IHSG Jatuh ke 5.692, Net Sell Asing Rp2,05 Triliun Tekan Saham Big Cap
Tekanan sesi 1 berlanjut setelah pelemahan hari sebelumnya. Finance, Energy, dan Transport menjadi pemberat utama, sementara Basic Industry menjadi satu-satunya sektor yang masih hijau.
IHSG kembali tertekan tajam pada sesi 1 perdagangan 5 Juni 2026. Indeks turun 147,63 poin atau 2,53% ke 5.692,16. Tekanan ini memperpanjang pelemahan sehari sebelumnya. Pada 4 Juni, IHSG memang sempat pulih dari low intraday, tetapi penutupan masih merah dan tekanan asing belum hilang.
Data sesi 1 menunjukkan tekanan asing kembali besar. Foreign Buy All Market tercatat Rp12,69 triliun, sedangkan Foreign Sell All Market mencapai Rp14,74 triliun. Dengan demikian, asing membukukan net foreign sell Rp2,05 triliun.
Namun, data sektor memberi nuansa penting: koreksi memang dalam, tetapi tidak sepenuhnya homogen. Basic Industry masih menjadi satu-satunya sektor hijau dengan kenaikan 1,01%.
IHSG Gagal Bertahan di Area 5.800
Pada sesi 1, IHSG berada di 5.692,16. Indeks dibuka di 5.846,49, sempat menyentuh level tertinggi 5.860,67, lalu turun sampai low intraday 5.673,93.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| IHSG | 5.692,16 |
| Perubahan | -147,63 poin |
| Perubahan (%) | -2,53% |
| Open | 5.846,49 |
| High | 5.860,67 |
| Low | 5.673,93 |
| All Market Value | Rp21,09 triliun |
| Frequency | 1,32 juta kali |
Struktur pergerakan ini menunjukkan tekanan jual masih dominan pada sesi 1. IHSG tidak hanya turun dari pembukaan, tetapi juga gagal mempertahankan area 5.800.
Asing Net Sell Rp2,05 Triliun
Foreign flow menjadi data utama sesi 1. Tekanan asing masih besar dan menjadi salah satu faktor yang menahan pemulihan IHSG.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Foreign Buy | Rp12,69 triliun |
| Foreign Sell | Rp14,74 triliun |
| Net Foreign Sell | Rp2,05 triliun |
Angka ini masih bersifat data sesi 1, bukan data final penutupan. Namun, arahnya menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam tekanan arus dana asing.
Saham yang Masih Dibeli Asing
Di tengah tekanan pasar, masih ada sejumlah saham yang mencatat net foreign buy. Berdasarkan data Foreign Transaction Midday Stockbit Sekuritas, net foreign buy terbesar pada sesi 1 berada di WIFI, TINS, PACK, JPFA, dan BDMN.
| Rank | Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|---|
| 1 | WIFI | Rp13,86 miliar |
| 2 | TINS | Rp13,19 miliar |
| 3 | PACK | Rp7,45 miliar |
| 4 | JPFA | Rp6,85 miliar |
| 5 | BDMN | Rp6,56 miliar |
| 6 | SUPA | Rp5,95 miliar |
| 7 | BRMS | Rp3,17 miliar |
| 8 | INET | Rp2,57 miliar |
| 9 | ARCI | Rp2,54 miliar |
| 10 | IRSX | Rp2,53 miliar |
Data ini menunjukkan masih ada pembelian asing secara selektif. Namun, nilai pembelian terbesar relatif kecil dibanding tekanan jual pada saham berkapitalisasi besar.
BBCA, TPIA, dan BMRI Jadi Pusat Tekanan
Tekanan asing paling besar terjadi pada saham berkapitalisasi besar. BBCA mencatat net foreign sell Rp734,35 miliar. Setelah itu, TPIA mencatat net foreign sell Rp240,84 miliar dan BMRI Rp161,62 miliar.
| Rank | Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|---|
| 1 | BBCA | Rp734,35 miliar |
| 2 | TPIA | Rp240,84 miliar |
| 3 | BMRI | Rp161,62 miliar |
| 4 | MDKA | Rp98,11 miliar |
| 5 | ANTM | Rp89,13 miliar |
| 6 | CUAN | Rp64,27 miliar |
| 7 | BRPT | Rp58,95 miliar |
| 8 | BBNI | Rp58,82 miliar |
| 9 | BUMI | Rp39,10 miliar |
| 10 | AADI | Rp39,00 miliar |
Ketimpangan antara nilai beli dan jual asing ini menjelaskan mengapa tekanan indeks terasa berat. Net foreign buy terbesar di WIFI hanya Rp13,86 miliar, jauh di bawah net foreign sell BBCA yang mencapai Rp734,35 miliar.
Basic Industry Jadi Pengecualian
Dari sisi sektoral, Basic Industry masih menguat 1,01%. Di luar sektor ini, seluruh sektor utama lain berada di zona merah.
| Sektor | Perubahan |
|---|---|
| Basic Industry | +1,01% |
| Health | -0,89% |
| Property | -1,05% |
| Industrial | -2,41% |
| Non-Cyclical | -2,48% |
| Technology | -2,50% |
| Cyclical | -3,27% |
| Infrastructure | -3,87% |
| Energy | -3,94% |
| Finance | -4,08% |
| Transport | -4,44% |
Finance menjadi sektor penting untuk dibaca karena bobotnya besar terhadap IHSG. Pelemahan sektor ini sebesar 4,08% sejalan dengan tekanan asing pada saham bank besar seperti BBCA, BMRI, dan BBNI.
Energy turun 3,94%, sementara Transport melemah paling dalam sebesar 4,44%. Kombinasi pelemahan sektor berbobot besar ini membuat IHSG sulit membangun pemulihan pada sesi 1.
Di sisi lain, Basic Industry menjadi pengecualian. Ini bukan bukti bahwa pasar sudah pulih, tetapi menunjukkan tekanan belum sepenuhnya merata.
Indeks Likuid Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya terjadi pada IHSG. Indeks saham likuid juga melemah, menandakan tekanan ikut menjalar ke saham-saham besar dan aktif diperdagangkan.
| Indeks | Perubahan |
|---|---|
| IDX30 | -2,39% |
| LQ45 | -2,46% |
| SRI-KEHATI | -3,00% |
| IDX Growth 30 | -3,18% |
| IDX Value 30 | -3,10% |
| IHSG | -2,53% |
Pelemahan indeks likuid memperkuat pembacaan bahwa tekanan hari ini tidak hanya berasal dari saham kecil. Saham besar dan saham likuid ikut menjadi sumber tekanan utama.
Apa yang Perlu Dipantau pada Sesi 2
Ada lima data yang perlu dipantau sampai penutupan.
Pertama, apakah IHSG mampu kembali bertahan di atas 5.700. Jika indeks gagal kembali ke atas area ini, tekanan intraday masih belum menunjukkan tanda mereda.
Kedua, apakah net foreign sell Rp2,05 triliun membesar atau menyusut. Jika tekanan jual asing tetap besar sampai penutupan, tekanan pasar masih perlu dipantau.
Ketiga, apakah sektor Finance mulai pulih. Selama Finance masih turun dalam, beban terhadap IHSG masih besar.
Keempat, apakah Basic Industry tetap hijau. Jika sektor ini ikut berbalik merah, narasi rotasi selektif akan melemah.
Kelima, apakah BBCA, TPIA, BMRI, MDKA, dan ANTM tetap menjadi pusat tekanan asing. Jika tekanan di saham-saham ini berlanjut, IHSG akan sulit membangun pemulihan yang solid.
Untuk sementara, pesan utama dari data sesi 1 cukup jelas. IHSG memang turun tajam, tetapi tekanan tidak sepenuhnya merata. Pasar masih berada dalam bias defensif, sementara rotasi selektif baru terlihat terbatas di Basic Industry.
Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Foreign Transaction Midday Stockbit Sekuritas, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.