IHSG Pangkas Koreksi ke 5.057, tetapi 552 Saham Masih Melemah
IHSG menjauh dari titik terendah 4.979 pada Jumat, 30 Oktober 2026. Tekanan tidak lagi seluas sehari sebelumnya, tetapi mayoritas saham tetap melemah dan investor asing berbalik mencatat penjualan bersih setelah sempat membeli pada sesi pertama.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, di level 5.057,05, turun 41,01 poin atau 0,80%. Koreksi ini lebih kecil dibandingkan penurunan 3,49% sehari sebelumnya. IHSG juga berhasil menjauh dari titik terendah setelah sempat menembus 5.000.
Tekanan pasar mulai menyempit. Jumlah saham melemah berkurang dari 653 menjadi 552, sementara dua sektor kembali positif setelah seluruh sektor turun pada Kamis. Kelompok saham besar juga bergerak lebih baik, terlihat dari IDX30 yang berakhir menguat 0,16%.
Perbaikan tersebut belum cukup untuk menunjukkan pemulihan pasar secara luas. Mayoritas saham tetap turun, sedangkan investor asing berbalik dari pembelian bersih pada sesi pertama menjadi penjualan bersih saat penutupan. Perdagangan Jumat memperlihatkan stabilisasi harga intraday, tetapi belum memberikan konfirmasi perubahan tren.
IHSG Menjauh dari Titik Terendah, Berbeda dari Penutupan Kamis
IHSG membuka perdagangan di 5.066,94 dan sempat mencapai 5.116,01. Tekanan jual kemudian membawa indeks turun hingga 4.979,34, sekitar 2,33% di bawah penutupan Kamis sebesar 5.098,06.
Pada akhir sesi pertama, IHSG berada di 5.032,44 atau melemah 1,29%. Indeks memangkas sebagian koreksinya pada sesi berikutnya hingga berakhir di 5.057,05.
Penutupan tersebut berada 77,71 poin di atas titik terendah harian dan 24,61 poin lebih tinggi daripada posisi akhir sesi pertama.
Polanya berbeda dari 29 Oktober. Sehari sebelumnya, IHSG menutup perdagangan tepat di titik terendah setelah tekanan jual berlangsung hingga akhir sesi. Pada Jumat, indeks mampu menjauh dari posisi terendah sebelum bursa ditutup.
Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi saham mencapai Rp11,637 triliun, dibandingkan Rp11,286 triliun sehari sebelumnya. Volume perdagangan meningkat dari 22,641 miliar menjadi 36,656 miliar saham, sedangkan frekuensi Jumat tercatat sekitar 1,177 juta transaksi.
Kenaikan volume perlu dibaca dengan memperhatikan konsentrasinya. GOTO menyumbang sekitar 17,136 miliar saham, atau 46,75% dari seluruh volume perdagangan saham BEI pada Jumat.
Hampir separuh volume harian dengan demikian berasal dari satu emiten. Peningkatan aktivitas agregat belum tentu mencerminkan pertambahan transaksi secara merata di seluruh pasar.
Tekanan Saham Menyempit, tetapi Penurunan Masih Mendominasi
Keluasan pasar membaik dibandingkan Kamis, meskipun saham yang melemah tetap jauh lebih banyak daripada yang menguat.
Statistik BEI mencatat 552 saham turun, 194 naik, dan 217 tidak berubah pada Jumat. Sehari sebelumnya, 653 saham melemah, 104 menguat, dan 206 tidak berubah.
Di antara saham yang mengalami perubahan harga, proporsi saham turun berkurang dari sekitar 86,3% pada Kamis menjadi 74,0% pada Jumat. Artinya, hampir tiga dari empat saham yang bergerak masih ditutup negatif.
Sebanyak 418 saham bahkan mengalami penurunan lebih dari 2%.
Perbaikan mulai terlihat pada beberapa indeks sektoral. Healthcare naik 0,76% dan Financials menguat 0,16%, menjadi dua sektor yang berhasil keluar dari zona merah.
Sembilan sektor lainnya masih melemah. Transportation & Logistics turun paling dalam sebesar 3,13%, disusul Basic Materials sebesar 2,84% dan Infrastructure sebesar 1,96%.
Perubahan lebih jelas terlihat pada kelompok saham besar. IDX30 menguat 0,16%, sedangkan LQ45 hanya turun 0,02%. Pada Kamis, kedua indeks tersebut masing-masing melemah 4,49% dan 4,48%.
Perbaikan pada saham-saham utama mulai mampu membatasi penurunan IHSG. Namun, jumlah saham turun yang masih dominan menunjukkan bahwa penguatan belum meluas ke sebagian besar pasar.
ASII dan BBCA Menopang, BYAN dan BREN Masih Membebani IHSG
Sejumlah saham berkapitalisasi besar membantu IHSG mengurangi koreksi pada Jumat.
ASII menguat 2,35% dan memberikan kontribusi positif 4,46 poin terhadap indeks. BBCA naik 0,81% dengan tambahan 3,64 poin, sedangkan BBNI menguat 2,47% dan menyumbang 2,63 poin.
PGAS juga menjadi penopang setelah harganya meningkat 8,64%, dengan kontribusi sebesar 2,53 poin.
Perubahan BBCA menjadi salah satu pembeda dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pada Kamis, saham tersebut turun 6,35% dan mengurangi IHSG sebesar 30,51 poin. Sehari kemudian, BBCA kembali memberikan kontribusi positif.
Di sisi lain, BYAN menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 6,55 poin. BREN mengurangi indeks sebesar 5,24 poin, disusul BRPT 4,67 poin, BRMS 4,00 poin, dan TPIA 3,55 poin.
Perbedaan arah di antara saham utama menjelaskan mengapa IDX30 dapat menguat tipis ketika IHSG masih negatif. Dukungan dari ASII, BBCA, BBNI, dan PGAS membantu indeks, tetapi tekanan pada sejumlah emiten berbobot besar lainnya belum berakhir.
Asing Berbalik Jual Bersih Setelah Sesi Pertama Positif
Perubahan posisi transaksi asing menjadi salah satu perkembangan penting pada perdagangan Jumat.
Menurut RTI Business, investor asing mencatat pembelian bersih sebesar Rp253,09 miliar di seluruh pasar pada akhir sesi pertama. Saat perdagangan berakhir, posisi tersebut berubah menjadi penjualan bersih Rp140,27 miliar.
Selisih antara kedua pengamatan mencapai sekitar Rp393,36 miliar ke arah penjualan bersih. Pada saat yang sama, IHSG justru bergerak dari 5.032,44 pada akhir sesi pertama menjadi 5.057,05 saat penutupan.
Pergerakan ini memperlihatkan bahwa kenaikan indeks dari posisi midday tidak sejalan dengan perubahan posisi transaksi bersih asing secara agregat.
Statistik resmi BEI mencatat net foreign sell Rp138,71 miliar di seluruh pasar. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan penjualan bersih Rp1.076,76 miliar pada Kamis, atau menyusut sekitar 87,1%.
Di pasar reguler, Stockbit Sekuritas mencatat pembelian asing sekitar Rp4,67 triliun dan penjualan Rp4,84 triliun, sehingga menghasilkan net sell sebesar Rp172,43 miliar.
Angka pasar reguler dan seluruh pasar memiliki cakupan berbeda. Nilai All Market RTI juga sedikit berbeda dari statistik BEI, sehingga masing-masing digunakan sesuai sumbernya.
Top 10 Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell
| No. | Net Foreign Buy | Rp miliar | Net Foreign Sell | Rp miliar |
|---|---|---|---|---|
| 1 | GOTO | 54,47 | BBRI | 206,54 |
| 2 | MDKA | 40,47 | TLKM | 119,48 |
| 3 | BUMI | 40,41 | AMMN | 59,33 |
| 4 | ASII | 39,36 | PTBA | 51,93 |
| 5 | BBNI | 32,92 | TINS | 36,38 |
| 6 | BRMS | 27,05 | ANTM | 34,88 |
| 7 | CPIN | 23,96 | ISAT | 29,00 |
| 8 | DEWA | 21,70 | BMRI | 25,66 |
| 9 | PACK | 19,86 | TPIA | 18,54 |
| 10 | CUAN | 16,87 | DSSA | 17,93 |
Sumber: Stockbit Sekuritas, pasar reguler, 30 Oktober 2026. Kolom penjualan menunjukkan besaran jual bersih. Angka dibulatkan.
BBRI mencatat penjualan bersih asing terbesar, sekitar Rp206,54 miliar, disusul TLKM sebesar Rp119,48 miliar. Keduanya masih menjadi pusat tekanan asing meskipun penjualan bersih agregat telah mengecil.
Sebaliknya, tekanan asing pada BBCA berkurang tajam. Setelah mencatat jual bersih sekitar Rp503,49 miliar pada Kamis, nilainya tinggal sekitar Rp5,95 miliar pada Jumat. Harga BBCA juga kembali menguat.
Pembelian asing tidak selalu diikuti kenaikan harga. BUMI menerima pembelian bersih sekitar Rp40,41 miliar, tetapi harga sahamnya turun 1,65%. BRMS mengalami kondisi serupa dengan pembelian bersih Rp27,05 miliar dan penurunan harga 6,74%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa posisi transaksi bersih asing tidak dapat digunakan sendirian untuk menjelaskan pergerakan harga. Penilaian tekanan pasar tetap perlu mempertimbangkan aktivitas investor domestik, keluasan pasar, dan kontribusi saham terhadap IHSG.
Rupiah Melemah Tipis, Sementara Pasar Global Bergerak Berbeda Arah
Perdagangan saham Jumat berlangsung ketika indikator lintas aset menunjukkan perubahan yang tidak seragam.
Bank Indonesia menetapkan JISDOR pada 30 Oktober sebesar Rp18.138 per dolar AS, dibandingkan Rp18.128 sehari sebelumnya. Kenaikan Rp10 atau sekitar 0,055% mencerminkan pelemahan tipis rupiah berdasarkan kurs referensi tersebut.
Snapshot CNBC Indonesia menunjukkan yield Surat Utang Negara tenor sepuluh tahun sebesar 7,643%. Angka ini merupakan pengamatan pasar, bukan ukuran perubahan imbal hasil penutupan yang sepenuhnya sebanding antarhari.
Di pasar regional, snapshot Stockbit menunjukkan Nikkei Jepang turun 2,12% dan KOSPI Korea Selatan melemah 3,48%. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong menguat 1,46%.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar regional tidak bergerak seragam. Data yang tersedia juga belum cukup untuk menentukan seberapa besar perubahan IHSG Jumat dipengaruhi faktor global dibandingkan tekanan domestik.
Stabilisasi Awal November Masih Membutuhkan Konfirmasi
IHSG memasuki perdagangan awal November setelah turun sekitar 7,03% dalam lima hari terakhir dan 16,23% dalam rentang satu bulan. Sejak awal tahun, indeks telah melemah 41,52%, berdasarkan statistik BEI dan RTI Business.
Besarnya koreksi menunjukkan tekanan yang sudah tercermin dalam harga, tetapi tidak memastikan seluruh risiko pasar telah diperhitungkan investor.
Perdagangan Senin, 2 November 2026, juga bertepatan dengan mulai berlakunya perubahan kriteria evaluasi IHSG oleh BEI.
Berdasarkan Pengumuman BEI No. Peng-00201/BEI.POP/10-2026, saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC), yaitu saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi, dikecualikan dari kriteria seleksi konstituen IHSG.
Perubahan tersebut relevan bagi pembacaan komposisi indeks ke depan. Namun, belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa penurunan IHSG pada 30 Oktober disebabkan oleh perubahan kriteria tersebut.
Dari sisi harga, area 5.000 menjadi referensi awal setelah IHSG sempat menembusnya pada Jumat. Titik terendah 4.979,34 menjadi pembanding apabila tekanan kembali meningkat. Kedua level ini belum membentuk support teknikal yang terkonfirmasi dari satu sesi perdagangan.
Skenario stabilisasi mendapat dukungan apabila IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, jumlah saham menguat bertambah, serta IDX30 dan LQ45 bergerak lebih konsisten bersama pasar. Perbaikan transaksi asing yang bertahan dalam beberapa sesi akan memperkuat konfirmasi.
Sebaliknya, jika IHSG kembali turun melewati titik terendah Jumat, disertai bertambahnya jumlah saham melemah dan membesarnya penjualan bersih asing, risiko tekanan lanjutan meningkat.
Perdagangan 30 Oktober memperlihatkan bahwa tekanan mulai menyempit, tetapi belum cukup untuk memastikan perubahan tren. Bukti berikutnya adalah kemampuan IHSG mempertahankan harga sambil memperluas jumlah saham dan sektor yang menguat.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.