IHSG Tutup 5.924, tetapi Asing Perbesar Net Sell Jadi Rp422 Miliar
IHSG pulih dari bawah 5.900 dan mendapat dukungan tambahan dari LQ45, IDX30, serta sektor keuangan. Namun, investor asing memperbesar penjualan bersih dan partisipasi pasar menyempit dari sesi 1. Rebound membaik, tetapi belum memperoleh konfirmasi penuh.
IHSG mengakhiri perdagangan Jumat, 10 Juli 2026, di level 5.924,36. Indeks naik 11,92 poin atau 0,20% setelah sempat turun ke 5.887,84.
Kualitas penutupan lebih baik dibanding sesi 1. Pada tengah hari, IHSG berada di 5.918,47, sementara LQ45, IDX30, dan sektor keuangan masih berada di zona negatif. Ketiganya kemudian berbalik menguat pada penutupan.
Namun, perbaikan harga tidak diikuti perbaikan arus asing. Net foreign sell All Market membesar dari Rp290,36 miliar pada sesi 1 menjadi Rp421,70 miliar pada akhir perdagangan.
Harga dan saham likuid mulai bergerak searah. Foreign flow belum memberi konfirmasi yang sama.
IHSG Merebut Kembali 5.900, tetapi Belum Mengunci 5.950
IHSG dibuka di 5.936,04 dan sempat naik ke 5.949,99. Indeks kemudian berbalik turun hingga 5.887,84 sebelum pulih menjelang penutupan.
Dari titik terendah, IHSG naik kembali sekitar 36,53 poin. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih mampu menyerap tekanan ketika indeks jatuh ke bawah 5.900.
Namun, penutupan masih sekitar 25,63 poin di bawah puncak harian. Area 5.950 belum berhasil dikunci.
Nilai transaksi saham mencapai Rp8,85 triliun. Volume perdagangan tercatat 15,61 miliar saham dengan frekuensi sekitar 1,90 juta kali.
Data transaksi tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa pemulihan akhir sesi didukung peningkatan likuiditas yang berkelanjutan. Area 5.900 tetap menjadi pertahanan awal, sedangkan 5.950 menjadi titik pembuktian berikutnya.
Dukungan Saham Besar Membaik, tetapi Belum Merata
Perubahan terpenting dari sesi 1 terlihat pada indeks saham likuid.
LQ45 ditutup di 589,25 atau naik 0,32%. IDX30 berada di 333,57 atau menguat 0,28%. IDX80 naik 0,39%, sedangkan IDX Value30 menguat 1,02%.
Sektor keuangan juga berbalik dari turun 0,03% pada sesi 1 menjadi naik 0,72% pada penutupan. Perubahan ini memenuhi salah satu indikator konfirmasi yang dipantau pada Midday, yaitu masuknya dukungan dari saham besar.
Namun, penguatan saham berkapitalisasi besar belum seragam. BMRI naik 0,99% dan menyumbang sekitar 3,27 poin terhadap IHSG. BBRI naik 0,36% dengan kontribusi sekitar 1,46 poin.
Sebaliknya, BBCA turun 0,40% dan menjadi pemberat sekitar 2,21 poin. TLKM dan ASII juga masih berada dalam daftar pemberat utama.
Secara sektoral, delapan dari sebelas sektor menguat. Energy memimpin dengan kenaikan 0,91%, diikuti Basic Materials 0,83%, Property 0,80%, dan Financials 0,72%. Industrials menjadi sektor terlemah dengan penurunan 0,48%.
Struktur tersebut menunjukkan saham likuid mulai mengikuti pemulihan pasar. Namun, dukungannya masih selektif.
Partisipasi Pasar Positif, tetapi Menyempit dari Sesi 1
Berdasarkan RTI Business, terdapat 364 saham menguat, 241 saham melemah, dan 185 saham tidak berubah pada akhir perdagangan.
Pada sesi 1, terdapat 405 saham naik, 208 saham turun, dan 171 saham tidak berubah. Jumlah saham naik berkurang 41, sedangkan saham turun bertambah 33.
Statistik resmi Bursa Efek Indonesia menggunakan cakupan klasifikasi berbeda. BEI mencatat 383 saham naik, 252 saham turun, dan 330 saham stabil.
Kedua sumber tetap menunjukkan jumlah saham naik lebih banyak daripada saham turun. Namun, basis RTI yang sama memperlihatkan bahwa partisipasi pasar tidak semakin luas menjelang penutupan.
Pada sesi 1, pasar luas lebih kuat daripada saham besar. Menjelang akhir perdagangan, saham besar membaik, tetapi sebagian momentum saham lain berkurang.
Perubahan tersebut lebih tepat dibaca sebagai rotasi internal daripada penguatan yang semakin merata.
Asing Memperbesar Net Sell Saat Indeks Pulih
Investor asing mencatat pembelian sekitar Rp3,37 triliun dan penjualan Rp3,79 triliun. Selisihnya menghasilkan net foreign sell All Market sebesar Rp421,70 miliar.
Tekanan asing bertambah sekitar Rp131,34 miliar dibanding sesi 1. Kenaikan penjualan bersih tersebut terjadi ketika IHSG, LQ45, IDX30, dan sektor keuangan justru membaik.
Berdasarkan estimasi Stockbit, penjualan asing terbesar terkonsentrasi pada BBRI, BBCA, dan TLKM. Ketiganya mencatat gabungan net sell sekitar Rp279,45 miliar.
Top 10 Net Foreign Sell
| Saham | Estimasi net sell |
|---|---|
| BBRI | Rp106,78 miliar |
| BBCA | Rp91,65 miliar |
| TLKM | Rp81,02 miliar |
| DEWA | Rp41,56 miliar |
| TPIA | Rp37,06 miliar |
| RAJA | Rp32,41 miliar |
| ASII | Rp29,01 miliar |
| MDKA | Rp22,07 miliar |
| NCKL | Rp20,72 miliar |
| BBNI | Rp17,16 miliar |
Di sisi pembelian, arus asing lebih banyak terlihat pada BMRI serta sejumlah saham energi dan pertambangan.
Top 10 Net Foreign Buy
| Saham | Estimasi net buy |
|---|---|
| BMRI | Rp46,87 miliar |
| ADRO | Rp40,66 miliar |
| BRMS | Rp30,60 miliar |
| UNTR | Rp28,44 miliar |
| ELSA | Rp22,77 miliar |
| BUMI | Rp20,66 miliar |
| INDF | Rp19,23 miliar |
| CUAN | Rp16,24 miliar |
| ARCI | Rp14,91 miliar |
| TINS | Rp14,67 miliar |
Data transaksi asing per saham merupakan estimasi Stockbit. Daftar tersebut digunakan untuk membaca arah arus dana, bukan sebagai daftar pilihan saham atau dasar keputusan transaksi.
IHSG yang tetap menguat ketika asing menjual mengindikasikan tekanan tersebut kemungkinan diserap pembeli nonasing. Namun, kelompok investor dan motif yang mendominasi pembelian tersebut tidak dapat dikonfirmasi.
CASA dan BMRI Mendominasi Kenaikan Bersih IHSG
CASA menjadi kontributor terbesar dengan tambahan sekitar 6,14 poin setelah sahamnya naik 7,53%. BMRI berada di posisi berikutnya dengan kontribusi sekitar 3,27 poin.
Gabungan kontribusi keduanya mencapai 9,41 poin. Angka tersebut setara hampir 79% dari kenaikan bersih IHSG sebesar 11,92 poin.
Persentase ini bukan bagian dari seluruh kontribusi positif saham. Angka tersebut hanya membandingkan kontribusi CASA dan BMRI dengan perubahan bersih indeks setelah seluruh saham penguat dan pemberat diperhitungkan.
Kontributor lain mencakup AMMN sebesar 2,53 poin, BRMS 1,93 poin, ADRO 1,79 poin, PGAS 1,56 poin, BBRI 1,46 poin, dan INDF 1,46 poin.
Di sisi lain, BREN menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 4,25 poin. Tekanan juga datang dari ASII sebesar 2,85 poin, TLKM 2,77 poin, BYAN 2,44 poin, dan BBCA 2,21 poin.
Secara sektoral, penguatan cukup luas. Namun, kenaikan bersih indeks tetap sensitif terhadap beberapa emiten dominan.
Rupiah Memberi Dukungan Terbatas
JISDOR menguat dari Rp18.090 menjadi Rp18.069 per dolar AS. Penguatan sekitar 0,12% memberi dukungan moderat bagi aset rupiah.
Namun, yield SUN 10 tahun masih berada di sekitar 7,221%. Posisi tersebut menunjukkan biaya modal dan daya tarik obligasi tetap tinggi.
Sinyal lintas aset belum sepenuhnya mendukung kondisi risk-on. Rupiah membaik, tetapi tekanan dari tingkat imbal hasil belum hilang.
Rebound Perlu Dibuktikan di Atas 5.950
Penutupan 10 Juli menunjukkan perbaikan dibanding sesi 1. IHSG kembali ke atas 5.900, indeks saham likuid berbalik positif, dan sektor keuangan mulai memberi dukungan.
Namun, tiga pembuktian masih diperlukan.
Pertama, IHSG perlu menembus dan bertahan di atas 5.950. Kedua, jumlah saham naik perlu kembali bertambah. Ketiga, tekanan asing perlu mengecil, terutama pada saham bank besar dan TLKM.
Sebaliknya, pembacaan rebound perlu diturunkan jika IHSG kembali kehilangan 5.900 atau menembus titik terendah 5.887. Pelemahan LQ45, IDX30, Financials, dan pembesaran net foreign sell juga menjadi indikator peringatan.
Untuk sementara, rebound lebih tepat disebut membaik daripada sudah solid. Validasi harga sudah bertambah, tetapi validasi aliran dana masih belum selesai.
Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.