Banyu Capital

IHSG Tembus 6.300 dan Asing Net Buy Rp220 Miliar, tetapi IDX30 dan LQ45 Tertinggal

IHSG naik 1,41% ke 6.319,85 dengan sepuluh sektor menguat dan nilai transaksi mencapai Rp11,07 triliun. Namun, IDX30 dan LQ45 bergerak lebih lambat daripada indeks utama, sementara nilai net buy DSSA setara sekitar 77% dari net foreign buy agregat pasar.

Dashboard Market Notes Midday 21 Juli 2026 yang menampilkan IHSG 6.319,85, net foreign buy Rp220 miliar, breadth pasar, sektor, serta kinerja IDX30 dan LQ45
IHSG menembus 6.300 pada sesi pertama 21 Juli 2026, didukung peningkatan aktivitas dan net foreign buy Rp220,14 miliar. Namun, IDX30, LQ45, dan sektor finansial masih tertinggal. Sumber: Stockbit Sekuritas dan RTI Business.

IHSG memperkuat rebound pada sesi pertama perdagangan Selasa, 21 Juli 2026. Indeks naik 88,07 poin dan mengakhiri sesi hanya sekitar 1,66 poin di bawah titik tertinggi intraday.

Perbaikan kali ini mendapat dukungan dari kenaikan aktivitas, penguatan sepuluh sektor, serta perubahan arus asing menjadi net foreign buy All Market Rp220,14 miliar.

Namun, kualitas kenaikan belum sepenuhnya merata. Breadth sedikit menyempit dibanding sesi sebelumnya, indeks saham likuid utama tertinggal, dan pembelian asing masih terkonsentrasi pada beberapa saham.

IHSG Bertahan Dekat Puncak setelah Menembus 6.300

IHSG dibuka di 6.273,57, sempat turun ke 6.247,35, lalu bergerak naik hingga 6.321,51. Indeks mengakhiri sesi pertama di 6.319,85.

Posisi tersebut berada 46,28 poin di atas pembukaan dan 72,50 poin di atas titik terendah sesi. IHSG juga berada sekitar 69,85 poin di atas area 6.250.

Struktur harga ini lebih kuat dibanding perdagangan sebelumnya. Pada 20 Juli, IHSG sempat mencapai 6.249,90, tetapi mengakhiri perdagangan di 6.231,78. Area 6.250 saat itu baru diuji secara intraday dan belum dipertahankan hingga penutupan.

Pergerakan 21 Juli menunjukkan validasi harga mulai membaik karena IHSG telah melewati 6.250 dan 6.300. Namun, daya tahan penembusan tetap perlu diuji sampai perdagangan berakhir.

Sepuluh Sektor Menguat, tetapi Breadth Sedikit Menyempit

Sebanyak 387 saham menguat, 224 saham melemah, dan 181 saham tidak berubah. Rasio saham naik terhadap saham turun mencapai sekitar 1,73 kali.

Partisipasi pasar masih positif. Namun, rasionya lebih rendah dibanding sesi pertama 20 Juli, ketika 398 saham menguat dan 188 saham melemah, atau sekitar 2,12 kali.

Artinya, kenaikan IHSG menjadi lebih besar, tetapi penyebaran penguatan pada tingkat saham individual tidak semakin luas.

Pada tingkat sektor, struktur pasar terlihat lebih konstruktif. Sepuluh dari sebelas sektor berada di zona positif.

Sektor Perubahan
Properti dan Real Estat +2,93%
Energi +2,75%
Bahan Baku +2,37%
Teknologi +2,06%
Infrastruktur +1,92%
Perindustrian +1,77%
Barang Konsumen Siklikal +0,83%
Transportasi dan Logistik +0,59%
Barang Konsumen Primer +0,52%
Finansial +0,49%
Kesehatan -1,39%

Properti, energi, bahan baku, teknologi, infrastruktur, dan perindustrian menjadi pemimpin kenaikan. Komposisi ini menunjukkan bahwa penguatan tidak bergantung pada satu sektor.

Namun, sektor finansial hanya naik 0,49%. Bank dan saham keuangan belum menjadi pusat kepemimpinan pasar meskipun pembelian asing mulai kembali terlihat pada beberapa bank besar.

Aktivitas Meningkat, tetapi Volume Tumbuh Lebih Cepat

Nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp11,072 triliun, dengan volume 30,962 miliar saham dan frekuensi 1.762.226 kali.

Dibanding sesi pertama 20 Juli, seluruh indikator aktivitas meningkat.

Indikator 20 Juli 21 Juli Perubahan
Nilai transaksi Rp8,271 triliun Rp11,072 triliun +33,9%
Volume 20,097 miliar saham 30,962 miliar saham +54,1%
Frekuensi 1.399.915 kali 1.762.226 kali +25,9%

Peningkatan nilai transaksi hampir 34% memberikan dukungan aktivitas yang lebih kuat. Namun, volume bertambah jauh lebih cepat daripada nilai transaksi.

Aktivitas tinggi terlihat pada saham seperti BNBR, BUMI, DEWA, dan JGLE yang memiliki harga nominal relatif rendah. Di sisi lain, daftar saham dengan nilai transaksi terbesar juga mencakup TPIA, DSSA, BBRI, AMMN, BBCA, dan BMRI.

Kombinasi tersebut menunjukkan aktivitas meningkat pada beberapa lapisan kapitalisasi. Namun, kenaikan volume belum seluruhnya merepresentasikan tambahan transaksi bernilai besar pada saham likuid.

Asing Berbalik Net Buy, tetapi Arus Masih Terkonsentrasi

Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp2,98 triliun dan penjualan Rp2,76 triliun. Posisi bersihnya mencapai net foreign buy All Market Rp220,14 miliar.

Pada sesi pertama 20 Juli, asing masih mencatat net foreign sell Rp302,86 miliar. Dengan demikian, perubahan posisi antara kedua sesi mencapai sekitar Rp523 miliar.

Perubahan tersebut menjadi salah satu tanda perbaikan struktur perdagangan pada sesi pertama 21 Juli. Namun, angka agregat perlu dibaca bersama distribusinya.

Estimasi 10 Net Foreign Buy Terbesar

Saham Estimasi net foreign buy
DSSA Rp169,72 miliar
BBRI Rp92,81 miliar
PTRO Rp41,48 miliar
BMRI Rp27,98 miliar
ENRG Rp23,64 miliar
BBCA Rp22,23 miliar
BRPT Rp21,69 miliar
TPIA Rp19,17 miliar
MDKA Rp17,91 miliar
PANI Rp16,28 miliar

Estimasi 10 Net Foreign Sell Terbesar

Saham Estimasi net foreign sell
BNBR Rp56,80 miliar
AMMN Rp45,62 miliar
BRMS Rp41,92 miliar
ASII Rp26,80 miliar
KLBF Rp15,12 miliar
RAJA Rp13,87 miliar
AADI Rp12,34 miliar
BULL Rp12,16 miliar
NSSS Rp10,75 miliar
AMRT Rp10,63 miliar

Estimasi Stockbit Sekuritas menggunakan harga rata-rata sesi pertama dan volume bersih asing. Daftar tersebut menggambarkan distribusi arus dana asing, bukan daftar rekomendasi atau dasar tunggal untuk keputusan transaksi.

DSSA mencatat net foreign buy Rp169,72 miliar, setara sekitar 77,1% dari net foreign buy agregat Rp220,14 miliar.

Perbandingan tersebut bukan berarti 77,1% dari pembelian bruto asing terjadi pada DSSA. Angka agregat merupakan hasil akhir setelah pembelian bersih pada sejumlah saham dikurangi penjualan bersih pada saham lainnya.

DSSA, BBRI, dan PTRO secara gabungan mencatat net buy sekitar Rp304,01 miliar. Nilainya lebih besar daripada angka agregat karena diimbangi penjualan asing pada BNBR, AMMN, BRMS, ASII, dan saham lain.

Bank Besar Dibeli, tetapi IDX30 dan LQ45 Belum Memimpin

Perbaikan foreign flow terlihat pada tiga bank besar. BBRI mencatat estimasi net foreign buy Rp92,81 miliar, BMRI Rp27,98 miliar, dan BBCA Rp22,23 miliar.

Gabungan pembelian bersih pada ketiganya mencapai sekitar Rp143,02 miliar. Pola ini berbalik dari sesi pertama 20 Juli, ketika pembelian asing pada BBRI belum cukup mengimbangi penjualan pada BMRI, BBCA, dan BBNI.

Namun, perbaikan arus tersebut belum disertai kepemimpinan harga yang penuh.

Indeks Perubahan
KOMPAS100 +1,51%
IHSG +1,41%
IDX80 +1,38%
LQ45 +1,20%
IDX30 +0,89%
SRI-KEHATI +0,79%

LQ45 dan IDX30 tetap menguat. Ketertinggalannya karena itu tidak cukup untuk menyatakan bahwa rebound lemah.

KOMPAS100 dan IDX80 juga menunjukkan bahwa kenaikan tetap menjangkau saham likuid dan kapitalisasi menengah. Namun, dukungan dari kelompok saham likuid utama akan lebih kuat apabila IDX30, LQ45, sektor finansial, dan bank besar dapat memperkecil selisih terhadap IHSG.

Rupiah dan Komoditas Memberi Konteks yang Lebih Konstruktif

Snapshot pasar menunjukkan USD/IDR turun 0,45% ke 17.890, yang mengindikasikan rupiah menguat terhadap dolar AS.

Batubara Newcastle naik 1,28%, nikel 1,84%, timah 2,27%, dan CPO 0,33%. Kondisi tersebut memberi konteks pendukung bagi sektor energi dan bahan baku.

Namun, pergerakan lintas aset tersebut bukan bukti sebab-akibat langsung. Saham juga dipengaruhi foreign flow, valuasi, posisi investor, dan informasi masing-masing emiten.

Bursa regional bergerak campuran. Nikkei naik 2,51%, sedangkan Shanghai Composite turun 0,43% dan Hang Seng hanya naik 0,03%. Penguatan IHSG karena itu tidak berlangsung dalam reli regional yang sepenuhnya seragam.

Sesi Kedua Perlu Membuktikan Pemerataan Rebound

Sesi pertama 21 Juli memperbaiki tiga kelemahan perdagangan sebelumnya. IHSG telah melewati 6.250 dan 6.300, aktivitas transaksi meningkat, serta asing kembali menjadi pembeli bersih.

Daya tahan rebound akan semakin kuat apabila empat hal terjadi hingga penutupan:

  1. IHSG bertahan di atas 6.300.
  2. Foreign flow tetap positif dan lebih tersebar.
  3. IDX30, LQ45, sektor finansial, dan bank besar memperkecil ketertinggalan.
  4. Breadth tetap positif dan nilai transaksi bertahan tinggi.

Pembacaan konstruktif mulai melemah apabila IHSG kembali ke bawah 6.300. Invalidasi menjadi lebih kuat apabila indeks menutup di bawah 6.250, asing berbalik menjadi net seller, dan breadth berubah negatif secara bersamaan.

Struktur rebound IHSG pada sesi pertama membaik dari sisi harga, aktivitas, sektor, dan arus asing. Namun, penguatan akan menjadi lebih solid apabila kepemimpinan saham likuid dan pembelian asing semakin merata hingga penutupan.

Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes