Banyu Capital

IHSG Turun 0,32%, Empat Sektor Menguat; Asing Jual Bersih Rp578 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Tekanan IHSG lebih terbatas dibanding sesi I sehari sebelumnya. Empat sektor menguat dan jumlah saham yang turun berkurang, tetapi indeks gagal mempertahankan kenaikan pagi, sementara asing masih mencatat jual bersih.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi I Selasa, 27 Oktober 2026, di level 5.355,65, turun 17,45 poin atau 0,32%. Koreksinya lebih terbatas dibanding sesi I Senin, ketika IHSG melemah 1,00% dan seluruh sektor berada di zona negatif.

Empat dari 11 sektor kini menguat. Jumlah saham yang naik bertambah dari 189 menjadi 259, sementara saham yang turun berkurang dari 474 menjadi 366.

Perbaikan tersebut belum mampu mengangkat IHSG ke zona positif. Indeks sempat menembus 5.400 pada perdagangan pagi, lalu kembali melemah. Investor asing juga masih membukukan jual bersih Rp578,30 miliar di seluruh pasar.

Tekanan pasar tidak lagi seluas sehari sebelumnya. Namun, IHSG sempat mencatat titik terendah yang lebih rendah daripada perdagangan Senin, menunjukkan risiko koreksi masih terbuka.

Dashboard Banyu Capital Market Notes Midday 27 Oktober 2026: IHSG turun 0,32% ke 5.355,65, empat sektor menguat, 366 saham melemah, dan asing jual bersih Rp578,30 miliar.
Dashboard perdagangan BEI sesi I, 27 Oktober 2026. IHSG turun 0,32% ke 5.355,65, meskipun empat sektor menguat dan jumlah saham yang melemah berkurang dibanding sesi I sebelumnya. Investor asing masih mencatat jual bersih Rp578,30 miliar di seluruh pasar. Sumber: Stockbit Sekuritas dan RTI Business.

IHSG Gagal Mempertahankan Kenaikan Pagi

IHSG dibuka di 5.357,97 dan sempat mencapai 5.418,14 sebelum berbalik turun. Indeks kemudian menyentuh 5.338,04 dan mengakhiri sesi I di 5.355,65.

Posisi tengah hari berada sekitar 62,5 poin di bawah titik tertinggi sesi I dan masih tertinggal dari penutupan Senin di 5.373,09.

Titik terendah sesi I Selasa sebesar 5.338,04 juga berada di bawah titik terendah perdagangan Senin, yakni 5.349,75. Dengan demikian, koreksi yang lebih kecil pada tengah hari belum disertai pembentukan titik terendah yang lebih tinggi.

Nilai transaksi di seluruh pasar mencapai Rp5,683 triliun, dengan volume 15,929 miliar saham dan frekuensi 947.839 transaksi.

Empat Sektor Positif, tetapi Saham Turun Masih Mendominasi

Industri memimpin penguatan sektoral sebesar 1,37%, disusul barang baku 0,36%, barang konsumen primer 0,30%, dan barang konsumen nonprimer 0,09%. Sehari sebelumnya, seluruh 11 sektor masih berada di zona negatif pada akhir sesi I.

Tujuh sektor lainnya masih melemah. Infrastruktur turun paling dalam, 1,24%, diikuti teknologi 1,20% dan transportasi 0,57%. Sektor keuangan melemah 0,21%, lebih terbatas dibanding penurunan 1,05% pada sesi I Senin.

Keluasan pasar ikut membaik. RTI Business mencatat 259 saham menguat, 366 melemah, dan 163 tidak berubah. Sehari sebelumnya, jumlah saham yang naik baru mencapai 189, sedangkan 474 saham turun.

Meski jumlah saham yang melemah berkurang, kelompok tersebut masih mendominasi perdagangan.

IDX30 turun 0,15%, sedangkan LQ45 hanya melemah 0,05%. Keduanya mencatat koreksi lebih terbatas daripada IHSG yang turun 0,32%.

Data tersebut memperlihatkan penguatan mulai muncul pada sebagian sektor dan saham likuid. Perbaikan yang lebih luas masih memerlukan bertambahnya saham yang menguat, bukan hanya berkurangnya kedalaman koreksi indeks.

Jual Bersih Asing Menyusut, tetapi Masih Menonjol pada Saham Besar

Investor asing mencatat pembelian sekitar Rp1,66 triliun dan penjualan Rp2,24 triliun pada sesi I. Berdasarkan rekap Stockbit Sekuritas, selisihnya menghasilkan net sell Rp578,30 miliar di seluruh pasar.

Nilai tersebut lebih kecil dibanding jual bersih asing Rp1,14 triliun pada sesi I Senin. Tekanan arus asing berkurang dalam perbandingan kedua sesi tersebut, tetapi posisi bersihnya masih negatif.

Di tingkat saham, estimasi jual bersih terbesar terlihat pada BMRI sebesar Rp153,43 miliar, disusul BRIS Rp71,72 miliar, BBCA Rp65,40 miliar, TLKM Rp55,41 miliar, dan TPIA Rp46,36 miliar.

Sebaliknya, pembelian bersih asing terbesar terlihat pada TINS, ADRO, ASII, WIFI, dan JSMR.

Sepuluh saham dengan estimasi pembelian dan penjualan bersih asing terbesar — sesi I, 27 Oktober 2026

No. Net buy Rp miliar Net sell Rp miliar
1 TINS 19,02 BMRI −153,43
2 ADRO 14,97 BRIS −71,72
3 ASII 12,84 BBCA −65,40
4 WIFI 10,74 TLKM −55,41
5 JSMR 7,47 TPIA −46,36
6 CPIN 7,30 BBRI −32,08
7 PWON 7,27 BBNI −28,21
8 UNTR 7,16 GOTO −18,12
9 ESSA 5,52 ANTM −16,01
10 CMNT 5,35 CUAN −15,45

Catatan: Nilai per saham merupakan estimasi berdasarkan harga rata-rata sesi I dan volume bersih transaksi asing. Angka agregat Rp578,30 miliar mencakup seluruh pasar, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan tekanan transaksi di pasar reguler. Daftar per saham juga bukan rekonsiliasi lengkap terhadap nilai agregat.

BBCA dan TPIA Menguat meski Asing Mencatat Jual Bersih

ASII menjadi penyumbang positif terbesar terhadap IHSG pada sesi I dengan kontribusi sekitar 6,49 poin. TPIA menambah 2,79 poin, UNTR 2,12 poin, dan BBCA 1,82 poin.

TPIA naik 3,81% meskipun tercatat estimasi net sell asing Rp46,36 miliar. BBCA juga menguat 0,40% ketika estimasi jual bersih asing mencapai Rp65,40 miliar.

Jual bersih asing tidak otomatis membuat harga saham turun. Statistik foreign flow hanya menggambarkan posisi bersih kelompok investor asing, sedangkan harga terbentuk dari keseluruhan permintaan dan penawaran di pasar.

Karena itu, nilai jual bersih asing tidak dapat langsung dikonversi menjadi kontribusi negatif terhadap IHSG. Permintaan dari investor lain dapat membantu menopang harga ketika investor asing mencatat penjualan bersih.

Kontribusi ASII, TPIA, UNTR, dan BBCA membantu menahan pelemahan IHSG. Namun, 366 saham yang masih turun memperlihatkan bahwa dukungan tersebut belum menjangkau mayoritas saham yang diperdagangkan.

Sesi II Perlu Menguji Level 5.373 dan 5.338

Dua posisi harga menjadi acuan untuk membaca perkembangan IHSG pada sesi II: penutupan Senin di 5.373,09 dan titik terendah sesi I Selasa di 5.338,04.

Kembalinya IHSG ke atas 5.373,09 akan memberi indikasi perbaikan harga. Sinyalnya lebih kuat apabila jumlah saham yang menguat bertambah, lebih banyak sektor bergerak positif, dan tekanan jual bersih asing berkurang.

Sebaliknya, pengujian ulang area 5.338,04 perlu dicermati. Jika indeks menembusnya bersamaan dengan dominasi saham turun dan pelemahan sektor yang kembali meluas, risiko koreksi lanjutan akan meningkat.

Kedua level tersebut merupakan acuan dari perdagangan yang tercatat, bukan batas teknikal yang menjamin arah indeks.

Penutupan sesi II akan memperlihatkan apakah perbaikan keluasan pasar dapat bertahan dan mengangkat IHSG kembali ke atas penutupan sebelumnya, atau justru kehilangan dukungan ketika tekanan jual kembali meningkat.

Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes