IHSG Gagal Pertahankan Penguatan, Tutup -0,83% di Titik Terendah; Jual Bersih Asing Reguler Rp1,56 Triliun
IHSG sempat naik 1,07% ke 6.187,05 sebelum berbalik dan ditutup di 6.071,14. Breadth RTI berubah negatif, LQ45 dan IDX30 melemah lebih dalam daripada IHSG, sementara jual bersih asing membesar hingga penutupan.
Penguatan yang masih terlihat pada Midday tidak bertahan sampai akhir perdagangan 30 September 2026. IHSG berakhir turun 0,83% tepat di titik terendah hari itu setelah sempat berada lebih dari 1% di atas penutupan sebelumnya.
Tekanannya juga meluas ke struktur internal pasar. Selisih saham naik dan turun berdasarkan RTI berubah dari +173 pada Midday menjadi -52 saat penutupan. LQ45 turun 1,15%, IDX30 melemah 1,31%, dan jual bersih asing terus bertambah.
Kombinasi tersebut menunjukkan pemulihan intraday kehilangan dukungan menjelang penutupan. Namun satu sesi belum cukup untuk menetapkan bahwa IHSG telah memasuki fase penurunan baru.
Penguatan Pagi Hilang Menjelang Penutupan
IHSG dibuka di 6.118,05 dan sempat mencapai 6.187,05. Dibanding penutupan sehari sebelumnya di 6.121,70, titik tertinggi tersebut setara dengan kenaikan sekitar 1,07%.
Pada akhir Sesi I, indeks masih berada di 6.130,89 atau naik 0,15%. Tekanan kemudian meningkat pada Sesi II hingga IHSG berakhir di 6.071,14, sekaligus menjadi titik terendah hari itu.
Jarak antara high dan penutupan mencapai sekitar 115,91 poin atau 1,87%. Dorongan beli yang mengangkat indeks pada pagi hari tidak bertahan sampai penutupan. Close di titik terendah membuat kualitas penguatan pagi jauh lebih lemah daripada yang terlihat pada Midday.
Perdagangan berikutnya akan menguji apakah indeks mampu membentuk jarak dari 6.071 dan kembali berada di sekitar penutupan sebelumnya di 6.122.
Breadth dan Saham Likuid Memburuk Bersamaan
Partisipasi pasar ikut berubah arah.
Pada Midday, RTI mencatat 409 saham naik, 236 turun, dan 143 tidak berubah. Saat penutupan, jumlah saham naik turun menjadi 308, sedangkan saham melemah bertambah menjadi 360 dan 125 tidak berubah.
Perbandingan tersebut menggunakan data RTI pada kedua titik waktu agar basisnya tetap konsisten.
Tekanan juga lebih dalam pada kelompok saham likuid. LQ45 berakhir turun 1,15% dan IDX30 turun 1,31%, dibanding pelemahan IHSG sebesar 0,83%.
Dari 11 indeks sektor, Industrials masih naik 1,17% dan Consumer Non-Cyclicals 0,15%, sementara Healthcare praktis datar. Technology menjadi sektor terlemah dengan penurunan 2,76%, disusul Consumer Cyclicals 2,36% dan Energy 1,35%. Financials melemah 0,60%.
Penurunan karena itu belum seragam di seluruh pasar. Masih ada kantong penguatan, tetapi struktur EOD jauh lebih lemah dibanding kondisi Midday.
Jual Bersih Asing Membesar, tetapi Tidak Menjelaskan Semua Tekanan Harga
Pada Midday, net foreign sell All Market masih sekitar Rp677,4 miliar. Saat penutupan, statistik Bursa Efek Indonesia menunjukkan jual bersih asing All Market mencapai Rp1,61 triliun.
Artinya, sekitar Rp936 miliar tambahan net sell muncul setelah Midday.
Untuk Pasar Reguler, RTI mencatat foreign buy sekitar Rp4,43 triliun dan foreign sell Rp5,98 triliun, menghasilkan net sell sekitar Rp1,56 triliun.
Top 10 Net Foreign Buy Reguler
| Peringkat | Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|---|
| 1 | UNTR | Rp81,99 miliar |
| 2 | ANTM | Rp65,90 miliar |
| 3 | JARR | Rp16,26 miliar |
| 4 | EMAS | Rp13,91 miliar |
| 5 | GOTO | Rp13,62 miliar |
| 6 | TEBE | Rp12,81 miliar |
| 7 | ENRG | Rp11,64 miliar |
| 8 | ULTJ | Rp9,50 miliar |
| 9 | SRSN | Rp8,55 miliar |
| 10 | HRTA | Rp5,67 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell Reguler
| Peringkat | Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|---|
| 1 | TLKM | Rp215,56 miliar |
| 2 | BMRI | Rp205,94 miliar |
| 3 | BBCA | Rp176,30 miliar |
| 4 | ASII | Rp98,48 miliar |
| 5 | BBRI | Rp78,89 miliar |
| 6 | PACK | Rp62,56 miliar |
| 7 | BBNI | Rp47,17 miliar |
| 8 | BRMS | Rp46,00 miliar |
| 9 | MDKA | Rp39,14 miliar |
| 10 | DSSA | Rp36,03 miliar |
Distribusi tersebut memperlihatkan tekanan asing yang cukup besar pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. TLKM, BMRI, BBCA, ASII, dan BBRI berada di lima posisi teratas net foreign sell Reguler.
Tekanan terhadap indeks juga terkonsentrasi, meski susunannya tidak identik dengan arus asing. GOTO menyumbang sekitar -9,17 poin terhadap IHSG, TLKM -7,37 poin, BBCA -6,61 poin, BBRI -4,37 poin, dan ASII -4,07 poin.
Lima saham tersebut secara gabungan menjelaskan sekitar 31,59 poin atau 62,5% dari penurunan IHSG sebesar 50,56 poin.
Perbedaan antara kontribusi indeks dan arus asing penting untuk dicatat. GOTO menjadi penekan terbesar IHSG meski justru mencatat net foreign buy Reguler Rp13,62 miliar. Penurunan harga sebuah saham karena itu tidak otomatis berarti saham tersebut sedang mengalami jual bersih asing.
Di sisi lain, UNTR mencatat net foreign buy Reguler terbesar, Rp81,99 miliar, diikuti ANTM Rp65,90 miliar. UNTR sekaligus menjadi kontributor positif terbesar terhadap IHSG dengan sekitar 5,62 poin.
Jadi, tekanan asing kuat secara agregat, tetapi tidak seragam pada tingkat saham. Arus dana tetap membedakan saham yang dilepas dan saham yang masih menerima pembelian asing.
Rupiah dan Yield Tidak Mengonfirmasi Tekanan Lintas Aset
Kondisi pasar obligasi dan valuta asing bergerak berbeda dari saham.
JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.877 per dolar AS pada 30 September, menguat dari Rp17.998 sehari sebelumnya. Snapshot SUN tenor 10 tahun juga menunjukkan yield di sekitar 7,106%, lebih rendah sekitar 11 basis poin dibanding sesi sebelumnya.
Rupiah dan obligasi dengan demikian tidak memperkuat tekanan yang terlihat di saham. Pusat tekanan pada 30 September terlihat lebih jelas pada ekuitas dan foreign flow, bukan pada pelemahan serempak seluruh aset domestik.
Kondisi tersebut belum menjelaskan penyebab jual bersih asing. Namun pergerakan rupiah dan yield menjadi bukti tandingan terhadap pembacaan bahwa seluruh kanal risiko domestik memburuk bersamaan.
Jika rupiah tetap stabil dan yield tidak kembali naik tetapi IHSG, breadth, dan foreign flow terus memburuk, tekanan internal pasar saham akan menjadi bukti yang lebih penting untuk dipantau.
Yang Perlu Dibuktikan pada Perdagangan Berikutnya
Penutupan 30 September menghapus sebagian besar tanda perbaikan yang masih terlihat pada Midday. Pertanyaan berikutnya adalah apakah kelemahan Sesi II akan mendapat lanjutan.
Area 6.071 menjadi titik pertama yang perlu diamati. Kemampuan IHSG menjauh dari area tersebut dan kembali ke sekitar 6.122 akan menjadi salah satu bukti bahwa tekanan penutupan mulai diserap. Konfirmasi tetap perlu datang dari breadth, indeks saham likuid, dan foreign flow.
Partisipasi pasar menjadi lapisan berikutnya. Breadth yang kembali positif serta LQ45 dan IDX30 yang berhenti tertinggal dari IHSG akan memperbaiki kualitas penguatan. Perbaikan harga tanpa dukungan dua indikator tersebut masih lemah.
Arus asing melengkapi pembacaan itu. Mengecilnya net sell akan mengurangi salah satu sumber tekanan pada 30 September. Jika jual bersih besar justru berulang bersamaan dengan titik terendah baru dan breadth negatif, bukti bahwa tekanan pasar belum selesai akan bertambah.
Jika harga, partisipasi pasar, saham likuid, dan foreign flow membaik bersama, penurunan sore 30 September lebih tepat dibaca sebagai kegagalan penguatan intraday yang belum berkembang menjadi fase pelemahan baru.
Sebaliknya, titik terendah baru yang disertai breadth negatif, indeks likuid yang kembali tertinggal, dan net foreign sell besar akan memperkuat bukti bahwa tekanan masih berlanjut.
Satu sesi belum menentukan rezim pasar. Perdagangan berikutnya perlu menunjukkan apakah tekanan yang muncul pada Sesi II mendapat lanjutan atau kembali diserap pasar.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.