Banyu Capital

IHSG Pulih 109 Poin dari Low 6.013, tetapi Net Sell Asing Membesar ke Rp777 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG menutup 29 September di 6.121,70 atau turun 0,43% setelah sempat menyentuh 6.013,08. Breadth membaik hingga EOD, tetapi All Market net foreign sell mencapai Rp777,18 miliar dan kepemimpinan big caps tetap terbelah.

Dashboard Market Notes EOD BEI 29 September 2026 yang membandingkan pemulihan IHSG, breadth pasar, foreign flow, big caps, dan sektor
IHSG memulihkan 108,62 poin dari low 6.013,08, tetapi All Market net foreign sell meningkat menjadi Rp777,18 miliar. Data 29 September 2026 dari IDX, RTI Business, Stockbit, Bank Indonesia, dan CNBC Indonesia.

IHSG menutup perdagangan Selasa, 29 September 2026, di 6.121,70 atau turun 0,43%. Indeks sempat tertekan hingga 6.013,08 sebelum menjauh 108,62 poin dari titik terendah intraday. Posisi akhir masih berada di bawah penutupan sebelumnya di 6.147,86.

Breadth memang membaik dibanding sesi I, tetapi arus dana asing bergerak ke arah sebaliknya. All Market net foreign sell meningkat menjadi Rp777,18 miliar dan kepemimpinan saham berkapitalisasi besar tetap terbelah. IHSG berhasil menjauh dari tekanan pagi, tetapi penutupan belum memberi bukti yang cukup untuk menyebut reversal sudah terbentuk.

IHSG Menjauh dari Low, tetapi Belum Merebut Kembali Penutupan Sebelumnya

IHSG dibuka di 6.118,81 dan sempat jatuh hingga 6.013,08 sebelum mencapai titik tertinggi 6.150,55. Pada akhir perdagangan, indeks bertahan di 6.121,70.

Artinya, sekitar 109 poin dari tekanan intraday berhasil dipulihkan. Namun penutupan masih 26,16 poin di bawah posisi hari sebelumnya dan indeks gagal mempertahankan area tertinggi intraday.

Perbedaan juga terlihat pada kelompok saham likuid. LQ45 turun 0,60% dan IDX30 melemah 0,57%, lebih dalam daripada koreksi IHSG sebesar 0,43%. Pemulihan indeks karena itu belum diikuti kekuatan yang seragam pada kelompok saham likuid dan berkapitalisasi besar.

Net Sell Asing Justru Membesar saat Harga Pulih

Divergence paling penting muncul pada foreign flow.

Pada sesi I, All Market net foreign sell berada di sekitar Rp365,88 miliar. Hingga EOD, angkanya meningkat menjadi Rp777,18 miliar. Posisi kumulatif net sell dengan demikian bertambah sekitar Rp411,30 miliar setelah sesi I.

Komposisinya juga penting. Regular Market mencatat net foreign sell Rp536,70 miliar, sementara cash dan negotiated market menyumbang sekitar Rp240,49 miliar. Karena itu, angka Rp777,18 miliar tidak tepat dibaca seolah seluruh tekanan asing terjadi di papan reguler.

Top 10 Net Foreign Buy/Sell Regular Market

Top Net Foreign Buy Nilai Top Net Foreign Sell Nilai
BBRI Rp58,20 miliar BMRI Rp276,20 miliar
TPIA Rp38,18 miliar TLKM Rp159,83 miliar
BRMS Rp26,22 miliar BBCA Rp138,73 miliar
EMAS Rp25,87 miliar PTBA Rp57,27 miliar
DEWA Rp25,82 miliar ADRO Rp36,73 miliar
DSSA Rp23,30 miliar ANTM Rp36,71 miliar
AMMN Rp20,45 miliar BBNI Rp34,89 miliar
CUAN Rp19,01 miliar AADI Rp34,04 miliar
ISAT Rp17,99 miliar CPIN Rp21,46 miliar
BUMI Rp15,26 miliar ITMG Rp20,60 miliar

Distribusi ini menunjukkan tekanan asing terkonsentrasi pada beberapa saham besar, terutama BMRI, TLKM, dan BBCA. Di sisi lain, BBRI tetap mencatat net foreign buy terbesar. Polanya memperkuat pembacaan bahwa kepemimpinan saham besar masih terbelah, bukan bergerak satu arah.

Yang lebih penting, pemulihan harga IHSG pada sesi II belum disertai perbaikan arus asing secara agregat.

Breadth Membaik, tetapi Pasar Belum Bergerak Luas

Pada sesi I, RTI mencatat 242 saham naik dan 426 turun. Saat penutupan, jumlah saham naik bertambah menjadi 303, sedangkan jumlah saham turun menyusut menjadi 373.

Selisih antara saham turun dan naik menyempit dari 184 menjadi 70 saham. Partisipasi pasar dengan demikian membaik cukup jelas sepanjang sesi II.

Namun breadth belum berubah positif karena saham yang turun tetap lebih banyak daripada yang naik.

Perbaikan juga tidak merata antar-sektor. Consumer Cyclicals menguat 0,70%, Industrials 0,50%, Infrastructure 0,06%, dan Financials 0,03%. Sebaliknya, Technology turun 3,37%, Property 1,31%, dan Energy 1,10%.

Technology menjadi sektor dengan tekanan terdalam pada penutupan. Kondisi ini menunjukkan tekanan pasar menyempit dibanding sesi I, tetapi partisipasinya belum cukup luas untuk mengonfirmasi pemulihan yang merata.

BBRI Menahan Indeks, GOTO dan BBCA Tetap Menekan

Pergerakan saham besar tidak menunjukkan satu arah yang seragam.

BBRI naik 0,96% dan menjadi kontributor positif terbesar terhadap IHSG dengan sekitar 4,37 poin. BMRI juga berakhir naik 0,25%, meski mencatat net foreign sell terbesar di Regular Market.

Di sisi lain, GOTO turun 13,95% dan mengurangi sekitar 11 poin dari IHSG. BBCA turun 1,20% dengan kontribusi sekitar 6,61 poin negatif, sedangkan BREN mengurangi sekitar 4,25 poin.

Kombinasi tersebut membuat pembacaan bahwa seluruh big caps melemah menjadi terlalu sederhana. Sebagian saham besar menopang indeks, sementara saham lain masih memberi tekanan signifikan.

Rupiah dan Yield Masih Membatasi Ruang untuk Menyimpulkan Tekanan Selesai

JISDOR 29 September berada di Rp17.998 per dolar AS, sementara yield SUN 10 tahun berada di sekitar 7,219%.

Keduanya tetap relevan karena rupiah dan yield memengaruhi lingkungan risiko aset domestik dan keputusan alokasi investor. Data satu hari, bagaimanapun, belum cukup untuk menjadikan keduanya sebagai penyebab tunggal koreksi IHSG.

Snapshot pasar global dan komoditas juga bergerak campuran. Karena itu, bukti utama untuk membaca kondisi BEI tetap berada pada harga domestik, breadth, foreign flow, dan kepemimpinan saham besar.

Harga, Breadth, dan Foreign Flow Harus Mulai Sejalan

Bukti berikutnya terletak pada tiga variabel. IHSG perlu menunjukkan kemampuan kembali ke area referensi penutupan sebelumnya 6.147,86 hingga high 6.150,55. Breadth perlu berubah dari sekadar membaik menjadi positif, sementara tekanan net foreign sell perlu menyusut secara material.

Jika ketiganya mulai bergerak searah, pembacaan stabilisasi mendapat dukungan yang lebih kuat.

Sebaliknya, penembusan kembali ke bawah 6.013,08 bersama pelebaran jumlah saham turun dan berlanjutnya net foreign sell akan melemahkan bukti pemulihan yang terbentuk pada 29 September.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes