Banyu Capital

IHSG Turun 1,49% dan Tembus Low 10 September, 521 Saham Melemah

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Tekanan yang muncul pada penutupan sebelumnya berlanjut pada Sesi I 11 September. Seluruh 11 sektor melemah dan Stockbit Sekuritas mencatat estimasi net foreign sell Rp428,96 miliar di All Market, meski arus asing tetap selektif.

IHSG berada di 6.490,91 pada akhir Sesi I, turun 98,43 poin atau 1,49%. Indeks dibuka sekaligus mencetak level tertinggi di 6.552,79, kemudian jatuh hingga 6.462,96 sebelum memangkas sebagian pelemahannya.

Tekanan pada penutupan 10 September berlanjut pada Jumat pagi. IHSG langsung dibuka di bawah level terendah sehari sebelumnya, sementara breadth tetap lemah dan seluruh sektor bergerak negatif. Arus asing juga masih negatif secara agregat, tetapi penjualannya tidak merata pada seluruh saham besar.

Dashboard Market Notes Midday 11 September 2026 yang menampilkan IHSG turun 1,49 persen, breadth pasar yang lemah, seluruh sektor negatif, dan foreign flow yang masih selektif
IHSG berada di 6.490,91 pada akhir Sesi I 11 September 2026. Sebanyak 521 saham melemah dan seluruh 11 sektor berada di zona negatif, sementara estimasi foreign flow All Market mencatat net sell Rp428,96 miliar. Sumber: RTI Business, Stockbit Sekuritas, dan Bank Indonesia.

Level 6.585 Tembus Sejak Pembukaan

Pada 10 September, IHSG ditutup di 6.589,34, hanya 3,78 poin di atas level terendah harian 6.585,56. Area tersebut menjadi referensi pertama untuk menilai apakah tekanan berlanjut pada perdagangan berikutnya.

Pada Jumat pagi, IHSG langsung dibuka di 6.552,79 atau sekitar 32,77 poin di bawah level terendah sehari sebelumnya. Indeks kemudian turun ke 6.462,96 sebelum pulih ke 6.490,91 pada akhir Sesi I.

Pemulihan sekitar 28 poin dari level terendah menunjukkan tekanan jual sempat mereda. Namun, posisi indeks tetap berada jauh di bawah area yang sehari sebelumnya menjadi batas pertama untuk menguji kelanjutan tekanan.

Seluruh Sektor Merah, 521 Saham Ikut Melemah

RTI Business mencatat 133 saham menguat, 521 melemah, dan 131 tidak berubah. Jumlah saham yang turun hampir empat kali jumlah saham yang naik.

Seluruh 11 sektor berada di zona negatif. Transportation menjadi yang terlemah dengan penurunan 2,12%, diikuti Consumer Cyclical 1,88%, Infrastructure 1,77%, Energy 1,68%, dan Basic Industry 1,62%. Technology relatif paling bertahan, tetapi tetap turun 0,65%.

Tekanan juga terlihat pada indeks saham likuid. IDX30 turun 1,47% dan LQ45 melemah 1,43%, hampir sama dengan penurunan IHSG 1,49%.

Pelemahan berlangsung luas, bukan hanya pada beberapa saham berkapitalisasi besar.

Asing Masih Net Sell, tetapi BBRI Berbalik Dibeli

Stockbit Sekuritas mencatat pembelian asing All Market sekitar Rp2,33 triliun dan penjualan sekitar Rp2,76 triliun. Selisihnya menghasilkan estimasi net foreign sell Rp428,96 miliar.

Komposisinya tidak merata.

No Net Foreign Buy Estimasi Net Foreign Sell Estimasi
1 BBRI Rp142,46 miliar BBCA Rp311,71 miliar
2 BUMI Rp37,78 miliar CUAN Rp99,73 miliar
3 AADI Rp34,00 miliar TPIA Rp50,63 miliar
4 TLKM Rp29,08 miliar ANTM Rp35,91 miliar
5 BRMS Rp24,87 miliar CPIN Rp34,44 miliar
6 PTBA Rp15,79 miliar APIC Rp26,31 miliar
7 SINI Rp13,93 miliar ADRO Rp20,80 miliar
8 DSSA Rp13,67 miliar BMRI Rp19,51 miliar
9 AMMN Rp12,94 miliar ASII Rp17,29 miliar
10 ERAA Rp11,10 miliar BBTN Rp16,39 miliar

Arus asing tetap selektif. BBRI yang berada di sisi net sell pada penutupan 10 September justru menjadi penerima net buy terbesar pada Sesi I, sekitar Rp142,46 miliar.

BBCA mencatat estimasi net sell terbesar, sekitar Rp311,71 miliar. CUAN dan ANTM yang sehari sebelumnya berada di sisi pembelian asing juga beralih ke penjualan pada Sesi I.

Nilai foreign flow per saham merupakan estimasi Stockbit Sekuritas berdasarkan harga rata-rata Sesi I dan net volume. Perubahan arah lebih relevan daripada membandingkan nominal antarhari karena data 10 September mencakup perdagangan penuh, sedangkan data 11 September baru mencakup Sesi I.

Data foreign flow Pasar Reguler Sesi I belum tersedia. Karena itu, All Market net sell Rp428,96 miliar tidak dapat dibandingkan langsung dengan net sell Pasar Reguler pada penutupan sehari sebelumnya.

Rupiah Kini Bergerak Searah dengan Tekanan Saham

Bank Indonesia menetapkan JISDOR 11 September di Rp17.611 per dolar AS, dibanding Rp17.536 sehari sebelumnya. Rupiah melemah sekitar 0,43%.

Kondisi ini berbeda dari 10 September ketika IHSG turun tajam sementara JISDOR justru menguat tipis. Bursa regional juga mayoritas melemah pada snapshot Sesi I.

Kombinasi tersebut menambah konteks tekanan pasar, tetapi belum cukup untuk menetapkan pelemahan rupiah atau pasar regional sebagai penyebab langsung penurunan IHSG.

Sesi II Menentukan Apakah Tekanan Bertahan

Level terendah Sesi I di 6.462,96 menjadi referensi pertama di sisi bawah. Penurunan kembali di bawah area tersebut dengan breadth yang tetap lemah akan memperkuat pembacaan bahwa tekanan pagi belum selesai.

Di sisi lain, pemulihan mulai mendapat dukungan yang lebih kuat jika IHSG mampu kembali melewati 6.552,79, kemudian merebut area 6.585,56.

Gerak indeks saja belum cukup. Perbaikan juga perlu terlihat dari bertambahnya jumlah saham yang menguat, berkurangnya sektor negatif, serta foreign flow yang lebih konstruktif.

Dengan demikian, dua bukti utama dari penutupan 10 September sudah muncul pada Sesi I: level terendah hari sebelumnya telah ditembus dan tekanan tetap meluas di bawah indeks. Kualitas penutupan hari ini akan bergantung pada apakah kondisi tersebut bertahan atau mulai berbalik pada Sesi II.

Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes