IHSG Turun 0,69% dengan 370 Saham dan 9 Sektor Melemah, Asing Net Sell Rp392 Miliar
Tekanan Sesi I meluas ke saham, sektor, dan indeks likuid. IDX30 dan LQ45 turun lebih dalam daripada IHSG, sementara foreign flow All Market berbalik menjadi net sell Rp391,96 miliar setelah Jumat ditutup dengan arus asing positif.
IHSG turun 45,045 poin atau 0,69% ke 6.480,645 pada akhir Sesi I 24 Agustus 2026. Sebanyak 370 saham melemah dibanding 233 yang menguat, sementara sembilan dari 11 sektor berada di zona negatif.
Jumat, IDX30 dan LQ45 mengungguli IHSG ketika bank besar menjadi pusat pembelian asing. Pola itu tidak berlanjut pada Senin pagi: saham likuid turun lebih dalam daripada IHSG dan sejumlah bank besar berada di sisi jual asing. Satu sesi belum cukup untuk menyatakan rebound sebelumnya berakhir, tetapi struktur perdagangan pada paruh pertama Senin berbeda dari penutupan Jumat.
Tekanan Meluas saat IHSG Kembali di Bawah 6.500
IHSG dibuka pada 6.544,002 dan sempat naik ke 6.551,003 sebelum berbalik turun hingga 6.474,572. Indeks kemudian sedikit pulih dan mengakhiri Sesi I pada 6.480,645, di bawah penutupan Jumat sebesar 6.525,690.
Nilai transaksi mencapai sekitar Rp9,03 triliun dengan volume 24,797 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,39 juta kali. Partisipasi pasar menunjukkan 233 saham menguat, 370 melemah, dan 186 tidak berubah.
Dengan 370 saham turun dan sembilan sektor negatif, pelemahan pagi tidak hanya berasal dari beberapa saham besar. Breadth yang lemah berjalan bersamaan dengan tertinggalnya IDX30 dan LQ45.
Saham Likuid Berbalik Tertinggal, Basic Materials Menjadi Pengecualian
IDX30 turun 0,91% dan LQ45 melemah 0,92%, lebih dalam dibanding penurunan IHSG sebesar 0,69%. Kondisi ini berlawanan dengan Jumat, ketika kedua indeks tersebut mengungguli IHSG.
Tekanan sektoral juga luas. Healthcare turun 2,31%, Transportation 1,16%, Finance 0,93%, Property 0,84%, Consumer Cyclicals 0,58%, Technology 0,40%, Energy 0,32%, Consumer Non-Cyclicals 0,29%, dan Infrastructure 0,09%.
Hanya Basic Materials yang menguat 0,71% dan Industrials 0,15%. Kekuatan Basic Materials lebih tepat dibaca sebagai kantong kekuatan selektif karena harga komoditas utama bergerak campuran, bukan menguat secara seragam.
Foreign Flow Berbalik Negatif, Bank Besar Berada di Sisi Jual
Stockbit mencatat pembelian asing All Market sekitar Rp2,22 triliun dan penjualan sekitar Rp2,61 triliun. Secara bersih, asing membukukan net sell Rp391,96 miliar pada Sesi I.
Arah foreign flow berbalik dibanding Jumat, ketika All Market masih ditutup dengan net buy asing. Besarannya tidak dibandingkan langsung karena data Jumat mencakup satu hari perdagangan penuh, sedangkan angka Senin baru mencakup Sesi I.
Estimasi Stockbit menempatkan BBRI sebagai net foreign sell terbesar sebesar Rp160,84 miliar. BBNI mencatat sekitar Rp36,42 miliar, BBCA Rp29,04 miliar, dan BMRI Rp19,64 miliar. Perubahan arah pada bank besar berjalan bersamaan dengan pelemahan sektor Finance, IDX30, dan LQ45.
Top 10 Net Foreign Buy
| Rank | Saham | Nilai |
|---|---|---|
| 1 | TINS | Rp82,42 miliar |
| 2 | ANTM | Rp53,08 miliar |
| 3 | BRMS | Rp40,96 miliar |
| 4 | AADI | Rp26,34 miliar |
| 5 | EMAS | Rp16,31 miliar |
| 6 | INCO | Rp8,80 miliar |
| 7 | ADMR | Rp7,34 miliar |
| 8 | PACK | Rp7,23 miliar |
| 9 | ADRO | Rp6,60 miliar |
| 10 | ICBP | Rp6,17 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell
| Rank | Saham | Nilai |
|---|---|---|
| 1 | BBRI | Rp160,84 miliar |
| 2 | BUMI | Rp73,79 miliar |
| 3 | TPIA | Rp64,01 miliar |
| 4 | DSSA | Rp49,76 miliar |
| 5 | ISAT | Rp45,57 miliar |
| 6 | BBNI | Rp36,42 miliar |
| 7 | AMMN | Rp32,63 miliar |
| 8 | CUAN | Rp30,69 miliar |
| 9 | BBCA | Rp29,04 miliar |
| 10 | GOTO | Rp26,17 miliar |
Meski arus agregat negatif, pembelian asing tetap muncul selektif. TINS, ANTM, BRMS, AADI, EMAS, INCO, ADMR, dan ADRO berada dalam kelompok net foreign buy, sehingga tekanan asing tidak tersebar merata ke seluruh pasar.
Nilai net foreign buy dan net foreign sell per saham merupakan estimasi Stockbit berdasarkan harga rata-rata Sesi I dan volume bersih asing.
Sesi II Perlu Membuktikan Apakah Tekanan Bertahan
Ujian berikutnya bukan sekadar apakah IHSG naik atau turun pada Sesi II. Yang lebih penting adalah apakah indeks mampu kembali ke atas 6.500 bersamaan dengan perbaikan breadth, pemulihan IDX30 dan LQ45, serta meredanya tekanan jual asing.
Jika IHSG tetap di bawah 6.500, saham melemah terus mendominasi, saham likuid tidak pulih, dan foreign flow bertahan negatif, tekanan Sesi I mendapat konfirmasi lebih kuat.
Sebaliknya, pembacaan risiko perlu dilunakkan jika IHSG merebut kembali 6.500, jumlah saham menguat bertambah, IDX30 dan LQ45 memperbaiki posisi, serta tekanan asing pada saham besar mereda. Kombinasi indikator tersebut akan menentukan apakah pelemahan pagi hanya menghapus sebagian kenaikan sebelumnya atau mulai mengubah struktur rebound.
Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.