Banyu Capital

IHSG Turun 1,22%, Seluruh Sektor Melemah; Asing Jual Bersih Rp1,85 Triliun

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Empat sesi penguatan IHSG terhenti. Koreksi menjangkau seluruh sektor dan mayoritas saham, meski sejumlah saham besar masih menopang indeks.

IHSG mengakhiri perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, turun 66,16 poin atau 1,22% ke 5.373,09. Seluruh 11 sektor BEI melemah, sementara investor asing mencatat net sell Rp1,855 triliun di seluruh pasar saham. Koreksi ini menghentikan penguatan selama empat sesi perdagangan sebelumnya.

Tekanan tidak merata pada kelompok saham likuid. IDX30 dan LQ45 melemah lebih kecil daripada IHSG, sementara sejumlah saham besar masih menyumbang poin positif. Pemulihan empat sesi sebelumnya kembali diuji, tetapi belum terbukti berakhir.

Dashboard EOD BEI 26 Oktober 2026: IHSG turun 1,22%, seluruh sektor melemah dan asing jual bersih Rp1,85 triliun
Dashboard penutupan BEI, 26 Oktober 2026. IHSG turun 1,22% ke 5.373,09, seluruh 11 sektor melemah, dan investor asing mencatat jual bersih Rp1,855 triliun di seluruh pasar saham. Sumber: BEI, Stockbit, RTI Business.

IHSG Melemah Lagi Setelah Sesi I, Pantulan dari Titik Terendah Menyusut

IHSG dibuka di 5.442,30 dan sempat mencapai 5.453,65 sebelum jatuh ke 5.349,75. Pada akhir sesi I, indeks berada di 5.384,97, atau 35,22 poin di atas titik terendah. Namun, IHSG kembali turun hingga ditutup pada 5.373,09, sekitar 11,88 poin di bawah posisi tengah hari dan hanya 23,34 poin di atas titik terendah.

Nilai transaksi saham di seluruh pasar mencapai Rp14,983 triliun, dengan volume 36,128 miliar saham dan frekuensi 1,790 juta kali. Khusus pasar reguler, nilai transaksi saham sebesar Rp12,717 triliun. Angka Rp14,997 triliun yang terlihat pada rekap seluruh instrumen bursa mencakup juga transaksi instrumen selain saham.

Koreksi Menjangkau Mayoritas Saham, IDX30 Lebih Bertahan

Statistik BEI mencatat 542 saham turun, 174 naik, dan 247 tidak berubah. Sebanyak 329 saham melemah lebih dari 2%, sedangkan 85 saham menguat lebih dari 2%. Kapitalisasi kelompok saham yang turun mencapai sekitar Rp6.135 triliun, atau 65% dari total kapitalisasi BEI. Angka tersebut menunjukkan bobot kapitalisasi kelompok saham yang melemah, bukan nilai saham yang dijual sepanjang hari.

Seluruh 11 sektor berakhir negatif. Infrastruktur turun paling dalam, 2,47%, diikuti energi 2,36%, teknologi 2,06%, dan industri 1,87%. Sektor keuangan melemah lebih terbatas, 0,56%.

Dibanding sesi I, pelemahan infrastruktur bertambah dari 1,59% menjadi 2,47%, sementara energi dari 1,01% menjadi 2,36%. Sebaliknya, koreksi sektor keuangan berkurang dari 1,05% menjadi 0,56%.

IDX30 berakhir turun 0,67% dan LQ45 melemah 0,89%, setelah keduanya turun sekitar 0,95% pada akhir sesi I. Keduanya menunjukkan perbaikan relatif hingga penutupan, berbeda dengan IHSG yang berakhir lebih rendah daripada posisi tengah hari. Ini menunjukkan adanya daya tahan pada sebagian saham likuid, tetapi belum mengubah tekanan yang menjangkau seluruh sektor.

Jual Bersih Asing Terkonsentrasi pada Saham Besar, Respons Harga Berbeda

BEI mencatat jual bersih asing Rp1,855 triliun di seluruh pasar saham. Di pasar reguler, Stockbit dan RTI Business menunjukkan net sell sekitar Rp2,03 triliun. RTI juga mencatat pembelian bersih asing sekitar Rp172,12 miliar pada pasar negosiasi dan tunai. Perbedaan cakupan itu menjelaskan mengapa angka pasar reguler tidak sama dengan agregat seluruh pasar.

Pada akhir sesi I, Stockbit memperkirakan net sell asing seluruh pasar sebesar Rp1,14 triliun. Rekap EOD BEI lebih besar, tetapi perbedaan penyedia dan metode penghitungan membuat selisih keduanya tidak dapat diperlakukan sebagai angka pasti jual bersih asing selama sesi II.

Di pasar reguler, jual bersih asing terbesar terjadi pada BMRI Rp400,03 miliar, TLKM Rp329,39 miliar, BBCA Rp235,53 miliar, dan BBRI Rp150,25 miliar. Namun, BMRI justru naik 0,26%, TLKM naik 0,45%, dan BBRI tidak berubah. Nilai jual bersih asing dan perubahan harga perlu dibaca sebagai ukuran yang berbeda.

Kontribusi negatif terbesar terhadap IHSG berasal dari BBCA sebesar 7,74 poin, BYAN 6,14 poin, dan MORA 3,83 poin. Di sisi lain, TPIA yang naik 8,65% memberikan kontribusi positif 5,84 poin. BBNI, TLKM, dan BMRI juga menopang indeks.

10 saham dengan pembelian dan penjualan bersih asing terbesar di pasar reguler, Rp miliar

No. Net foreign buy Nilai Net foreign sell Nilai
1 BRIS 40,80 BMRI 400,03
2 BRPT 16,73 TLKM 329,39
3 MEDC 12,30 BBCA 235,53
4 EMAS 10,22 BBRI 150,25
5 SMGR 7,44 ANTM 107,05
6 PWON 6,08 ITMG 84,91
7 CTRA 5,34 CUAN 61,20
8 ESSA 2,89 TINS 55,97
9 DMAS 2,65 BBNI 42,55
10 CPIN 2,64 ENRG 38,68

Catatan: Peringkat dan nilai per saham merujuk pada estimasi Stockbit untuk pasar reguler. Angka agregat seluruh pasar mengacu pada BEI. Metode dan cakupan penghitungan tidak identik.

Rupiah Melemah, Sementara Arah Yield Masih Memerlukan Pembanding

JISDOR Bank Indonesia ditetapkan Rp18.116 per dolar AS, dibanding Rp18.069 pada 23 Oktober. Perubahan Rp47 per dolar mencerminkan pelemahan rupiah sekitar 0,26% pada acuan tersebut. Sementara itu, yield SUN 10 tahun tercatat 7,454% pada snapshot CNBC Indonesia pukul 17.02 WIB.

Satu titik data yield belum memperlihatkan arah perubahan pasar obligasi. Pelemahan rupiah pada JISDOR juga belum membuktikan hubungan sebab-akibat dengan koreksi IHSG.

Bukti Berikutnya Ada pada 5.349,75 dan 5.439,26

Titik terendah Senin, 5.349,75, menjadi acuan harga untuk perdagangan Selasa, 27 Oktober. Jika IHSG kembali mengujinya bersamaan dengan dominasi saham turun, pelemahan sektor, dan jual bersih asing yang berlanjut, risiko koreksi berikutnya akan meningkat.

Sebaliknya, kembalinya IHSG ke atas penutupan Jumat di 5.439,26 akan lebih berarti apabila diikuti bertambahnya saham yang menguat, perbaikan IDX30 dan LQ45, serta menyusutnya penjualan bersih asing. Kedua level tersebut merupakan acuan dari harga yang tercatat, bukan batas teknikal yang menjamin arah pasar.

Pada sesi berikutnya, perubahan keluasan pasar, arah saham likuid, dan arus asing akan menjadi penguji apakah pantulan harga mendapat dukungan lebih luas.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes