Banyu Capital

IHSG Naik 0,95%, 11 Sektor Menguat; Asing Masih Jual Bersih Rp1,29 Triliun

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG memperpanjang penguatan menjadi empat sesi berturut-turut pada Jumat, 23 Oktober 2026. Seluruh sektor ditutup positif, tetapi jumlah saham yang naik berkurang dari sesi I dan investor asing masih mencatat jual bersih.

Dashboard Banyu Capital Market Notes EOD 23 Oktober 2026: IHSG menguat 0,95% ke 5.439,26, seluruh 11 sektor positif, dan investor asing mencatat jual bersih Rp1,29 triliun.
Dashboard Market Notes EOD BEI, Jumat, 23 Oktober 2026. IHSG naik 0,95% dengan seluruh 11 sektor menguat, sementara LQ45 dan IDX30 tertinggal. Investor asing masih mencatat jual bersih Rp1,29 triliun di seluruh pasar. Sumber: BEI, Stockbit Sekuritas, dan RTI Business.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, di level 5.439,26, naik 51,35 poin atau 0,95%. Penguatan berlangsung di seluruh 11 sektor, dipimpin konsumer siklikal, perindustrian, dan energi.

Kenaikan tersebut memperpanjang pemulihan IHSG menjadi empat hari perdagangan berturut-turut. Namun, perbaikan harga belum diikuti pembalikan arus modal asing. Investor asing masih mencatat jual bersih Rp1,29 triliun di seluruh pasar, sementara LQ45 dan IDX30 naik lebih lambat daripada IHSG.

Kondisi ini memperlihatkan perbedaan antara keluasan kenaikan harga dan kekuatan aliran dana. Semakin banyak sektor mampu bertahan di zona positif, tetapi saham likuid dan aktivitas investor asing belum menunjukkan perbaikan dengan intensitas yang sama.

IHSG Bertahan Menguat, tetapi Sedikit Melemah dari Sesi I

IHSG bergerak dalam rentang 5.366,29 hingga 5.455,21 sebelum ditutup pada 5.439,26. Posisi penutupan berada relatif dekat dengan level tertinggi harian.

Dibanding akhir sesi pertama di 5.446,74, indeks turun 7,48 poin. Kenaikan hariannya berkurang dari 1,09% pada sesi I menjadi 0,95% saat penutupan.

Pelemahan terbatas sepanjang sesi kedua tidak menghapus penguatan sejak pagi. IHSG tetap berakhir jauh di atas titik terendah hariannya.

Menurut Statistik Harian Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi saham mencapai Rp16,18 triliun, dengan volume 43,18 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,81 juta kali. Angka tersebut mencakup pasar reguler, tunai, dan negosiasi. Khusus pasar reguler, nilai transaksi tercatat Rp13,92 triliun.

Sepanjang pekan, IHSG menguat sekitar 4,90%. Meski demikian, indeks masih mencatat penurunan 37,10% sejak awal tahun. Penguatan empat sesi terakhir memperbaiki posisi harga setelah tekanan tajam sebelumnya, tetapi belum memulihkan seluruh penurunan tersebut.

Seluruh Sektor Positif, tetapi Jumlah Saham yang Naik Berkurang

Seluruh 11 indeks sektoral BEI mengakhiri perdagangan di zona hijau.

Sektor konsumer siklikal memimpin kenaikan sebesar 3,13%, disusul perindustrian 3,12% dan energi 2,48%. Infrastruktur menguat 1,91%, sementara transportasi dan logistik naik 1,59%.

Sektor keuangan hanya bertambah 0,14% dan kesehatan naik 0,09%.

Perubahan penting terjadi pada sektor kesehatan. Pada sesi pertama, sektor ini masih turun 0,78% dan menjadi satu-satunya sektor yang melemah. Menjelang penutupan, kesehatan berbalik positif sehingga seluruh sektor berakhir menguat.

Namun, keluasan kenaikan pada tingkat saham sedikit menyempit.

Berdasarkan data sesi pertama yang dilaporkan IDXChannel, sebanyak 542 saham menguat dan 155 melemah, sementara 266 tidak berubah. Pada akhir perdagangan, statistik BEI mencatat 506 saham naik, 192 turun, dan 265 tidak berubah.

Jumlah saham yang menguat berkurang 36, sementara saham yang melemah bertambah 37. Walaupun demikian, sekitar 72,5% saham yang mengalami perubahan harga masih ditutup positif.

Perbedaan juga muncul pada indeks saham likuid. LQ45 hanya naik 0,46% dan IDX30 menguat 0,37%, keduanya tertinggal dari kenaikan IHSG sebesar 0,95%. Sebaliknya, IDX Small-Mid Cap Composite naik 1,68%.

Dengan demikian, penguatan sektoral terlihat lebih merata daripada kenaikan saham-saham likuid. Seluruh sektor dapat bergerak positif meskipun tidak semua saham di dalamnya menguat atau bergerak dengan intensitas yang sama.

Jual Bersih Asing Mengecil 13,6%, Tekanan Terbesar pada BBCA dan BBRI

Investor asing masih menjadi penjual bersih pada perdagangan 23 Oktober.

Menurut BEI, nilai jual bersih asing di seluruh pasar mencapai Rp1.285,12 miliar, lebih rendah dibanding Rp1.486,59 miliar pada 22 Oktober.

Selisih sekitar Rp201,47 miliar tersebut menunjukkan penyusutan intensitas jual bersih sebesar 13,6% dalam sehari. Arah transaksi asing tetap negatif, tetapi tekanannya lebih kecil daripada perdagangan sebelumnya.

Di pasar reguler, RTI Business mencatat jual bersih asing sekitar Rp1,62 triliun. Sementara itu, pasar negosiasi dan tunai menghasilkan pembelian bersih sekitar Rp330,57 miliar sehingga angka seluruh pasar menjadi lebih rendah.

Perbedaan tersebut berasal dari cakupan perdagangan, bukan pertentangan arah data.

Secara kumulatif sejak awal tahun, BEI mencatat jual bersih asing sekitar Rp94,87 triliun. Penyusutan tekanan dalam satu hari belum cukup untuk memastikan perubahan kecenderungan arus modal.

Top 10 Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell

Pasar reguler, 23 Oktober 2026. Nilai dalam Rp miliar.

Net Foreign Buy Nilai Net Foreign Sell Nilai
DSSA 69,29 BBCA 770,54
ASII 46,12 BBRI 346,82
AALI 37,64 BBNI 101,25
EMAS 30,59 GOTO 79,24
ENRG 30,24 BRIS 60,17
CUAN 30,10 TLKM 52,99
BUVA 22,72 BUMI 51,36
UNTR 11,52 TPIA 46,54
BRMS 9,57 PTBA 44,84
KOTA 9,24 BMRI 43,00

Sumber: Stockbit Sekuritas. Angka pada kolom penjualan menunjukkan besarnya nilai jual bersih.

BBCA dan BBRI menjadi dua saham dengan jual bersih asing terbesar, masing-masing Rp770,54 miliar dan Rp346,82 miliar. Gabungan keduanya mencapai sekitar Rp1,12 triliun di pasar reguler.

Di sisi pembelian, DSSA mencatat pembelian bersih asing Rp69,29 miliar, diikuti ASII Rp46,12 miliar dan AALI Rp37,64 miliar.

Tekanan transaksi asing terkonsentrasi pada sejumlah saham perbankan besar. Namun, pergerakan harga sahamnya berbeda. BBCA turun 2,90%, sedangkan BBRI tetap naik 0,34% dan BMRI menguat 1,30% meskipun keduanya mencatat jual bersih asing.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa harga tidak hanya dipengaruhi oleh transaksi satu kelompok investor. Permintaan dan penawaran dari seluruh pelaku pasar tetap menentukan harga yang terbentuk.

BBCA Menjadi Pemberat Terbesar, Kenaikan Saham Lain Menahan Tekanan

BBCA menjadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi negatif 13,66 poin. Penurunan saham tersebut sebesar 2,90% membatasi kenaikan indeks secara keseluruhan.

Tekanan lain berasal dari DCII yang mengurangi IHSG sebesar 2,02 poin, AMRT sebesar 1,37 poin, dan MDKA sebesar 1,35 poin.

Sementara itu, kontribusi positif terbesar datang dari MORA sebesar 4,88 poin, DSSA 4,29 poin, VKTR 4,15 poin, ASII 4,05 poin, serta BMRI 3,98 poin. TLKM turut menopang IHSG sebesar 3,68 poin.

Kombinasi tersebut menjelaskan mengapa IHSG tetap menguat meskipun BBCA mengalami penurunan yang cukup besar.

Tekanan pada satu saham berbobot tinggi dapat diimbangi oleh kenaikan beberapa saham lainnya. Sebaliknya, kenaikan indeks tidak berarti seluruh saham besar telah pulih.

Pada sesi berikutnya, konsistensi kontribusi dari saham-saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu ukuran apakah penguatan IHSG semakin merata atau kembali bergantung pada sejumlah penggerak tertentu.

Rupiah Melemah, Sementara IHSG Masih Jauh di Bawah Awal Tahun

Di pasar valuta asing, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia pada 23 Oktober tercatat Rp18.069 per dolar AS, dibanding Rp18.047 sehari sebelumnya.

Perubahan tersebut setara dengan pelemahan rupiah sekitar 0,12% berdasarkan perbandingan kedua kurs referensi.

Nilai tukar tetap relevan bagi pasar saham karena dapat memengaruhi biaya pendanaan valuta asing, ekspektasi risiko, dan keputusan alokasi investasi. Namun, pergerakan kurs dalam satu hari tidak cukup untuk menjelaskan seluruh perubahan IHSG.

Kondisi pasar juga belum dapat dinilai hanya dari besarnya penurunan indeks sejak awal tahun.

IHSG yang masih turun 37,10% secara YTD menunjukkan jarak harga dari posisi awal tahun. Angka tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh risiko ekonomi, laba perusahaan, maupun arus modal sudah tercermin dalam valuasi saham.

Pemulihan Berikutnya Perlu Dukungan Saham Likuid dan Arus Modal

Perdagangan 23 Oktober menghasilkan tiga perkembangan yang dapat diukur: IHSG melanjutkan kenaikan hari keempat, seluruh sektor ditutup positif, dan jual bersih asing berkurang dibanding sehari sebelumnya.

Di saat yang sama, jumlah saham yang naik menyusut dari sesi pertama dan LQ45 serta IDX30 masih tertinggal.

Pada perdagangan Senin, 26 Oktober, perhatian utama perlu diarahkan pada:

  1. Ketahanan keluasan pasar. Apakah saham yang menguat tetap mendominasi, atau jumlah saham melemah kembali meningkat?
  2. Kinerja saham likuid. Apakah LQ45 dan IDX30 mulai memperkecil ketertinggalan terhadap IHSG, khususnya melalui pergerakan saham bank besar?
  3. Perubahan arus asing. Apakah nilai jual bersih kembali mengecil atau tekanan meningkat pada saham dengan transaksi asing terbesar?

Level tertinggi 23 Oktober di 5.455,21 dan terendah di 5.366,29 dapat digunakan sebagai referensi pergerakan harga terdekat. Keduanya bukan batas pasti perubahan tren.

Kenaikan harga telah berlangsung selama empat sesi. Bukti berikutnya terletak pada kemampuan pasar mempertahankan keluasan penguatan dengan dukungan saham likuid dan arus modal yang lebih konsisten.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes