IHSG Turun 1,00%, Seluruh Sektor Melemah; Asing Jual Bersih Rp1,14 Triliun
IHSG kembali melemah setelah empat sesi penguatan hingga Jumat lalu. Tekanan meluas ke seluruh sektor, sementara jual bersih asing menonjol pada saham perbankan besar. Pantulan dari titik terendah sesi I belum cukup untuk mengonfirmasi pemulihan pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 54,29 poin atau 1,00% ke 5.384,97 pada akhir perdagangan sesi I, Senin, 26 Oktober 2026. Pelemahan ini terjadi setelah indeks menutup Jumat, 23 Oktober, di 5.439,26 dengan kenaikan 0,95%.
Seluruh 11 sektor Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak negatif dan jumlah saham yang melemah jauh melampaui saham yang menguat. Investor asing juga mencatat jual bersih Rp1,14 triliun di seluruh pasar.
Meski IHSG telah memantul dari titik terendahnya, tekanan masih terlihat pada sektor dan saham likuid. Perdagangan sesi II akan menguji apakah pemulihan harga tersebut diikuti perbaikan partisipasi pasar.
Pantulan dari 5.349 Belum Menghapus Koreksi IHSG
IHSG mengawali perdagangan di 5.442,30 dan sempat mencapai 5.453,65. Tekanan berikutnya membawa indeks turun hingga 5.349,75 sebelum kembali ke 5.384,97 pada akhir sesi I.
Indeks telah pulih 35,22 poin dari titik terendah, tetapi masih tertinggal 54,29 poin dari penutupan Jumat. Pantulan intraday tersebut belum cukup untuk mengubah arah perdagangan harian yang masih negatif.
Nilai transaksi di seluruh pasar mencapai sekitar Rp7,60 triliun, dengan volume 18,57 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,14 juta transaksi.
Data transaksi tersebut menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan hingga sesi I. Namun, nilai transaksi agregat belum cukup untuk menentukan apakah tekanan jual mulai berkurang atau hanya terjadi perubahan distribusi transaksi antarsaham.
Sebelas Sektor Melemah, Tekanan Tidak Terbatas pada Saham Besar
Seluruh indeks sektoral berada di zona negatif hingga akhir sesi I. Infrastruktur mencatat penurunan terdalam sebesar 1,59%, disusul teknologi 1,54% dan kesehatan 1,25%. Keuangan turun 1,05%, sedangkan energi melemah 1,01%.
Barang konsumen nonprimer dan barang konsumen primer relatif lebih bertahan, masing-masing turun 0,35% dan 0,37%. Keduanya tetap belum mampu keluar dari zona merah.
Statistik RTI Business mencatat 474 saham melemah, 189 menguat, dan 128 tidak berubah. Dari 791 saham dalam cakupan data tersebut, sekitar 59,9% mengalami penurunan.
Tekanan juga menjangkau kelompok saham likuid. IDX30 dan LQ45 masing-masing turun 0,95%, mendekati koreksi IHSG sebesar 1,00%.
Kombinasi penurunan sektoral, dominasi saham yang melemah, dan koreksi indeks likuid memperlihatkan bahwa tekanan berlangsung luas, bukan hanya pada beberapa saham berkapitalisasi besar.
TPIA menjadi salah satu pengecualian. Saham tersebut naik 10,53% dan memberikan kontribusi positif sekitar 7,11 poin terhadap IHSG. Penguatan ini membantu menahan sebagian penurunan indeks, meskipun kondisi pasar secara agregat masih negatif.
Jual Bersih Asing Rp1,14 Triliun, Bank Besar Menonjol
Investor asing mencatat pembelian sekitar Rp1,55 triliun dan penjualan Rp2,69 triliun hingga akhir sesi I. Berdasarkan rekap Stockbit Sekuritas, selisihnya menghasilkan net sell Rp1,14 triliun di seluruh pasar.
BBCA, BMRI, dan BBRI berada di antara saham dengan estimasi jual bersih asing terbesar. Nilai gabungan ketiganya mencapai sekitar Rp421,53 miliar.
Besarnya penjualan pada kelompok bank tersebut menunjukkan bahwa tekanan arus dana asing menjangkau saham-saham perbankan besar. Namun, nilai foreign flow tidak dapat digunakan sendiri untuk menghitung kontribusi ketiganya terhadap penurunan poin IHSG.
10 saham dengan estimasi net foreign sell terbesar — sesi I
| Saham | Jual bersih asing |
|---|---|
| BBCA | Rp201,92 miliar |
| BMRI | Rp129,94 miliar |
| BBRI | Rp89,67 miliar |
| ITMG | Rp83,53 miliar |
| ANTM | Rp47,43 miliar |
| TLKM | Rp39,55 miliar |
| CUAN | Rp39,29 miliar |
| ENRG | Rp31,55 miliar |
| TINS | Rp28,53 miliar |
| DSSA | Rp25,41 miliar |
Pembelian bersih asing tetap terlihat pada sejumlah emiten. BRIS dan TPIA memimpin kelompok tersebut, masing-masing sekitar Rp18,42 miliar dan Rp18,29 miliar.
10 saham dengan estimasi net foreign buy terbesar — sesi I
| Saham | Beli bersih asing |
|---|---|
| BRIS | Rp18,42 miliar |
| TPIA | Rp18,29 miliar |
| SGER | Rp6,85 miliar |
| AKRA | Rp5,47 miliar |
| SMGR | Rp4,66 miliar |
| AMRT | Rp4,28 miliar |
| PWON | Rp3,90 miliar |
| BSSR | Rp2,56 miliar |
| UNVR | Rp2,46 miliar |
| PGEO | Rp1,75 miliar |
Distribusi tersebut memperlihatkan bahwa pembelian asing masih berlangsung secara selektif, tetapi belum mengimbangi penjualan pada tingkat pasar secara keseluruhan.
Catatan: Nilai bersih per saham merupakan estimasi Stockbit berdasarkan harga rata-rata sesi I dikalikan volume transaksi bersih asing. Metode tersebut berbeda dari rekap nilai transaksi asing agregat seluruh pasar.
Sesi II Perlu Membuktikan Perbaikan yang Lebih Luas
Titik terendah sesi I pada 5.349,75 menjadi acuan intraday untuk membaca perkembangan tekanan harga. Jika indeks kembali mendekati area tersebut bersamaan dengan bertambahnya saham yang melemah, risiko koreksi lanjutan akan meningkat.
Sebaliknya, pergerakan IHSG menuju penutupan Jumat di 5.439,26 akan lebih berarti apabila disertai membaiknya jumlah saham yang menguat serta pemulihan IDX30 dan LQ45.
Arus dana asing juga perlu diperiksa kembali saat penutupan. Berkurangnya jual bersih pada saham perbankan besar dan kelompok saham likuid dapat menjadi indikasi awal perbaikan, terutama jika berlangsung bersamaan dengan menguatnya partisipasi pasar.
Apabila IHSG kembali melewati 5.439,26 dengan perbaikan keluasan pasar, pembacaan bahwa tekanan penurunan masih mendominasi perdagangan hari itu akan melemah. Jika indeks justru menguji kembali 5.349,75 dengan tekanan sektoral yang berlanjut, risiko koreksi tetap terbuka.
Dengan demikian, bukti yang perlu dicermati pada sesi II adalah apakah pantulan IHSG disertai pemulihan lebih banyak saham dan berkurangnya jual bersih asing, bukan sekadar kenaikan indeks dari titik terendahnya.
Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.