Banyu Capital

IHSG Turun 1,33% dan Tutup Dekat Low, Asing Net Sell Rp748 Miliar di Pasar Reguler

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Tekanan membesar tajam pada Sesi II. IHSG ditutup hanya 3,78 poin di atas low harian ketika seluruh 11 sektor melemah, breadth memburuk, dan asing mencatat net sell Rp747,51 miliar di Pasar Reguler.

Pada Midday, IHSG masih berada di 6.668,52 atau turun 0,14%. Tujuh dari 11 sektor masih positif dan level terendah 6.655,41 masih berada di atas low 9 September sekitar 6.642.

Kondisi itu berubah pada Sesi II. IHSG turun hingga 6.589,34 atau melemah 1,33%, sementara breadth dan partisipasi sektor memburuk.

Penutupan mengubah gambaran yang terlihat pada tengah hari. Tekanan yang sebelumnya belum merata sudah menyebar ke seluruh sektor, sementara IHSG berakhir hampir di titik terendah hari itu. Satu sesi tetap belum cukup untuk menyatakan bahwa pasar telah memasuki tren turun baru.

Dashboard Market Notes EOD 10 September 2026 yang menunjukkan pelemahan IHSG, breadth pasar, foreign flow, dan tekanan saham berkapitalisasi besar
Market Notes EOD 10 September 2026. IHSG ditutup turun 1,33% dekat level terendah harian, seluruh 11 sektor melemah, dan asing mencatat net sell Rp747,51 miliar di Pasar Reguler. Sumber: Bursa Efek Indonesia, RTI Business, Stockbit Sekuritas, dan Bank Indonesia.

Rebound Pagi Gagal, IHSG Tutup Hanya 3,78 Poin di Atas Low

IHSG membuka perdagangan di sekitar 6.688,18 dan sempat naik ke 6.712,50. Level tersebut melewati puncak 9 September, tetapi dorongan beli kembali gagal bertahan.

Pada akhir Sesi I, indeks masih berada di 6.668,52. Tekanan kemudian membesar pada perdagangan sore hingga IHSG kehilangan sekitar 79,18 poin atau 1,19% dari posisi Midday dan ditutup di 6.589,34.

Dari high 6.712,50 ke penutupan, indeks kehilangan sekitar 123,16 poin. Close hanya 3,78 poin di atas low 6.585,56, menempatkan penutupan sangat dekat dengan bagian terbawah rentang perdagangan harian.

Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi saham sekitar Rp21,55 triliun, dengan volume sekitar 48,55 miliar saham dan frekuensi 2,64 juta kali.

Posisi penutupan menunjukkan tekanan jual bertahan hingga menjelang akhir perdagangan. Area low 9 September di sekitar 6.642 yang masih bertahan pada Midday akhirnya ditembus pada Sesi II.

Tekanan Meluas ke 516 Saham dan Seluruh 11 Sektor

Breadth ikut memburuk. RTI Business mencatat 150 saham menguat, 516 melemah, dan 127 tidak berubah. Pada Midday, perbandingannya masih 272 saham naik dan 333 saham turun.

Sepanjang Sesi II, jumlah saham yang menguat berkurang 122, sementara jumlah saham melemah bertambah 183. Pelemahan IHSG dengan demikian semakin selaras dengan kondisi di bawah permukaan pasar.

Seluruh 11 sektor ditutup negatif. Energy menjadi yang terlemah dengan penurunan 2,06%, diikuti Transportation & Logistics 1,80% dan Infrastructures 1,31%. Technology relatif paling bertahan, tetapi tetap turun 0,56%.

Tekanan juga tidak berhenti pada saham berkapitalisasi besar. LQ45 dan IDX30 masing-masing turun 1,25%, IDX SMC Composite melemah 1,30%, sedangkan IDX SMC Liquid turun 1,57%.

Saham besar tetap memperberat indeks. BBRI menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi -14,60 poin terhadap IHSG, disusul BYAN -11,00 poin dan BBCA -8,82 poin.

Tiga saham tersebut secara gabungan menyumbang sekitar 34,42 poin, atau hampir 39% dari total penurunan indeks.

Komposisi itu menunjukkan dua sumber tekanan berjalan bersamaan: pelemahan yang sudah menyebar luas dan penurunan beberapa saham berbobot besar.

Asing Net Sell Rp748 Miliar di Reguler, tetapi Pembelian Tetap Selektif

Arus asing tetap negatif. Total All Market mencatat net sell sekitar Rp1,95 triliun.

Bagi perdagangan harian, tekanan yang lebih langsung terlihat di Pasar Reguler, dengan net sell Rp747,51 miliar. Sisanya terutama berasal dari transaksi tunai dan negosiasi, sehingga angka All Market Rp1,95 triliun tidak menggambarkan tekanan jual reguler secara utuh.

Berdasarkan estimasi Stockbit Sekuritas:

No. Net Foreign Buy Estimasi Net Foreign Sell Estimasi
1 ANTM Rp301,01 miliar BBCA Rp549,72 miliar
2 AADI Rp152,86 miliar BBRI Rp218,86 miliar
3 CUAN Rp146,66 miliar ISAT Rp142,78 miliar
4 PTBA Rp145,79 miliar DSSA Rp72,70 miliar
5 ENRG Rp57,30 miliar INDY Rp69,59 miliar
6 BBNI Rp50,16 miliar CPIN Rp58,98 miliar
7 TINS Rp45,91 miliar AMMN Rp42,51 miliar
8 BUMI Rp36,52 miliar NCKL Rp36,42 miliar
9 ASII Rp34,17 miliar DEWA Rp25,89 miliar
10 CDIA Rp28,28 miliar BMRI Rp22,64 miliar

Arus tersebut tidak seragam. ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA masih menerima pembelian asing, sementara tekanan terbesar berada pada BBCA dan BBRI.

Kombinasi net sell reguler dan penjualan pada dua bank besar ikut memperberat indeks, tetapi belum menunjukkan bahwa asing keluar dari seluruh kelompok saham secara merata.

JISDOR Menguat Tipis, Lonjakan Minyak Menjadi Risiko H+1

Tekanan di pasar saham tidak disertai pelemahan JISDOR. Bank Indonesia menetapkan JISDOR 10 September pada Rp17.536 per dolar AS, dibanding Rp17.552 sehari sebelumnya. Rupiah fixing menguat sekitar 0,09%.

Artinya, pelemahan IHSG hari itu tidak bergerak searah dengan tekanan nilai tukar.

Di pasar global, Reuters melaporkan minyak melonjak lebih dari 6% pada 10 September dan Brent menetap di US$107,63 per barel setelah serangkaian serangan terhadap tanker kembali meningkatkan risiko pasokan.

Lonjakan minyak berlanjut setelah BEI selesai berdagang. Dampaknya terhadap pasar Indonesia karena itu baru lebih layak diuji pada perdagangan 11 September, bukan dijadikan penjelasan tunggal atas pelemahan IHSG 10 September.

Yang Perlu Dibuktikan pada 11 September

Level 6.585,56 menjadi referensi pertama setelah IHSG ditutup hampir tepat di low harian. Penurunan kembali di bawah area tersebut akan lebih berarti jika disertai breadth yang tetap lemah dan net sell asing reguler yang berlanjut.

Sebaliknya, tekanan mulai kehilangan konfirmasi jika IHSG mampu kembali melewati area 6.642, kemudian mendekati previous close 6.678,20, dengan jumlah saham menguat yang membaik dan arus asing reguler setidaknya kembali netral.

BBCA dan BBRI juga layak dipantau karena keduanya berada di antara sumber tekanan asing sekaligus pemberat utama indeks pada 10 September.

Perdagangan berikutnya karena itu tidak cukup dinilai dari warna IHSG. Harga, breadth, partisipasi sektor, dan foreign flow perlu membaik bersama sebelum tekanan 10 September dapat dianggap mereda.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes