IHSG Naik 0,15% saat 409 Saham Menguat, Asing Net Sell Rp677 Miliar
IHSG sempat naik 1,07%, tetapi mengakhiri sesi I di 6.130,89. Sebanyak 409 saham menguat, sementara IDX30 dan LQ45 masih melemah dan investor asing mencatat net sell Rp677,4 miliar.
IHSG mengakhiri sesi I perdagangan 30 September 2026 di 6.130,89, naik tipis 0,15%. Di bawah angka tersebut, pergerakan pasar jauh lebih lebar: indeks sempat melaju ke 6.187,05, sementara 409 saham menguat dibandingkan 236 yang turun.
IHSG dibuka di 6.118,05 dan sempat naik sekitar 1,07% dari penutupan sehari sebelumnya. Penguatan itu kemudian terkikis hingga indeks menyentuh 6.108,79 sebelum kembali ke zona hijau menjelang jeda perdagangan.
Pasar mampu memulihkan tekanan intraday, tetapi sebagian besar kenaikan pagi tidak bertahan sampai akhir sesi I.
409 Saham Naik Menunjukkan Partisipasi Pasar Cukup Luas
Sebanyak 409 saham menguat, 236 melemah, dan 143 tidak berubah.
Rasio saham naik terhadap saham turun mencapai sekitar 1,73 kali. Jika hanya menghitung saham yang bergerak, sekitar 63% berada di zona hijau.
Partisipasi juga terlihat pada sektor. Industrial naik 1,63%, Non-Cyclical 1,06%, Basic Materials 0,91%, Infrastructure 0,74%, dan Health 0,50%.
Komposisi tersebut menunjukkan tekanan tidak menyebar merata ke seluruh pasar. Kenaikan saham individual jauh lebih luas daripada yang tercermin dari IHSG yang hanya bertambah 0,15%.
Namun breadth positif pada setengah hari perdagangan belum cukup untuk mengonfirmasi reversal.
Saham Besar Belum Mengikuti Breadth yang Positif
Perbedaan terlihat pada indeks saham berkapitalisasi besar.
IDX30 turun 0,21% dan LQ45 melemah 0,09%. Pada saat yang sama, IHSG masih naik 0,15%, sementara IDXSMC-LIQ menguat 0,32%.
Dengan demikian, luasnya kenaikan saham belum diikuti kepemimpinan saham berkapitalisasi besar secara merata.
Arus asing juga belum memberikan konfirmasi yang lebih kuat.
Investor asing mencatat pembelian sekitar Rp2,02 triliun dan penjualan Rp2,69 triliun di seluruh pasar. Net foreign sell hingga akhir sesi I mencapai Rp677,4 miliar.
Tekanan terbesar terlihat pada BBCA dengan net sell sekitar Rp144,37 miliar, disusul TLKM Rp64,56 miliar dan BMRI Rp44,49 miliar. Sebaliknya, ANTM mencatat net buy sekitar Rp47,94 miliar, UNTR Rp28,30 miliar, dan BBRI Rp16,38 miliar.
Artinya, tekanan asing masih material tetapi tidak merata. Data setengah hari ini juga belum cukup untuk menunjukkan bahwa investor asing sedang keluar secara struktural dari pasar Indonesia.
Sebagai pembanding, investor asing membukukan net sell sekitar Rp777,1 miliar di seluruh pasar pada 29 September. Dengan cakupan yang sama, angka Rp677,4 miliar hingga sesi I hari ini setara sekitar 87,2% dari nilai sehari sebelumnya.
Perbandingan tersebut menunjukkan skala tekanan, bukan arah penutupan. Aktivitas asing pada sesi II masih dapat mengubah angka akhir secara material.
Rupiah Menguat, Tekanan Yield AS Masih Bertahan
USD/IDR berada di sekitar Rp17.868 pada data sesi I, menguat sekitar 0,31%.
Pergerakan ini berlawanan dengan tekanan sehari sebelumnya ketika rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS.
Namun lingkungan eksternal belum sepenuhnya longgar. Yield US Treasury 10 tahun masih berada di sekitar 5,23%, dekat level tertingginya sejak 2007.
Penguatan rupiah memberi sedikit ruang bagi pasar domestik, tetapi belum cukup untuk mengubah pembacaan keseluruhan sesi menjadi risk-on.
Kombinasi ini penting karena kondisi domestik dan global belum bergerak dalam arah yang sepenuhnya sama. Rupiah membaik, tetapi biaya modal global tetap tinggi dan arus asing di saham Indonesia masih negatif.
Sesi II Harus Membuktikan Tiga Hal
Sesi II perlu menjawab tiga hal: apakah breadth bertahan, apakah saham berkapitalisasi besar mulai mengikuti, dan apakah net foreign sell menyempit.
Jika ketiganya bergerak lebih positif, konfirmasi terhadap pemulihan akan menguat. Jika breadth menyempit, IDX30 dan LQ45 tetap tertinggal, serta penjualan asing bertambah, penguatan sesi I akan terlihat semakin rapuh.
Rentang 6.108,79 sampai 6.187,05 untuk saat ini lebih tepat dipakai sebagai referensi intraday sesi I. Data yang tersedia belum cukup untuk menetapkan kedua level tersebut sebagai support atau resistance yang telah terkonfirmasi.
Dengan demikian, kenaikan IHSG 0,15% belum menjadi bagian terpenting dari perdagangan tengah hari. Pesan yang lebih relevan adalah adanya divergensi: partisipasi saham cukup luas, tetapi kepemimpinan saham besar dan foreign flow belum bergerak searah.
Bukti pada sesi II akan menentukan apakah perbaikan tersebut berkembang menjadi konfirmasi yang lebih lengkap atau tetap menjadi pemulihan intraday yang terbatas.
Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.