Banyu Capital

IHSG Pangkas Pelemahan ke 0,17%, tetapi Net Sell Asing Membesar Menjadi Rp820 Miliar

Ahmad Mujib Oleh: Ahmad Mujib

IHSG pulih 41,51 poin dari titik terendah dan menutup hampir sama dengan level pembukaan. Namun, stabilisasi harga belum didukung arus asing, indeks saham likuid, keluasan sektor, maupun aktivitas transaksi yang kuat.

Dashboard EOD IHSG 27 Juli 2026 yang merangkum penutupan indeks, foreign flow, sektor, dan likuiditas
IHSG menutup perdagangan 27 Juli 2026 di 6.185,78, turun 0,17%, setelah pulih 41,51 poin dari titik terendah. Net sell asing resmi mencapai Rp820,22 miliar. Sumber: Bursa Efek Indonesia, Stockbit Sekuritas, RTI Business, dan Bank Indonesia.

Pada sesi pertama Senin, 27 Juli 2026, tekanan pasar mulai menyempit dibanding Jumat. IHSG masih turun 0,36%, tetapi distribusi saham relatif seimbang, empat sektor menguat, dan net foreign sell All Market berada di Rp293,41 miliar.

IHSG kemudian memangkas penurunan pada sesi kedua. Namun, net foreign sell justru membesar, jumlah sektor positif berkurang, dan indeks saham likuid tetap tertinggal. Penutupan hampir datar karena itu lebih tepat dibaca sebagai stabilisasi intraday, belum sebagai pemulihan yang terkonfirmasi.

IHSG Menjauh dari 6.144, tetapi Belum Merebut Kembali 6.200

IHSG ditutup pada 6.185,783, turun 10,647 poin atau 0,17%. Indeks dibuka pada 6.185,799, sempat naik ke 6.219,418, lalu turun hingga 6.144,274.

Dari titik terendah, IHSG pulih 41,509 poin menuju penutupan. Posisi akhir juga 11,843 poin lebih tinggi dibanding penutupan sesi pertama di 6.173,94.

Pemulihan dari bawah 6.150 menunjukkan adanya permintaan intraday. Namun, IHSG belum mampu bertahan di atas 6.200 dan masih menutup 33,635 poin di bawah titik tertinggi.

Area 6.200 sampai 6.219 tetap menjadi pengujian awal bagi stabilisasi harga. Sementara itu, 6.144 menjadi batas bawah yang perlu dipertahankan.

Tekanan Tidak Menyebar Luas, tetapi Indeks Saham Likuid Tetap Tertinggal

Statistik BEI menunjukkan 360 saham menguat, 318 melemah, dan 287 tidak berubah. Berdasarkan jumlah saham, perdagangan tidak menunjukkan tekanan yang menyebar luas karena saham yang naik masih lebih banyak daripada saham yang turun.

Distribusi berdasarkan kapitalisasi pasar juga tidak menunjukkan dominasi kelompok yang melemah. Saham yang menguat mewakili 51% kapitalisasi pasar, sedangkan saham yang melemah mewakili 37%. Sisanya, sekitar 12%, berada pada kelompok saham yang tidak berubah.

Namun, pembacaan tersebut belum diikuti indeks saham likuid. LQ45 turun 0,36%, IDX30 melemah 0,32%, IDX80 turun 0,48%, dan IDX SMC Liquid terkoreksi 0,61%. Seluruhnya turun lebih dalam daripada IHSG yang melemah 0,17%.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa tekanan tidak terjadi secara merata pada seluruh saham, tetapi saham yang menjadi pusat likuiditas pasar belum mengambil kepemimpinan.

Financials Menahan Indeks, tetapi Delapan Sektor Masih Melemah

Hanya tiga dari sebelas sektor yang mengakhiri perdagangan di zona positif:

Delapan sektor lainnya melemah. Infrastructures turun paling dalam sebesar 1,25%, disusul Properties and Real Estate 0,82%, Healthcare 0,60%, Energy 0,48%, dan Basic Materials 0,40%.

Komposisi tersebut melemah dibanding sesi pertama, ketika empat sektor masih menguat. Transportation and Logistics yang sempat naik 0,75% berakhir turun 0,02%, sedangkan Consumer Cyclicals berubah dari naik 0,25% menjadi turun 0,08%.

Financials menjadi sumber dukungan baru pada sesi kedua. BMRI naik 0,73% dan menyumbang sekitar 2,45 poin kepada IHSG. BBCA naik 0,40% dengan kontribusi sekitar 2,21 poin.

Empat penopang terbesar IHSG adalah:

Saham Kontribusi
DCII +4,70 poin
CASA +2,85 poin
BMRI +2,45 poin
BBCA +2,21 poin

Empat pemberat terbesar adalah:

Saham Kontribusi
TLKM -3,69 poin
BREN -3,48 poin
ASII -2,85 poin
AMRT -2,54 poin

Empat penopang utama menyumbang sekitar 12,21 poin. Angka tersebut hampir setara dengan tekanan 12,56 poin dari empat pemberat terbesar.

Penutupan yang hampir datar karena itu terbentuk dari tarik-menarik antarsaham besar, bukan dari kepemimpinan pasar yang seragam.

Harga Membaik ketika Net Sell Asing Justru Membesar

BEI mencatat net foreign sell resmi sebesar Rp820,22 miliar. Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp3,80 triliun dan penjualan sekitar Rp4,62 triliun.

Berdasarkan data platform yang sama, net foreign sell membesar dari Rp293,41 miliar pada Midday menjadi Rp820,67 miliar pada EOD. Dengan demikian, penjualan bersih asing bertambah sekitar Rp527,26 miliar pada sesi kedua.

Perbedaan arah antara harga dan arus asing menjadi inti perdagangan hari itu. Indeks membaik, tetapi dukungan asing justru melemah.

Secara agregat, penjualan bersih asing diimbangi pembelian bersih investor domestik. Namun, data yang tersedia tidak menunjukkan kelompok investor domestik mana yang menjadi pembeli, tujuan transaksinya, atau apakah pembelian tersebut dapat berlanjut.

Estimasi Stockbit menunjukkan arus asing tetap selektif.

Top 10 Net Foreign Buy

Saham Estimasi
BBCA Rp96,17 miliar
AADI Rp15,22 miliar
RAJA Rp14,11 miliar
KOTA Rp10,30 miliar
MEDC Rp10,24 miliar
AKRA Rp9,94 miliar
INKP Rp9,74 miliar
GGRM Rp9,44 miliar
PTRO Rp8,20 miliar
SRTG Rp6,38 miliar

Top 10 Net Foreign Sell

Saham Estimasi
TPIA Rp99,55 miliar
EMAS Rp88,79 miliar
BULL Rp52,20 miliar
BBRI Rp45,86 miliar
ASII Rp44,89 miliar
DSSA Rp36,50 miliar
BNBR Rp29,28 miliar
ANTM Rp27,11 miliar
BUMI Rp21,31 miliar
CUAN Rp20,98 miliar

Angka per saham merupakan estimasi Stockbit. Data tersebut digunakan untuk membaca arah dan konsentrasi arus, bukan sebagai angka resmi BEI.

Perubahan paling menonjol terjadi pada EMAS. Saham tersebut masih mencatat estimasi net buy Rp116,86 miliar pada Midday, tetapi berakhir dengan estimasi net sell Rp88,79 miliar.

Sebaliknya, tekanan pada BMRI menyusut dari sekitar Rp135,65 miliar pada sesi pertama menjadi Rp18,12 miliar pada akhir perdagangan. Rotasi ini membantu menjelaskan perbaikan sektor finansial meskipun arus asing agregat memburuk.

Aktivitas Pasar Masih Jauh di Bawah Rata-Rata YTD

Nilai transaksi saham mencapai Rp12,152 triliun, dengan volume 26,025 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,790 juta kali.

Rata-rata harian YTD tercatat sebagai berikut:

Indikator 27 Juli 2026 Rata-rata YTD Selisih
Nilai transaksi Rp12,152 triliun Rp22,702 triliun -46,5%
Volume 26,025 miliar saham 39,722 miliar saham -34,5%
Frekuensi 1,790 juta kali 2,555 juta kali -29,9%

Aktivitas yang lebih rendah tidak berarti seluruh pembeli tidak memiliki keyakinan. Namun, data tersebut menunjukkan partisipasi pasar belum meningkat bersama pemulihan harga.

JISDOR berada di Rp17.995 per dolar AS, melemah dari Rp17.973 pada perdagangan sebelumnya. Rupiah yang kembali mendekati Rp18.000 menjadi konteks kehati-hatian tambahan bagi aset rupiah, tetapi belum dapat diperlakukan sebagai penyebab tunggal pergerakan IHSG.

6.200, Arus Asing, dan Saham Likuid Menjadi Ujian Berikutnya

Skenario dasar masih menempatkan IHSG dalam fase pengujian di antara 6.144 dan 6.219.

Stabilisasi mulai mendapat konfirmasi jika IHSG mampu bertahan di atas 6.200 dan melewati titik tertinggi 6.219. Konfirmasi akan lebih kuat apabila LQ45 dan IDX30 mengungguli IHSG, net foreign sell menyusut, sektor positif bertambah, dan nilai transaksi meningkat dari Rp12,152 triliun.

Sebaliknya, stabilisasi akan kehilangan validitas jika IHSG menutup di bawah 6.144. Risiko tekanan lanjutan meningkat apabila penjualan asing sekitar Rp820 miliar atau lebih besar berulang, sektor finansial kehilangan dukungan, dan saham likuid semakin tertinggal.

Data 27 Juli menunjukkan bahwa tekanan intraday masih dapat diserap. Namun, perubahan arah baru mendapat dasar yang lebih kuat jika harga, foreign flow, saham likuid, sektor, dan aktivitas transaksi membaik secara bersamaan.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes