IHSG Naik 0,11% dengan 392 Saham dan 8 Sektor Menguat, tetapi Asing Berbalik Net Sell Rp434 Miliar
IHSG pulih lebih dari 49 poin dari titik terendah dan menutup perdagangan hanya sekitar 2,6 poin di bawah level tertinggi harian. Breadth tetap positif dan IDX30 serta LQ45 menguat, tetapi arus asing berbalik menjadi net sell Rp434 miliar.
IHSG menutup perdagangan Senin, 31 Agustus 2026 di 6.525,48, naik 7,36 poin atau 0,11%. Kenaikannya tipis, tetapi perjalanan intraday menunjukkan tekanan yang sempat jauh lebih besar. Indeks turun hingga 6.476,18 sebelum pulih 49,30 poin dan berakhir dekat titik tertinggi 6.528,10.
Pada Midday, pasar menunjukkan tiga penopang utama: breadth positif, IDX30 dan LQ45 menguat, serta asing masih mencatat net buy. Hingga penutupan, dua yang pertama bertahan. Arus asing justru berbalik negatif.
Dengan demikian, penutupan 31 Agustus tetap menunjukkan partisipasi pasar yang relatif konstruktif, tetapi belum memperoleh dukungan yang sama kuat dari foreign flow.
IHSG Menyerap Tekanan dan Kembali Mendekati Titik Tertinggi
Berdasarkan IDX Daily Statistics, IHSG bergerak antara 6.476,18 dan 6.528,10 sebelum berakhir di 6.525,48. Nilai transaksi saham mencapai Rp24,996 triliun, dengan volume 50,340 miliar saham dan frekuensi sekitar 2,37 juta kali.
Posisi penutupan menjadi bagian penting dari perdagangan hari ini. IHSG sempat berada sekitar 42 poin di bawah penutupan sebelumnya, tetapi berhasil menghapus tekanan tersebut dan kembali ke zona positif.
Pergerakan saham besar juga saling mengimbangi. BBRI naik 1,88% dan memberi tambahan sekitar 8,76 poin pada IHSG. Sebaliknya, BYAN turun 3,43% dan mengurangi sekitar 8,15 poin. AMMN, SRAJ, DCII, DSSA, dan MDKA juga berada di antara pemberat utama indeks.
Tarik-menarik tersebut membantu menjelaskan mengapa kenaikan bersih IHSG hanya 7,36 poin meskipun lebih banyak saham berakhir menguat daripada melemah.
Breadth Tetap Positif, Small-Mid Caps Menguat Lebih Tinggi
Sebanyak 392 saham naik, 233 turun, dan 166 tidak berubah pada penutupan. Rasio saham naik terhadap saham turun sekitar 1,68 kali.
Breadth ini masih positif, tetapi tidak semakin lebar dibanding Midday. Jumlah saham naik tetap 392, sedangkan saham turun bertambah dari 229 menjadi 233.
Breadth sektoral justru sedikit membaik. Delapan dari 11 sektor berakhir positif, bertambah dari tujuh sektor pada Midday.
Industrials memimpin dengan kenaikan 1,46%, disusul Energy 1,12%. Financials naik 0,67%, Infrastructures 0,64%, Properties & Real Estate 0,53%, Transportation & Logistic 0,47%, Consumer Non-Cyclicals 0,29%, dan Consumer Cyclicals 0,21%.
Tiga sektor berakhir negatif. Healthcare turun paling dalam sebesar 1,66%, diikuti Basic Materials 0,40% dan Technology 0,16%.
Saham likuid tetap ikut berpartisipasi. IDX30 naik 0,41% dan LQ45 bertambah 0,31%. Namun kenaikan lebih tinggi justru terlihat pada kelompok small-mid cap, dengan IDX SMC Composite naik 0,81% dan IDX SMC Liquid menguat 0,89%.
Artinya, kenaikan tidak hanya bergantung pada kelompok saham terbesar. Partisipasi tersebar ke beberapa lapisan kapitalisasi, meskipun breadth saham tidak bertambah kuat pada Sesi II.
Foreign Flow Berbalik Net Sell, tetapi Bank Besar Masih Dibeli
Titik lemahnya berada pada arus asing.
Pada Midday, asing masih mencatat net buy All Market Rp183,56 miliar. Menjelang penutupan, IDX mencatat posisi berbalik menjadi net sell Rp434,25 miliar. Dengan demikian, posisi kumulatif bergeser sekitar Rp617,8 miliar ke arah negatif sejak Midday.
Tekanan lebih besar terlihat di pasar reguler. Data RTI Business dan Stockbit menunjukkan net sell asing sekitar Rp710,56 miliar. Transaksi tunai dan negosiasi mencatat net buy sekitar Rp276,34 miliar, sehingga mengurangi tekanan pada angka All Market.
Perubahan tersebut tidak berarti asing menjual seluruh saham besar secara merata. Estimasi Stockbit masih menempatkan BBRI, BBNI, dan BBCA di antara saham dengan pembelian asing terbesar.
Top 10 Estimasi Net Foreign Buy
| Saham | Estimasi Net Buy |
|---|---|
| BBRI | Rp371,28 miliar |
| KOTA | Rp134,98 miliar |
| BBNI | Rp103,85 miliar |
| ADRO | Rp95,83 miliar |
| BBCA | Rp86,82 miliar |
| BRMS | Rp46,58 miliar |
| GGRM | Rp37,83 miliar |
| IATA | Rp35,88 miliar |
| INET | Rp33,56 miliar |
| BULL | Rp27,85 miliar |
Top 10 Estimasi Net Foreign Sell
| Saham | Estimasi Net Sell |
|---|---|
| CPIN | Rp681,76 miliar |
| EMAS | Rp189,36 miliar |
| BUKA | Rp129,43 miliar |
| UNVR | Rp97,02 miliar |
| ASII | Rp96,68 miliar |
| TPIA | Rp87,96 miliar |
| DSSA | Rp78,21 miliar |
| AMMN | Rp77,81 miliar |
| ESSA | Rp64,76 miliar |
| ARTO | Rp60,97 miliar |
CPIN menjadi sumber penjualan asing terbesar dalam estimasi Stockbit, sekitar Rp681,76 miliar. Di sisi lain, BBRI mencatat estimasi net buy Rp371,28 miliar, sementara BBNI dan BBCA masing-masing sekitar Rp103,85 miliar dan Rp86,82 miliar.
Komposisi tersebut membuat angka net sell agregat lebih tepat dibaca sebagai pelemahan dukungan asing terhadap pasar secara keseluruhan, bukan keluarnya asing secara seragam dari saham-saham likuid.
Rupiah Melemah, Yield SUN 10 Tahun Berada di Sekitar 7%
JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.746 per dolar AS pada 31 Agustus, naik dari Rp17.703 pada perdagangan sebelumnya. Rupiah dengan demikian melemah sekitar 0,24% berdasarkan JISDOR.
Sementara itu, snapshot CNBC Indonesia menunjukkan yield SUN tenor 10 tahun berada di sekitar 6,99%.
Kedua indikator tersebut menjadi konteks risiko untuk perdagangan berikutnya. Data yang tersedia belum cukup untuk menjadikannya penyebab langsung atas perubahan IHSG atau foreign flow hari ini.
Bukti Berikutnya Ada pada Breadth, Saham Likuid, dan Foreign Flow
Penutupan 31 Agustus menunjukkan pasar mampu menyerap tekanan intraday. Breadth tetap positif, delapan sektor menguat, dan indeks saham likuid tetap berada di zona hijau. Namun arus asing tidak mengikuti pola tersebut hingga penutupan.
Bukti berikutnya terutama berada pada tiga indikator.
Breadth perlu tetap positif tanpa jumlah saham turun terus bertambah. IDX30 dan LQ45 perlu mempertahankan partisipasi agar pergerakan tidak semakin bergantung pada kelompok saham tertentu. Pada saat yang sama, tekanan net sell asing di pasar reguler perlu mereda agar pemulihan harga mendapat dukungan arus dana yang lebih sejalan.
Pembacaan konstruktif akan melemah jika breadth berbalik negatif, IDX30 dan LQ45 ikut turun, dan net sell asing membesar secara bersamaan. Low 6.476,18 menjadi referensi penting untuk menilai apakah penyerapan tekanan yang terjadi pada 31 Agustus dapat bertahan pada perdagangan berikutnya.
Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.