IHSG Turun 0,28% dengan 326 Saham Melemah, Asing Net Sell Rp380 Miliar
Penguatan 1 September sempat berlanjut pada awal perdagangan Rabu, 2 September 2026, ketika IHSG membuka di 6.625,39 dan menyentuh 6.629,54. Momentum itu tidak bertahan. Pada Midday, IHSG berada di 6.581,45 atau turun 0,28%, dengan 326 saham melemah dan IDX30 serta LQ45 masing-masing turun 0,67%.
Tekanan Sesi I menunjukkan sebagian konfirmasi H+1 sudah hilang. All Market mencatat net foreign sell Rp379,67 miliar. Namun, empat bank besar masih mencatat estimasi net buy asing dan area evaluasi 6.535 sampai 6.525,48 belum diuji. Kondisi ini lebih tepat dibaca sebagai melemahnya konfirmasi, bukan invalidasi penguatan 1 September.
Pembukaan di Atas Level Tertinggi H-1 Tidak Bertahan
IHSG dibuka di 6.625,39 dan sempat mencapai 6.629,54 sebelum turun hingga 6.561,00. Level pembukaan dan tertinggi Sesi I tersebut berada di atas level tertinggi perdagangan 1 September di 6.608,18.
Artinya, follow-through sempat muncul secara harga pada awal perdagangan, tetapi tidak bertahan. Pada Midday, IHSG berada sekitar 48 poin di bawah level tertinggi Sesi I dan hanya sekitar 20 poin di atas level terendah.
Nilai transaksi All Market mencapai Rp9,92 triliun dengan volume sekitar 32,98 miliar saham dan frekuensi 1,53 juta kali.
Sehari sebelumnya, IHSG ditutup naik 1,14% ke 6.599,94 dengan 407 saham menguat dan 215 melemah. IDX30 dan LQ45 juga mengungguli IHSG. Kondisi tersebut menjadikan perdagangan 2 September sebagai ujian apakah konfirmasi H+1 dapat bertahan.
Breadth Berbalik Negatif dan Saham Likuid Tertinggal
RTI Business mencatat 265 saham menguat, 326 melemah, dan 191 stagnan. Rasio saham naik terhadap saham turun menjadi sekitar 0,81 kali, turun dari sekitar 1,89 kali pada penutupan 1 September.
Perubahan ini menunjukkan kondisi internal pasar melemah lebih jauh daripada penurunan IHSG sebesar 0,28%.
IDX30 dan LQ45 masing-masing turun 0,67%, sekitar 39 basis poin lebih buruk daripada IHSG. IDX SMC Liquid turun 0,65%, sedangkan IDX SMC Composite masih naik tipis 0,17%.
Partisipasi sektor juga menyempit. Hanya empat dari 11 sektor yang menguat: Technology +3,83%, Finance +0,47%, Consumer Cyclicals +0,38%, dan Healthcare +0,24%.
Basic Materials menjadi sektor terlemah dengan penurunan 1,79%, diikuti Industrials -1,21%, Infrastructure -1,06%, Energy -0,60%, Property -0,49%, Consumer Non-Cyclicals -0,36%, dan Transportation -0,05%.
Kondisi ini berlawanan dengan penutupan sehari sebelumnya ketika sembilan dari 11 sektor masih berada di zona positif.
Asing Net Sell, tetapi Empat Bank Besar Masih Dibeli
Stockbit Sekuritas mencatat pembelian asing All Market sekitar Rp2,47 triliun dan penjualan Rp2,85 triliun, sehingga posisi bersih menjadi net foreign sell Rp379,67 miliar.
Arah arus agregat berubah dari positif pada penutupan 1 September menjadi negatif pada Sesi I 2 September. Besar nominal keduanya tidak dibandingkan langsung karena periode pengukurannya berbeda.
Distribusi saham individual juga menunjukkan pola yang tidak seragam. BBCA mencatat estimasi net buy Rp106,82 miliar, BBRI Rp92,01 miliar, BMRI Rp38,55 miliar, dan BBNI Rp26,28 miliar. Gabungan empat bank tersebut sekitar Rp263,66 miliar.
Data posisi bersih pasar reguler belum tersedia. Karena itu, belum dapat dipastikan apakah net buy reguler yang menjadi salah satu konfirmasi penting pada 1 September juga sudah berbalik.
Top 10 Estimasi Net Foreign Buy
| Saham | Estimasi Net Buy |
|---|---|
| BBCA | Rp106,82 miliar |
| BBRI | Rp92,01 miliar |
| PTBA | Rp43,73 miliar |
| BMRI | Rp38,55 miliar |
| EMAS | Rp35,70 miliar |
| SINI | Rp32,93 miliar |
| ERAA | Rp26,86 miliar |
| BBNI | Rp26,28 miliar |
| AADI | Rp16,12 miliar |
| TAPG | Rp9,04 miliar |
Di sisi penjualan, TLKM dan GOTO mencatat estimasi net sell terbesar. Sejumlah saham tambang, energi, dan material juga masuk daftar penjualan asing.
Top 10 Estimasi Net Foreign Sell
| Saham | Estimasi Net Sell |
|---|---|
| TLKM | Rp95,93 miliar |
| GOTO | Rp92,58 miliar |
| TINS | Rp53,05 miliar |
| ADRO | Rp46,68 miliar |
| PTRO | Rp44,74 miliar |
| TPIA | Rp41,88 miliar |
| ASII | Rp37,11 miliar |
| CUAN | Rp34,23 miliar |
| BREN | Rp33,15 miliar |
| AMMN | Rp30,98 miliar |
Angka saham individual merupakan estimasi Stockbit Sekuritas berdasarkan harga rata-rata Sesi I dan volume asing bersih.
Tekanan Regional Menambah Risiko, tetapi Pola Domestik Tetap Selektif
Pasar regional juga bergerak lemah. Data RTI Business pada Midday menunjukkan Nikkei turun 2,82%, KOSPI 3,63%, Hang Seng 0,88%, dan Shanghai Composite 0,97%.
Kuotasi USD/IDR di RTI berada di sekitar 17.774,60 atau naik 0,45%, yang menunjukkan rupiah melemah secara intraday terhadap dolar AS.
Tekanan regional dan pelemahan rupiah menambah latar risiko bagi BEI, tetapi pola domestik tidak sepenuhnya seragam. Finance dan Technology masih positif, sementara empat bank besar tetap mencatat estimasi pembelian asing bersih.
Faktor global karena itu lebih tepat dibaca sebagai konteks tambahan daripada penjelasan tunggal atas pergerakan IHSG.
Dua Konfirmasi H+1 Sudah Melemah, Satu Masih Belum Terlihat
Perdagangan 1 September meninggalkan tiga konfirmasi utama untuk H+1: foreign flow pasar reguler, breadth positif, serta partisipasi IDX30 dan LQ45. Sampai Midday, dua yang terakhir sudah melemah, sedangkan posisi foreign flow reguler belum tersedia.
Sesi II akan menunjukkan apakah tekanan Sesi I mereda atau meluas. Fokusnya ada pada tiga indikator: breadth, kinerja IDX30/LQ45, dan foreign flow. Jika ketiganya membaik, pelemahan Midday lebih konsisten dengan konsolidasi intraday. Jika memburuk, dukungan internal terhadap penguatan 1 September semakin berkurang.
Level terendah Sesi I di 6.561 masih berada di atas area evaluasi 6.535 sampai 6.525,48. Invalidasi kondisi H-1 karena itu belum terjadi.
Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.