Banyu Capital

IHSG Berbalik dari +1,15% dan Tutup di Low, Asing Net Sell Rp625 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Rebound pagi tidak bertahan hingga penutupan. IHSG berakhir di 6.436,85, tepat di titik terendah hariannya, sementara breadth berbalik negatif, LQ45 dan IDX30 melemah lebih dalam, dan asing mencatat net sell Rp624,72 miliar.

Dashboard Market Notes EOD 16 September 2026 yang menampilkan reversal IHSG dari kenaikan intraday menjadi penutupan di titik terendah, breadth negatif, dan tekanan foreign flow
IHSG berbalik dari high 6.535,46 dan ditutup di 6.436,85, tepat di titik terendah perdagangan 16 September 2026. Breadth memburuk, LQ45 dan IDX30 tertinggal, sementara asing mencatat net sell Rp624,72 miliar di All Market. Sumber: BEI, RTI Business, Stockbit Sekuritas, Bank Indonesia, dan CNBC Indonesia.

IHSG menutup perdagangan 16 September 2026 dengan membalik seluruh penguatan pagi. Setelah sempat mencapai 6.535,46 atau sekitar 1,15% di atas penutupan sebelumnya, indeks berakhir di 6.436,85, turun 24,30 poin atau 0,38% dan tepat di titik terendah hariannya.

Perjalanan intraday memberi informasi lebih banyak daripada perubahan -0,38% itu sendiri. IHSG kehilangan hampir 99 poin dari puncaknya, breadth berbalik negatif, LQ45 dan IDX30 turun lebih dalam, sementara net foreign sell bertambah pada Sesi II.

Pemulihan yang terlihat pada Sesi I akhirnya tidak bertahan hingga penutupan. Meski demikian, satu sesi belum cukup untuk memastikan bahwa pasar sudah memasuki tren turun baru.

IHSG Kehilangan Hampir 99 Poin dari Puncak Intraday

Sesi I sempat menunjukkan pemulihan setelah IHSG turun ke 6.445,24 pada awal perdagangan. Indeks kemudian naik hingga 6.535,46 dan masih berada di 6.484,10 atau +0,36% saat istirahat.

Arah berubah pada Sesi II. Dari posisi Midday, IHSG kehilangan sekitar 47 poin dan akhirnya berakhir di 6.436,85, yang sekaligus menjadi titik terendah hari itu.

Menjelang penutupan, dukungan yang terlihat pada pagi hari justru berbalik: breadth menjadi negatif, saham likuid tertinggal, dan tekanan jual asing bertambah.

Nilai transaksi seluruh pasar mencapai sekitar Rp12,26 triliun dengan volume sekitar 24,60 miliar unit dan frekuensi 1,85 juta kali.

Breadth Berbalik Negatif, LQ45 dan IDX30 Tertinggal

Pada Midday, 303 saham menguat dan 272 melemah. Pada akhir perdagangan, jumlah saham yang naik turun menjadi 201, sementara 439 saham melemah dan 151 tidak berubah.

Perubahan juga terlihat pada sektor. Tujuh dari 11 sektor masih positif saat Midday. Pada EOD, hanya Industrials yang naik 0,91% dan Consumer Non-Cyclicals yang menguat 0,11%.

Infrastructure turun 1,39%, Technology melemah 1,13%, dan Consumer Cyclicals turun 1,12%. Energy yang sempat naik 1,08% pada Midday berakhir turun 0,62%.

Indeks saham likuid memberikan sinyal yang serupa. LQ45 turun 0,58% dan IDX30 melemah 0,71%, lebih dalam daripada penurunan IHSG sebesar 0,38%.

Dengan demikian, tekanan pada penutupan tidak hanya terlihat pada indeks utama. Breadth, sektor, dan indeks likuid sama-sama lebih lemah dibanding Sesi I.

Net Foreign Sell Bertambah, tetapi Arus Tetap Selektif

Investor asing mencatat net foreign sell Rp624,72 miliar di All Market pada penutupan. Di pasar reguler, net sell mencapai Rp592,05 miliar.

Pada Midday, net foreign sell All Market masih sekitar Rp430,21 miliar. Penjualan bersih berarti bertambah sekitar Rp194,51 miliar selama Sesi II.

Berdasarkan estimasi Stockbit, Top 10 Net Foreign Buy pada 16 September 2026 adalah:

Saham Net Foreign Buy
BRMS Rp88,46 miliar
ANTM Rp49,87 miliar
SINI Rp39,12 miliar
INCO Rp28,69 miliar
MDKA Rp22,39 miliar
EMAS Rp20,20 miliar
PGAS Rp13,49 miliar
TPIA Rp9,30 miliar
AALI Rp8,19 miliar
AADI Rp7,74 miliar

Sementara itu, Top 10 Net Foreign Sell adalah:

Saham Net Foreign Sell
BMRI Rp238,37 miliar
BUMI Rp101,96 miliar
BBCA Rp66,83 miliar
ADRO Rp40,52 miliar
ITMG Rp27,63 miliar
AMMN Rp25,07 miliar
BBNI Rp24,18 miliar
ASII Rp22,62 miliar
BYAN Rp19,09 miliar
TLKM Rp18,20 miliar

Polanya belum menunjukkan rotasi asing yang bersih. Pembelian memang terkonsentrasi pada beberapa saham logam dan sumber daya, tetapi daftar penjualan mencakup bank besar, energi, telekomunikasi, otomotif, dan saham berkapitalisasi besar lainnya.

Yang lebih relevan untuk membaca indeks adalah posisi agregatnya: asing tetap mencatat penjualan bersih Rp624,72 miliar di All Market, dan tekanan tersebut bertambah sepanjang Sesi II.

BYAN Menahan Headline IHSG meski Masuk Net Foreign Sell

Kontribusi saham individual membantu menjelaskan mengapa penurunan IHSG hanya 0,38% meski breadth dan indeks likuid terlihat lebih lemah.

BYAN naik 11,27% dan menyumbang sekitar 18,74 poin terhadap IHSG. AMMN menambah sekitar 4,21 poin, sementara BBRI menyumbang sekitar 1,46 poin.

Di sisi lain, BBCA menekan indeks sekitar 6,62 poin, BMRI 6,53 poin, DCII 6,53 poin, TLKM 3,69 poin, dan BREN 2,32 poin.

Menariknya, BYAN tetap masuk dalam estimasi Top 10 net foreign sell. Kenaikan harga dan kontribusi positif terhadap indeks karena itu tidak otomatis berarti saham tersebut sedang mengalami pembelian bersih asing.

Besarnya kontribusi BYAN juga membuat headline IHSG terlihat lebih ringan dibanding pelemahan LQ45, IDX30, breadth, dan sejumlah saham besar lainnya.

Tekanan Domestik Belum Menjadi Risk-Off Lintas Aset

Sinyal lintas aset tidak sepenuhnya searah dengan pelemahan pasar saham.

JISDOR berada di Rp17.712 per dolar AS, dibanding Rp17.687 sehari sebelumnya. Rupiah berarti melemah sekitar 0,14% berdasarkan fixing Bank Indonesia.

Sebaliknya, yield SUN 10 tahun turun sekitar 1,5 basis poin menjadi 7,141%.

Sejumlah pasar utama Asia juga berada di zona positif pada 16 September, termasuk Shanghai, Hang Seng, Nikkei, dan KOSPI. Pelemahan IHSG karena itu belum cukup untuk dibaca sebagai bagian dari risk-off regional atau lintas aset yang seragam.

Arah sesi berikutnya lebih banyak bergantung pada apakah tekanan domestik ini bertahan pada harga indeks, breadth, saham likuid, dan arus asing.

Area 6.436 Menjadi Ujian Berikutnya

Area 6.436,85 kini menjadi referensi terdekat. Pemulihan mendapat bukti awal bila IHSG dapat kembali di atas 6.461 lalu 6.484, sementara LQ45 dan IDX30 membaik serta tekanan asing berkurang.

Sebaliknya, low baru di bawah 6.436,85 dengan breadth tetap negatif akan membuat reversal 16 September lebih sulit dianggap sekadar tekanan satu hari.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes