IHSG Naik ke 5.096, 363 Saham Menguat, tetapi Asing Masih Jual Bersih
IHSG menutup perdagangan pertama November dengan kenaikan 0,79%. Jumlah saham menguat bertambah tajam dibandingkan akhir Oktober, tetapi investor asing masih mencatat penjualan bersih Rp375,54 miliar di pasar reguler.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin, 2 November 2026, di level 5.096,83, naik 39,78 poin atau 0,79%. Kenaikan ini disertai perbaikan keluasan pasar. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 363 saham naik, 341 turun, dan 259 tidak berubah. Pada perdagangan sebelumnya, sebanyak 552 saham masih melemah dan hanya 194 yang menguat.
Di balik pemulihan tersebut, investor asing masih menjual bersih Rp375,54 miliar di pasar reguler, lebih besar daripada Jumat. IDX30 dan LQ45 juga bergerak positif, tetapi kenaikannya tertinggal dari IHSG. Perbaikan harga mulai melibatkan lebih banyak saham, sementara arus dana asing belum menunjukkan perubahan arah secara agregat.
IHSG Memulihkan Hampir Seluruh Penurunan Jumat
IHSG sempat turun hingga 4.981,52 pada awal perdagangan sebelum pembelian membawanya melewati 5.100 dan mencapai titik tertinggi 5.125,74. Penguatan berkurang menjelang penutupan, tetapi indeks tetap berakhir 115,31 poin di atas titik terendah harian.
Kenaikan 39,78 poin pada Senin hampir mengimbangi penurunan 41,01 poin pada Jumat, 30 Oktober. Pemulihan satu sesi tersebut belum menghapus tekanan sebelumnya. IHSG masih melemah 5,14% dalam lima hari perdagangan dan 41,06% sejak awal tahun, menurut RTI Business.
Nilai transaksi saham mencapai Rp12,420 triliun, dibandingkan Rp11,637 triliun pada Jumat. Volume tercatat 34,648 miliar saham dengan frekuensi sekitar 1,44 juta transaksi.
IHSG telah memulihkan hampir seluruh penurunan poin pada perdagangan Jumat, tetapi masih membutuhkan penguatan berkelanjutan untuk keluar dari tekanan beberapa hari sebelumnya.
Keluasan Pasar Membaik, Bahan Baku dan Energi Memimpin
Jumlah saham menguat meningkat dari 194 pada Jumat menjadi 363 pada Senin. Sementara itu, saham yang melemah berkurang dari 552 menjadi 341.
Perubahan ini membuat jumlah saham naik sedikit melampaui saham turun. Meski demikian, penguatan belum merata. Sebanyak 215 saham naik lebih dari 2%, sementara 188 saham turun lebih dari 2%.
Statistik keluasan pasar BEI mencakup saham dalam perhitungan pergerakan harga, bukan hanya konstituen IHSG. Perbedaan cakupan tersebut penting karena perubahan metodologi indeks mulai berlaku pada 2 November.
Tujuh dari sebelas sektor menguat. Basic Materials memimpin dengan kenaikan 2,12%, disusul Energy sebesar 1,53% dan Infrastructure sebesar 1,40%. Healthcare turun paling dalam sebesar 0,64%, diikuti Property & Real Estate sebesar 0,22% dan Technology sebesar 0,16%.
Indeks saham likuid turut pulih. IDX30 menguat 0,49%, LQ45 naik 0,53%, dan SRI-KEHATI bertambah 0,45%.
Kenaikan yang melibatkan lebih banyak saham dan sektor merupakan perkembangan positif dibandingkan akhir Oktober. Namun, perbedaan kinerja antara IHSG, IDX30, dan LQ45 menunjukkan penguatan belum berlangsung dengan intensitas yang sama di seluruh kelompok saham.
BRMS dan BUMI Menopang IHSG, AADI dan TLKM Menahan Kenaikan
BRMS menjadi kontributor positif terbesar terhadap IHSG dengan tambahan 4,59 poin setelah harganya menguat 6,63%. CASA menyumbang 4,43 poin, BUMI menambah 4,14 poin, dan TPIA memberikan kontribusi positif 4,11 poin.
Kontribusi indeks tidak selalu sebanding dengan aktivitas transaksi. CASA, misalnya, menyumbang sekitar 4,43 poin ketika nilai perdagangannya tercatat Rp74,57 juta dengan frekuensi 51 kali menurut Stockbit. Perbedaan ini penting saat membaca saham penggerak indeks, tanpa dengan sendirinya menunjukkan penyimpangan perdagangan.
Tekanan terbesar datang dari AADI, yang turun 6,75% dan mengurangi IHSG sebesar 3,15 poin. TLKM menjadi pemberat berikutnya dengan kontribusi negatif 2,28 poin, disusul BMRI sebesar 1,98 poin.
Saham bank besar juga bergerak berbeda arah. BBRI naik 0,71%, sedangkan BMRI turun 0,54% dan BBCA tidak berubah.
Kontribusi positif BRMS, CASA, BUMI, dan TPIA mampu mengimbangi tekanan pada AADI, TLKM, dan sejumlah saham besar lainnya. Pemulihan indeks tidak berarti seluruh saham berbobot besar sudah bergerak searah.
Asing Masih Menjual di Pasar Reguler meski Angka Seluruh Pasar Lebih Kecil
Investor asing mencatat pembelian sekitar Rp3,61 triliun dan penjualan Rp3,98 triliun di pasar reguler. Stockbit melaporkan penjualan bersih Rp375,54 miliar, meningkat dari Rp172,43 miliar pada Jumat.
Statistik resmi BEI mencatat penjualan bersih asing seluruh pasar sebesar Rp112,47 miliar. Perbedaan ini berasal dari cakupan transaksi.
Menurut RTI Business, pasar tunai dan negosiasi mencatat pembelian bersih asing sekitar Rp263,07 miliar. Aktivitas tersebut mengimbangi sebagian penjualan di pasar reguler sehingga posisi penjualan bersih seluruh pasar menjadi lebih kecil.
Untuk membaca tekanan transaksi pada perdagangan reguler, angka Rp375,54 miliar lebih relevan. Angka seluruh pasar tetap diperlukan untuk menggambarkan posisi bersih asing secara agregat.
Top 10 Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell
| No. | Net Foreign Buy | Rp miliar | Net Foreign Sell | Rp miliar |
|---|---|---|---|---|
| 1 | TPIA | 47,65 | BMRI | 157,88 |
| 2 | BUMI | 46,75 | BBCA | 116,14 |
| 3 | PTRO | 38,87 | AADI | 109,54 |
| 4 | BRMS | 32,15 | PTBA | 61,40 |
| 5 | BBRI | 31,40 | TINS | 56,42 |
| 6 | EMAS | 25,11 | TLKM | 55,21 |
| 7 | CUAN | 22,48 | ADRO | 32,68 |
| 8 | DEWA | 21,63 | BBNI | 28,02 |
| 9 | DSSA | 19,88 | ANTM | 26,72 |
| 10 | ASII | 17,62 | UNTR | 15,72 |
Sumber: Stockbit Sekuritas, pasar reguler, 2 November 2026. Kolom penjualan menunjukkan besaran jual bersih. Angka dibulatkan.
Penjualan bersih asing terbesar terkonsentrasi pada BMRI, BBCA, dan AADI. Ketiganya mencatat nilai penjualan bersih lebih dari Rp100 miliar. Tekanan juga terlihat pada PTBA, TINS, dan TLKM.
Pembelian asing tetap terjadi secara selektif. TPIA, BUMI, PTRO, BRMS, dan BBRI menjadi lima saham dengan pembelian bersih terbesar.
Distribusi tersebut memperlihatkan bahwa transaksi investor asing tidak bergerak seragam. Pembelian pada sebagian saham berlangsung bersamaan dengan penjualan yang lebih besar pada saham lainnya, sehingga posisi agregat pasar reguler tetap negatif.
Pengecualian 81 Saham HSC Mengubah Komposisi IHSG
Perdagangan Senin menjadi hari pertama penerapan perubahan kriteria konstituen IHSG. BEI mengecualikan saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC), yaitu saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, dari perhitungan indeks.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa 81 saham HSC telah dikeluarkan dari perhitungan IHSG setelah perdagangan Jumat berakhir. Setelah memperhitungkan pengecualian saham lain, termasuk yang berada di Papan Akselerasi, jumlah konstituen IHSG menjadi 837 saham.
Metodologi IHSG tetap menggunakan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float dan pembatasan bobot. Perubahan kriteria tersebut memengaruhi komposisi serta distribusi bobot saham dalam indeks.
Perbandingan pergerakan IHSG dan kontribusi saham karena itu perlu memperhatikan perubahan konstituen. Data yang tersedia belum memisahkan dampak mekanis penyesuaian indeks dari perubahan harga akibat transaksi pada 2 November.
Sejumlah indikator makro turut dirilis pada hari yang sama. PMI manufaktur Oktober meningkat menjadi 54,0 dari 52,4 pada September. Inflasi tahunan Oktober tercatat 3,23%, sedangkan neraca perdagangan September menghasilkan surplus US$3,36 miliar.
Indikator makro tersebut memberi konteks ekonomi yang lebih luas, tetapi kontribusi masing-masing terhadap kenaikan IHSG belum dapat diukur secara terpisah.
Di pasar valuta asing, JISDOR Bank Indonesia berada di Rp18.161 per dolar AS, dibandingkan Rp18.138 pada Jumat. Snapshot CNBC Indonesia sekitar pukul 17.04 WIB menunjukkan yield SBN tenor sepuluh tahun sebesar 7,707%.
Pemulihan Berikutnya Perlu Dukungan Saham dan Arus Dana
Perdagangan 2 November menunjukkan perbaikan harga dan keluasan pasar dibandingkan akhir Oktober. Konfirmasi berikutnya bergantung pada kemampuan IHSG mempertahankan penguatan, jumlah saham naik yang tetap dominan, serta pergerakan IDX30 dan LQ45 yang lebih konsisten.
Berkurangnya penjualan bersih asing di pasar reguler akan menjadi bukti tambahan bahwa tekanan transaksi mulai mereda. Sebaliknya, penjualan asing yang membesar bersamaan dengan penurunan keluasan pasar dapat mengurangi daya tahan pemulihan.
Titik tertinggi Senin di 5.125,74 menjadi referensi untuk menilai kelanjutan kenaikan. Titik terendah 4.981,52 menjadi acuan risiko apabila tekanan jual kembali meningkat. Keduanya merupakan batas observasi harian, bukan resistance atau support yang telah terkonfirmasi.
Pemulihan harga sudah terlihat. Bukti yang masih diperlukan adalah keberlanjutan penguatan dengan partisipasi saham yang lebih luas, pergerakan indeks likuid yang konsisten, dan tekanan penjualan asing yang berkurang.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.