Banyu Capital

IHSG Naik 0,36% setelah Sempat Tembus Titik Terendah 15 September, Asing Net Sell Rp430 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG pulih dari tekanan awal pada Sesi I 16 September 2026 dan tujuh dari 11 sektor berakhir di zona positif. Perbaikannya belum merata. LQ45 hanya naik 0,05%, IDX30 turun 0,08%, sektor keuangan melemah 0,37%, dan investor asing masih mencatat net sell Rp430,21 miliar di All Market.

Dashboard Market Notes Midday 16 September 2026 yang merangkum pergerakan IHSG, breadth pasar, indeks likuid, sektor, dan foreign flow
IHSG naik 0,36% pada akhir Sesi I setelah sempat turun di bawah titik terendah 15 September. Breadth membaik, tetapi IDX30 masih negatif dan asing mencatat net sell Rp430,21 miliar di All Market. Sumber: Stockbit Sekuritas dan RTI Business, Sesi I 16 September 2026.

IHSG berada di 6.484,10 saat istirahat, naik 22,94 poin atau 0,36%. Sebelumnya indeks sempat turun ke 6.445,24, lebih rendah daripada titik terendah 15 September di 6.461,01.

Tekanan pagi berhasil diserap. Yang belum terlihat adalah kepemimpinan yang lebih kuat dari saham likuid dan arus dana asing.

IHSG Sempat Memantul 90 Poin, tetapi Menjauh Lagi dari Puncak Sesi

IHSG dibuka di 6.453,91 dan turun hingga 6.445,24. Dari titik itu, indeks berbalik naik 90,22 poin hingga menyentuh 6.535,46.

Pantulan tersebut tidak bertahan penuh. Pada akhir Sesi I, IHSG kembali ke 6.484,10 atau sekitar 51,36 poin di bawah puncak intraday.

Struktur ini tetap lebih baik dibanding penutupan 15 September. Sehari sebelumnya IHSG berakhir di 6.461,15, hanya sekitar 0,14 poin di atas titik terendah harian 6.461,01.

Pasar berhasil menahan tekanan yang sempat membawa indeks menembus titik terendah sehari sebelumnya. Posisi Midday yang sudah sekitar 51 poin di bawah high membuat keberlanjutan pantulan menjadi ujian utama Sesi II.

Nilai transaksi Sesi I mencapai sekitar Rp6,24 triliun dengan volume 13,62 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,03 juta kali.

Breadth Membaik, Saham Likuid Masih Tertinggal

Keluasan pasar sudah menunjukkan perbaikan. Sebanyak 303 saham menguat, 272 melemah, dan 211 tidak berubah.

Tujuh dari 11 sektor berada di zona positif. Industrials memimpin dengan kenaikan 1,89%, disusul Energy 1,08%, Basic Materials 0,66%, Non-Cyclicals 0,50%, Property 0,49%, Transportation 0,42%, dan Cyclicals 0,04%.

Perbedaannya terlihat pada kelompok saham likuid. LQ45 hanya naik 0,05%, IDX30 turun 0,08%, sementara sektor keuangan masih melemah 0,37%.

Kondisi ini relevan setelah tekanan 15 September lebih berat pada kelompok saham besar. Saat itu LQ45 turun 1,26% dan IDX30 melemah 1,31%, lebih dalam daripada penurunan IHSG sebesar 1,13%.

Dengan breadth yang positif, Sesi I 16 September tidak menunjukkan tekanan yang meluas. Titik lemahnya masih berada pada kepemimpinan saham likuid, terutama kelompok keuangan.

Asing Masih Net Sell, Tekanan Besar Terkonsentrasi pada Bank

Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp1,72 triliun dan penjualan Rp2,15 triliun di All Market pada Sesi I. Selisihnya menghasilkan net foreign sell Rp430,21 miliar.

Distribusinya tidak merata. Tekanan terbesar muncul pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama bank, sementara pembelian asing tetap terlihat pada beberapa saham lain.

Top 10 Estimasi Net Foreign Buy

No. Saham Estimasi Net Foreign Buy Volume Bersih
1 BRMS Rp48,92 miliar 65,90 juta saham
2 ANTM Rp48,85 miliar 14,76 juta saham
3 SINI Rp29,67 miliar 2,11 juta saham
4 INCO Rp15,44 miliar 3,23 juta saham
5 EMAS Rp9,47 miliar 1,25 juta saham
6 TPIA Rp6,37 miliar 3,44 juta saham
7 ARCI Rp6,35 miliar 4,66 juta saham
8 IMPC Rp5,57 miliar 3,25 juta saham
9 MBMA Rp4,94 miliar 9,76 juta saham
10 BNBR Rp4,31 miliar 46,67 juta saham

Top 10 Estimasi Net Foreign Sell

No. Saham Estimasi Net Foreign Sell Volume Bersih
1 BMRI Rp146,43 miliar 34,02 juta saham
2 BUMI Rp71,92 miliar 347,34 juta saham
3 BBCA Rp43,88 miliar 6,88 juta saham
4 BBRI Rp23,77 miliar 7,14 juta saham
5 ASII Rp23,65 miliar 4,85 juta saham
6 CUAN Rp17,48 miliar 18,89 juta saham
7 ISAT Rp14,73 miliar 6,21 juta saham
8 DEWA Rp13,15 miliar 33,60 juta saham
9 ADRO Rp12,91 miliar 4,88 juta saham
10 BBNI Rp9,75 miliar 2,59 juta saham

BMRI, BBCA, BBRI, dan BBNI secara bersama-sama mencatat estimasi net foreign sell sekitar Rp223,83 miliar. Nilainya setara sekitar 52% dari net sell All Market, sehingga tekanan pada bank besar masih menjadi bagian penting dari arus asing Sesi I.

Sisi pembelian memperlihatkan pola yang lebih tersebar. BRMS, ANTM, INCO, EMAS, ARCI, dan MBMA muncul dalam daftar pembelian bersih, tetapi BUMI, DEWA, dan ADRO justru berada di sisi penjualan.

Data tersebut belum mendukung pembacaan bahwa asing sedang berpindah secara luas ke saham berbasis komoditas. Polanya lebih tepat dibaca sebagai arus yang masih negatif secara agregat dan selektif pada level saham.

Nilai per saham menggunakan estimasi Stockbit berdasarkan harga rata-rata dan volume bersih Sesi I. Tabel tersebut digunakan untuk membaca arah dan konsentrasi foreign flow, bukan sebagai rekonsiliasi transaksi final.

Sesi II Perlu Membuktikan Kepemimpinan yang Lebih Luas

Zona hijau IHSG saja belum cukup menjadi standar pembuktian. Pantulan akan mendapat dukungan yang lebih kuat bila LQ45 dan IDX30 ikut membaik, sektor keuangan berhenti tertinggal, breadth tetap positif, dan tekanan asing pada bank besar berkurang.

Sebaliknya, kembalinya IHSG ke bawah 6.461 lalu 6.445 bersama memburuknya breadth dan arus asing akan melemahkan pembacaan bahwa tekanan pagi sudah berhasil diserap.

Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes