Banyu Capital

IHSG Naik 0,75% dengan 399 Saham Menguat, tetapi Asing Kembali Net Sell Rp355 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Breadth pasar tetap luas dan 10 dari 11 sektor menguat, tetapi sebagian konfirmasi positif sesi 1 hilang menjelang penutupan. IHSG berakhir hampir di titik terendah harian, LQ45 dan IDX30 berbalik negatif, sementara foreign flow berubah dari net buy menjadi net sell.

Penguatan IHSG pada Selasa, 18 Agustus 2026, bertahan sampai akhir perdagangan, tetapi bentuknya berubah dibanding sesi 1. Indeks masih naik 0,75% dan RTI Business mencatat 399 saham menguat, sementara saham paling likuid tidak ikut mempertahankan momentum yang sama.

IHSG turun dari 6.482,57 pada Midday menjadi 6.449,83 saat penutupan. Pada periode yang sama, posisi asing berubah dari net buy Rp112,88 miliar menjadi net sell Rp355,17 miliar.

Kombinasi tersebut membuat perdagangan 18 Agustus lebih tepat dibaca sebagai penguatan yang belum seragam. Partisipasi saham dan sektor masih konstruktif, sementara posisi penutupan, saham likuid, dan arus asing memberikan konfirmasi yang lebih lemah dibanding sesi 1.

Dashboard Market Notes EOD BEI 18 Agustus 2026 yang merangkum IHSG, breadth pasar, indeks saham likuid, foreign flow, dan kontributor indeks
IHSG masih naik 0,75% pada 18 Agustus 2026 dengan 399 saham menguat dan 10 dari 11 sektor positif, tetapi indeks ditutup dekat level terendah harian, LQ45 dan IDX30 melemah, serta investor asing kembali mencatat net sell.

IHSG Tetap Naik, tetapi Momentum Sesi 1 Tidak Bertahan

Berdasarkan Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup di 6.449,83, naik 47,94 poin atau 0,75%. Indeks sempat mencapai 6.490,65 dan menyentuh level terendah 6.448,26. Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp14,81 triliun dengan volume 32,07 miliar saham.

Posisi penutupan menjadi bagian penting dari pembacaan hari ini. IHSG berakhir hanya sekitar 1,57 poin di atas titik terendah dan 40,82 poin di bawah titik tertinggi.

Perubahannya cukup besar dibanding Midday. Pada sesi 1, IHSG masih berada di 6.482,57 atau sekitar delapan poin di bawah high. Sampai akhir perdagangan, indeks kehilangan 32,74 poin dari posisi tersebut.

Secara harian, IHSG tetap menguat 47,94 poin dari penutupan sebelumnya. Yang berubah adalah posisi indeks di dalam rentang perdagangan. Kemampuan bertahan dekat puncak harian yang terlihat pada sesi 1 tidak bertahan sampai penutupan.

Breadth Tetap Luas, Divergensi Muncul di Saham Likuid

Pelemahan pada sesi 2 tidak menyebar ke seluruh pasar. RTI Business mencatat 399 saham menguat, 236 melemah, dan 159 tidak berubah. Rasio saham naik terhadap saham turun masih sekitar 1,69 kali.

Sepuluh dari sebelas sektor juga berakhir positif. Energy naik 2,24%, Infrastructure 1,65%, Transportation & Logistic 1,42%, Properties & Real Estate 1,21%, dan Consumer Non-Cyclicals 1,03%. Financials menjadi satu-satunya sektor negatif dengan penurunan 0,29%.

Perbedaannya muncul pada kelompok saham paling likuid. LQ45 turun 0,20% dan IDX30 melemah 0,35%. Sebaliknya, IDX SMC Composite naik 1,09% dan IDX SMC Liquid menguat 1,64%.

Artinya, partisipasi pasar tetap luas, tetapi kepemimpinannya tidak datang dari kelompok saham likuid terbesar.

Perbedaan tersebut juga terlihat pada kontribusi poin IHSG. BYAN naik 19,97% dan menyumbang sekitar 46,85 poin. BRMS menambah sekitar 3,72 poin dan EMAS 2,33 poin. Di sisi lain, BBRI menjadi pemberat terbesar dengan -5,84 poin, disusul BBCA -4,41 poin.

Kontribusi BYAN sendiri setara sekitar 97,7% dari kenaikan bersih IHSG sebesar 47,94 poin. Ini menunjukkan bahwa kenaikan bersih indeks berbobot kapitalisasi sangat terkonsentrasi pada satu kontributor besar, meskipun jumlah saham yang menguat tetap jauh lebih banyak daripada yang melemah.

Dengan kata lain, breadth yang luas dan konsentrasi kontribusi indeks terjadi secara bersamaan.

Asing Berbalik Menjual pada Sesi 2

Perubahan paling jelas dibanding Midday muncul pada foreign flow.

Pada sesi 1, investor asing masih mencatat net buy sekitar Rp112,88 miliar. Hingga penutupan, pembelian asing mencapai sekitar Rp4,32 triliun dan penjualan Rp4,67 triliun sehingga terbentuk net sell All Market sekitar Rp355,17 miliar.

Dengan demikian, posisi bersih asing berubah sekitar Rp468,05 miliar ke arah penjualan antara Midday dan EOD.

Tekanan di pasar reguler lebih besar. RTI Business dan Stockbit Sekuritas mencatat net sell asing sekitar Rp689,26 miliar di pasar reguler, sementara transaksi tunai dan negosiasi mencatat net buy sekitar Rp334,09 miliar. Aktivitas di luar pasar reguler tersebut memperkecil angka net sell All Market.

Top 10 Net Foreign Buy

Saham Net Foreign Buy
ANTM Rp69,01 miliar
BBCA Rp45,05 miliar
INET Rp33,87 miliar
INDY Rp27,67 miliar
PSAB Rp25,17 miliar
EMAS Rp24,80 miliar
WIFI Rp19,73 miliar
TOWR Rp19,37 miliar
SRTG Rp16,36 miliar
KIJA Rp14,45 miliar

Top 10 Net Foreign Sell

Saham Net Foreign Sell
ISAT Rp188,45 miliar
BBRI Rp170,00 miliar
DSSA Rp165,60 miliar
TPIA Rp153,61 miliar
ASII Rp48,02 miliar
TLKM Rp44,17 miliar
CPIN Rp42,40 miliar
ADMR Rp27,59 miliar
BREN Rp22,86 miliar
BYAN Rp22,82 miliar

Data per saham merupakan estimasi Stockbit Sekuritas berdasarkan aktivitas transaksi asing.

Distribusi tersebut menunjukkan tekanan asing yang selektif, bukan keluarnya dana secara seragam dari seluruh saham berkapitalisasi besar. BBCA masih mencatat net buy sekitar Rp45,05 miliar meskipun menjadi salah satu pemberat indeks, sedangkan BBRI masuk kelompok net foreign sell terbesar.

Konfirmasi Berikutnya Perlu Datang dari Saham Likuid dan Arus Asing

Rebound 18 Agustus masih bertahan secara harga dan breadth, tetapi belum memperoleh konfirmasi yang sama kuatnya dari semua lapisan pasar.

Pada perdagangan berikutnya, LQ45 dan IDX30 menjadi salah satu indikator penting. Jika keduanya mulai stabil dan Financials berhenti tertinggal sementara breadth tetap positif, divergensi yang terlihat pada penutupan 18 Agustus akan menyempit.

Arus asing menjadi indikator berikutnya. Penyusutan net sell di pasar reguler atau kembalinya net buy akan menunjukkan bahwa tekanan yang muncul pada sesi 2 tidak berlanjut. Sebaliknya, penjualan asing yang tetap besar dan mulai diikuti penyempitan breadth akan memperlemah pembacaan rebound.

Posisi IHSG juga memberi titik observasi yang cukup jelas. Low 18 Agustus di sekitar 6.448 menjadi level terdekat untuk melihat apakah tekanan sesi 2 berlanjut. Penutupan sebelumnya di sekitar 6.402 menjadi referensi berikutnya jika tekanan melebar. Di sisi lain, kembalinya indeks ke area 6.480 sampai 6.490 akan menunjukkan bahwa tekanan menjelang penutupan mulai terserap.

Konteks cross-asset masih perlu diperhatikan. JISDOR 18 Agustus berada di Rp17.856 per dolar AS dibanding Rp17.836 pada 14 Agustus, sementara yield SUN 10 tahun berada sekitar 7,10%. Perubahannya belum cukup untuk menjelaskan pergerakan IHSG secara langsung, tetapi tekanan yang lebih besar pada rupiah atau obligasi dapat memengaruhi kondisi arus dana berikutnya.

Bukti utama pada H+1 bukan sekadar warna IHSG. Yang perlu dilihat adalah apakah breadth, saham likuid, dan foreign flow kembali bergerak ke arah yang sama.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes