IHSG Naik 0,82%, Seluruh Sektor Menguat; Asing Jual Bersih Rp1,16 Triliun di Seluruh Pasar
IHSG pulih ke 5.974,29 pada sesi I Rabu, 14 Oktober 2026, dengan dukungan seluruh sektor dan indeks saham likuid. Namun, indeks belum bertahan di atas 6.000, sementara penjualan bersih asing agregat belum menggambarkan secara terpisah kondisi pasar reguler.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 48,31 poin atau 0,82% ke level 5.974,29 pada akhir sesi I perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Sebanyak 391 saham menguat dan seluruh 11 indeks sektor bergerak positif, menurut data RTI Business dan Stockbit.
Pemulihan ini lebih luas dibanding sesi I sehari sebelumnya, ketika IHSG masih turun 0,42% dan jumlah saham melemah lebih banyak daripada yang menguat. Indeks LQ45 dan IDX30, yang sebelumnya juga tertinggal, kini naik lebih tinggi daripada IHSG.
Meski demikian, penguatan belum mampu bertahan di atas 6.000. IHSG sempat mencapai 6.009,96 sebelum kembali turun. Investor asing juga mencatat penjualan bersih sekitar Rp1,16 triliun di seluruh pasar, sehingga komposisi transaksi menjadi bagian penting dalam membaca pergerakan hari ini.
IHSG Sempat Menembus 6.000, Lalu Kembali ke 5.974
IHSG dibuka pada 5.940,68 dan sempat turun hingga 5.906,74. Indeks kemudian berbalik naik, mencapai titik tertinggi 6.009,96, sebelum mengakhiri sesi pertama di 5.974,29.
Jarak sekitar 35,67 poin dari posisi tertinggi menunjukkan bahwa sebagian kenaikan intraday berkurang menjelang jeda siang. Namun, indeks masih berada 48,31 poin di atas penutupan Selasa sebesar 5.925,98.
Perubahan tersebut menjadi relevan setelah perdagangan 13 Oktober memperlihatkan pemulihan dari titik terendah 5.828,68, tetapi belum cukup mengangkat IHSG ke zona positif pada penutupan.
Pada sesi pertama hari ini, nilai transaksi saham di seluruh pasar mencapai Rp6,23 triliun dengan volume sekitar 18,14 miliar saham dan frekuensi 884.898 transaksi. Nilai transaksi pasar reguler tercatat sekitar Rp4,77 triliun, sedangkan pasar negosiasi mencapai Rp1,44 triliun.
Seluruh Sektor Menguat, Dukungan Saham Likuid Membaik
Keluasan pasar memberikan konfirmasi penting terhadap kenaikan IHSG. Menurut RTI Business, sebanyak 391 saham menguat, 227 melemah, dan 170 tidak berubah.
Sebagai pembanding, pada sesi I Selasa terdapat 315 saham naik dan 328 turun. Artinya, perubahan hari ini tidak hanya tercermin pada indeks utama, tetapi juga pada jumlah saham yang berpartisipasi dalam kenaikan.
Seluruh 11 indeks sektor mencatat penguatan. Teknologi memimpin dengan kenaikan 2,43%, disusul properti 2,11%, industri 1,37%, dan bahan baku 1,29%.
Energi menguat 0,82%, infrastruktur 0,73%, dan transportasi 0,69%. Sektor konsumsi primer naik 0,31%, konsumsi siklikal 0,24%, kesehatan 0,07%, sedangkan keuangan hanya 0,03%.
Kenaikan yang menjangkau seluruh sektor menunjukkan partisipasi yang luas, meskipun intensitasnya tidak merata. Penguatan sektor keuangan, misalnya, masih jauh lebih terbatas dibanding teknologi dan properti.
Dukungan juga datang dari kelompok saham likuid. LQ45 naik 1,24% dan IDX30 menguat 1,19%, keduanya melampaui kenaikan IHSG sebesar 0,82%.
Ini menjadi perbedaan penting dibanding sesi sebelumnya, ketika kedua indeks saham likuid masih melemah lebih dalam daripada IHSG. Pada sesi pertama hari ini, pemulihan tidak hanya terjadi di luar kelompok saham likuid.
Dari sisi aktivitas perdagangan, BBCA mencatat nilai transaksi sekitar Rp302,41 miliar, disusul CUAN Rp190,89 miliar, BBRI Rp176,68 miliar, BUMI Rp170,12 miliar, dan GOTO Rp163,84 miliar.
Nilai transaksi menggambarkan aktivitas perdagangan, bukan besarnya kontribusi masing-masing saham terhadap kenaikan IHSG. Kontribusi indeks juga dipengaruhi perubahan harga dan bobot saham.
Net Sell Asing Rp1,16 Triliun Belum Menjelaskan Tekanan di Pasar Reguler
Di tengah penguatan indeks, Stockbit Sekuritas mencatat pembelian asing sekitar Rp1,50 triliun dan penjualan sekitar Rp2,66 triliun. Selisih keduanya menghasilkan net sell Rp1,16 triliun.
Angka tersebut merupakan transaksi seluruh pasar, mencakup pasar reguler serta transaksi di luar pasar reguler. Rincian arus asing untuk masing-masing jenis pasar belum tersedia dalam data sesi I yang digunakan.
Dengan demikian, nilai Rp1,16 triliun tidak dapat langsung diperlakukan sebagai besarnya penjualan bersih asing di pasar reguler. Transaksi negosiasi dan perdagangan reguler memiliki mekanisme yang berbeda, termasuk dalam pembentukan harga.
Perbedaan cakupan ini bukan persoalan kecil. Pada penutupan 13 Oktober, pembelian bersih asing di pasar reguler menurut RTI Business hanya sekitar Rp5,89 miliar, sementara pembelian bersih agregat seluruh pasar menurut BEI mencapai Rp570,40 miliar.
Pada tingkat emiten, aktivitas asing hari ini juga tidak seragam.
Estimasi Pembelian dan Penjualan Bersih Asing Terbesar — Sesi I, 14 Oktober 2026
| Pembelian Bersih Asing | Nilai | Penjualan Bersih Asing | Nilai |
|---|---|---|---|
| BBCA | Rp91,69 miliar | PTBA | Rp21,47 miliar |
| TLKM | Rp16,92 miliar | TPIA | Rp20,18 miliar |
| ASII | Rp14,24 miliar | BBRI | Rp18,99 miliar |
| AMMN | Rp12,85 miliar | ADMR | Rp17,48 miliar |
| MMIX | Rp10,02 miliar | SINI | Rp16,35 miliar |
| BRPT | Rp7,37 miliar | BUMI | Rp15,43 miliar |
| PGAS | Rp7,32 miliar | ERAA | Rp14,13 miliar |
| BMRI | Rp7,31 miliar | AADI | Rp12,31 miliar |
| PWON | Rp6,18 miliar | INDY | Rp10,48 miliar |
| GOTO | Rp5,98 miliar | MKPI | Rp9,25 miliar |
Catatan: Data Stockbit Sekuritas, sesi I 14 Oktober 2026, cakupan seluruh pasar. Nilai transaksi bersih per saham merupakan estimasi berdasarkan harga rata-rata sesi I. Daftar ini tidak merekonsiliasi keseluruhan nilai net sell asing agregat.
BBCA mencatat pembelian bersih asing terbesar dalam daftar tersebut, sementara PTBA berada pada posisi penjualan bersih terbesar. Beberapa saham berkapitalisasi besar berada di kedua sisi transaksi, termasuk TLKM dan ASII pada sisi pembelian serta BBRI dan TPIA pada sisi penjualan.
Pola tersebut menunjukkan perbedaan arah transaksi antaremiten. Penilaian mengenai tekanan asing terhadap pembentukan harga IHSG tetap membutuhkan data arus asing pasar reguler secara terpisah.
Tiga Bukti yang Akan Menguji Pemulihan pada Sesi II
Penguatan sesi pertama memiliki dukungan yang lebih luas dibanding hari sebelumnya. Namun, kelanjutannya masih bergantung pada tiga perkembangan.
Pertama, kemampuan IHSG kembali mendekati atau melewati area 6.000–6.010, yang telah diuji pada sesi pertama. Pergerakan di atas area tersebut akan lebih berarti apabila didukung keluasan pasar yang tetap positif.
Kedua, kekuatan LQ45, IDX30, dan indeks sektoral. Jika kelompok saham likuid kembali tertinggal atau jumlah saham melemah mulai mendominasi, dukungan terhadap pemulihan akan berkurang.
Ketiga, komposisi transaksi investor asing. Data foreign flow pasar reguler diperlukan untuk menilai apakah penguatan harga berjalan bersama permintaan asing di perdagangan reguler.
Penutupan 13 Oktober di 5.925,98 menjadi acuan untuk menguji daya tahan kenaikan. Kembalinya IHSG ke bawah level tersebut, terutama jika diikuti pelemahan keluasan pasar, akan mengurangi bukti pemulihan yang terbentuk pada sesi I.
Hingga jeda siang, perubahan yang paling jelas adalah membaiknya partisipasi saham dan sektor. Penguatan itu baru mendapat konfirmasi tambahan jika tetap bertahan ketika perdagangan berakhir.
Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.