Banyu Capital

IHSG Turun 0,86% dengan 363 Saham Melemah, tetapi Asing Masih Net Sell Rp488 Miliar di Pasar Reguler

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG menutup perdagangan 19 Agustus 2026 di 6.394,13, turun 0,86%. Tekanan tetap terlihat pada breadth dan sektor, tetapi pelemahan indeks yang berlanjut pada Sesi II tidak diikuti pemburukan partisipasi pasar yang berarti. IDX30 dan LQ45 juga masih turun lebih ringan daripada IHSG.

Arus asing memberi sinyal berbeda menurut jenis pasar. All Market mencatat net buy Rp933,53 miliar, sementara pasar reguler masih membukukan net sell Rp488,49 miliar. Selisih sekitar Rp1,42 triliun berasal dari pasar tunai dan negosiasi. Angka agregat yang positif karena itu belum cukup menunjukkan bahwa permintaan asing telah menyebar melalui perdagangan reguler.

Dashboard Market Notes EOD BEI 19 Agustus 2026 yang menampilkan IHSG, breadth pasar, sektor, indeks likuid, foreign flow, dan kontribusi saham terhadap indeks
Dashboard Market Notes EOD 19 Agustus 2026. IHSG turun 0,86% dengan 363 saham melemah, sementara All Market mencatat net buy asing Rp933,53 miliar tetapi pasar reguler masih net sell Rp488,49 miliar. Sumber: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, dan Bank Indonesia.

IHSG Turun Lebih Dalam, tetapi Breadth Nyaris Tidak Berubah

IHSG turun 55,71 poin ke 6.394,13 setelah bergerak di antara 6.373,81 dan 6.490,91. Indeks sempat naik melewati penutupan sehari sebelumnya pada pagi hari, tetapi penguatan tersebut tidak bertahan.

Pada akhir Sesi I, IHSG masih berada di 6.411,20 atau turun 0,60%. Dari posisi tersebut, indeks kehilangan sekitar 17 poin lagi sampai penutupan dan tetap berada di bawah area 6.448 sampai 6.450.

Tambahan koreksi pada Sesi II tidak disertai perubahan besar pada breadth. RTI Business mencatat 238 saham menguat, 363 melemah, dan 188 tidak berubah saat EOD. Pada Midday, angkanya 233 saham naik, 361 turun, dan 191 tidak berubah.

Tekanan yang terbentuk sejak pagi dengan demikian bertahan hingga penutupan, tetapi tidak berkembang menjadi pelebaran penurunan baru yang berarti pada Sesi II.

Bursa Efek Indonesia mencatat nilai perdagangan saham sekitar Rp14,26 triliun, volume 34,27 miliar saham, dan sekitar 2,18 juta transaksi.

Sembilan Sektor Melemah, tetapi Saham Likuid Tetap Relatif Lebih Tahan

Sembilan dari 11 sektor ditutup negatif. Basic Materials turun paling dalam sebesar 1,21%, diikuti Consumer Cyclicals 1,05% dan Consumer Non-Cyclicals 0,96%.

Infrastructure dan Property menjadi dua sektor yang bertahan positif, masing-masing naik 0,43% dan 0,39%. Kenaikannya menyusut dibanding Midday, ketika Property masih naik 1,51% dan Infrastructure 0,82%.

Perbedaan tekanan juga terlihat pada kelompok saham likuid. IDX30 turun 0,44%, LQ45 melemah 0,56%, dan IDX80 terkoreksi 0,69%. Ketiganya masih lebih baik daripada IHSG yang turun 0,86%.

Tekanan pasar cukup luas dari sisi sektor dan jumlah saham, tetapi kedalamannya berbeda antarsegmen. Kelompok saham likuid belum mengalami tekanan sebesar indeks utama.

Net Buy All Market Ditopang Pasar Non-Reguler

Perubahan paling mencolok dari Midday terjadi pada foreign flow.

Pada akhir Sesi I, asing masih mencatat net sell All Market sekitar Rp371,31 miliar. Saat perdagangan selesai, BEI mencatat net buy asing All Market sebesar Rp933,53 miliar.

RTI Business menunjukkan pasar reguler justru masih mencatat net sell sekitar Rp488,49 miliar. Selisihnya menunjukkan sekitar Rp1,42 triliun net buy berasal dari pasar tunai dan negosiasi:

Rp933,53 miliar - (-Rp488,49 miliar) = sekitar Rp1,42 triliun.

Arus asing agregat memang berbalik positif hingga penutupan, tetapi perdagangan reguler belum menunjukkan pembalikan yang sama. Pemisahan ini penting sebelum membaca angka All Market sebagai perubahan perilaku asing yang lebih luas.

Dalam horizon yang lebih panjang, statistik BEI masih mencatat net sell asing year-to-date sekitar Rp72,30 triliun.

Top 10 Net Foreign Buy

Saham Estimasi Net Foreign Buy
TINS Rp158,86 miliar
DSSA Rp57,36 miliar
BBCA Rp48,25 miliar
BULL Rp23,99 miliar
TLKM Rp13,12 miliar
PSAB Rp10,80 miliar
ARKO Rp10,52 miliar
INDF Rp10,47 miliar
DMAS Rp9,61 miliar
BRPT Rp9,23 miliar

Top 10 Net Foreign Sell

Saham Estimasi Net Foreign Sell
ASII Rp73,17 miliar
ANTM Rp52,50 miliar
AADI Rp49,01 miliar
BUMI Rp47,49 miliar
INET Rp42,11 miliar
BMRI Rp39,73 miliar
ISAT Rp38,39 miliar
AMMN Rp33,01 miliar
BBNI Rp26,75 miliar
PWON Rp24,40 miliar

Estimasi per saham mengikuti data Stockbit Sekuritas. Tabel ini menunjukkan distribusi arus pada masing-masing ticker dan perlu dibaca terpisah dari agregat All Market yang turut dipengaruhi transaksi non-reguler.

BYAN Memperbesar Kedalaman Koreksi IHSG

BYAN menjadi penekan terbesar indeks setelah turun 9,41% dan mengurangi sekitar 26,48 poin IHSG. AMMN memberi tekanan sekitar 4,63 poin, CASA 3,29 poin, BRMS 2,98 poin, dan BREN 2,71 poin.

Di sisi sebaliknya, DSSA menambah sekitar 5,58 poin IHSG, disusul ISAT 1,70 poin dan MEDC 1,08 poin.

Kontribusi negatif BYAN setara sekitar 47,5% dari penurunan bersih IHSG sebesar 55,705 poin. Besarnya kontribusi tersebut membantu menjelaskan mengapa IHSG turun lebih dalam daripada IDX30 dan LQ45.

Breadth tetap negatif, tetapi kedalaman penurunan indeks diperbesar oleh konsentrasi tekanan pada beberapa saham berkapitalisasi besar.

Tekanan Asia Tidak Diikuti Pelemahan Rupiah

Pelemahan IHSG terjadi ketika sebagian besar pasar utama Asia juga berada di zona negatif. Berdasarkan perbandingan BEI pukul 16.00 WIB, KOSPI turun 5,80%, Nikkei 225 melemah 3,16%, dan Shanghai Composite terkoreksi 2,40%.

Rupiah tidak bergerak searah dengan pasar saham. JISDOR menguat tipis dari Rp17.856 per dolar AS pada 18 Agustus menjadi Rp17.844 pada 19 Agustus.

Koreksi IHSG pada 19 Agustus dengan demikian tidak disertai pelemahan rupiah.

Tiga Bukti yang Perlu Dipantau pada 20 Agustus

Bukti pertama adalah kemampuan IHSG kembali ke area 6.448 sampai 6.450. Selama indeks bertahan di bawah area tersebut, pemulihan harga belum mendapat konfirmasi.

Bukti kedua adalah breadth. Tekanan 19 Agustus mulai kehilangan dukungan jika jumlah saham menguat membaik dan sektor positif bertambah.

Bukti ketiga adalah foreign flow pasar reguler. Perubahan dari net sell menjadi net buy akan memberi bukti lebih kuat bahwa permintaan asing mulai menyebar melalui perdagangan harian.

Tekanan mendapat konfirmasi tambahan jika IHSG turun menembus titik terendah 19 Agustus di 6.373,81 bersamaan dengan bertambahnya saham yang melemah serta tekanan yang makin terlihat pada IDX30 dan LQ45.

Sebaliknya, kemampuan kembali ke atas 6.448 sampai 6.450 dengan breadth yang membaik dan net buy asing di pasar reguler akan melemahkan pembacaan tekanan yang terbentuk pada 19 Agustus.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes