Banyu Capital

IHSG Turun 0,47% dengan 363 Saham Melemah, Asing Net Sell Rp317 Miliar di Pasar Reguler

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Penguatan 3 September tidak memperoleh follow-through. LQ45 dan IDX30 turun lebih dalam, delapan sektor melemah, sementara asing mencatat net sell Rp317,01 miliar di Pasar Reguler.

Pada 3 September, kenaikan IHSG sebesar 1,09% mendapat tiga konfirmasi penting: saham yang menguat jauh lebih banyak daripada yang melemah, LQ45 dan IDX30 memimpin kenaikan, serta investor asing membukukan net buy Rp1,11 triliun di Pasar Reguler.

Sehari setelah penguatan itu, tiga penopang utama rebound tidak bertahan. IHSG turun 0,47% ke 6.636,48, jumlah saham melemah mencapai 363, LQ45 dan IDX30 turun lebih dalam daripada IHSG, sementara asing berbalik mencatat net sell di Pasar Reguler.

Pelemahan yang mulai terlihat saat Midday juga berlanjut pada Sesi II. Meski demikian, satu hari koreksi belum cukup untuk menunjukkan bahwa arah pasar sudah berbalik lebih luas.

Dashboard Market Notes EOD BEI 4 September 2026 yang menampilkan pelemahan IHSG, breadth pasar, LQ45 dan IDX30, serta foreign flow Pasar Reguler
IHSG ditutup turun 0,47% pada 4 September 2026 dengan 363 saham melemah. LQ45 dan IDX30 turun lebih dalam, sementara investor asing mencatat net sell Rp317,01 miliar di Pasar Reguler. Sumber: Bursa Efek Indonesia, RTI Business, Stockbit Sekuritas, dan Bank Indonesia.

IHSG Sempat Naik 0,54%, lalu Menutup Hanya 2,56 Poin di Atas Low

IHSG membuka perdagangan di 6.695,70 dan sempat mencapai 6.704,12. Dibanding penutupan 3 September di 6.667,89, titik tertinggi tersebut setara kenaikan sekitar 0,54%.

Kenaikan itu tidak bertahan. IHSG turun hingga 6.633,92 sebelum berakhir di 6.636,48, turun 31,42 poin atau 0,47%.

Posisi penutupan hanya sekitar 2,56 poin di atas intraday low. Dari posisi Midday di 6.660,79, IHSG kehilangan sekitar 24,31 poin lagi pada Sesi II.

Nilai transaksi All Market mencapai sekitar Rp15,04 triliun, lebih rendah dibanding Rp18,64 triliun sehari sebelumnya. Tekanan harga menguat menjelang penutupan, tetapi tidak disertai peningkatan nilai transaksi dibanding perdagangan naik 3 September.

363 Saham Melemah dan LQ45-​​IDX30 Turun Lebih Dalam

RTI Business mencatat 256 saham menguat, 363 melemah, dan 172 tidak berubah.

Saat Midday, 266 saham masih menguat dan 325 melemah. Selisih antara saham turun dan saham naik pun melebar dari 59 menjadi 107 saham pada akhir perdagangan.

Perbedaannya lebih jelas dibanding 3 September, ketika 402 saham naik dan hanya 213 yang turun.

LQ45 turun 0,78% dan IDX30 melemah 0,83%, lebih dalam daripada koreksi IHSG sebesar 0,47%. Sehari sebelumnya, keduanya justru memimpin, dengan LQ45 naik 1,67% dan IDX30 1,58% dibanding kenaikan IHSG 1,09%.

Partisipasi sektor ikut menyempit. Hanya tiga dari 11 sektor yang bertahan positif: Energy +0,22%, Consumer Cyclicals +0,19%, dan Industrials +0,18%.

Delapan sektor lainnya melemah. Transportation & Logistic turun 1,09%, Consumer Non-Cyclicals 1,07%, Technology 0,76%, Healthcare 0,70%, Basic Materials 0,41%, Financials 0,40%, Infrastructure 0,30%, dan Property 0,01%.

Saat Midday masih ada empat sektor positif. Financials dan Property kemudian berbalik negatif pada akhir perdagangan, sedangkan Consumer Cyclicals berhasil kembali ke zona positif.

Dengan breadth negatif, delapan sektor melemah, serta LQ45 dan IDX30 tertinggal, struktur internal pasar terlihat lebih lemah daripada penurunan IHSG sebesar 0,47% saja.

All Market Hampir Netral, Pasar Reguler Justru Net Sell Rp317 Miliar

Data EOD memberi jawaban yang belum tersedia saat Midday: asing ternyata mencatat tekanan jual bersih yang jauh lebih besar di Pasar Reguler daripada yang terlihat dari angka All Market.

Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp3,79 triliun dan penjualan Rp3,82 triliun di All Market. Secara agregat, hasilnya hanya net sell sekitar Rp29,80 miliar.

Komposisinya berbeda jika transaksi dipisahkan menurut pasar. Pasar Reguler mencatat net sell Rp317,01 miliar, sedangkan transaksi Tunai dan Negosiasi menghasilkan net buy sekitar Rp287,20 miliar.

Angka All Market yang hampir netral karena itu tidak menggambarkan tekanan di perdagangan reguler. Net buy Rp287,20 miliar di Tunai dan Negosiasi mengimbangi sekitar 90,6% net sell Pasar Reguler, sehingga angka agregat terlihat jauh lebih ringan.

Struktur ini juga berlawanan dengan 3 September. Sehari sebelumnya, asing mencatat net buy Rp1,11 triliun di Pasar Reguler dan net sell sekitar Rp37,17 miliar di Tunai dan Negosiasi.

Estimasi Stockbit menunjukkan pembelian asing masih tersebar pada sejumlah saham:

Estimasi Net Foreign Buy Nilai Estimasi Net Foreign Sell Nilai
TINS Rp139,76 miliar DSSA Rp97,62 miliar
CUAN Rp73,36 miliar ASII Rp97,57 miliar
PTRO Rp51,96 miliar BBCA Rp63,59 miliar
AADI Rp46,47 miliar ANTM Rp53,15 miliar
BUMI Rp37,80 miliar ISAT Rp40,99 miliar
BBRI Rp33,60 miliar CPIN Rp40,97 miliar
INET Rp32,60 miliar BRMS Rp36,74 miliar
BBNI Rp25,58 miliar IATA Rp36,31 miliar
CDIA Rp25,27 miliar BMRI Rp33,27 miliar
EMAS Rp24,45 miliar BULL Rp21,39 miliar

Angka per saham tersebut merupakan estimasi Stockbit dan digunakan sebagai indikasi distribusi arus dana, bukan data transaksi asing final per saham.

Pada empat bank besar, estimasi transaksi asing secara gabungan menghasilkan net sell sekitar Rp37,68 miliar. BBRI dan BBNI masih berada di sisi net buy, sementara BBCA dan BMRI berada di sisi net sell.

Perubahan BBCA dan BMRI relevan karena keduanya sehari sebelumnya termasuk penerima pembelian asing terbesar.

BBCA dan ASII Menekan Indeks, Sementara Rupiah Menguat

Tekanan pada indeks konsisten dengan pergerakan beberapa saham berkapitalisasi besar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, BBCA menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi sekitar -6,62 poin terhadap IHSG. ASII mengurangi 6,11 poin, BMRI 3,27 poin, VKTR 3,08 poin, dan BBRI 2,92 poin.

Tekanan pada BBCA, ASII, BMRI, dan BBRI konsisten dengan lemahnya indeks saham likuid, meski pergerakan IHSG tetap merupakan hasil kontribusi seluruh konstituen.

Rupiah justru bergerak berlawanan dengan saham. JISDOR menguat dari Rp17.689 menjadi Rp17.636 per dolar AS, atau sekitar 0,30%. Pelemahan IHSG pada 4 September dengan demikian tidak berlangsung bersama memburuknya seluruh indikator risiko domestik.

Tiga Bukti yang Perlu Muncul pada 7 September

Perdagangan berikutnya akan menguji apakah 4 September hanya menjadi koreksi satu hari atau awal pelemahan yang lebih persisten.

Pertama, breadth perlu kembali membaik. Jika saham naik kembali melampaui saham turun dan jumlah sektor positif bertambah, tekanan Jumat akan lebih konsisten dengan konsolidasi setelah kenaikan sehari sebelumnya.

Kedua, LQ45 dan IDX30 perlu berhenti tertinggal dari IHSG. Kembalinya kepemimpinan saham likuid akan menjadi salah satu tanda bahwa struktur penguatan mulai pulih.

Ketiga, foreign flow Pasar Reguler perlu diperhatikan. Kembalinya net buy akan mengurangi arti perubahan arus pada 4 September. Sebaliknya, net sell yang berlanjut bersama breadth negatif dan indeks likuid yang tetap lemah akan memperkuat pembacaan bahwa tekanan mulai lebih persisten.

Area 6.667,89, yang merupakan penutupan 3 September, menjadi salah satu referensi untuk menilai apakah IHSG mampu memulihkan pelemahan Jumat. Di sisi lain, low 4 September di sekitar 6.633,92 menjadi titik yang perlu diperhatikan jika kembali diuji dengan breadth dan foreign flow yang tetap lemah.

Untuk sementara, 4 September lebih tepat dibaca sebagai kegagalan follow-through daripada sebagai pembalikan pasar yang sudah terkonfirmasi. Apakah tekanan ini berkembang menjadi pelemahan yang lebih luas baru akan terlihat jika breadth tetap negatif, LQ45 dan IDX30 terus tertinggal, serta asing kembali net sell di Pasar Reguler pada perdagangan berikutnya.

Sumber Data: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes