IHSG Turun 0,27% setelah Sempat Tembus Titik Terendah Jumat, 329 Saham Menguat
IHSG pulih sekitar 35 poin dari titik terendah Sesi I di 6.388,25. Breadth tetap positif dan lima sektor menguat, tetapi IDX30 dan LQ45 masih tertinggal, sementara investor asing mencatat net sell Rp216,24 miliar di All Market.
IHSG mengakhiri Sesi I Senin, 21 September 2026, di 6.423,51, turun 17,65 poin atau 0,27%. Indeks dibuka di 6.446,90 dan sempat naik ke 6.451,33 sebelum tekanan jual membawanya turun hingga 6.388,25.
Level tersebut menembus titik terendah perdagangan Jumat. Namun IHSG kemudian pulih 35,27 poin dari dasar sesi, sementara kondisi internal pasar tidak menunjukkan tekanan yang sama luasnya. Sebanyak 329 saham menguat dibanding 291 yang melemah, lima sektor berada di zona positif, dan IDX Small-Mid Cap Composite naik 0,26%.
Saham likuid tetap menjadi titik lemah. IDX30 turun 0,49% dan LQ45 melemah 0,43%, lebih dalam daripada IHSG. Investor asing juga masih membukukan net sell di All Market. Kombinasi ini membuat pemulihan dari 6.388 belum cukup untuk menunjukkan bahwa tekanan pasar sudah selesai.
IHSG Pulih 35 Poin, tetapi Masih di Bawah Pembukaan
Rentang pergerakan IHSG dari titik tertinggi 6.451,33 ke titik terendah 6.388,25 mencapai sekitar 63 poin. Setelah menyentuh dasar sesi, indeks kembali ke 6.423,51 saat istirahat.
Posisi tersebut masih 23,38 poin di bawah pembukaan, meski sudah sekitar 35 poin di atas titik terendah.
Nilai transaksi All Market mencapai Rp5,745 triliun dengan volume sekitar 14,289 miliar saham dan frekuensi 1.057.781 kali.
Pemulihan itu belum mengubah struktur utama Sesi I. IHSG masih negatif dan tetap berada di bawah pembukaan. Yang berubah adalah tekanan jual tidak mampu mempertahankan indeks di area 6.388 sampai jeda perdagangan.
Breadth Positif, Tekanan Lebih Berat di Saham Likuid
Di bawah penurunan IHSG, jumlah saham menguat justru lebih banyak daripada saham melemah. Sebanyak 329 saham naik, 291 turun, dan 168 tidak berubah.
Lima dari 11 sektor berada di zona positif. Transportasi naik 1,47%, Property 0,65%, Consumer Cyclicals 0,59%, Industrials 0,54%, dan Energy 0,13%.
Perbedaan juga terlihat antarsegmen kapitalisasi. IDX Small-Mid Cap Composite naik 0,26%, sedangkan IDX30 turun 0,49% dan LQ45 melemah 0,43%.
Pola tersebut menunjukkan bahwa beban penurunan indeks lebih berat pada saham besar dan likuid daripada pada keseluruhan pasar. Kondisinya berbeda dari penutupan Jumat, ketika 442 saham melemah dan 10 dari 11 sektor berada di zona negatif.
Cakupan tekanan pada Sesi I Senin karena itu lebih sempit daripada pada penutupan Jumat, meski IHSG sempat mencetak titik terendah baru.
Net Sell Asing Terkonsentrasi pada Sejumlah Saham Besar
Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp1,45 triliun dan penjualan Rp1,67 triliun di All Market. Selisihnya menghasilkan net foreign sell Rp216,24 miliar hingga akhir Sesi I.
Tekanan terbesar terlihat pada ANTM dengan estimasi net sell Rp100,62 miliar, BMRI Rp79,91 miliar, TLKM Rp53,47 miliar, dan BBCA Rp50,77 miliar.
Sebaliknya, pembelian asing masih muncul pada sejumlah saham lain. COIN mencatat estimasi net buy Rp29,55 miliar, TPIA Rp29,14 miliar, TINS Rp23,42 miliar, dan BBRI Rp19,05 miliar.
Empat saham dengan penjualan asing terbesar mencatat estimasi net sell gabungan sekitar Rp284,77 miliar, lebih besar daripada net sell All Market. Artinya, tekanan pada kelompok tersebut sebagian diimbangi pembelian bersih di saham lain.
Top 10 Net Foreign Buy
| Saham | Estimasi nilai |
|---|---|
| COIN | Rp29,55 miliar |
| TPIA | Rp29,14 miliar |
| TINS | Rp23,42 miliar |
| BBRI | Rp19,05 miliar |
| BULL | Rp18,11 miliar |
| IRSX | Rp14,71 miliar |
| PTRO | Rp13,65 miliar |
| AADI | Rp13,04 miliar |
| BUVA | Rp10,65 miliar |
| SQMI | Rp9,40 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell
| Saham | Estimasi nilai |
|---|---|
| ANTM | Rp100,62 miliar |
| BMRI | Rp79,91 miliar |
| TLKM | Rp53,47 miliar |
| BBCA | Rp50,77 miliar |
| ADRO | Rp17,13 miliar |
| MDKA | Rp16,73 miliar |
| INCO | Rp12,04 miliar |
| BBNI | Rp11,58 miliar |
| ASII | Rp11,25 miliar |
| ENRG | Rp10,30 miliar |
Nilai per saham merupakan estimasi Stockbit Sekuritas berdasarkan harga rata-rata Sesi I dan volume bersih transaksi asing. Angka tersebut digunakan untuk membaca distribusi arus asing antarsaham, bukan sebagai nilai transaksi resmi final.
Sesi II Harus Membuktikan Apakah Tekanan Meluas
Posisi IHSG terhadap 6.388,25 menjadi bukti pertama. Jika area tersebut kembali ditekan, pemulihan menjelang istirahat akan kehilangan sebagian signifikansinya.
Bukti kedua datang dari breadth dan distribusi sektor. Jika saham turun kembali mendominasi dan jumlah sektor positif menyusut, tekanan yang pada Sesi I masih terkonsentrasi mulai menyebar ke pasar yang lebih luas.
Bukti ketiga adalah IDX30, LQ45, dan foreign flow. Kedua indeks saham likuid masih tertinggal dari IHSG, sementara investor asing belum berbalik menjadi net buy.
Rupiah menambah satu lapisan risiko. Kurs pasar USD/IDR pada snapshot intraday berada di sekitar 17.834,70 atau naik 0,56%. Angka tersebut bukan JISDOR resmi 21 September sehingga digunakan sebagai indikator pasar intraday, bukan sebagai basis utama tesis.
Titik terendah baru sudah terjadi. Yang belum terbukti adalah apakah pelemahan itu akan mendapat konfirmasi dari breadth, saham likuid, dan arus asing pada Sesi II.
Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.