IHSG Turun 0,83% Dekat Titik Terendah, 433 Saham Melemah meski Jual Bersih Asing Mengecil
IHSG berakhir di 6.020,70 pada sesi I 1 Oktober 2026, hanya 1,91 poin di atas titik terendah hari itu. Sebanyak 433 saham melemah berbanding 219 yang menguat, sementara LQ45 dan IDX30 turun hampir 1%. Tekanan harga masih luas meski net sell asing justru mengecil menjadi Rp204,3 miliar.
IHSG sempat bergerak lebih tinggi pada perdagangan pagi dan mencapai 6.095,23. Penguatan tersebut tidak bertahan. Indeks kemudian turun hingga 6.018,79 sebelum mengakhiri sesi I di 6.020,70.
Yang berbeda dibanding sesi sebelumnya justru datang dari foreign flow. Pada Midday 30 September, jual bersih asing mencapai Rp677,4 miliar. Hari ini angkanya hanya Rp204,3 miliar, sekitar 70% lebih kecil pada titik waktu yang sama.
Perbedaan itu membuat pembacaan pasar pagi ini tidak sesederhana “asing kembali menjual”. Harga melemah lebih luas daripada yang tercermin dari besarnya foreign flow agregat.
Kenaikan Pagi Kembali Hilang
IHSG dibuka di 6.062,89 dan sempat mencapai 6.095,23. Dari titik tertinggi tersebut, indeks kehilangan sekitar 74,54 poin hingga berada di 6.020,70 saat sesi I berakhir.
Pola ini melanjutkan masalah yang terlihat pada 30 September. IHSG juga sempat menguat pada perdagangan pagi, tetapi gagal mempertahankan kenaikan hingga penutupan.
Bedanya, tekanan asing pada sesi I hari ini jauh lebih kecil.
Meski demikian, belum terbentuk titik terendah baru. Low sesi I di 6.018,79 masih sekitar 5,71 poin di atas titik terendah 29 September di 6.013,08.
Area 6.013 karena itu lebih tepat digunakan sebagai referensi pembuktian berikutnya. Selama area tersebut belum ditembus, tekanan sesi I belum cukup untuk menyatakan bahwa pasar telah memasuki fase penurunan baru.
Tekanan Meluas ke Saham Likuid dan Hampir Seluruh Sektor
Kelemahan pasar tidak berhenti pada headline IHSG.
RTI mencatat 433 saham melemah, hampir dua kali 219 saham yang menguat. Sebanyak 134 saham tidak berubah. LQ45 turun 0,95% dan IDX30 melemah 0,94%, sedikit lebih dalam dibanding koreksi IHSG sebesar 0,83%.
Tekanan juga menyebar ke hampir seluruh sektor. Technology menjadi yang terlemah dengan penurunan 3,27%, disusul Industrial 1,83%, Transport 1,80%, Basic Materials 1,20%, dan Infrastructure 1,14%.
Energy menjadi satu-satunya sektor yang bertahan positif dengan kenaikan 0,57%.
Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa tekanan sesi I tidak hanya berasal dari perubahan beberapa saham besar. Mayoritas sektor dan indeks saham likuid bergerak dalam arah yang sama.
Net Sell Asing Mengecil, tetapi Harga Belum Stabil
Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp1,70 triliun dan penjualan Rp1,90 triliun hingga akhir sesi I. Hasilnya adalah net sell All Market Rp204,3 miliar.
Angka tersebut sekitar 70% lebih kecil dibanding net sell Rp677,4 miliar pada Midday 30 September. Namun penurunan intensitas jual asing belum diikuti perbaikan harga maupun breadth.
| Top Net Foreign Buy | Nilai |
|---|---|
| ENRG | Rp54,46 miliar |
| BBCA | Rp28,31 miliar |
| DSSA | Rp25,00 miliar |
| ASII | Rp15,84 miliar |
| TLKM | Rp11,67 miliar |
| TINS | Rp10,08 miliar |
| ULTJ | Rp7,37 miliar |
| UNVR | Rp6,22 miliar |
| BBNI | Rp5,70 miliar |
| BRIS | Rp5,43 miliar |
| Top Net Foreign Sell | Nilai |
|---|---|
| GOTO | Rp62,77 miliar |
| CUAN | Rp29,52 miliar |
| AMMN | Rp24,55 miliar |
| BBRI | Rp19,80 miliar |
| MDKA | Rp19,54 miliar |
| PACK | Rp18,19 miliar |
| ISAT | Rp18,11 miliar |
| AADI | Rp15,92 miliar |
| BMRI | Rp15,26 miliar |
| TPIA | Rp14,22 miliar |
BBCA, ASII, dan TLKM berada di sisi net buy asing ketika indeks tetap melemah. Di sisi lain, penjualan asing lebih terkonsentrasi pada GOTO, CUAN, AMMN, BBRI, dan MDKA.
Distribusi tersebut memperlihatkan mengapa angka net sell pasar secara agregat tidak cukup digunakan sendirian untuk membaca tekanan indeks.
Nilai net foreign per saham merupakan estimasi Stockbit Sekuritas berdasarkan harga rata-rata sesi I dikalikan volume bersih.
Rupiah Masih Menekan, tetapi Asia Tidak Bergerak Satu Arah
USD/IDR berada di sekitar 17.955 pada snapshot sesi I, yang berarti rupiah melemah sekitar 0,70%.
Pelemahan rupiah tetap relevan karena dapat menambah premi risiko aset domestik. Namun data satu sesi belum cukup untuk menempatkan kurs sebagai penyebab utama koreksi IHSG.
Kondisi regional juga tidak menunjukkan tekanan yang seragam. Nikkei, KOSPI, Hang Seng, dan Shanghai berada di zona positif pada snapshot yang sama.
Dengan demikian, data sesi I lebih jelas menunjukkan kelemahan pada struktur pasar domestik, sementara faktor global dan rupiah masih berfungsi sebagai konteks risiko.
Sesi II Perlu Membuktikan Apakah Tekanan Bertambah atau Mereda
Area pertama yang perlu diuji adalah 6.013,08, titik terendah 29 September. Selama IHSG bertahan di atas area tersebut, pasar belum mencetak low baru.
Bukti berikutnya datang dari breadth. Pemulihan indeks akan lebih berarti jika jumlah saham yang menguat ikut bertambah dari posisi 219 berbanding 433 saham yang melemah.
Terakhir adalah foreign flow. Rp204,3 miliar masih merupakan angka setengah hari. Pada 30 September, net sell Midday Rp677,4 miliar kemudian membesar menjadi sekitar Rp1,61 triliun pada akhir perdagangan.
Posisi Midday karena itu masih menunjukkan tekanan harga yang luas, tetapi belum memberi cukup bukti untuk menyimpulkan terbentuknya fase penurunan baru. Sesi II akan menentukan apakah area 6.013 bertahan, breadth mulai membaik, dan tekanan asing tetap terbatas atau kembali membesar.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.