IHSG Bertahan di Atas 6.200, Tapi Asing Keluar Rp2,22 Triliun
IHSG menutup perdagangan Senin, 25 Mei 2026, di zona hijau. Indeks naik 44,30 poin atau 0,72 persen ke level 6.206,35.
Namun, kualitas rebound melemah dibanding sesi 1. Pada siang hari, IHSG sempat naik 0,93 persen ke 6.219,35. Saat penutupan, kenaikan indeks menyusut, sementara tekanan asing justru membesar.
Data Stockbit menunjukkan asing mencatat net sell all market Rp2,22 triliun pada penutupan, naik dari sekitar Rp1,09 triliun pada sesi 1. Artinya, IHSG berhasil bertahan di atas 6.200, tetapi pasar belum benar-benar dibeli merata.
IHSG Menguat, Tapi Rebound Menyusut dari Sesi 1
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Indeks dibuka di 6.187,66, sempat turun ke 6.124,58, lalu naik hingga 6.239,59 sebelum akhirnya ditutup di 6.206,35.
Nilai transaksi all market mencapai Rp16,95 triliun, dengan volume 276,68 juta lot dan frekuensi 2,07 juta kali transaksi. Di pasar reguler, nilai transaksi tercatat Rp15,59 triliun, volume 261,14 juta lot, dan frekuensi 2,06 juta kali transaksi.
| Indikator | Penutupan 25 Mei 2026 |
|---|---|
| IHSG | 6.206,35 |
| Perubahan | +44,30 poin |
| Persentase | +0,72% |
| Open | 6.187,66 |
| High | 6.239,59 |
| Low | 6.124,58 |
| All Market Value | Rp16,95 triliun |
| Regular Market Value | Rp15,59 triliun |
| Nego Market Value | Rp1,36 triliun |
Secara permukaan, data ini menunjukkan pasar masih aktif dan indeks mampu menutup hari di zona hijau. Namun, jika dibandingkan dengan posisi sesi 1, tenaga rebound terlihat sedikit melemah.
Pada sesi 1, IHSG sempat berada di 6.219,35 atau naik 0,93 persen. Saat penutupan, indeks masih hijau, tetapi turun ke 6.206,35 dengan kenaikan 0,72 persen.
Asing Masih Keluar Besar dari Pasar
Bagian paling penting dari perdagangan hari ini ada pada arus dana asing. Data Stockbit menunjukkan nilai beli asing atau F Buy mencapai Rp5,31 triliun. Namun, nilai jual asing atau F Sell lebih besar, yakni Rp7,54 triliun.
Hasil akhirnya, asing mencatat net foreign sell all market Rp2,22 triliun. Di pasar reguler, asing juga masih mencatat net sell Rp2,09 triliun. Sementara di pasar tunai dan negosiasi, net sell asing tercatat Rp13,26 miliar.
| Komponen Foreign Flow | Nilai |
|---|---|
| Foreign Buy | Rp5,31 triliun |
| Foreign Sell | Rp7,54 triliun |
| Net Foreign Sell All Market | Rp2,22 triliun |
| Net Foreign Sell Regular Market | Rp2,09 triliun |
| Net Foreign Sell Tunai dan Nego | Rp13,26 miliar |
Data ini penting karena IHSG naik saat asing masih keluar besar. Dengan kata lain, penguatan indeks hari ini lebih tepat dibaca sebagai rebound selektif, bukan sinyal bahwa investor asing sudah kembali masuk secara luas.
Kondisi ini juga menjelaskan mengapa kenaikan IHSG belum terasa merata. Beberapa sektor dan saham mampu menopang indeks, tetapi tekanan jual masih terlihat pada saham besar tertentu.
BBRI, MDKA, dan BBCA Masuk Daftar Net Foreign Buy
Meski secara agregat asing masih keluar, tidak semua saham dilepas. Data DSI menunjukkan BBRI, MDKA, dan BBCA masih menjadi tujuan net foreign buy terbesar.
| Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|
| BBRI | Rp148,34 miliar |
| MDKA | Rp113,06 miliar |
| BBCA | Rp82,23 miliar |
| UNTR | Rp26,34 miliar |
| DMAS | Rp13,97 miliar |
| TCPI | Rp9,94 miliar |
| SSIA | Rp8,91 miliar |
| FILM | Rp8,22 miliar |
| JPFA | Rp7,31 miliar |
| WBSA | Rp6,41 miliar |
Masuknya asing ke BBRI dan BBCA menunjukkan saham perbankan besar masih menjadi tempat seleksi. Namun, pola ini belum cukup untuk mengimbangi tekanan jual asing di saham lain yang nilainya jauh lebih besar.
MDKA juga menarik karena masuk daftar net foreign buy saat sektor basic industry masih melemah. Ini menunjukkan aliran dana asing tidak sepenuhnya meninggalkan tema komoditas, tetapi lebih selektif memilih saham tertentu.
AMMN, BMRI, BUMI, dan AMRT Masuk Tekanan Net Foreign Sell
Di sisi lain, tekanan jual asing masih besar pada sejumlah saham berkapitalisasi besar dan saham komoditas. AMMN menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, diikuti BMRI, BUMI, AMRT, dan ANTM.
| Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|
| AMMN | Rp228,88 miliar |
| BMRI | Rp196,68 miliar |
| BUMI | Rp159,65 miliar |
| AMRT | Rp158,18 miliar |
| ANTM | Rp121,84 miliar |
| TPIA | Rp110,87 miliar |
| BREN | Rp86,56 miliar |
| TLKM | Rp76,81 miliar |
| CUAN | Rp65,09 miliar |
| PTRO | Rp59,48 miliar |
Daftar ini menunjukkan tekanan asing masih terkonsentrasi di saham komoditas, energi, konglomerasi, dan sebagian saham besar lain. Hal ini selaras dengan pelemahan sektor energy dan basic industry pada penutupan perdagangan.
BMRI juga masuk daftar net foreign sell besar, meskipun sektor finance secara umum menguat. Ini menandakan penguatan sektor keuangan tidak sepenuhnya seragam di antara saham bank besar.
Finance dan Transport Menopang, Energy Masih Tertekan
Dari sisi sektor, penguatan IHSG ditopang oleh transport, finance, property, cyclical, industrial, dan infrastructure. Sektor transport naik paling tinggi, yakni 3,83 persen. Finance menguat 1,42 persen dan menjadi salah satu penopang penting indeks pada penutupan.
| Sektor Menguat | Kinerja |
|---|---|
| Transport | +3,83% |
| Finance | +1,42% |
| Property | +1,29% |
| Cyclical | +1,09% |
| Industrial | +0,79% |
| Infrastructure | +0,77% |
Sebaliknya, tekanan masih terlihat pada energy, basic industry, technology, non-cyclical, dan health.
| Sektor Melemah | Kinerja |
|---|---|
| Energy | -2,04% |
| Basic Industry | -0,93% |
| Technology | -0,31% |
| Non-Cyclical | -0,13% |
| Health | -0,09% |
Perbandingan dengan sesi 1 memperlihatkan tekanan di energy dan basic industry memburuk sampai penutupan. Pada sesi 1, energy melemah 1,35 persen dan basic industry turun 0,44 persen. Saat penutupan, energy turun lebih dalam menjadi 2,04 persen dan basic industry melemah 0,93 persen.
Dengan pola seperti ini, penguatan sektor finance lebih berperan sebagai penyeimbang indeks, bukan bukti bahwa semua saham besar kembali dibeli asing. BMRI masih masuk daftar net foreign sell terbesar, sehingga pembacaan sektor keuangan tetap perlu dipisahkan antara penguatan indeks sektoral dan arus dana asing per saham.
Artinya, rotasi sektor masih berjalan. Pasar tidak sedang naik bersama-sama. Dana cenderung bergerak ke sektor tertentu, sementara saham komoditas dan energi masih berada di bawah tekanan.
Aktivitas Pasar Masih Terkonsentrasi di Saham Besar
Dari sisi nilai transaksi, saham-saham besar masih mendominasi. BBCA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, diikuti BMRI, AMMN, BUMI, dan BBRI.
Dari sisi volume, aktivitas terbesar terlihat pada BUMI, BNBR, BIPI, DEWA, dan PACK. Pola ini menunjukkan pasar masih ramai, tetapi aktivitas besar terkonsentrasi pada saham tertentu.
| Aktivitas | Saham Utama |
|---|---|
| Top Value | BBCA, BMRI, AMMN, BUMI, BBRI |
| Top Volume | BUMI, BNBR, BIPI, DEWA, PACK |
Kombinasi top value dan top volume memperkuat pembacaan bahwa rebound IHSG hari ini belum merata. Indeks memang naik, tetapi aktivitas pasar masih sangat dipengaruhi saham besar dan saham bertransaksi tinggi.
Yang Perlu Dipantau Besok
Ada empat indikator utama yang perlu dipantau pada perdagangan berikutnya.
Pertama, apakah net foreign sell mengecil. Jika tekanan asing tetap di atas Rp2 triliun, rebound IHSG masih rentan.
Kedua, apakah IHSG mampu bertahan di atas 6.200. Area ini menjadi batas psikologis penting setelah indeks sempat bergerak volatil sepanjang hari.
Ketiga, apakah sektor energy dan basic industry mulai stabil. Dua sektor ini masih menjadi sumber tekanan sampai penutupan.
Keempat, apakah saham bank besar bergerak lebih seragam. Hari ini, BBCA dan BBRI masih masuk daftar net foreign buy, sementara BMRI justru masuk daftar net foreign sell besar.
Untuk saat ini, pasar lebih tepat dibaca sedang mencoba membentuk rebound selektif. Indeks memang hijau, tetapi arus asing belum memberi konfirmasi pemulihan penuh.
Sumber: Stockbit, Data Saham Indonesia, Banyu Capital Research.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.