Banyu Capital

IHSG Pangkas Koreksi, Asing Net Buy Rp520 Miliar tetapi 592 Saham Melemah

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG ditutup di 5.863,78 setelah sempat menyentuh 5.804,21. Asing mencatat pembelian bersih Rp520 miliar di pasar reguler, tetapi 592 saham dan seluruh 11 sektor BEI masih melemah.

Dashboard Banyu Capital Market Notes EOD 15 Oktober 2026: IHSG ditutup di 5.863,78, turun 1,33 persen, dengan 592 saham melemah dan pembelian bersih asing reguler Rp520,03 miliar.
IHSG memangkas koreksi menjadi 1,33% pada penutupan 15 Oktober 2026. Sebanyak 592 saham melemah dan seluruh 11 sektor tetap negatif, sementara investor asing mencatat pembelian bersih Rp520,03 miliar di pasar reguler. Sumber: BEI, RTI Business, Stockbit Sekuritas, BI, dan BLS. Visual: Banyu Capital.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengurangi koreksinya pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Setelah turun 2,16% pada jeda sesi I, IHSG berakhir melemah 1,33% atau 79,24 poin ke posisi 5.863,78.

Pemulihan terjadi pada harga indeks, tetapi belum merata di pasar. Indeks saham berkapitalisasi besar bertahan relatif lebih baik, sementara mayoritas saham tetap turun. Pembelian bersih asing di pasar reguler juga belum mengubah posisi penjualan bersih asing yang masih besar sepanjang tahun.

Perdagangan Kamis memperlihatkan perbedaan antara pemulihan harga indeks, keluasan pasar, dan arah transaksi asing. Ketiganya perlu bergerak lebih konsisten sebelum pemulihan satu sesi dapat dibaca sebagai perubahan kondisi pasar yang lebih luas.

IHSG Menjauh dari Terendah, tetapi Belum Kembali Positif

IHSG mengawali perdagangan di posisi 5.917,13, di bawah penutupan sebelumnya sebesar 5.943,02. Indeks kemudian melemah hingga menyentuh 5.804,21 sebelum berangsur naik menjelang akhir sesi II.

Dibandingkan titik terendah tersebut, IHSG pulih 59,57 poin. Dari posisi jeda sesi I di 5.814,72, indeks bertambah 49,06 poin hingga penutupan.

Menurut IDX Daily Statistics, nilai perdagangan saham mencapai Rp13,51 triliun, dengan volume 31,87 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,68 juta transaksi.

Nilai perdagangan saham khusus pasar reguler mencapai Rp10,27 triliun. Perbedaan dengan nilai seluruh pasar terutama berasal dari transaksi negosiasi.

Pemulihan dari titik terendah memperlihatkan bahwa IHSG mampu menutup perdagangan di atas level terlemahnya. Namun, indeks masih berada di bawah penutupan Rabu. Perbaikan intraday tersebut belum mengubah hasil perdagangan harian yang negatif.

Daya Tahan Saham Besar Belum Mengimbangi Tekanan Pasar yang Luas

Data resmi BEI mencatat 592 saham melemah, 119 saham menguat, dan 252 saham tidak berubah. Jumlah saham yang turun hampir lima kali jumlah saham yang naik.

Tekanan juga berlangsung di seluruh 11 sektor BEI.

Consumer Cyclicals mencatat penurunan terdalam sebesar 3,20%, diikuti Energy sebesar 3,00% dan Industrials sebesar 2,43%. Infrastructure turun 2,41%, sedangkan Transportation & Logistics melemah 2,06%.

Healthcare mencatat koreksi paling terbatas sebesar 0,15%, disusul Financials yang turun 0,64%.

Kelompok saham besar bertahan relatif lebih baik. LQ45 melemah 0,76%, sedangkan IDX30 turun 0,71%. Keduanya mencatat penurunan lebih kecil dibandingkan IHSG sebesar 1,33%.

Perbedaan ini terlihat pada kontribusi masing-masing emiten terhadap indeks.

Menurut perhitungan BEI, BREN menjadi penekan terbesar dengan kontribusi negatif 5,44 poin, disusul DSSA sebesar 5,24 poin, BBCA sebesar 4,55 poin, dan TPIA sebesar 4,31 poin.

Sebaliknya, AMMN menyumbang penguatan 2,28 poin, BMRI sebesar 1,59 poin, dan BBRI sebesar 1,47 poin.

Daya tahan sebagian saham besar membantu membatasi koreksi IHSG. Di luar saham-saham tersebut, tekanan tetap luas: 592 saham melemah dan seluruh sektor ditutup negatif.

Pembelian Bersih Asing Terkonsentrasi pada Sejumlah Saham

Investor asing mencatat pembelian bersih Rp520,03 miliar di pasar reguler, berdasarkan RTI Business.

Sementara itu, statistik resmi BEI menunjukkan net foreign buy sebesar Rp569,38 miliar untuk transaksi seluruh pasar saham. Kedua angka tersebut menggunakan cakupan perdagangan berbeda dan perlu dibaca sesuai sumber masing-masing.

Pembelian asing terbesar di pasar reguler terjadi pada BBCA sebesar Rp286,10 miliar, disusul BBRI Rp78,35 miliar dan DSSA Rp53,33 miliar. BMRI juga mencatat pembelian bersih Rp34,26 miliar.

Pada sisi penjualan, ITMG, GOTO, dan TLKM berada di antara saham dengan tekanan jual bersih asing terbesar.

Top 10 Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell

No. Net Foreign Buy Rp miliar Net Foreign Sell Rp miliar
1 BBCA 286,10 ITMG 33,83
2 BBRI 78,35 GOTO 22,51
3 DSSA 53,33 TLKM 17,92
4 TPIA 42,95 EMAS 16,81
5 BMRI 34,26 ADRO 14,83
6 CUAN 24,79 BRPT 14,32
7 ANTM 24,70 PACK 13,96
8 ACES 21,02 PTBA 13,49
9 SQMI 19,83 ADMR 13,08
10 PWON 18,93 INCO 10,80

Sumber: Stockbit Sekuritas, 15 Oktober 2026, pasar reguler. Nilai pada kolom penjualan merupakan besaran penjualan bersih asing.

Jika digabungkan, BBCA, BBRI, dan BMRI mencatat pembelian bersih asing Rp398,71 miliar. Nilai ini setara sekitar 76,7% dari posisi pembelian bersih asing agregat di pasar reguler.

Perbandingan tersebut menggunakan nilai bersih, bukan proporsi pembelian bruto asing. Pembelian bersih di sebagian emiten dapat saling mengimbangi dengan penjualan bersih pada emiten lainnya.

Harga saham juga tidak selalu bergerak searah dengan transaksi bersih investor asing.

BBCA tetap melemah 0,82% meskipun mencatat pembelian bersih asing terbesar. DSSA turun 6,15%, sementara BBRI dan BMRI masing-masing menguat 0,32% dan 0,51%.

Artinya, transaksi bersih asing perlu dibaca bersama keseluruhan permintaan dan penawaran saham, bukan sebagai penentu tunggal arah harga.

Dalam konteks lebih panjang, BEI masih mencatat penjualan bersih asing secara kumulatif sekitar Rp84,85 triliun sepanjang 2026 hingga 15 Oktober.

Pembelian bersih pada satu sesi belum cukup untuk menunjukkan perubahan arus modal yang berkelanjutan. Bukti berikutnya adalah apakah pembelian tersebut berlanjut dan menjangkau lebih banyak saham.

Inflasi AS Meningkat, Bursa Asia Mengalami Koreksi Tajam

Tekanan terhadap saham Indonesia terjadi ketika investor global menghadapi ketidakpastian inflasi Amerika Serikat dan prospek pembiayaan investasi teknologi.

Bureau of Labor Statistics melaporkan inflasi konsumen AS pada September 2026 mencapai 3,7% secara tahunan, naik dari 3,4% pada Agustus. Secara bulanan, CPI meningkat 0,6%, sementara inflasi inti tercatat 2,6% secara tahunan.

Harga energi menjadi salah satu pendorong kenaikan inflasi. Kondisi tersebut memperbesar ketidakpastian mengenai langkah Federal Reserve setelah bank sentral AS menaikkan rentang suku bunga kebijakannya menjadi 3,75% sampai 4,00% pada September.

Bagi saham Indonesia, inflasi AS yang bertahan tinggi dapat memengaruhi daya tarik relatif investasi melalui beberapa jalur.

Suku bunga AS yang tinggi dapat mempertahankan daya tarik aset berbasis dolar. Investor global juga dapat meminta imbal hasil lebih besar untuk menanggung risiko saham negara berkembang. Sementara itu, perubahan nilai tukar dapat memengaruhi keuntungan investasi asing ketika dikonversi kembali ke dolar AS.

Tekanan global terlihat jelas pada perdagangan sejumlah bursa Asia.

Berdasarkan perbandingan BEI pada pukul 16.00 WIB, KOSPI Korea Selatan turun 7,57%, Nikkei Jepang melemah 4,90%, dan indeks Taiwan terkoreksi 3,41%. Shanghai Composite turun 1,59%, sementara Hang Seng melemah 1,03%.

Reuters melaporkan koreksi tajam pada saham semikonduktor Korea Selatan, seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai inflasi AS, prospek bunga, dan pembiayaan investasi kecerdasan buatan atau AI.

Namun, koreksi tidak terjadi di seluruh bursa Asia. India menguat 1,79%, sedangkan Filipina naik 0,82% berdasarkan perbandingan BEI.

Tekanan regional memberikan konteks bagi pelemahan IHSG. Akan tetapi, data perdagangan yang tersedia belum cukup untuk memisahkan secara kuantitatif pengaruh faktor global dari dinamika pasar domestik.

Yield Global Turun, tetapi Investor Belum Tentu Kembali Menyukai Saham

Ketika sejumlah pasar saham Asia mengalami koreksi besar, imbal hasil obligasi pemerintah negara maju justru bergerak turun.

Cuplikan Trading Economics pada 15 Oktober menunjukkan yield US Treasury 10 tahun sekitar 5,06%. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun Inggris, Jerman, Jepang, dan Australia juga menurun pada waktu pengamatan masing-masing.

Dalam kondisi tertentu, penurunan yield dapat membantu valuasi saham. Ketika tingkat pengembalian yang diminta investor menurun, nilai sekarang dari ekspektasi keuntungan perusahaan berpotensi meningkat.

Namun, penyebab penurunan yield perlu diperhatikan.

Reuters melaporkan bahwa tekanan terhadap saham terkait AI mendorong permintaan terhadap obligasi pemerintah yang dianggap lebih aman. Investor mulai meninjau ulang besarnya pembiayaan utang pada perusahaan teknologi dan kemampuan investasi tersebut menghasilkan keuntungan yang sepadan.

Penurunan yield dalam situasi demikian dapat mencerminkan keinginan mengurangi risiko portofolio, bukan meningkatnya minat terhadap saham.

Pergerakan obligasi juga dipengaruhi perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Karena itu, penurunan yield tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu faktor.

Di Indonesia, rupiah masih menghadapi tekanan.

JISDOR Bank Indonesia meningkat dari Rp17.898 per dolar AS pada 14 Oktober menjadi Rp17.948 pada 15 Oktober, mencerminkan depresiasi rupiah sekitar 0,28%.

Sementara itu, yield SUN 10 tahun tercatat sekitar 7,169% menurut cuplikan pasar yang tersedia.

Perbandingan imbal hasil obligasi Indonesia dan AS belum memperhitungkan seluruh risiko kurs, perbedaan waktu pengamatan, maupun premi risiko negara. Oleh sebab itu, selisih imbal hasil nominal tidak cukup untuk menentukan apakah aset Indonesia sudah lebih menarik.

Bagi investor saham, bukti yang lebih relevan adalah apakah penurunan yield global diikuti stabilisasi rupiah, perbaikan arus modal, dan meningkatnya permintaan terhadap saham Indonesia.

Penurunan IHSG Belum Cukup untuk Membuktikan Risiko Sudah Masuk Harga

IHSG tercatat melemah 32,19% sejak awal 2026 hingga 15 Oktober. Statistik BEI menunjukkan PER pasar sebesar 12,38 kali dan PBV 1,56 kali.

Penurunan harga yang besar dapat membuat valuasi sejumlah saham lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Namun, rendahnya harga belum otomatis berarti risiko investasi telah berkurang.

Daya tarik valuasi juga ditentukan prospek laba, kondisi neraca, serta tingkat pengembalian yang diminta investor.

Data yang tersedia belum cukup untuk membandingkan valuasi pasar saat ini dengan rentang historis dan revisi laba emiten secara memadai. Karena itu, penurunan IHSG sepanjang tahun belum dapat dijadikan bukti bahwa seluruh risiko telah tercermin dalam harga.

Pemulihan Berikutnya Perlu Dukungan Lebih Banyak Saham

IHSG menutup perdagangan Kamis di atas titik terendah hariannya, sementara investor asing mencatat pembelian bersih di pasar reguler. Kedua perkembangan tersebut menunjukkan adanya perbaikan pada sebagian indikator perdagangan.

Namun, sebagian besar saham dan seluruh sektor masih negatif. Tekanan nilai tukar dan ketidakpastian pasar global juga belum hilang.

Perdagangan berikutnya perlu diuji melalui tiga perkembangan.

Pertama, apakah IHSG dapat mempertahankan pemulihannya tanpa kembali menguji titik terendah 5.804,21. Angka tersebut merupakan referensi perdagangan 15 Oktober, bukan tingkat support yang sudah terkonfirmasi.

Kedua, apakah jumlah saham yang menguat meningkat dan semakin banyak sektor keluar dari zona negatif.

Ketiga, apakah pembelian bersih asing berlanjut, disertai kondisi rupiah yang lebih stabil.

Jika ketiganya membaik secara bersamaan dan bertahan dalam beberapa sesi, pembacaan bahwa pemulihan pasar masih terbatas perlu ditinjau kembali.

Sebaliknya, pengujian ulang titik terendah dengan tekanan saham yang tetap luas dan pembalikan arus asing akan menunjukkan bahwa risiko penurunan lanjutan masih besar.

Ujian berikutnya bukan hanya apakah IHSG dapat menguat, melainkan apakah lebih banyak saham dan sektor ikut pulih, disertai pembelian asing yang berlanjut.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes