Banyu Capital

IHSG Turun 1,99%, 647 Saham Melemah meski Jual Bersih Asing Mengecil

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Tekanan IHSG meluas pada sesi kedua perdagangan 27 Oktober 2026. Sepuluh sektor berakhir negatif dan mayoritas saham melemah, sementara pantulan indeks menjelang penutupan belum cukup untuk menunjukkan pemulihan pasar yang lebih luas.

Dashboard penutupan IHSG 27 Oktober 2026: indeks turun 1,99% ke 5.266,13, sebanyak 647 saham melemah, 10 sektor negatif, dan jual bersih asing mengecil.
Dashboard pasar saham Indonesia, 27 Oktober 2026. IHSG turun 1,99% ke 5.266,13, dengan 647 saham melemah dan 10 sektor negatif. Jual bersih asing seluruh pasar saham tercatat Rp651,26 miliar, lebih kecil dibanding sehari sebelumnya. Sumber: BEI, Stockbit, dan RTI Business. Visual: Banyu Capital.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, di level 5.266,13, turun 106,96 poin atau 1,99%. Penurunan ini jauh lebih dalam dibanding akhir sesi I, ketika indeks masih berada di sekitar 5.355,65 atau melemah 0,32%.

Perubahan paling terlihat terjadi pada keluasan pasar. Empat sektor yang masih menguat pada sesi I menyusut menjadi satu sektor saat penutupan. Statistik Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencatat 647 saham melemah dan hanya 101 saham menguat.

Menariknya, jual bersih asing secara agregat justru lebih kecil dibanding sehari sebelumnya. Kedalaman koreksi IHSG tidak dapat dijelaskan hanya dari besarnya transaksi bersih investor asing. Perubahan harga, bobot saham dalam indeks, dan luasnya tekanan antarsektor memberikan gambaran yang lebih lengkap.

IHSG Sempat Tembus ke Bawah 5.200, lalu Memantul 83 Poin

Tekanan pada sesi kedua membawa IHSG ke titik terendah 5.182,37, sekitar 3,55% di bawah penutupan Senin di 5.373,09. Padahal, pada perdagangan pagi indeks sempat menguat hingga 5.418,14.

Dari posisi sesi I di sekitar 5.355,65, IHSG kehilangan sekitar 89,52 poin lagi hingga penutupan. Penurunan paling tajam berlangsung pada perdagangan sore sebelum indeks memangkas sebagian kerugiannya.

IHSG akhirnya ditutup 83,76 poin di atas titik terendah harian. Pemulihan tersebut memperlihatkan adanya perubahan harga menjelang akhir sesi, tetapi indeks masih berakhir jauh di bawah posisi tertinggi perdagangan.

Aktivitas transaksi saham mencapai Rp17,909 triliun, dengan volume 35,18 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,896 juta transaksi. Statistik ini mencakup perdagangan saham pada pasar reguler, tunai, dan negosiasi.

Pantulan menjelang penutupan menjadi perkembangan yang perlu diperhatikan. Namun, kemampuan pasar mempertahankan kenaikan tersebut masih harus dibuktikan melalui perdagangan berikutnya.

Dari Empat Sektor Positif, Hanya Industri yang Bertahan Menguat

Perubahan arah pasar terlihat jelas pada indeks sektoral.

Pada akhir sesi I, sektor industri masih menguat 1,37%, barang baku 0,36%, barang konsumen primer 0,30%, dan barang konsumen nonprimer 0,09%. Keempat sektor tersebut membantu membatasi pelemahan IHSG pada siang hari.

Menjelang penutupan, tiga dari empat sektor itu berbalik negatif.

Perubahan paling besar terjadi pada sektor barang baku. Dari kenaikan 0,36% pada sesi I, sektor ini berakhir turun 3,32%, atau bergeser negatif 3,68 poin persentase.

Sektor industri menjadi satu-satunya yang bertahan positif, dengan kenaikan 1,43%.

Sektor IDX-IC Perubahan EOD
Industri +1,43%
Barang konsumen primer -0,49%
Keuangan -1,11%
Barang konsumen nonprimer -1,36%
Kesehatan -1,50%
Properti -1,55%
Transportasi dan logistik -2,83%
Infrastruktur -2,95%
Teknologi -3,16%
Barang baku -3,32%
Energi -3,33%

Sumber: Bursa Efek Indonesia, IDX Daily Statistics, 27 Oktober 2026.

Pelemahan juga menjangkau sebagian besar saham dalam statistik pergerakan harga. BEI mencatat 647 saham turun, 101 naik, dan 215 tidak berubah. Saham yang melemah mencakup sekitar 67,2% dari 963 saham dalam statistik tersebut.

Tekanan pada kelompok saham likuid relatif lebih terbatas. LQ45 turun 1,69% ke 533,02, sedangkan IDX30 melemah 1,49% ke 299,62. Keduanya mencatat penurunan persentase yang lebih kecil dibanding IHSG.

Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kedalaman koreksi tidak seragam. Namun, dominasi saham dan sektor negatif menunjukkan tekanan pasar pada 27 Oktober jauh lebih luas daripada yang terlihat pada akhir sesi pertama.

TLKM dan AMMN Menekan Indeks, UNTR dan ASII Menahan Sebagian Pelemahan

Pada tingkat saham individual, tekanan terhadap IHSG tidak tersebar secara merata.

TLKM menjadi penyumbang penurunan terbesar dengan kontribusi negatif 10,13 poin. AMMN menyusul dengan 7,62 poin, BYAN 6,96 poin, BREN 6,21 poin, dan BRPT 5,54 poin.

Sebaliknya, sejumlah saham masih memberikan kontribusi positif.

UNTR menguat 6,00% dan menyumbang 4,24 poin ke IHSG. ASII menguat 1,54% dengan kontribusi 2,84 poin, sementara BOGA menyumbang 2,16 poin.

Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa persentase perubahan harga saham tidak selalu sebanding dengan dampaknya terhadap indeks.

TLKM menjadi penekan utama bukan karena mencatat penurunan harga paling besar di seluruh pasar, melainkan karena kombinasi perubahan harga dan bobotnya dalam IHSG. Sementara itu, sejumlah saham lain tetap mampu menguat ketika mayoritas pasar bergerak negatif.

Tekanan pada saham berbobot besar ikut memperdalam koreksi IHSG. Akan tetapi, jumlah saham yang melemah menunjukkan bahwa penurunan hari itu tidak terbatas pada beberapa emiten penggerak indeks saja.

Jual Bersih Asing Mengecil, tetapi Bank Besar dan TLKM Masih Menjadi Titik Tekanan

Pergerakan investor asing menunjukkan kondisi yang berbeda dari kedalaman koreksi indeks.

Berdasarkan statistik BEI, investor asing mencatat jual bersih Rp651,26 miliar di seluruh pasar saham pada 27 Oktober. Sehari sebelumnya, nilai jual bersih asing mencapai sekitar Rp1,855 triliun.

Dengan cakupan yang sama, jual bersih asing berkurang sekitar 64,9% dibanding perdagangan Senin.

Di pasar reguler, Stockbit dan RTI Business mencatat net foreign sell Rp708,88 miliar. Angka ini berbeda dari statistik seluruh pasar karena transaksi pasar reguler tidak mencakup perdagangan saham di pasar tunai dan negosiasi.

Meski jual bersih asing secara agregat mengecil, penjualan bersih pada sejumlah saham besar tetap menonjol.

BMRI mencatat net foreign sell terbesar di pasar reguler, sekitar Rp266,31 miliar, disusul TLKM Rp234,45 miliar, BBNI Rp119,57 miliar, BRIS Rp80,97 miliar, dan BBCA Rp59,75 miliar.

Sebaliknya, CPIN menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar, sekitar Rp60,65 miliar, diikuti MDKA Rp35,19 miliar dan ASII Rp34,31 miliar.

Sepuluh saham dengan pembelian dan penjualan bersih asing terbesar di pasar reguler, 27 Oktober 2026

No. Net Foreign Buy Rp miliar Net Foreign Sell Rp miliar
1 CPIN 60,65 BMRI 266,31
2 MDKA 35,19 TLKM 234,45
3 ASII 34,31 BBNI 119,57
4 BUMI 33,06 BRIS 80,97
5 SINI 26,07 BBCA 59,75
6 AMMN 25,93 PGAS 48,85
7 JSMR 22,04 DSSA 34,60
8 UNTR 19,46 ANTM 32,58
9 PWON 18,38 ITMG 31,64
10 ESSA 17,88 TPIA 30,83

Sumber: Stockbit Sekuritas, perdagangan pasar reguler, 27 Oktober 2026. Angka menunjukkan transaksi bersih investor asing pada masing-masing saham.

Pembelian bersih asing tidak selalu diikuti kenaikan harga. BUMI, misalnya, mencatat net foreign buy Rp33,06 miliar, tetapi sahamnya ditutup turun 6,57%. AMMN juga mencatat pembelian bersih asing Rp25,93 miliar saat harganya melemah 5,05%.

Sebaliknya, TLKM mencatat jual bersih asing besar sekaligus menjadi penekan utama IHSG. BMRI mengalami jual bersih asing yang lebih besar, tetapi kontribusi negatifnya terhadap indeks lebih kecil.

Dua pengukuran tersebut perlu dibedakan. Foreign flow mencatat selisih nilai transaksi kelompok investor asing, sedangkan perubahan indeks ditentukan oleh pergerakan harga saham beserta bobotnya.

Berkurangnya jual bersih asing pada 27 Oktober merupakan perkembangan yang relevan. Namun, selama mayoritas saham dan sektor masih melemah, perubahan arus dana tersebut belum cukup menjadi bukti bahwa tekanan pasar telah mereda secara luas.

Rupiah Melemah, Risiko Pasar Belum Hanya Berasal dari Saham

Tekanan terhadap aset Indonesia juga terlihat pada nilai tukar rupiah.

Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia pada 27 Oktober tercatat Rp18.139 per dolar AS, dibanding Rp18.116 sehari sebelumnya. Rupiah melemah Rp23 berdasarkan kedua kurs referensi tersebut.

Pelemahan rupiah menjadi perhatian investor internasional karena perubahan nilai tukar memengaruhi hasil investasi ketika dikonversi ke mata uang asal.

Di luar kurs, pasar masih menghadapi ketidakpastian mengenai evaluasi status Indonesia dalam indeks MSCI serta penyesuaian kebijakan pasar modal domestik.

Data perdagangan 27 Oktober belum cukup untuk menentukan seberapa besar kontribusi masing-masing faktor tersebut terhadap pelemahan IHSG.

Karena itu, pergerakan rupiah dan perkembangan kebijakan lebih tepat ditempatkan sebagai konteks risiko yang dapat memengaruhi respons investor, bukan sebagai penjelasan tunggal atas koreksi indeks.

Pemulihan Berikutnya Perlu Dukungan yang Lebih Luas

Perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, akan menjadi kesempatan berikutnya untuk menguji apakah pantulan akhir sesi Selasa dapat bertahan.

Area 5.182,37 menjadi salah satu acuan awal karena merupakan titik terendah IHSG pada 27 Oktober. Jika indeks kembali mendekati atau menembus area tersebut, tekanan harga lanjutan perlu dicermati.

Sebaliknya, kemampuan IHSG mempertahankan pemulihan perlu disertai perbaikan pada saham dan sektor. Kenaikan indeks yang hanya ditopang beberapa saham berbobot besar belum tentu menunjukkan pemulihan pasar secara luas.

Perubahan arus dana asing juga penting, terutama pada saham perbankan dan telekomunikasi yang mencatat penjualan bersih besar. Berkurangnya tekanan pada saham-saham tersebut akan lebih berarti apabila sejalan dengan stabilisasi harga dan bertambahnya saham yang menguat.

Risiko koreksi lanjutan tetap terbuka apabila IHSG kembali melemah, jumlah saham negatif tetap dominan, dan tekanan jual bersih asing kembali meningkat pada saham-saham utama.

Ukuran pemulihan berikutnya bukan sekadar kenaikan IHSG dari 5.266,13, melainkan apakah perbaikan harga mulai diikuti oleh keluasan pasar, sektor, dan arus dana yang lebih konsisten.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes