Banyu Capital

IHSG Tutup 6.009 setelah Sentuh 5.973, Net Sell Asing Reguler Mengecil ke Rp240 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG mencetak low baru, breadth tetap negatif, dan LQ45 serta IDX30 turun lebih dalam. Namun, jual bersih asing reguler jauh lebih kecil dibanding sehari sebelumnya, sementara indeks kembali ditutup di atas 6.000.

Dashboard Market Notes EOD BEI 1 Oktober 2026 yang menampilkan IHSG, breadth pasar, sektor, dan foreign flow
IHSG menutup 1 Oktober 2026 di 6.009,50 setelah sempat menyentuh 5.973,16. Breadth tetap negatif dan indeks saham likuid turun lebih dalam, tetapi net sell asing reguler mengecil menjadi Rp240,43 miliar dari sekitar Rp1,56 triliun sehari sebelumnya. Sumber: BEI, RTI Business, Stockbit Sekuritas, dan Bank Indonesia.

Tekanan pasar belum selesai. Namun sesi 1 Oktober juga belum memberi bukti yang cukup bahwa IHSG sudah memasuki fase bearish baru.

IHSG menutup perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026 di 6.009,50, turun 61,64 poin atau 1,02%. Sepanjang hari, indeks bergerak dari high 6.095,23 hingga low 5.973,16. BEI mencatat nilai transaksi saham Rp11,05 triliun dengan volume sekitar 32,04 miliar saham.

Level terendah tersebut menjadi perubahan penting dibanding sesi sebelumnya. IHSG bukan hanya menembus low 29 September di 6.013,08, tetapi juga sempat berada di bawah 6.000.

Menjelang penutupan, indeks memulihkan sekitar 36 poin dari titik terendah dan kembali ke 6.009,50. Tekanan harga memburuk, tetapi penembusan 6.000 tidak bertahan sampai akhir perdagangan.

Low 6.013 Tembus, tetapi 6.000 Kembali Direbut

Pergerakan ini berbeda dengan 29 September.

Saat itu IHSG sempat jatuh ke 6.013,08 sebelum memulihkan hampir 109 poin dan menutup perdagangan di 6.121,70. Pada 1 Oktober, level tersebut akhirnya ditembus dan pemulihan hingga penutupan jauh lebih terbatas.

Kemampuan pasar menyerap tekanan intraday karena itu terlihat lebih lemah dibanding dua hari sebelumnya.

Tetapi penutupan kembali di atas 6.000 juga membuat pembacaan perlu tetap proporsional. Penembusan intraday belum cukup untuk menetapkan 6.000 sebagai batas atas baru.

Referensi terdekat kini berada pada low 5.973. Penembusan kembali ke bawah area tersebut akan membawa bobot lebih besar jika disertai pelemahan struktur pasar. Sebaliknya, pemulihan menuju 6.071 sampai 6.095 akan lebih bermakna jika partisipasi saham ikut membaik.

Breadth dan Saham Likuid Masih Menunjukkan Tekanan

Struktur internal pasar belum menunjukkan pemulihan yang kuat.

RTI Business mencatat 206 saham menguat, 450 melemah, dan 134 tidak berubah. Jumlah saham turun lebih dari dua kali jumlah saham naik.

Kelompok saham likuid juga tertinggal. LQ45 turun 1,46%, IDX30 melemah 1,41%, dan IDX80 turun 1,47%. Ketiganya turun lebih dalam dibanding IHSG.

Tekanan sektoral cukup luas, meski tidak seragam. Technology menjadi sektor terlemah dengan penurunan 3,93%, disusul Transportation & Logistic 2,02%, Basic Materials 1,99%, dan Industrials 1,81%.

Energy menjadi pengecualian dengan kenaikan 0,31%, sedangkan Financials praktis tidak berubah.

Dari sisi penggerak indeks, GOTO, BBCA, BRMS, BBRI, dan AMMN termasuk kontributor negatif terbesar. Tekanan dengan demikian tidak hanya terlihat dari jumlah saham yang turun, tetapi juga dari beberapa saham berbobot besar.

Penurunan IHSG 1,02% belum menggambarkan seluruh kondisi pasar. Di bawah indeks utama, partisipasi saham masih condong negatif dan kelompok saham likuid melemah lebih dalam.

Foreign Selling Mereda Tajam, tetapi Belum Berbalik

Perbedaan paling jelas dibanding 30 September datang dari foreign flow.

RTI mencatat net sell asing di Regular Market sekitar Rp240,43 miliar pada 1 Oktober. Sehari sebelumnya, jual bersih asing reguler mencapai sekitar Rp1,56 triliun.

Dengan basis pasar yang sama, intensitas net sell asing turun sekitar 85%.

Statistik BEI untuk All Market pada 1 Oktober menunjukkan angka yang hampir sama, yakni net sell Rp241,86 miliar.

Jadi, pelemahan harga 1 Oktober tidak disertai akselerasi jual bersih asing seperti sehari sebelumnya. Tetapi arus asing masih negatif, sehingga belum ada dasar untuk menyebut arah dana asing sudah berbalik.

Top 10 Net Foreign Buy Regular Market

Saham Net Foreign Buy Harga Perubahan
DSSA Rp79,13 miliar Rp1.120 +4,67%
ENRG Rp74,69 miliar Rp1.410 +4,44%
TLKM Rp57,56 miliar Rp2.250 -1,75%
ASII Rp44,94 miliar Rp4.510 -1,96%
TINS Rp40,52 miliar Rp4.590 -1,29%
BRIS Rp18,64 miliar Rp1.425 +0,35%
EMAS Rp17,50 miliar Rp7.650 -0,97%
VKTR Rp15,54 miliar Rp825 +4,43%
INCO Rp15,00 miliar Rp4.130 -2,13%
ULTJ Rp10,25 miliar Rp2.060 +0,49%

Top 10 Net Foreign Sell Regular Market

Saham Net Foreign Sell Harga Perubahan
BMRI Rp68,49 miliar Rp4.010 0,00%
GOTO Rp68,25 miliar Rp28 -12,50%
BBRI Rp41,12 miliar Rp3.100 -1,27%
MDKA Rp39,26 miliar Rp2.820 -2,08%
BBCA Rp38,95 miliar Rp6.000 -1,23%
BRMS Rp36,11 miliar Rp550 -6,78%
ISAT Rp34,84 miliar Rp2.260 0,00%
AMMN Rp27,91 miliar Rp4.370 -3,10%
ITMG Rp26,29 miliar Rp24.650 -2,18%
CPIN Rp22,76 miliar Rp2.880 -2,70%

Sumber tabel: Stockbit Sekuritas, investor Foreign, Regular Market, posisi net, 1 Oktober 2026.

Komposisi tersebut menunjukkan foreign flow masih sangat selektif. DSSA dan ENRG menerima pembelian bersih asing terbesar dan sama-sama ditutup menguat. Tetapi pola itu tidak berlaku untuk seluruh saham yang dibeli asing.

TLKM, ASII, TINS, EMAS, dan INCO tetap membukukan net foreign buy meski harga sahamnya melemah. Di sisi jual, BMRI menjadi saham dengan net foreign sell terbesar tetapi berakhir tidak berubah.

Tekanan asing juga terlihat pada beberapa saham berkapitalisasi besar. BMRI, BBRI, dan BBCA berada dalam lima besar net foreign sell, sementara GOTO sekaligus mencatat jual bersih asing besar dan penurunan harga 12,50%.

Pola ini memperkuat satu hal: foreign flow memberi informasi tentang arah dana, tetapi tidak dapat dibaca sebagai sinyal harga yang bekerja satu banding satu pada setiap saham.

Rupiah Masih Menjadi Bagian dari Latar Risiko

Lingkungan lintas aset juga belum sepenuhnya nyaman.

JISDOR berada di Rp17.937 per dolar AS, melemah dari Rp17.877 sehari sebelumnya. Yield SUN 10 tahun masih berada di kisaran 7,1%.

Keduanya menjaga latar risiko domestik relatif ketat, tetapi belum cukup untuk menjelaskan seluruh penurunan IHSG.

Pasar regional juga tidak bergerak seragam. Pada snapshot BEI pukul 16.00 WIB, Nikkei naik 3,30%, KOSPI 1,95%, Hang Seng 0,37%, dan Shanghai 0,31%.

Sesi 1 Oktober karena itu lebih tepat dibaca melalui kombinasi harga domestik, breadth, saham berbobot besar, rupiah, dan foreign flow, bukan satu faktor tunggal.

Bukti Berikutnya Ada di 5.973, Breadth, dan Foreign Flow

Low 5.973 menjadi referensi terdekat untuk menguji apakah tekanan 1 Oktober berlanjut.

Jika level tersebut kembali ditembus bersamaan dengan breadth yang tetap lemah, LQ45 dan IDX30 kembali tertinggal, serta net sell asing membesar, bukti tekanan lanjutan akan semakin kuat.

Sebaliknya, pemulihan menuju 6.071 sampai 6.095 akan mendapat bobot lebih besar jika jumlah saham yang menguat bertambah dan tekanan pada saham likuid mereda.

Untuk sementara, harga dan struktur internal pasar masih rapuh. Yang berbeda dari sehari sebelumnya adalah intensitas jual bersih asing yang jauh mengecil.

Arah berikutnya membutuhkan konfirmasi apakah harga, breadth, saham likuid, dan foreign flow kembali memburuk secara bersamaan atau mulai menunjukkan perbaikan yang konsisten.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes