Banyu Capital

IHSG Berbalik Menguat 0,94% ke 5.328, Asing Masih Jual Bersih di Reguler

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG menutup perdagangan di titik tertinggi setelah melemah pada sesi I. Sebaran saham dan sektor membaik, tetapi investor asing masih mencatat penjualan bersih Rp527,80 miliar di pasar reguler.

Dashboard Market Notes EOD Banyu Capital 21 Oktober 2026, menampilkan IHSG yang menguat 0,94% ke 5.328,36 serta arus jual bersih asing di pasar reguler.
Rekap EOD BEI, 21 Oktober 2026. IHSG berbalik naik 0,94% ke 5.328,36 dan sebaran saham membaik, sementara investor asing masih mencatat jual bersih Rp527,80 miliar di pasar reguler. Sumber: BEI, RTI Business, Stockbit Sekuritas, Bank Indonesia, dan CNBC Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026. Setelah melemah 0,84% ke 5.234,36 pada akhir sesi I, IHSG mengakhiri perdagangan di 5.328,36, naik 49,47 poin atau 0,94% dibanding penutupan sebelumnya.

Pembalikan tersebut disertai perubahan sebaran saham. Jumlah saham yang menguat kembali melampaui saham yang melemah, sementara sembilan dari sebelas sektor ditutup positif. Di pasar reguler, investor asing masih mencatat penjualan bersih.

Perdagangan Rabu berlangsung setelah IHSG melonjak 5,65% sehari sebelumnya, menyusul tekanan besar pada perdagangan terdahulu. Penguatan dalam dua hari tersebut memperbaiki posisi indeks, tetapi belum cukup untuk memastikan perubahan tren di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.

IHSG Berbalik dari Zona Merah dan Ditutup di Titik Tertinggi

IHSG dibuka pada 5.310,85, kemudian sempat turun hingga 5.185,36 sebelum mengakhiri perdagangan di 5.328,36. Penutupan tersebut sekaligus menjadi level tertinggi hari itu.

Dibanding posisi sesi I sebesar 5.234,36, IHSG naik sekitar 94 poin hingga penutupan. Dari titik terendah harian, penguatannya mencapai 143 poin.

Menurut IDX Daily Statistics, nilai transaksi saham di seluruh pasar mencapai Rp17,72 triliun, dengan volume 32,85 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,82 juta transaksi. Angka tersebut mencakup perdagangan saham di pasar reguler, tunai, dan negosiasi, tidak termasuk instrumen selain saham.

Penutupan di titik tertinggi menunjukkan tekanan yang mendominasi sesi pagi tidak bertahan hingga akhir perdagangan. Perubahan ini menjadi lebih berarti ketika dibandingkan dengan sebaran saham yang juga membaik.

Dari 472 Saham Turun pada Sesi I, Sebaran Pasar Berakhir Positif

Pada akhir sesi I, RTI Business mencatat 472 saham melemah, 212 menguat, dan 105 tidak berubah. Selisih antara saham naik dan turun mencapai negatif 260 saham.

Situasi berubah pada penutupan. RTI mencatat 369 saham menguat, 308 melemah, dan 116 tidak berubah. Selisih saham naik dan turun berbalik menjadi positif 61 saham.

Dengan demikian, selisih tersebut membaik 321 saham secara bersih antara dua pengamatan. Perbandingan menggunakan sumber yang sama, meskipun jumlah saham yang tercakup sedikit berbeda.

Statistik resmi BEI juga menunjukkan sebaran positif, dengan 384 saham naik, 328 turun, dan 251 tidak berubah. Perbedaan jumlah terhadap RTI mencerminkan adanya perbedaan cakupan data yang belum sepenuhnya terjelaskan, sehingga kedua angka tidak digunakan secara bergantian.

Penguatan turut menjangkau sebagian besar sektor. Dari sebelas indeks sektoral, sembilan ditutup menguat.

Sektor Perubahan
Kesehatan +3,35%
Properti dan real estat +1,77%
Infrastruktur +1,47%
Barang konsumen primer +1,44%
Barang konsumen non-primer +1,25%
Keuangan +0,71%
Barang baku +0,60%
Energi +0,57%
Transportasi dan logistik +0,17%
Industri −0,59%
Teknologi −1,12%

Sumber: Bursa Efek Indonesia, IDX Daily Statistics, 21 Oktober 2026.

Indeks saham likuid ikut menguat. LQ45 naik 1,02% dan IDX30 meningkat 1,04%, keduanya sedikit melampaui kenaikan IHSG sebesar 0,94%.

Data tersebut menunjukkan bahwa pembalikan indeks didukung perbaikan partisipasi saham dan penguatan mayoritas sektor. Meski demikian, ratusan saham masih melemah, sementara sektor teknologi dan industri tetap berada di zona negatif.

BBCA dan BREN Menjadi Penopang Utama Kenaikan Indeks

Sebaran pasar yang lebih positif tidak menghilangkan peran sejumlah saham berkapitalisasi besar dalam menentukan perubahan IHSG.

BBCA menjadi kontributor terbesar dengan tambahan 6,83 poin indeks, diikuti BREN sebesar 6,21 poin dan TLKM sebesar 5,53 poin. BYAN menyumbang 4,91 poin, sementara TPIA menambah 3,30 poin.

Kelima saham tersebut memberikan kontribusi positif 26,78 poin, setara sekitar 54,1% dari kenaikan bersih IHSG sebesar 49,47 poin.

Rasio itu membandingkan kontribusi lima saham terhadap perubahan indeks bersih, bukan mengukur porsi transaksi atau keseluruhan kontribusi positif di pasar.

Di sisi pemberat, MORA mengurangi IHSG sebesar 3,66 poin, diikuti EMAS sebesar 3,47 poin dan ENRG sebesar 2,02 poin. DCII dan UNTR masing-masing mengurangi 1,84 poin dan 1,06 poin.

Kontribusi saham besar tetap penting, tetapi kenaikan EOD juga diikuti perbaikan sebaran saham. Kedua pengamatan tersebut perlu dibaca bersama agar perubahan indeks tidak keliru dianggap mencerminkan seluruh saham secara seragam.

Asing Masih Jual Bersih Rp527,80 Miliar di Pasar Reguler

Investor asing masih mencatat net sell Rp527,80 miliar di pasar reguler, berdasarkan data Stockbit dan RTI Business.

Arah transaksi tersebut tidak merata pada seluruh saham berkapitalisasi besar.

BBCA justru mencatat net buy asing Rp448,09 miliar, terbesar dalam daftar pembelian bersih. BRMS menyusul sebesar Rp51,16 miliar, kemudian AMMN Rp37,14 miliar.

Sebaliknya, BMRI menjadi saham dengan penjualan bersih asing terbesar, mencapai Rp227,42 miliar. ANTM mencatat net sell Rp83,14 miliar, diikuti TLKM Rp75,02 miliar dan BBRI Rp73,14 miliar.

Perbedaan BBCA dan BMRI memperlihatkan bahwa arah transaksi investor asing tidak seragam, termasuk di antara saham perbankan besar.

Top 10 Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell Reguler

Peringkat Net foreign buy Net foreign sell
1 BBCA Rp448,09 miliar BMRI Rp227,42 miliar
2 BRMS Rp51,16 miliar ANTM Rp83,14 miliar
3 AMMN Rp37,14 miliar TLKM Rp75,02 miliar
4 DMAS Rp26,89 miliar BBRI Rp73,14 miliar
5 TPIA Rp17,46 miliar AADI Rp51,92 miliar
6 PACK Rp16,60 miliar PTBA Rp51,57 miliar
7 BRPT Rp16,46 miliar TINS Rp50,85 miliar
8 VKTR Rp15,86 miliar BBNI Rp49,53 miliar
9 MNCN Rp12,32 miliar BRIS Rp45,07 miliar
10 CPIN Rp10,15 miliar EMAS Rp38,76 miliar

Sumber: Stockbit Sekuritas, Foreign, Regular Market, Net, 21 Oktober 2026. Angka dibulatkan sesuai tampilan platform.

Angka agregat transaksi asing berbeda menurut sumber dan cakupan perdagangan.

BEI mencatat net buy asing Rp12,49 miliar untuk seluruh pasar saham. RTI Business mencatat net sell Rp70,71 miliar pada kategori All Market, terdiri dari penjualan bersih Rp527,80 miliar di pasar reguler dan pembelian bersih Rp457,09 miliar pada pasar negosiasi serta tunai.

Selisih Rp83,20 miliar antara angka agregat BEI dan RTI belum dapat direkonsiliasi sepenuhnya berdasarkan rincian transaksi yang tersedia. Perbedaan tersebut perlu dipertahankan sebagai perbedaan cakupan sumber, bukan dipaksakan menjadi satu angka.

Dalam perdagangan reguler, tekanan penjualan asing masih tercatat meskipun IHSG berakhir menguat. Kondisi ini menjadi salah satu batas penting dalam membaca penguatan EOD.

JISDOR Menguat, Kebijakan BI Menjadi Konteks Perdagangan

JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.986 per dolar AS pada 21 Oktober, dibanding Rp18.006 sehari sebelumnya. Penurunan Rp20 per dolar menunjukkan penguatan rupiah sekitar 0,11% berdasarkan kurs referensi tersebut.

Sementara itu, kuotasi USD/IDR pada tangkapan layar RTI berada di sekitar Rp18.036,90, dengan perubahan harian positif 0,51%. JISDOR dan kuotasi pasar tersebut memiliki waktu serta metode pengamatan berbeda, sehingga tidak dapat digunakan secara bergantian.

Di pasar obligasi, yield SUN tenor 10 tahun tercatat sekitar 7,446% berdasarkan pengamatan CNBC Indonesia pada 21 Oktober. Pergerakan yield dan rupiah tetap relevan untuk menilai tekanan pada aset domestik.

Bank Indonesia pada Rabu mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%, sekaligus menaikkan Deposit Facility menjadi 5,00%. BI juga memperkuat insentif instrumen lindung nilai DNDF untuk mendukung stabilitas rupiah dan menarik aliran masuk modal asing.

Keputusan tersebut diumumkan sebelum perdagangan BEI berakhir. Namun, data yang tersedia belum cukup untuk mengisolasi pengaruh kebijakan BI terhadap pembalikan IHSG dari faktor pasar lainnya.

Di luar kebijakan moneter, perhatian investor masih tertuju pada proses konsultasi MSCI mengenai kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

MSCI mengumumkan konsultasi tersebut pada 15 Oktober 2026 dan menjadwalkan keputusan final paling lambat akhir Juni 2027. Status Indonesia belum berubah menjadi Standalone Market.

Proses konsultasi itu tetap relevan bagi pasar karena menyangkut akses investasi, transparansi kepemilikan saham, dan persyaratan yang diperhatikan investor institusional global.

Tiga Bukti untuk Menguji Penguatan IHSG Berikutnya

Penutupan IHSG pada 5.328,36 memperlihatkan perubahan kondisi perdagangan dibanding sesi I. Tekanan harga mereda, lebih banyak saham berakhir menguat, dan sembilan sektor ditutup positif.

Keberlanjutan perubahan tersebut masih perlu diuji melalui tiga indikator.

Pertama, posisi harga indeks. Penutupan 5.328,36 menjadi referensi terdekat, sementara 5.278,89 merupakan penutupan sebelumnya dan 5.185,36 adalah titik terendah perdagangan Rabu. Ketiganya merupakan referensi historis, bukan jaminan batas support atau resistance yang akan bertahan.

Kedua, sebaran saham. Jika jumlah saham menguat tetap melampaui saham melemah, kenaikan indeks akan memiliki dukungan partisipasi yang lebih luas. Sebaliknya, penyempitan sebaran saham ketika IHSG masih bergerak naik akan mengurangi kekuatan pembacaan tersebut.

Ketiga, arus dana investor asing. Berkurangnya penjualan bersih di pasar reguler dapat menambah bukti perbaikan permintaan. Risiko meningkat apabila penjualan bersih membesar bersamaan dengan pelemahan indeks dan memburuknya sebaran saham.

Ketiga indikator harus dibaca bersama, bukan dijadikan sinyal transaksi tunggal.

IHSG juga masih melemah 38,38% sejak awal tahun menurut statistik BEI. Besarnya koreksi tersebut menunjukkan penyesuaian harga yang signifikan, tetapi tidak membuktikan seluruh risiko telah sepenuhnya priced in.

Perdagangan 21 Oktober memberikan bukti bahwa tekanan sesi pagi dapat berbalik pada penutupan, dengan dukungan sebaran saham yang lebih baik. Apakah perubahan itu bertahan akan ditentukan oleh pergerakan harga, partisipasi saham, dan arus dana pada perdagangan berikutnya.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes