Kemiskinan Ekstrem Indonesia Turun dari 86 Persen Menjadi 3,7 Persen, tetapi Pekerjaan Belum Selesai
Dalam empat dekade, sekitar 130 juta penduduk Indonesia keluar dari kemiskinan ekstrem menurut estimasi historis Bank Dunia. Pencapaian ini besar, tetapi garis kemiskinan internasional yang sangat rendah belum menggambarkan seluruh tantangan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia mencatat salah satu perubahan sosial-ekonomi terbesar dalam sejarah pembangunannya. Pada 1984, sekitar 86 persen penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem internasional sebesar 3 dollar AS per orang per hari. Pada 2025, angkanya turun menjadi 3,7 persen.
Data World Bank Poverty and Inequality Platform yang disajikan Our World in Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk dalam kemiskinan ekstrem menyusut dari sekitar 140 juta menjadi 10 juta orang. Selisih kedua estimasi tersebut mencapai sekitar 130 juta orang selama empat dekade.
Penurunan ini menunjukkan kemajuan pembangunan Indonesia yang besar. Namun, keberhasilan mengurangi kemiskinan ekstrem belum sama dengan keberhasilan membangun kesejahteraan yang kuat. Penduduk yang telah melewati garis kemiskinan ekstrem masih dapat menghadapi tekanan ekonomi, terutama ketika pendapatan tidak cukup untuk mengimbangi biaya hidup atau ketika terjadi kehilangan pekerjaan.
Perbedaan inilah yang penting untuk memahami pencapaian Indonesia secara lebih utuh.
Sekitar 130 Juta Orang Keluar dari Kemiskinan Ekstrem
Perubahan tingkat kemiskinan ekstrem Indonesia berlangsung dalam skala yang jarang terlihat dalam sejarah ekonomi modern.
Pada 1984, sekitar 86 dari setiap 100 penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem internasional. Empat dekade kemudian, jumlahnya tinggal sekitar empat orang dari setiap 100 penduduk.
Secara matematis, penurunan dari 86 persen menjadi 3,7 persen setara dengan 82,3 poin persentase, atau sekitar 95,7 persen dibandingkan tingkat awalnya.
Jumlah penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem juga turun secara absolut. Ini penting karena populasi Indonesia terus bertambah selama periode tersebut. Penurunan persentase kemiskinan tidak hanya mencerminkan perubahan komposisi penduduk, tetapi juga berkurangnya jumlah orang yang hidup di bawah ambang kemiskinan ekstrem.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi Indonesia telah menjangkau sebagian besar penduduk yang sebelumnya berada pada tingkat kesejahteraan paling rendah.
Namun, grafik kemiskinan mengukur hasil akhir perubahan tersebut, bukan besarnya kontribusi masing-masing kebijakan atau faktor ekonomi yang menyebabkannya.
Pertumbuhan ekonomi, perubahan struktur pekerjaan, peningkatan produktivitas, pembangunan infrastruktur, dan perlindungan sosial merupakan jalur yang relevan untuk menjelaskan pengurangan kemiskinan. Menentukan kontribusi setiap faktor memerlukan penelitian yang lebih khusus.
Krisis Ekonomi Menunjukkan Kemajuan Tidak Selalu Berjalan Lurus
Penurunan kemiskinan ekstrem Indonesia tidak berlangsung tanpa gangguan.
Grafik historis memperlihatkan perubahan yang tidak selalu mulus, termasuk lonjakan pada periode krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an.
Krisis tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan kesejahteraan dapat menghadapi tekanan ketika perekonomian mengalami guncangan besar.
Ketika aktivitas ekonomi melemah, perusahaan dapat mengurangi produksi, menunda investasi, atau memangkas tenaga kerja. Bagi rumah tangga berpendapatan rendah, kehilangan pekerjaan atau berkurangnya penghasilan dapat segera memengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Kenaikan harga kebutuhan pokok juga dapat mengurangi daya beli, terutama bagi kelompok yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk konsumsi sehari-hari.
Meski demikian, perubahan dalam grafik pada periode 1998 tidak dapat langsung digunakan untuk menghitung besarnya dampak krisis tanpa memeriksa kesesuaian survei, metode penghitungan, dan observasi antarperiode.
Pelajaran ekonominya tetap relevan: keluar dari kemiskinan ekstrem merupakan kemajuan, tetapi kemampuan mempertahankan kondisi tersebut bergantung pada ketahanan pendapatan dan kondisi perekonomian.
Indonesia dan China Memperlihatkan Kemajuan Besar dengan Skala Berbeda
Perbandingan Indonesia dan China dalam grafik Our World in Data memperlihatkan bahwa pengurangan kemiskinan ekstrem bukan hanya terjadi di satu negara.
Pada 1984, sekitar 91 persen penduduk China hidup dalam kemiskinan ekstrem. Dalam beberapa dekade berikutnya, tingkat tersebut turun hingga mendekati nol pada awal 2020-an.
Indonesia juga mengalami penurunan besar, meskipun tingkat kemiskinan ekstrem pada 2025 masih lebih tinggi daripada tingkat yang dicapai China pada awal dekade tersebut.
Perbandingan ini penting karena menunjukkan bahwa kemajuan pengurangan kemiskinan ekstrem terjadi pada dua negara dengan ukuran populasi besar.
Namun, perbedaan hasil tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa satu model pembangunan lebih efektif daripada model lainnya.
Untuk menilai kebijakan pembangunan, diperlukan pembandingan yang lebih luas, termasuk pertumbuhan pendapatan, produktivitas tenaga kerja, urbanisasi, kualitas pekerjaan, pemerataan hasil pembangunan, dan perubahan struktur ekonomi.
Grafik kemiskinan memberikan gambaran hasil akhirnya. Penjelasan mengenai penyebab perbedaan kemajuan kedua negara membutuhkan bukti tambahan.
Angka 3,7 Persen Belum Menggambarkan Seluruh Kerentanan Ekonomi
Angka 3,7 persen menunjukkan keberhasilan Indonesia menekan kemiskinan ekstrem. Namun, angka itu belum menggambarkan seluruh penduduk yang masih menghadapi tekanan ekonomi.
Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan ekstrem internasional sebesar 3 dollar AS per orang per hari berdasarkan paritas daya beli atau purchasing power parity (PPP) 2021.
PPP digunakan untuk memperhitungkan perbedaan tingkat harga antarnegara. Karena itu, angka 3 dollar AS tersebut tidak dapat langsung dikalikan dengan kurs pasar rupiah terhadap dollar untuk menentukan garis kemiskinan Indonesia.
Ambang ini dirancang untuk mengukur kemiskinan ekstrem secara internasional. Penduduk yang memiliki konsumsi sedikit di atas ambang tersebut tidak otomatis mempunyai kondisi ekonomi yang aman.
Gambaran yang lebih luas terlihat ketika garis kemiskinan dinaikkan.
Dalam estimasi Bank Dunia untuk 2025, sekitar 15,5 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis 4,20 dollar AS PPP per hari, sedangkan 64,1 persen berada di bawah garis 8,30 dollar AS PPP per hari.
Perbedaan yang besar antara ketiga ukuran tersebut memperlihatkan bahwa jumlah penduduk yang tergolong miskin sangat bergantung pada standar kesejahteraan yang digunakan.
Angka 64,1 persen tidak berarti seluruh kelompok tersebut hidup dalam kemiskinan ekstrem. Angka itu menunjukkan proporsi penduduk yang belum mencapai ambang konsumsi yang lebih tinggi, yang digunakan Bank Dunia sebagai pembanding internasional bagi negara berpendapatan menengah atas.
Ketiga ukuran tersebut juga bersifat kumulatif. Penduduk yang berada di bawah ambang 3 dollar AS termasuk dalam kelompok yang berada di bawah ambang 4,20 dollar AS dan 8,30 dollar AS.
Ukuran kemiskinan nasional yang digunakan Badan Pusat Statistik berbeda karena disusun untuk kebutuhan pengukuran dan kebijakan di Indonesia. Dalam rilis Agustus 2026, BPS melaporkan tingkat kemiskinan nasional sebesar 8,07 persen untuk Maret 2026, turun dari 8,47 persen pada Maret 2025.
Perbedaan antara angka BPS dan Bank Dunia terutama mencerminkan perbedaan garis kemiskinan, periode, dan tujuan pengukuran, bukan bukti bahwa kondisi masyarakat tiba-tiba memburuk.
Dengan demikian, angka kemiskinan internasional dan nasional perlu dibaca sesuai tujuan dan metodologinya, bukan dipertentangkan seolah-olah keduanya mengukur kondisi yang sama.
Tantangan Berikutnya Adalah Memperkuat Pendapatan dan Ketahanan Rumah Tangga
Setelah kemiskinan ekstrem turun secara besar-besaran, tantangan pembangunan Indonesia bergeser pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.
Pekerjaan yang tersedia belum tentu menghasilkan pendapatan yang cukup. Kenaikan pendapatan nominal juga belum tentu meningkatkan daya beli apabila harga kebutuhan pokok tumbuh lebih cepat.
Bagi rumah tangga dengan tabungan terbatas, kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan yang besar, atau penurunan penghasilan dapat dengan cepat mengubah kondisi keuangan.
Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari jumlah penduduk yang melewati garis kemiskinan ekstrem.
Ada beberapa perkembangan ekonomi yang perlu mendapat perhatian.
Pertama, pertumbuhan upah riil. Pendapatan pekerja perlu meningkat setelah memperhitungkan inflasi agar daya beli benar-benar membaik.
Kedua, penciptaan pekerjaan produktif. Pertumbuhan lapangan kerja akan lebih berarti apabila disertai peningkatan produktivitas dan pendapatan.
Ketiga, pergerakan penduduk pada garis kemiskinan yang lebih tinggi. Indikator ini membantu melihat apakah masyarakat hanya keluar dari kondisi paling miskin atau mulai mencapai tingkat konsumsi yang lebih baik.
Keempat, ketahanan rumah tangga terhadap guncangan. Akses terhadap layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan sumber pendapatan yang lebih stabil dapat membantu mengurangi risiko kembali jatuh miskin.
Indikator-indikator tersebut diperlukan untuk menilai apakah keberhasilan mengurangi kemiskinan ekstrem telah berkembang menjadi peningkatan kesejahteraan yang lebih berkelanjutan.
Dari Pengurangan Kemiskinan Menuju Kesejahteraan yang Lebih Kuat
Penurunan kemiskinan ekstrem dari 86 persen pada 1984 menjadi 3,7 persen pada 2025 merupakan pencapaian pembangunan yang besar. Estimasi jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah ambang kemiskinan ekstrem juga berkurang sekitar 130 juta orang selama periode tersebut.
Keberhasilan itu patut dibaca sesuai skalanya, tanpa mengabaikan keterbatasan indikator yang digunakan.
Garis kemiskinan ekstrem menunjukkan berapa banyak penduduk yang telah melewati ambang konsumsi yang sangat rendah. Indikator tersebut belum menjawab apakah pendapatan rumah tangga sudah cukup, pekerjaan semakin produktif, dan masyarakat mampu menghadapi guncangan ekonomi tanpa kembali jatuh miskin.
Ukuran keberhasilan berikutnya terletak pada perkembangan upah riil, kualitas pekerjaan, pergerakan penduduk menuju tingkat konsumsi yang lebih tinggi, serta berkurangnya kerentanan ekonomi rumah tangga.
Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam mengurangi kemiskinan ekstrem. Tantangan berikutnya adalah memastikan kemajuan tersebut berkembang menjadi kesejahteraan yang lebih luas dan mampu bertahan ketika kondisi ekonomi memburuk.
Sumber Data: Hannah Ritchie dan Pablo Arriagada: Our World in Data (2026), World Bank, Badan Pusat Statistik.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.