Banyu Capital

IHSG Naik 0,29%, tetapi 342 Saham Melemah; Asing Jual Bersih Rp104 Miliar di Pasar Reguler

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Penguatan IHSG menyusut dari 0,82% pada sesi I menjadi 0,29% saat penutupan. BBCA menjadi penopang terbesar indeks, sementara jual bersih asing Rp1,13 triliun di seluruh pasar sangat dipengaruhi transaksi BYAN di pasar negosiasi.

Dashboard Market Notes EOD BEI 14 Oktober 2026, menampilkan IHSG, keluasan pasar, kinerja saham likuid, dan arus dana asing.
IHSG ditutup menguat 0,29% ke 5.943,02 pada 14 Oktober 2026, tetapi 342 saham melemah. Asing mencatat jual bersih Rp104,01 miliar di pasar reguler, jauh lebih kecil dibanding Rp1,13 triliun di seluruh pasar. Sumber: BEI, RTI Business, dan Stockbit Sekuritas.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, di level 5.943,024, menguat 17,048 poin atau 0,29%. Kenaikan itu jauh lebih kecil dibanding posisi akhir sesi I, ketika IHSG masih berada di 5.974,288 atau naik 0,82%.

Pemulihan yang terlihat pada pagi hari tidak bertahan secara luas hingga penutupan. Sebanyak 342 saham melemah menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), tiga sektor berakhir negatif, dan BBCA menjadi penopang terbesar kenaikan indeks.

Meski demikian, saham-saham likuid masih menunjukkan daya tahan. LQ45 dan IDX30 sama-sama menguat lebih tinggi dibanding IHSG. Aktivitas investor asing juga memperlihatkan gambaran berbeda antara pasar reguler dan seluruh pasar.

Di tengah jual bersih asing Rp1,13 triliun pada seluruh pasar saham, penjualan bersih di pasar reguler hanya sekitar Rp104 miliar.

IHSG Kehilangan Hampir Dua Pertiga Kenaikan Sesi I

IHSG dibuka di 5.940,675, sempat turun ke 5.906,740, kemudian menguat hingga mencapai 6.009,955 pada perdagangan pagi.

Indeks tidak mampu bertahan di atas 6.000. Menjelang jeda siang, IHSG berada di 5.974,288 sebelum kembali melemah sepanjang sesi berikutnya dan mengakhiri perdagangan di 5.943,024.

Dari penguatan 48,312 poin yang tercatat pada sesi I, sebanyak 31,264 poin telah hilang menjelang penutupan. Dengan demikian, sekitar 64,7% kenaikan yang sempat terbentuk hingga sesi pertama berkurang.

Posisi penutupan juga berada 66,931 poin di bawah titik tertinggi harian.

Perubahan arah ini berbeda dengan perdagangan Selasa, 13 Oktober. Saat itu, IHSG sempat menyentuh 5.828,679 sebelum pulih dan ditutup di 5.925,976, mendekati posisi tertinggi hariannya.

Pada 14 Oktober, pola intraday berbalik. IHSG menguat pada pagi hari, tetapi kehilangan sebagian besar kenaikannya menjelang penutupan.

Indeks masih berhasil mengakhiri perdagangan di atas posisi sehari sebelumnya. Namun, dorongan yang membawa IHSG melampaui 6.000 pada pagi hari tidak bertahan.

Menurut IDX Daily Statistics, nilai transaksi saham di seluruh pasar mencapai Rp11,226 triliun, dengan volume 30,056 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,474 juta transaksi.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp8,830 triliun merupakan transaksi saham di pasar reguler. Sementara itu, nilai transaksi seluruh instrumen BEI, termasuk waran dan instrumen lainnya, mencapai sekitar Rp11,265 triliun.

Dari 11 Sektor Menguat, Tiga Berakhir Negatif

Pelemahan sepanjang sesi kedua terlihat dari perubahan jumlah saham yang bergerak naik dan turun.

Berdasarkan RTI Business, sebanyak 391 saham menguat, 227 melemah, dan 170 tidak berubah pada akhir sesi I.

Saat perdagangan berakhir, jumlah saham naik menyusut menjadi 280, sedangkan saham turun bertambah menjadi 321. Sebanyak 194 saham tidak mengalami perubahan harga.

Statistik resmi BEI menunjukkan 291 saham naik, 342 turun, dan 330 tidak berubah. Jumlah pengamatan BEI dan RTI berbeda, tetapi keduanya menunjukkan bahwa saham yang melemah lebih banyak daripada saham yang menguat saat penutupan.

Perubahan serupa terjadi pada sektor saham.

Seluruh 11 indeks sektor BEI masih menguat pada sesi I. Namun, hingga penutupan, hanya delapan sektor yang bertahan positif.

Teknologi memimpin kenaikan sebesar 2,76%, meningkat dari penguatan 2,43% pada sesi pertama. Properti berada di posisi berikutnya dengan kenaikan 1,78%, lebih rendah dibanding 2,11% pada siang hari.

Sektor konsumsi primer naik 0,41%, industri 0,36%, kesehatan 0,29%, transportasi 0,22%, keuangan 0,06%, dan bahan baku 0,05%.

Sebaliknya, konsumsi siklikal turun 0,72%, energi melemah 0,59%, dan infrastruktur terkoreksi 0,19%.

Perubahan pada energi dan infrastruktur cukup menonjol. Keduanya masih menguat pada sesi pertama, masing-masing 0,82% dan 0,73%, sebelum berakhir negatif.

Di tengah kondisi tersebut, kelompok saham likuid bertahan lebih kuat. LQ45 naik 0,92%, sedangkan IDX30 menguat 0,90%. Keduanya melampaui kenaikan IHSG sebesar 0,29%.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan pada sesi kedua tidak berlangsung seragam. Penguatan sektor teknologi dan sebagian saham likuid masih bertahan, tetapi jumlah saham melemah serta berkurangnya sektor positif memperlihatkan bahwa partisipasi pasar tidak lagi seluas pada sesi pertama.

BBCA Menjadi Penopang Terbesar, Saham Besar Bergerak Berbeda Arah

Kenaikan BBCA memainkan peran besar dalam menjaga IHSG tetap berada di zona positif.

Saham bank tersebut menguat 2,94% ke Rp6.125 dan memberikan kontribusi sekitar 15,94 poin terhadap IHSG, berdasarkan statistik BEI.

Kontribusi itu setara sekitar 93,5% dari kenaikan bersih IHSG sebesar 17,048 poin, setelah memperhitungkan pengaruh positif dan negatif seluruh saham lainnya.

BRPT menjadi penopang berikutnya dengan kontribusi positif 7,00 poin. ASII menyumbang 2,43 poin, BELI 2,41 poin, dan GOTO 1,85 poin.

Di sisi lain, VKTR memberikan tekanan sekitar 5,01 poin terhadap IHSG. DSSA mengurangi indeks sebesar 4,29 poin, BREN 4,27 poin, dan BMRI 2,39 poin.

Pergerakan saham bank besar juga tidak seragam. BBCA naik 2,94% dan BBRI menguat 0,32%, sedangkan BMRI turun 0,75%.

Perbedaan kontribusi ini menjelaskan mengapa IHSG masih mampu mengakhiri perdagangan dalam zona positif ketika lebih banyak saham justru melemah.

Kenaikan beberapa saham berbobot besar cukup untuk mengimbangi tekanan dari saham lainnya. Jika kontribusi saham dominan berkurang tanpa perbaikan saham lain, IHSG akan kehilangan salah satu sumber penopang yang terlihat pada perdagangan hari ini.

Jual Bersih Asing Rp1,13 Triliun Didominasi Transaksi di Luar Pasar Reguler

Arus dana asing memperlihatkan perbedaan yang cukup besar menurut jenis pasar.

BEI mencatat investor asing melakukan penjualan bersih Rp1.133,40 miliar pada seluruh pasar saham. Angka tersebut mencakup transaksi di pasar reguler, negosiasi, dan tunai.

Namun, RTI Business menunjukkan penjualan bersih asing di pasar reguler hanya sekitar Rp104,01 miliar. Artinya, pasar negosiasi dan tunai secara gabungan menyumbang penjualan bersih sekitar Rp1,03 triliun.

Perbedaan ini berkaitan erat dengan aktivitas saham BYAN.

Data Stockbit menunjukkan penjualan bersih asing pada BYAN sekitar Rp1.120,3 miliar untuk seluruh pasar. Nilai itu setara sekitar 98,8% dari jual bersih asing agregat BEI, berdasarkan angka yang dibulatkan.

IDXChannel juga melaporkan transaksi saham BYAN sekitar Rp1,12 triliun di pasar negosiasi pada 14 Oktober. Transaksi tersebut melibatkan sekitar 100 juta saham dengan harga rata-rata Rp11.200 per saham.

Informasi yang tersedia belum cukup untuk memastikan identitas seluruh pihak dan tujuan transaksi tersebut.

Besarnya transaksi BYAN memperlihatkan mengapa angka jual bersih asing seluruh pasar perlu dibaca secara terpisah dari perdagangan reguler.

Di pasar reguler, transaksi berlangsung melalui mekanisme perdagangan harian yang mempertemukan permintaan beli dan jual. Sementara itu, pasar negosiasi menggunakan mekanisme kesepakatan transaksi antaranggota bursa.

Karena itu, penjualan bersih asing Rp1,13 triliun di seluruh pasar tidak menggambarkan tekanan jual dengan nilai yang sama terhadap pembentukan harga di pasar reguler.

Meski demikian, investor asing tetap mencatat penjualan bersih pada perdagangan reguler. Tekanan tersebut terlihat pada sejumlah saham perbankan, energi, dan pertambangan.

Sepuluh Saham dengan Pembelian dan Penjualan Bersih Asing Terbesar

Data berikut berasal dari Stockbit Sekuritas untuk perdagangan pasar reguler pada 14 Oktober 2026.

Pembelian Bersih Asing Rp Miliar Penjualan Bersih Asing Rp Miliar
BBCA 216,62 BBRI 56,86
BRPT 28,00 BMRI 35,97
TINS 16,91 ADMR 32,46
MEDC 14,04 ITMG 32,22
PWON 13,70 PTBA 25,28
PGAS 9,95 DSSA 23,29
SMGR 8,48 BUMI 22,27
ASII 8,07 EMAS 19,66
AALI 6,97 AADI 19,40
ACES 6,02 ERAA 18,99

Catatan: Kolom penjualan menunjukkan besarnya nilai jual bersih. Angka mengikuti pembulatan yang ditampilkan Stockbit.

BBCA mencatat pembelian bersih asing terbesar dengan nilai sekitar Rp216,62 miliar. Pada hari yang sama, saham tersebut menguat dan menjadi penyumbang positif terbesar bagi IHSG.

Sebaliknya, BBRI mencatat penjualan bersih asing sekitar Rp56,86 miliar meskipun harga sahamnya masih naik 0,32%.

TINS memperlihatkan pola berbeda. Saham tersebut turun 1,60%, tetapi menerima pembelian bersih asing sekitar Rp16,91 miliar.

Ketiga contoh ini menunjukkan bahwa arah transaksi asing tidak selalu sama dengan perubahan harga pada hari yang bersangkutan. Aktivitas investor domestik, likuiditas, dan keseimbangan permintaan serta penawaran turut menentukan pergerakan harga.

JISDOR Menguat, tetapi Saham Masih Bergerak Selektif

Di pasar valuta asing, JISDOR Bank Indonesia pada 14 Oktober tercatat Rp17.898 per dolar AS, dibanding Rp17.930 pada 13 Oktober. Berdasarkan kurs referensi tersebut, rupiah menguat Rp32 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi ketika IHSG masih mencatat kenaikan harian dan investor asing tetap melakukan penjualan bersih di pasar reguler.

Ketiga perkembangan itu tidak harus bergerak searah setiap hari. JISDOR merupakan kurs referensi, sedangkan aktivitas pasar saham dan valuta asing berlangsung melalui mekanisme serta waktu pengamatan yang berbeda.

Karena itu, perbaikan JISDOR perlu dilihat sebagai bagian dari kondisi pasar, bukan bukti tunggal bahwa tekanan terhadap saham Indonesia telah mereda.

Konteks yang lebih panjang juga masih penting. Menurut BEI, IHSG tercatat turun 31,27% sejak awal 2026 hingga penutupan 14 Oktober.

Koreksi tersebut membuat posisi indeks jauh lebih rendah dibanding awal tahun. Namun, besarnya penurunan harga belum cukup untuk menentukan apakah risiko terhadap laba perusahaan, likuiditas, dan premi risiko pasar sudah sepenuhnya tercermin dalam valuasi.

Pemulihan Berikutnya Memerlukan Partisipasi yang Lebih Luas

Perdagangan Kamis, 15 Oktober, akan memberikan bukti berikutnya mengenai daya tahan pemantulan IHSG.

Acuan pertama adalah penutupan 13 Oktober di 5.925,976 dan area tertinggi 14 Oktober di sekitar 6.000 hingga 6.010. Pergerakan terhadap kedua kawasan tersebut dapat membantu menunjukkan apakah pemantulan berlanjut atau kembali melemah.

Acuan kedua adalah keluasan pasar. Setelah jumlah saham turun melampaui saham naik pada penutupan Rabu, pemulihan akan memiliki dukungan lebih luas jika kondisi tersebut berbalik.

Perubahan sektoral juga perlu diperhatikan, terutama apakah energi, infrastruktur, dan konsumsi siklikal kembali membaik atau justru menambah tekanan.

Acuan ketiga adalah keberlanjutan kekuatan saham likuid dan arus investor asing di pasar reguler. Kenaikan LQ45 serta IDX30 akan lebih berarti apabila diikuti lebih banyak saham dan tidak hanya bergantung pada beberapa emiten berbobot besar.

Sementara itu, penjualan bersih asing reguler yang meningkat pada saham-saham likuid dapat menjadi tanda bahwa tekanan terhadap perdagangan reguler belum mereda.

Jika IHSG kembali turun di bawah penutupan 13 Oktober, sementara jumlah saham melemah semakin dominan dan penjualan asing reguler membesar, bukti yang mendukung pemantulan 14 Oktober akan berkurang.

IHSG telah mengakhiri perdagangan Rabu dalam zona positif. Yang perlu dibuktikan berikutnya adalah apakah kenaikan tersebut dapat bertahan dengan partisipasi saham yang lebih luas dan tekanan jual asing reguler yang lebih terbatas.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes