Banyu Capital

IHSG Pulih 78 Poin dari Low tetapi Tutup Turun 0,73%, Asing Net Sell Rp690 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Pemulihan Sesi II membawa IHSG kembali ke 6.541,38 dan hanya sekitar 11 poin dari high harian. Tekanan mereda, tetapi 453 saham masih turun, 10 dari 11 sektor tetap negatif, LQ45 dan IDX30 tertinggal, serta asing masih mencatat net sell.

Tekanan yang mendominasi perdagangan pagi tidak bertahan sampai penutupan. Setelah jatuh ke 6.462,96, IHSG berbalik dan menutup di 6.541,38, turun 47,96 poin atau 0,73% dari sehari sebelumnya.

Posisi itu sekitar 78,42 poin di atas low. Dibanding posisi tengah hari di 6.490,91, IHSG juga naik sekitar 50,47 poin selama Sesi II.

Tekanan jual jelas mereda menjelang penutupan. Namun, perbaikan pada breadth, sektor, indeks likuid, dan arus asing belum sekuat pemulihan IHSG.

Dashboard Market Notes EOD 11 September 2026 yang menampilkan pemulihan IHSG dari low intraday, breadth pasar, sektor, indeks likuid, foreign flow, rupiah, dan yield SUN 10 tahun
IHSG pulih sekitar 78 poin dari titik terendah intraday dan menutup dekat high pada 11 September 2026. Namun, breadth masih negatif, 10 dari 11 sektor melemah, indeks likuid tertinggal, dan investor asing tetap mencatat net sell. Sumber: Bursa Efek Indonesia, RTI Business, Stockbit Sekuritas, Bank Indonesia, dan data SUN 10 tahun.

Sesi II Memangkas Tekanan, tetapi IHSG Masih di Bawah Penutupan Kamis

Pada akhir Sesi I, IHSG masih berada di 6.490,91 atau turun 1,49%. Indeks kemudian menguat sekitar 50 poin dan menutup hanya 11,42 poin di bawah high 6.552,79.

Artinya, pelemahan pagi tidak terus membesar sampai akhir perdagangan. Tetapi IHSG tetap berada 47,96 poin di bawah penutupan 10 September di 6.589,34.

BEI mencatat nilai transaksi saham sekitar Rp14,71 triliun pada 11 September.

Sesi II menunjukkan stabilisasi harga yang nyata. Perbaikan itu belum merata ke seluruh pasar.

Breadth Membaik, tetapi 10 dari 11 Sektor Masih Merah

RTI Business mencatat 183 saham menguat, 453 melemah, dan 153 tidak berubah saat penutupan. Pada tengah hari, jumlahnya masih 133 saham naik, 521 turun, dan 131 tidak berubah.

Jumlah saham yang naik bertambah, sementara jumlah yang turun berkurang. Meski begitu, saham melemah masih sekitar 2,5 kali saham yang menguat.

Sektor menunjukkan pola serupa.

Healthcare menjadi satu-satunya sektor positif dengan kenaikan 3,91%. Financials membaik hingga hanya turun 0,11%, sedangkan Industrials melemah 0,20%.

Sepuluh sektor tetap berada di zona negatif. Consumer Non-Cyclicals turun 1,25%, Energy 1,22%, Infrastructure 1,20%, Consumer Cyclicals 1,19%, dan Transportation & Logistics 1,13%.

Penguatan Healthcare perlu dibaca bersama kenaikan SRAJ sebesar 20%. Saham tersebut menjadi kontributor positif terbesar terhadap IHSG dengan sekitar +12,29 poin. CASA menyusul dengan +8,55 poin.

Di sisi lain, BYAN menjadi pemberat terbesar sekitar -12,22 poin, diikuti BBCA -8,82 poin dan BBRI -7,30 poin.

Indeks saham likuid juga belum mengikuti pemulihan IHSG. LQ45 turun 0,95% dan IDX30 melemah 0,99%, lebih dalam daripada IHSG yang turun 0,73%.

Harga indeks membaik lebih cepat daripada partisipasi pasar.

Asing Tetap Net Sell, meski BBRI dan BMRI Dibeli

BEI mencatat investor asing membukukan net sell sekitar Rp690,19 miliar pada 11 September.

RTI mencatat net sell sekitar Rp732,81 miliar di pasar reguler, sementara transaksi negosiasi dan tunai mencatat arus positif sekitar Rp42,42 miliar.

Di tingkat saham, alirannya lebih selektif. Stockbit mencatat BBRI memperoleh net foreign buy sekitar Rp120,44 miliar dan BMRI sekitar Rp41,58 miliar.

BBRI tetap turun 1,51% dan menjadi salah satu pemberat IHSG.

Pembelian asing di BBRI dan BMRI belum mengubah arah agregat. Pasar tetap mencatat net sell, sehingga konfirmasi dari arus asing masih terbatas pada beberapa saham.

Perdagangan berikutnya perlu menunjukkan apakah tekanan jual asing mulai mengecil dan apakah pembelian meluas ke saham likuid lainnya.

Rupiah Melemah dan Yield SUN 10 Tahun Naik

Kondisi lintas aset belum bergerak searah dengan pemulihan IHSG pada Sesi II.

JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.611 per dolar AS pada 11 September, dibanding Rp17.536 sehari sebelumnya. Rupiah melemah sekitar 0,43%.

Pada saat yang sama, yield SUN tenor 10 tahun berada di 7,156%, naik sekitar 6 basis poin dari 7,096% sehari sebelumnya.

Pergerakan rupiah dan SUN tidak cukup untuk menjelaskan pelemahan IHSG hari itu. Keduanya menunjukkan bahwa lingkungan lintas aset belum ikut membaik secepat harga saham pada Sesi II.

Jika rupiah stabil dan yield turun bersamaan dengan membaiknya foreign flow, kondisi tersebut dapat menjadi tambahan konfirmasi bagi pemulihan saham berkapitalisasi besar.

Bukti Berikutnya Harus Datang dari Breadth dan Saham Likuid

Penutupan dekat high membuat stabilisasi Sesi II layak dicatat.

Konfirmasi yang lebih kuat akan terlihat jika jumlah saham naik mulai mengungguli saham turun, sektor positif bertambah, serta LQ45 dan IDX30 tidak lagi tertinggal dari IHSG. Perbaikan foreign flow akan menambah bukti bahwa pemulihan tidak hanya terjadi pada level indeks.

Sebaliknya, jika saham turun kembali mendominasi, indeks likuid tetap tertinggal, dan asing kembali mencatat net sell besar, pemulihan 11 September belum berkembang menjadi perubahan kondisi pasar yang lebih luas.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes