Banyu Capital

IHSG Naik 0,31% Ditopang BBCA dan ASII, tetapi 429 Saham Masih Turun

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG berbalik menguat hingga ditutup di posisi tertinggi harian. Investor asing kembali membeli bersih Rp665,22 miliar, tetapi penguatan masih terkonsentrasi pada saham besar, sementara delapan sektor tetap melemah.

Dashboard Market Notes Banyu Capital EOD 28 Oktober 2026 yang merangkum kenaikan IHSG 0,31%, kontribusi BBCA dan ASII, 429 saham melemah, serta pembelian bersih investor asing.
Dashboard penutupan BEI, 28 Oktober 2026. IHSG naik 0,31% dengan kontribusi besar BBCA dan ASII, tetapi penguatan belum merata. Sumber data: BEI, Stockbit, RTI Business, dan Bank Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada Rabu, 28 Oktober 2026, setelah sehari sebelumnya turun 1,99%. Indeks ditutup naik 16,18 poin atau 0,31% ke 5.282,31, sekaligus menjadi posisi tertinggi perdagangan hari itu.

Tekanan pasar memang mulai berkurang. Jumlah saham yang melemah turun dari 647 menjadi 429, sementara investor asing berbalik mencatat pembelian bersih setelah sebelumnya melakukan penjualan.

Akan tetapi, kenaikan indeks belum menjangkau pasar secara luas. BBCA dan ASII menyumbang total 49,15 poin, jauh melampaui kenaikan bersih IHSG sebesar 16,18 poin. Saham yang melemah masih lebih banyak daripada yang menguat, delapan sektor tetap negatif, dan rupiah kembali tertekan.

IHSG Berakhir di Tertinggi Harian setelah Sempat Turun ke 5.167

Perdagangan 28 Oktober memperlihatkan pembalikan arah yang cukup besar, terutama setelah tekanan pada sesi pertama.

IHSG dibuka di 5.249,07, kemudian turun hingga 5.167,34. Titik terendah tersebut bahkan berada di bawah posisi terendah perdagangan 27 Oktober sebesar 5.182,37.

Tekanan mulai mereda pada sesi kedua. IHSG berangsur pulih, melewati penutupan sebelumnya di 5.266,13, lalu mengakhiri perdagangan pada 5.282,31.

Dari titik terendah menuju penutupan, indeks bergerak naik sekitar 114,98 poin atau 2,23%.

Nilai transaksi saham mencapai Rp15,88 triliun, dengan volume 31,54 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,54 juta transaksi, menurut Bursa Efek Indonesia (BEI). Statistik tersebut mencakup transaksi saham di pasar reguler, tunai, dan negosiasi.

Penutupan di titik tertinggi memperlihatkan perubahan harga yang nyata setelah tekanan pagi hari. Penguatan ini menjadi perkembangan awal yang penting, meskipun keberlanjutannya masih membutuhkan bukti dari perdagangan berikutnya.

Dua Saham Menyumbang 49,15 Poin, tetapi Kontribusi Saham Lain Masih Negatif

Kenaikan IHSG terutama ditopang BBCA dan ASII, dua saham dengan bobot besar dalam indeks.

BBCA menguat 7,65% ke Rp5.275 dan menyumbang 34,15 poin terhadap IHSG. ASII naik 7,99% ke Rp5.000 dengan tambahan kontribusi 15 poin.

Gabungan keduanya mencapai 49,15 poin atau sekitar 3,04 kali kenaikan bersih IHSG.

Secara aritmetis, jika kontribusi BBCA dan ASII dikeluarkan, seluruh saham lain secara agregat masih memberikan kontribusi negatif sekitar 32,97 poin. Perhitungan ini menggunakan angka kontribusi indeks yang telah dibulatkan oleh BEI.

Di sisi berlawanan, TLKM memberikan tekanan terbesar dengan kontribusi negatif 6,45 poin, diikuti BRPT sebesar 5,25 poin, DSSA 3,81 poin, dan BREN 3,50 poin.

Perbedaan tersebut memperlihatkan pentingnya bobot saham dalam pembentukan IHSG. Kenaikan besar pada beberapa emiten dapat mengimbangi pelemahan banyak saham lainnya.

Penguatan BBCA dan ASII juga berlangsung berdekatan dengan pengungkapan kinerja terbaru kedua perusahaan.

BCA melaporkan pertumbuhan kredit 12,6% secara tahunan menjadi Rp1.063 triliun per September 2026. Laba bersih sembilan bulan meningkat 4,2% menjadi Rp45,2 triliun.

Sementara itu, Astra International membukukan laba bersih sembilan bulan sebesar Rp21,60 triliun, turun 12% secara tahunan. Setelah mengecualikan pos tidak berulang, laba bersihnya mencapai Rp24,57 triliun, sekitar 1% di bawah periode yang sama tahun sebelumnya.

Data tersebut memberikan konteks fundamental bagi kedua emiten. Namun, pengungkapan yang tersedia belum cukup untuk memastikan seberapa besar masing-masing informasi menjelaskan kenaikan harga saham pada 28 Oktober.

Tekanan Pasar Berkurang, tetapi Delapan Sektor Masih Melemah

Perbaikan dibanding perdagangan sebelumnya terlihat cukup jelas pada jumlah saham yang menguat dan melemah.

BEI mencatat 281 saham naik, 429 turun, dan 253 tidak berubah. Di antara 710 saham yang bergerak, sekitar 60,4% masih ditutup lebih rendah.

Pergerakan saham 27 Oktober 28 Oktober
Menguat 101 281
Melemah 647 429
Tidak berubah 215 253

Sumber: Bursa Efek Indonesia, IDX Daily Statistics, 27 dan 28 Oktober 2026.

Jumlah saham turun berkurang 218, sedangkan saham naik bertambah 180 dibanding sehari sebelumnya. Tekanan pasar mulai menyempit, meskipun saham yang melemah tetap mendominasi kelompok saham yang mengalami perubahan harga.

Pada tingkat sektoral, hanya tiga dari sebelas sektor yang ditutup positif. Sektor kesehatan memimpin dengan kenaikan 1,71%, disusul keuangan sebesar 0,80%, serta transportasi dan logistik sebesar 0,31%.

Delapan sektor lainnya masih melemah. Infrastruktur turun paling dalam sebesar 2,13%, diikuti energi 1,33% dan barang konsumen nonprimer 0,66%.

Sektor industri, yang menjadi satu-satunya sektor positif pada 27 Oktober, justru kembali turun 0,39%.

Perbedaan juga terlihat pada kelompok indeks. LQ45 menguat 1,21% dan IDX30 naik 1,12%, melampaui kenaikan IHSG sebesar 0,31%. Sebaliknya, IDX Small-Mid Cap Composite masih turun 0,23% dan IDX Small-Mid Cap Liquid melemah 0,11%.

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa dukungan harga lebih kuat pada kelompok saham besar dan likuid. Perbaikan pasar sudah terlihat dibanding 27 Oktober, tetapi belum merata di seluruh kelompok saham.

Pembelian Bersih Asing Berbalik Positif, dengan BBCA Mendominasi

Investor asing kembali mencatat posisi pembelian bersih pada perdagangan 28 Oktober.

Menurut BEI, net foreign buy mencapai Rp665,22 miliar di seluruh pasar saham, berbalik dari net foreign sell Rp651,26 miliar sehari sebelumnya.

Perubahan posisi transaksi bersih tersebut mencapai sekitar Rp1,32 triliun dalam satu hari.

Di pasar reguler, Stockbit dan RTI Business mencatat net foreign buy Rp257,74 miliar, berbalik dari net foreign sell Rp708,88 miliar pada 27 Oktober.

Pembelian asing terbesar terkonsentrasi pada BBCA, dengan nilai bersih sekitar Rp1,17 triliun di pasar reguler. Sebaliknya, investor asing masih melakukan penjualan bersih besar pada TLKM, BMRI, dan BBNI.

Sepuluh saham dengan pembelian dan penjualan bersih asing terbesar di pasar reguler, 28 Oktober 2026

No. Net foreign buy Rp miliar Net foreign sell Rp miliar
1 BBCA 1.174,7 TLKM 430,1
2 BOGA 61,8 BMRI 276,5
3 ASII 53,3 BBNI 85,9
4 GOTO 49,2 AADI 60,1
5 DEWA 43,7 TPIA 48,6
6 BBRI 43,7 PTBA 47,9
7 BRMS 35,0 SINI 37,8
8 MBMA 27,1 TINS 32,9
9 PTRO 26,0 ADRO 29,4
10 KLBF 23,3 BRIS 27,5

Sumber: Stockbit Sekuritas, pasar reguler, 28 Oktober 2026. Angka dibulatkan.

Besarnya pembelian bersih BBCA yang melampaui nilai bersih asing seluruh pasar mencerminkan adanya posisi penjualan bersih pada saham-saham lain. Dengan demikian, angka agregat positif tidak berarti investor asing melakukan pembelian bersih pada seluruh saham.

Perbedaan cakupan pasar juga penting.

RTI Business mencatat net buy asing Rp664,24 miliar untuk seluruh pasar, terdiri atas Rp257,74 miliar di pasar reguler serta Rp406,50 miliar di pasar tunai dan negosiasi.

Artinya, sekitar 61,2% posisi pembelian bersih agregat menurut RTI berasal dari pasar di luar reguler. Nilai ini tidak dapat langsung disamakan dengan pembelian di pasar reguler yang turut membentuk pergerakan harga harian.

Secara keseluruhan, perubahan arus asing merupakan perbaikan dibanding 27 Oktober. Namun, pembelian bersih yang terkonsentrasi pada beberapa emiten belum cukup membuktikan pemulihan minat asing secara luas.

Terlebih lagi, secara kumulatif sejak awal tahun, BEI masih mencatat penjualan bersih asing sekitar Rp96,71 triliun.

Rupiah Masih Melemah di Tengah Penguatan IHSG

Pemulihan IHSG berlangsung ketika tekanan terhadap rupiah belum mereda.

Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia meningkat dari Rp18.139 per dolar AS pada 27 Oktober menjadi Rp18.183 pada 28 Oktober. Perubahan Rp44 per dolar menunjukkan pelemahan rupiah sekitar 0,24%.

Di pasar obligasi, snapshot SUN tenor sepuluh tahun yang ditampilkan CNBC Indonesia pada 28 Oktober sekitar pukul 17.14 WIB menunjukkan yield sebesar 7,706%. Angka ini menjadi referensi posisi imbal hasil pada waktu pengamatan tersebut, bukan dasar untuk menyimpulkan perubahan harian tanpa pembanding yang seragam.

Kondisi rupiah dan imbal hasil obligasi tetap relevan karena keduanya dapat memengaruhi daya tarik relatif aset keuangan Indonesia, termasuk saham. Namun, hubungan tersebut tidak selalu berlangsung langsung atau seragam pada setiap perdagangan.

Ketidakpastian mengenai klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI juga masih menjadi risiko yang perlu dipantau.

Pada 15 Oktober, MSCI membuka konsultasi atas usulan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Proses tersebut belum menghasilkan keputusan final, yang dijadwalkan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027.

Risiko eksternal tersebut tidak menghapus perbaikan yang terjadi pada 28 Oktober. Namun, data satu hari juga belum cukup untuk menunjukkan bahwa tekanan pasar yang lebih panjang telah selesai.

Kenaikan Berikutnya Perlu Didukung Lebih Banyak Saham

Perdagangan 28 Oktober memberikan bukti awal bahwa tekanan IHSG mulai berkurang. Harga indeks pulih dari titik terendah, jumlah saham negatif menyusut, dan transaksi asing berbalik positif.

Pengujian berikutnya adalah apakah perbaikan tersebut dapat meluas.

Dalam skenario pemulihan berlanjut, jumlah saham menguat perlu semakin mendekati atau melampaui saham melemah, sektor positif bertambah, dan pembelian asing mulai tersebar di luar beberapa emiten utama.

Dukungan BBCA dan ASII juga menjadi faktor penting karena keduanya berperan besar dalam kenaikan indeks hari itu.

Sebaliknya, risiko tekanan kembali meningkat apabila saham penopang indeks berbalik melemah, keluasan pasar memburuk, dan transaksi asing kembali mencatat penjualan bersih.

Posisi penutupan 27 Oktober di 5.266,13 dan titik terendah 28 Oktober di 5.167,34 dapat menjadi referensi awal untuk memantau perubahan harga. Keduanya belum merupakan level support yang terkonfirmasi melalui pengujian berulang.

Pemulihan yang lebih kuat membutuhkan bukti tambahan, terutama kenaikan yang menjangkau lebih banyak saham, dukungan sektor yang lebih luas, serta arus dana yang tidak terlalu terkonsentrasi.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes