300 akan menjadi tanda stabilisasi awal jika diikuti perbaikan breadth, bertambahnya sektor yang menguat, dan foreign flow yang lebih konstruktif. Rupiah dan yield SUN menjadi indikator tambahan untuk melihat apakah tekanan lintas aset ikut mereda.

Bukti terpenting berikutnya bukan sekadar apakah IHSG naik atau turun pada 12 Agustus, tetapi apakah pergerakan harga mendapat konfirmasi dari breadth dan foreign flow.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes