Banyu Capital

IHSG Turun 3,49%, BBCA Berbalik Menekan dan 653 Saham Melemah

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Penguatan IHSG sehari sebelumnya tidak bertahan. Saham-saham penopang utama berbalik melemah, seluruh sektor ditutup negatif, dan investor asing kembali mencatat penjualan bersih. Pemulihan pasar masih membutuhkan dukungan yang lebih luas.

Dashboard Market Notes EOD BEI 29 Oktober 2026 yang menampilkan IHSG turun 3,49% ke 5.098,06, sebanyak 653 saham melemah, seluruh sektor negatif, serta penjualan bersih asing.
Dashboard Market Notes Banyu Capital, 29 Oktober 2026. IHSG turun 3,49% dan ditutup di titik terendah hariannya. Sebanyak 653 saham melemah, seluruh 11 sektor negatif, dan investor asing mencatat penjualan bersih Rp1,08 triliun di seluruh pasar. Sumber data: BEI dan Stockbit Sekuritas.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 184,26 poin atau 3,49% ke 5.098,06 pada Kamis, 29 Oktober 2026. Penurunan ini menghapus penguatan 0,31% sehari sebelumnya, ketika BBCA dan ASII menopang indeks meskipun sebagian besar saham masih melemah.

Pembalikan terjadi hampir di seluruh pasar. Sebanyak 653 saham turun, sebelas sektor ditutup negatif, dan investor asing mencatat penjualan bersih Rp1,08 triliun. BBCA, yang menjadi pengangkat terbesar IHSG pada 28 Oktober, berbalik menjadi penekan utama.

Perdagangan dua hari tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan indeks belum cukup menjadi bukti pemulihan. Dukungan saham besar dapat mengangkat IHSG untuk sementara, tetapi ketahanannya tetap bergantung pada partisipasi pasar yang lebih luas.

IHSG Ditutup di Titik Terendah Setelah Sempat Menguat

IHSG memulai perdagangan di 5.305,20, lebih tinggi daripada penutupan Rabu sebesar 5.282,31. Indeks bahkan sempat menyentuh 5.320,90 sebelum berbalik turun.

Pada akhir sesi pertama, IHSG sudah melemah 2,64% ke 5.142,82. Tekanan berlanjut hingga penutupan di 5.098,06, sekaligus menjadi titik terendah perdagangan.

Selisih antara titik tertinggi dan penutupan mencapai 222,84 poin. Dari akhir sesi pertama, indeks masih kehilangan tambahan 44,76 poin.

Pergerakan itu berkebalikan dengan perdagangan 28 Oktober. Sehari sebelumnya, IHSG pulih dari titik terendah 5.167,34 dan mengakhiri perdagangan pada posisi tertinggi hariannya di 5.282,31.

Pada 29 Oktober, penguatan awal tidak mampu bertahan sampai penutupan.

Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi saham mencapai Rp11,286 triliun, dengan volume 22,641 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,31 juta transaksi. Nilai tersebut turun sekitar 29% dibanding Rp15,88 triliun pada 28 Oktober.

Penurunan IHSG yang lebih dalam tidak disertai peningkatan nilai transaksi agregat. Kondisi ini penting karena besarnya perubahan indeks tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya aktivitas perdagangan.

Sebanyak 653 Saham Turun, Seluruh Sektor Berakhir Negatif

Tekanan 29 Oktober menjangkau lebih banyak saham dibanding sehari sebelumnya.

Statistik BEI mencatat 653 saham melemah, 104 menguat, dan 206 tidak berubah. Pada 28 Oktober, jumlahnya masing-masing 429 saham turun, 281 naik, dan 253 tidak berubah.

Jumlah saham yang melemah bertambah 224, sementara saham yang menguat berkurang 177.

Dari 757 saham yang mengalami perubahan harga, sekitar 86,3% berakhir negatif. Sebanyak 494 saham bahkan turun lebih dari 2%.

Seluruh sebelas sektor BEI juga ditutup melemah.

Sektor Perubahan
Industrials -4,64%
Basic Materials -4,53%
Infrastructure -4,24%
Energy -3,29%
Consumer Cyclicals -2,55%
Technology -2,40%
Financials -2,22%
Properties & Real Estate -2,22%
Consumer Non-Cyclicals -2,19%
Healthcare -1,89%
Transportation & Logistics -0,70%

Sumber: Bursa Efek Indonesia, IDX Daily Statistics, 29 Oktober 2026.

Sektor industri, barang baku, dan infrastruktur mencatat penurunan terdalam. Transportasi dan logistik paling mampu membatasi pelemahan, tetapi tetap ditutup negatif.

Sehari sebelumnya, sektor kesehatan, keuangan, serta transportasi dan logistik masih menguat. Pada 29 Oktober, tidak ada sektor yang berhasil mempertahankan posisi positif.

Kelompok saham besar juga berada di bawah tekanan. IDX30 turun 4,49% dan LQ45 melemah 4,48%, lebih dalam daripada penurunan IHSG sebesar 3,49%.

Pelemahan pasar dengan demikian berlangsung pada dua lapisan: saham-saham utama yang memiliki bobot besar dalam indeks dan kelompok saham yang lebih luas. Penurunan IHSG tidak hanya mencerminkan perubahan harga beberapa emiten besar.

BBCA Berubah dari Penopang Menjadi Penekan Terbesar IHSG

Pembalikan BBCA menjadi salah satu perubahan paling menonjol dalam dua hari perdagangan.

Pada 28 Oktober, BBCA menguat 7,65% dan menyumbang 34,15 poin terhadap kenaikan IHSG. Bersama ASII, kedua saham menghasilkan kontribusi positif 49,15 poin, jauh melebihi kenaikan bersih indeks sebesar 16,18 poin.

Sehari kemudian, BBCA turun 6,35% ke Rp4.940 dan mengurangi IHSG sebesar 30,51 poin.

BBRI menjadi penekan terbesar berikutnya, disusul ASII, BMRI, dan TLKM.

Saham Perubahan harga Kontribusi IHSG
BBCA -6,35% -30,51 poin
BBRI -3,77% -16,20 poin
ASII -6,20% -12,57 poin
BMRI -3,12% -9,56 poin
TLKM -4,35% -8,29 poin

Sumber: Bursa Efek Indonesia, IDX Daily Statistics, 29 Oktober 2026.

Kelima saham tersebut secara gabungan mengurangi IHSG sebesar 77,13 poin, setara sekitar 41,9% dari penurunan indeks pada hari itu.

BBCA sendiri menyumbang sekitar 16,6% dari penurunan IHSG. Artinya, tekanan pada saham tersebut signifikan, tetapi tidak menjelaskan keseluruhan pelemahan.

Di sisi positif, DSSA menyumbang kenaikan terbesar sebesar 3,33 poin, diikuti TPIA dengan tambahan 0,76 poin. Kontribusi keduanya jauh lebih kecil dibanding tekanan dari saham-saham utama.

Perbedaan antara 28 dan 29 Oktober memperlihatkan besarnya pengaruh konsentrasi bobot saham dalam pembentukan IHSG. Ketika saham yang sebelumnya menopang kenaikan berbalik melemah, indeks kehilangan sumber dukungannya meskipun pergerakan setiap emiten tidak selalu searah.

Asing Kembali Jual Bersih, Tekanan Terkonsentrasi pada Bank Besar

Investor asing kembali mencatat penjualan bersih setelah sehari sebelumnya membukukan pembelian bersih.

BEI mencatat net foreign sell sebesar Rp1.076,76 miliar atau sekitar Rp1,08 triliun di seluruh pasar saham pada 29 Oktober. Sehari sebelumnya, investor asing masih mencatat net buy Rp665,22 miliar.

Perubahan posisi transaksi bersih antarhari mencapai sekitar Rp1,74 triliun.

Di pasar reguler, Stockbit mencatat pembelian asing Rp3,11 triliun dan penjualan Rp4,63 triliun, menghasilkan net sell sekitar Rp1,52 triliun.

Perbedaan antara nilai reguler dan seluruh pasar berasal dari transaksi di pasar negosiasi dan tunai. Menurut RTI Business, gabungan kedua pasar tersebut menghasilkan pembelian bersih asing sekitar Rp441,74 miliar.

Kedua ukuran arus asing tersebut menggambarkan cakupan transaksi yang berbeda dan tidak dapat dipertukarkan.

Sepuluh saham dengan pembelian dan penjualan bersih asing terbesar di pasar reguler, 29 Oktober 2026

No. Net foreign buy Rp miliar Net foreign sell Rp miliar
1 BUMI 34,85 BBCA 503,49
2 CUAN 30,25 BBRI 164,50
3 AMRT 24,35 BMRI 155,86
4 DEWA 23,75 ANTM 103,27
5 DSSA 20,43 TLKM 76,53
6 ASII 18,49 ISAT 59,13
7 ENRG 9,26 TINS 54,78
8 EMAS 7,69 UNTR 42,17
9 BRMS 5,26 ADRO 40,37
10 KETR 4,30 PTBA 39,58

Sumber: Stockbit Sekuritas, pasar reguler, 29 Oktober 2026. Angka dibulatkan. Kolom penjualan menunjukkan besaran transaksi bersih.

BBCA mencatat penjualan bersih asing terbesar, sekitar Rp503,49 miliar, setelah sehari sebelumnya menerima pembelian bersih asing sekitar Rp1,17 triliun.

Bersama BBRI dan BMRI, tiga bank besar tersebut mencatat penjualan bersih asing sekitar Rp823,85 miliar, atau sekitar 54% dari seluruh penjualan bersih asing di pasar reguler.

Konsentrasi ini relevan karena ketiga saham memiliki pengaruh besar terhadap IHSG. Namun, posisi bersih transaksi asing bukan ukuran tunggal yang menentukan arah harga.

ASII, misalnya, turun 6,20% meskipun asing membeli bersih sekitar Rp18,49 miliar. BUMI juga melemah 4,72% ketika mencatat pembelian bersih asing Rp34,85 miliar.

Perbedaan cakupan transaksi juga terlihat pada ENRG. Saham ini membukukan net foreign buy sekitar Rp321,8 miliar di seluruh pasar, tetapi hanya sekitar Rp9,3 miliar di pasar reguler. Sebagian besar transaksi bersih tersebut terjadi di luar pasar reguler.

Data ini membatasi pembacaan arus asing sebagai ukuran langsung permintaan yang membentuk harga harian. Untuk mengevaluasi tekanan pasar, arah transaksi asing perlu dibaca bersama perubahan harga dan keluasan pasar.

Rupiah dan Obligasi Tidak Menunjukkan Tekanan yang Sama dengan Saham

Penurunan IHSG berlangsung ketika ketidakpastian terhadap klasifikasi indeks pasar Indonesia masih menjadi perhatian investor.

Pada 15 Oktober, MSCI membuka konsultasi atas usulan perubahan status indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Kekhawatiran yang disampaikan pelaku pasar mencakup transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas penerapan reformasi pasar modal.

Konsultasi ini belum menjadi keputusan reklasifikasi. MSCI menerima tanggapan hingga 30 April 2027 dan menjadwalkan keputusan paling lambat 30 Juni 2027.

Risiko tersebut penting bagi investor institusional yang menggunakan indeks global sebagai acuan alokasi. Namun, data perdagangan harian belum memungkinkan besarnya kontribusi isu MSCI terhadap penurunan IHSG pada 29 Oktober dipisahkan dari faktor lainnya.

Di Amerika Serikat, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75–4,00% dalam pertemuan 28 Oktober. Bank sentral tersebut masih menilai inflasi berada pada tingkat tinggi dan akan mempertimbangkan perkembangan data ekonomi berikutnya.

Pergerakan aset domestik pada 29 Oktober tidak seluruhnya mengikuti pelemahan saham.

JISDOR Bank Indonesia bergerak dari Rp18.183 per dolar AS pada 28 Oktober menjadi Rp18.128 pada 29 Oktober. Penurunan kurs dolar sekitar 0,30% mencerminkan penguatan rupiah berdasarkan kurs referensi tersebut.

Sementara itu, snapshot imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor sepuluh tahun yang ditampilkan CNBC Indonesia berada di sekitar 7,643% pada 29 Oktober. Snapshot sehari sebelumnya berada di sekitar 7,706%. Karena waktu pengamatan berbeda, kedua angka tersebut tidak digunakan sebagai bukti perubahan imbal hasil penutupan yang sepenuhnya sebanding.

Perbedaan pergerakan saham, kurs referensi, dan indikator obligasi membatasi kesimpulan bahwa seluruh aset Indonesia mengalami tekanan serentak.

MSCI, kebijakan moneter global, dan pergerakan pasar domestik tetap menjadi konteks penting. Namun, belum dapat dipastikan faktor mana yang paling besar menjelaskan perubahan IHSG pada perdagangan tersebut.

Pemulihan Perlu Dikonfirmasi oleh Saham Besar dan Pasar yang Lebih Luas

Penutupan 29 Oktober memperlihatkan bahwa kenaikan sehari sebelumnya belum berkembang menjadi pemulihan yang bertahan.

Pengujian berikutnya tidak hanya bergantung pada apakah IHSG kembali naik. Perbaikan perlu terlihat pada jumlah saham yang menguat, kinerja sektor, kontribusi saham berbobot besar, dan transaksi investor asing.

Dalam skenario tekanan berlanjut, IHSG berisiko kembali melemah apabila saham-saham pemberat tetap negatif, mayoritas sektor gagal pulih, dan penjualan bersih asing berulang pada beberapa sesi berikutnya.

Sebaliknya, skenario stabilisasi memperoleh dukungan apabila jumlah saham naik meningkat, IDX30 dan LQ45 pulih bersama IHSG, serta pembelian asing tidak lagi terlalu terkonsentrasi pada beberapa emiten.

Penutupan 5.098,06 menjadi referensi harga untuk mengamati perdagangan selanjutnya. Posisi tersebut belum otomatis menjadi support teknikal yang terkonfirmasi.

Perkembangan konsultasi MSCI juga perlu dinilai berdasarkan bukti pelaksanaan reformasi dan tanggapan investor institusional, bukan hanya pengumuman kebijakan.

Bukti terpenting pada sesi berikutnya adalah kemampuan IHSG mempertahankan penguatan hingga penutupan, disertai perbaikan jumlah saham naik dan berkurangnya tekanan pada saham-saham pemberat indeks.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes