IHSG Turun 2,16%, Sebanyak 621 Saham Melemah dan Seluruh Sektor Terkoreksi
IHSG turun ke 5.814,72 hingga jeda sesi I, di tengah pelemahan 621 saham dan seluruh 11 sektor BEI. Koreksi bursa Asia dan tekanan terhadap rupiah memperberat sentimen, sementara data transaksi asing belum cukup untuk menetapkan penyebab dominan penurunan indeks.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 128,30 poin atau 2,16% ke posisi 5.814,72 hingga jeda perdagangan Kamis (15/10/2026). Sebanyak 621 saham turun, jauh lebih banyak dibandingkan 80 saham yang menguat dan 89 saham yang tidak berubah.
Seluruh 11 indeks sektoral Bursa Efek Indonesia (BEI) juga bergerak negatif. Tekanan yang meluas ini terjadi sehari setelah IHSG sempat menguat 0,29% dan ditutup pada posisi 5.943,02.
Koreksi tersebut tidak hanya terlihat pada pergerakan indeks. Mayoritas saham dan seluruh sektor kehilangan nilai pada sesi pertama, bersamaan dengan penurunan tajam di sejumlah bursa Asia.
Sebanyak 621 Saham Turun, Sektor Energi dan Barang Baku Paling Tertekan
IHSG dibuka pada posisi 5.917,13 dan sempat menyentuh level tertinggi 5.917,70. Tekanan kemudian membawa indeks turun ke posisi terendah sesi I di 5.804,21, sebelum berada pada 5.814,72 saat jeda perdagangan.
Nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp8,58 triliun, dengan volume 22,43 miliar saham dan sekitar 1,10 juta transaksi. Dari jumlah tersebut, nilai perdagangan di pasar reguler mencapai sekitar Rp6,12 triliun menurut data Stockbit.
Pelemahan juga menjangkau kelompok saham berkapitalisasi besar. Indeks LQ45 turun 1,78%, sedangkan IDX30 terkoreksi 1,60%.
Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 3,71%, diikuti sektor barang baku sebesar 3,40%. Sektor barang konsumen siklikal melemah 3,03%, infrastruktur 3,02%, dan transportasi 3,01%.
Sektor keuangan dan kesehatan menunjukkan tekanan yang lebih terbatas, masing-masing turun 0,89% dan 0,81%.
Tidak adanya sektor yang menguat memperlihatkan luasnya tekanan pasar. Namun, besarnya koreksi berbeda pada setiap kelompok saham.
Jumlah saham yang turun menunjukkan keluasan pelemahan, bukan kontribusi masing-masing saham terhadap IHSG. Perubahan harga saham berbobot indeks besar tetap dapat memengaruhi IHSG lebih kuat daripada pergerakan banyak saham berkapitalisasi kecil.
Tekanan Bursa Asia Berlangsung Bersamaan dengan Pelemahan Rupiah
Koreksi IHSG terjadi ketika pasar saham Asia juga mengalami tekanan.
Pada pantauan Stockbit, indeks KOSPI Korea Selatan turun 7,48%, sementara Nikkei Jepang melemah 4,31%. Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,36% dan Shanghai Composite turun 1,98%.
Menurut Reuters, bursa Asia tertekan setelah inflasi konsumen Amerika Serikat untuk September meningkat lebih cepat daripada perkiraan. Perkembangan tersebut memunculkan kembali kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga AS, di tengah tekanan pada saham teknologi dan perusahaan yang terkait dengan investasi kecerdasan buatan.
Bagi pasar saham, risiko suku bunga yang lebih tinggi dapat memengaruhi valuasi dan daya tarik aset berisiko. Biaya pendanaan yang meningkat juga menjadi perhatian bagi perusahaan yang membutuhkan investasi besar untuk menopang pertumbuhan.
Di pasar valuta asing, USD/IDR berada di sekitar Rp17.948,60 per dolar AS pada saat pengamatan, naik 0,30%. Pergerakan tersebut menunjukkan pelemahan rupiah pada periode yang dipantau.
Tekanan regional dan nilai tukar memberikan konteks bagi koreksi IHSG. Namun, data yang tersedia belum memisahkan besarnya pengaruh faktor global dari tekanan transaksi dan kondisi pasar domestik. Angka indeks regional serta nilai tukar juga merupakan cuplikan pada waktu pengamatan yang tidak seluruhnya sama.
Asing Masuk ke BBCA dan DSSA, Sementara TLKM dan GOTO Mencatat Penjualan Bersih Terbesar
Aktivitas investor asing memperlihatkan perbedaan yang cukup besar antar-saham. Ketika IHSG melemah dan seluruh sektor terkoreksi, sejumlah emiten justru masih mencatat pembelian bersih asing.
Berdasarkan laporan Foreign Activity Midday Stockbit Sekuritas pada 15 Oktober 2026, BBCA mencatat estimasi net foreign buy terbesar, yakni Rp104,89 miliar. Posisi berikutnya ditempati DSSA sebesar Rp47,74 miliar dan BBRI sebesar Rp43,37 miliar.
Di sisi penjualan, TLKM mencatat estimasi net foreign sell terbesar sebesar Rp34,93 miliar. GOTO berada di posisi kedua dengan Rp25,86 miliar, disusul ADRO sebesar Rp18,11 miliar.
Top 10 Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell — Sesi I
| No. | Net Foreign Buy | Nilai | Net Foreign Sell | Nilai |
|---|---|---|---|---|
| 1 | BBCA | Rp104,89 miliar | TLKM | Rp34,93 miliar |
| 2 | DSSA | Rp47,74 miliar | GOTO | Rp25,86 miliar |
| 3 | BBRI | Rp43,37 miliar | ADRO | Rp18,11 miliar |
| 4 | ACES | Rp14,19 miliar | BRPT | Rp16,16 miliar |
| 5 | PWON | Rp13,45 miliar | AADI | Rp14,57 miliar |
| 6 | VKTR | Rp13,35 miliar | TINS | Rp13,48 miliar |
| 7 | BNBR | Rp13,19 miliar | ITMG | Rp12,32 miliar |
| 8 | CUAN | Rp12,11 miliar | MEDC | Rp11,82 miliar |
| 9 | SQMI | Rp10,90 miliar | PTRO | Rp11,70 miliar |
| 10 | TPIA | Rp9,77 miliar | INCO | Rp10,32 miliar |
Sumber: Stockbit Sekuritas, Foreign Transaction Midday Data, 15 Oktober 2026. Nilai merupakan estimasi berdasarkan harga rata-rata sesi I dikalikan volume bersih asing. Cakupan: seluruh pasar (all market). Angka pada kolom penjualan menunjukkan besarnya nilai jual bersih.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa arus asing tidak bergerak dalam satu arah pada seluruh saham. Pembelian bersih masih terlihat pada BBCA dan BBRI, sementara penjualan bersih terjadi pada TLKM, GOTO, serta sejumlah saham energi dan pertambangan.
Namun, daftar ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investor asing sedang melakukan rotasi portofolio secara struktural. Data satu sesi hanya memperlihatkan posisi transaksi bersih pada periode tersebut, bukan tujuan investasi maupun keberlanjutan aliran dana.
Pada tingkat agregat, ringkasan Stockbit menampilkan net foreign sell sebesar −182,94M untuk seluruh pasar, atau Rp182,94 juta berdasarkan notasi satuan yang digunakan. Laporan IPOT X juga mencatat penjualan bersih sekitar Rp182,9 juta, sedangkan Katadata melaporkan Rp182,94 miliar. Perbedaan penulisan satuan antarsumber tersebut belum direkonsiliasi secara resmi.
Selain itu, nilai bersih per saham dalam laporan Stockbit merupakan estimasi menggunakan harga rata-rata sesi I dan volume bersih asing. Cakupannya adalah seluruh pasar, bukan hanya pasar reguler.
Perbedaan cakupan dan metode perhitungan penting karena foreign flow tidak sama dengan kontribusi saham terhadap perubahan IHSG. Pembelian atau penjualan bersih asing menunjukkan arah transaksi investor asing pada saham tertentu, sementara perubahan indeks ditentukan oleh pergerakan harga dan bobot saham penyusunnya.
Karena itu, keluasan saham yang melemah dan tekanan di seluruh sektor tetap menjadi bukti utama kondisi pasar hingga jeda sesi I. Arus dana asing melengkapi pembacaan tersebut, tetapi belum menetapkan penyebab dominan koreksi.
Sesi II Menentukan Apakah Tekanan Mulai Berkurang
Titik terendah sesi I di 5.804,21 menjadi salah satu referensi untuk menilai kelanjutan tekanan pasar. Level tersebut menggambarkan batas bawah pergerakan pada periode pengamatan, bukan kepastian arah harga berikutnya.
Apabila IHSG kembali melemah sementara mayoritas saham dan sektor tetap berada di zona merah, tekanan pasar yang luas masih berlangsung.
Sebaliknya, pergerakan IHSG menjauh dari titik terendah perlu disertai perbaikan jumlah saham yang menguat. Pemulihan indeks yang hanya ditopang sejumlah saham berbobot besar belum tentu mencerminkan perbaikan seluruh pasar.
Perubahan pergerakan rupiah, bursa regional, serta data transaksi asing pasar reguler juga menjadi bukti tambahan yang perlu diperhatikan.
Pada sesi II, ukuran utama perbaikan bukan sekadar kenaikan IHSG, melainkan apakah semakin banyak saham dan sektor mulai keluar dari tekanan.
Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.