IHSG Jebol 5.800 di Sesi 1, Asing Masih Jual Besar Saham Bank
IHSG kembali masuk tekanan pada sesi 1 perdagangan Selasa, 30 Juni 2026. Indeks turun 141,037 poin atau 2,42% ke 5.679,752. Tekanan ini penting karena IHSG tidak hanya melemah, tetapi juga gagal menjaga area 5.800 dan sempat turun ke low intraday 5.638,574.
Konteksnya menjadi lebih defensif dibanding perdagangan 29 Juni. Pada EOD 29 Juni, Banyu Capital mencatat IHSG gagal bertahan di 5.830 dan ditutup di 5.820,790, turun 1,28%. Saat itu, area 5.830 menjadi level yang perlu direbut kembali agar bias jangka pendek membaik. Pada sesi 1 hari ini, IHSG justru turun jauh di bawah 5.800, sehingga fokus pasar bergeser ke area 5.700 sebagai titik stabilisasi intraday.
Tekanan hari ini tidak hanya tercermin dari penurunan indeks. Breadth pasar juga memburuk, semua sektor berada di zona merah, sementara saham big cap bank tetap menjadi pusat tekanan arus asing.
Data Sesi 1: Tekanan Meluas, Bukan Hanya Indeks Merah
IHSG dibuka di 5.801,454, sempat menyentuh high 5.811,669, lalu turun ke low 5.638,574. Turnover pasar mencapai Rp7,522 triliun, dengan volume 12,430 miliar saham dan frekuensi 903.131 kali transaksi.
Data ini memberi dua pesan. Pertama, tekanan muncul sejak awal sesi dan tidak berhasil kembali ke area pembukaan. Kedua, tekanan terjadi dengan aktivitas transaksi yang cukup besar, sehingga pelemahan tidak bisa dianggap sebagai pergerakan sepi likuiditas.
Breadth menjadi bagian paling penting. RTI Business mencatat hanya 99 saham naik, 583 saham turun, dan 110 saham stagnan. Jumlah saham turun sekitar 5,9 kali jumlah saham naik. Dalam pembacaan Market Notes, breadth seperti ini menunjukkan risiko yang lebih luas daripada sekadar tekanan pada saham tertentu.
Semua Sektor Melemah
Tidak ada sektor yang berhasil bertahan di zona hijau pada sesi 1. Tekanan terdalam datang dari Basic Industry, Energy, dan Industrial.
| Sektor | Kinerja Sesi 1 |
|---|---|
| Basic Industry | -4,30% |
| Energy | -3,31% |
| Industrial | -2,68% |
| Infrastructure | -2,44% |
| Property | -2,35% |
| Cyclical | -2,23% |
| Transport | -2,22% |
| Health | -1,75% |
| Finance | -1,69% |
| Non-Cyclical | -1,07% |
| Technology | -0,19% |
Basic Industry dan Energy menjadi pusat tekanan sektoral. Namun Finance tetap penting untuk dibaca karena saham bank besar masih menjadi kanal utama foreign sell. Artinya, meskipun sektor komoditas turun lebih dalam secara persentase, pemulihan IHSG tetap sulit kuat jika BBCA, BBRI, dan BMRI belum stabil.
Foreign Sell Masih Berat di Saham Bank
Data Stockbit Sekuritas menunjukkan foreign buy Rp3,40 triliun dan foreign sell Rp4,10 triliun pada sesi 1. Dengan demikian, asing mencatat net foreign sell Rp699,84 miliar. Angka ini menggunakan data sesi 1 Stockbit Sekuritas dan perlu dibaca sebagai pembacaan intraday, bukan angka final penutupan.
Asing memang masih membeli beberapa saham secara selektif. Namun tekanan jual terbesar tetap terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, terutama BBCA, BBRI, dan BMRI. Ini membuat pembelian asing di saham tertentu belum cukup untuk mengubah tekanan indeks.
Top 10 Net Foreign Buy
| No | Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|---|
| 1 | TPIA | Rp61,24 miliar |
| 2 | AMMN | Rp14,28 miliar |
| 3 | BREN | Rp12,58 miliar |
| 4 | BRPT | Rp11,51 miliar |
| 5 | PTRO | Rp9,58 miliar |
| 6 | EMAS | Rp9,33 miliar |
| 7 | BNBR | Rp8,84 miliar |
| 8 | RAJA | Rp8,69 miliar |
| 9 | BIPI | Rp8,65 miliar |
| 10 | ANTM | Rp8,20 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell
| No | Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|---|
| 1 | BBCA | Rp413,22 miliar |
| 2 | BBRI | Rp93,48 miliar |
| 3 | BMRI | Rp89,59 miliar |
| 4 | AADI | Rp41,51 miliar |
| 5 | ASII | Rp39,88 miliar |
| 6 | BUMI | Rp35,94 miliar |
| 7 | BRMS | Rp24,69 miliar |
| 8 | DSSA | Rp21,20 miliar |
| 9 | DEWA | Rp12,13 miliar |
| 10 | ADRO | Rp12,02 miliar |
Pola ini menjadi inti pembacaan sesi 1. TPIA memang menjadi top net foreign buy dengan Rp61,24 miliar. Namun BBCA sendiri mencatat net foreign sell Rp413,22 miliar. Selisih skala ini menjelaskan mengapa pembelian asing selektif belum cukup menahan indeks. Data foreign transaction Stockbit mencatat nilai net foreign dihitung dari harga rata-rata sesi 1 dikalikan volume bersih, sehingga angka ini perlu dibaca sebagai estimasi sesi 1, bukan angka final penutupan.
Regional Campuran, Tekanan IHSG Lebih Banyak Datang dari Struktur Pasar Lokal
Bursa regional dan global tidak memberi sinyal tunggal. S&P 500 naik 1,18%, Dow Jones naik 0,59%, Nikkei naik 1,73%, dan Shanghai naik 0,20%. Namun Hang Seng melemah 1,19%. Dari komoditas, Brent turun 0,80%, oil turun 0,98%, aluminium turun 3,10%, sementara CPO, nikel, tembaga, rubber, timah, dan zinc masih menguat tipis.
USD/IDR berada di 17.895, turun 0,35% pada data Stockbit. Karena rupiah tidak sedang melemah pada data ini, tekanan IHSG sesi 1 lebih kuat dibaca dari faktor pasar domestik: breadth yang buruk, semua sektor merah, dan foreign sell besar di saham big cap.
Dengan kata lain, pelemahan IHSG hari ini tidak bisa dijelaskan hanya oleh sentimen global. Tekanan lebih terlihat dari struktur pasar lokal yang rapuh.
Yang Perlu Dibuktikan Sesi 2
Fokus sesi 2 bukan hanya apakah IHSG memantul. Fokus yang lebih penting adalah kualitas pemulihan.
Pertama, IHSG perlu kembali ke atas 5.700. Jika indeks tetap tertahan di bawah area ini, tekanan sesi 1 akan terlihat lebih valid sebagai sinyal defensif.
Kedua, breadth perlu membaik. Pemulihan indeks yang hanya ditopang beberapa saham besar, sementara mayoritas saham tetap turun, belum cukup menjadi sinyal pasar yang sehat.
Ketiga, foreign sell di bank besar perlu mereda. Selama BBCA, BBRI, dan BMRI tetap menjadi pusat jual asing, IHSG masih kehilangan salah satu jangkar utamanya.
Keempat, sektor Finance perlu berhenti menjadi sumber tekanan tambahan. Basic Industry dan Energy memang turun lebih dalam, tetapi bank besar tetap penting karena bobot dan likuiditasnya besar.
Kelima, area 5.800 kini menjadi area pemulihan awal yang perlu direbut kembali. Rebound baru lebih layak dibaca sehat jika IHSG mampu kembali mendekati area itu dengan breadth yang membaik dan tekanan asing yang menyusut.
Pembacaan paling seimbang untuk saat ini: IHSG sedang berada dalam tekanan yang melebar, tetapi statusnya masih intraday. Pasar belum memberi tanda pemulihan yang solid, namun kesimpulan final tetap perlu menunggu penutupan.
Sumber: RTI Business, Stockbit Sekuritas, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.