IHSG Rebound 0,87%, tetapi Asing Kembali Net Sell Rp238 Miliar
IHSG menutup perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, di zona hijau. Indeks naik 49,44 poin atau 0,87% ke 5.744,556. Secara permukaan, ini menunjukkan tekanan pasar mulai mereda.
Namun, rebound belum terkunci penuh. IHSG sempat menyentuh 5.806,715, tetapi ditutup kembali di bawah area 5.750. Pada saat yang sama, asing masih mencatat net sell Rp237,87 miliar di all market. Data BEI juga menunjukkan nilai transaksi saham sebesar Rp11,137 triliun, volume 19,308 miliar saham, dan frekuensi 1,496 juta kali.
Dengan demikian, pembacaan EOD lebih seimbang: pasar membaik secara harga dan sebaran saham naik-turun, tetapi belum mendapat dukungan penuh dari arus dana asing dan rupiah.
Rebound Bertahan, tetapi Tidak Terkunci Penuh
Data BEI menunjukkan IHSG bergerak dari posisi sebelumnya 5.695,116 ke penutupan 5.744,556. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.806,715 dan terendah 5.704,499.
Artinya, tekanan jual tidak cukup kuat untuk membawa IHSG kembali ke bawah penutupan sebelumnya. Namun, tenaga beli juga belum cukup untuk mengunci area atas intraday.
Dari sisi sebaran pasar, kondisi membaik. RTI Business mencatat 395 saham naik, 219 saham turun, dan 169 saham stagnan. Ini menunjukkan rebound tidak hanya bertumpu pada satu atau dua saham besar.
Namun, likuiditas belum kembali tebal. BEI mencatat rata-rata nilai transaksi harian YTD sebesar Rp23,957 triliun, sementara nilai transaksi saham 2 Juli berada di Rp11,137 triliun. Harga membaik, tetapi dukungan transaksi masih belum mendekati rata-rata tahun berjalan.
Dari Validasi Awal ke Uji Penutupan
Pada sesi 1, IHSG sempat naik 1,70% ke 5.792,167 dan bergerak di atas zona uji 5.700 sampai 5.750. Namun, sinyal itu masih awal karena net foreign buy asing baru Rp7,75 miliar.
Sampai EOD, sebagian kekuatan sesi 1 tidak bertahan. IHSG tetap hijau, tetapi ditutup di bawah 5.750 dan arus asing berbalik menjadi net sell. BEI mencatat asing masih net sell Rp237,87 miliar di all market pada 2 Juli 2026.
Ini membuat pembacaan pasar tetap campuran. Indeks membaik secara harga, tetapi belum mendapat dukungan penuh dari arus dana asing.
Sektor Menguat Cukup Luas
Penguatan sektor cukup luas. Dari 11 sektor, 9 sektor ditutup hijau. Industrials memimpin dengan kenaikan 2,97%, disusul Transportation & Logistic +2,22%, Basic Materials +2,16%, Consumer Cyclicals +1,78%, dan Properties & Real Estate +1,04%.
Sektor lain juga masih positif. Technology naik 0,81%, Financials naik 0,72%, Energy naik 0,13%, dan Infrastructure naik tipis 0,03%.
Hanya dua sektor yang melemah, yaitu Healthcare turun 0,47% dan Consumer Non-Cyclicals turun 0,32%.
Komposisi ini menunjukkan tekanan pasar memang mereda. Namun, kenaikan sektor tetap perlu dibaca hati-hati. Basic Materials menguat cukup besar, tetapi harga komoditas global tidak bergerak seragam. Karena itu, penguatan sektor lebih aman dibaca sebagai rotasi saham domestik, bukan konfirmasi penuh dari komoditas global.
Saham Likuid Jadi Penopang
Saham-saham likuid ikut menopang rebound. LQ45 naik 1,57%, IDX30 naik 1,56%, dan SRI-KEHATI naik 1,61%, lebih tinggi dari kenaikan IHSG.
Dari daftar top leaders BEI, BBCA menjadi penopang terbesar IHSG dengan kontribusi +17,69 poin. BMRI menyumbang +7,37 poin, BRPT +6,98 poin, VKTR +4,32 poin, BBRI +2,93 poin, ANTM +2,89 poin, BBNI +2,31 poin, UNTR +2,30 poin, BNBR +1,93 poin, dan TPIA +1,89 poin.
Di sisi lain, tekanan masih datang dari beberapa saham berkapitalisasi besar. MORA menjadi pemberat utama dengan kontribusi -6,45 poin terhadap IHSG. BREN menekan -4,26 poin, BYAN -1,63 poin, DSSA -1,29 poin, JPFA -0,83 poin, KLBF -0,83 poin, dan ASII -0,82 poin.
Artinya, saham besar memang membantu indeks, tetapi belum semuanya bergerak searah.
Asing Masih Net Sell
Bagian yang menahan kualitas rebound adalah foreign flow. BEI mencatat asing masih net sell Rp237,87 miliar di all market. Di regular market, data RTI Business dan Stockbit menunjukkan tekanan lebih besar, dengan net foreign sell Rp322,69 miliar.
Artinya, rebound harga belum diikuti pembalikan arus asing secara agregat.
Secara YTD, BEI mencatat asing masih net sell Rp74,42 triliun. Ini membuat arus asing tetap menjadi variabel penting untuk membaca kualitas rebound berikutnya.
Top 10 Net Foreign Buy
| Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|
| BBCA | Rp143,17 miliar |
| TPIA | Rp83,92 miliar |
| BMRI | Rp75,42 miliar |
| BRPT | Rp50,50 miliar |
| ANTM | Rp38,04 miliar |
| BBNI | Rp19,11 miliar |
| INDF | Rp17,99 miliar |
| UNTR | Rp17,85 miliar |
| WIFI | Rp13,39 miliar |
| MEDC | Rp10,17 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell
| Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|
| BBRI | Rp194,66 miliar |
| MAPI | Rp82,69 miliar |
| ASII | Rp75,70 miliar |
| BRMS | Rp44,05 miliar |
| DSSA | Rp33,54 miliar |
| AMRT | Rp25,35 miliar |
| RAJA | Rp22,14 miliar |
| JPFA | Rp20,49 miliar |
| BUMI | Rp19,36 miliar |
| EMAS | Rp19,08 miliar |
Kontras antara BBCA dan BBRI menjadi poin penting. BBCA menjadi penopang utama IHSG sekaligus saham dengan net foreign buy terbesar. Sebaliknya, BBRI masih menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, meskipun tetap memberi kontribusi positif ke IHSG.
Ini membuat pembacaan sektor perbankan belum sepenuhnya solid. Bank besar ikut menopang indeks, tetapi arah arus asing di dalam sektor masih campuran.
Rupiah Masih Menjadi Risiko
Dari sisi lintas aset, rupiah tetap menjadi variabel penting. JISDOR BI 2 Juli 2026 berada di Rp17.994 per dolar AS, melemah dari Rp17.961 pada 1 Juli 2026. Posisi ini membuat risiko kurs tetap dekat area psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Snapshot SUN 10Y dari CNBC Indonesia menunjukkan yield 7,153%, tetapi data tersebut tercatat pada pukul 08:29 WIB. Karena itu, angka ini lebih aman dipakai sebagai konteks harian, bukan posisi penutupan pasar obligasi.
Sinyal komoditas juga campuran. Brent, crude oil, dan nikel melemah, sementara emas, perak, dan tembaga menguat. Dengan latar ini, rebound IHSG lebih tepat dibaca sebagai perbaikan domestik yang masih perlu validasi arus dana, bukan kenaikan yang sudah mendapat dukungan penuh dari lintas aset.
Data yang Perlu Dipantau Besok
Untuk perdagangan berikutnya, area 5.750 tetap menjadi level penting. Jika IHSG mampu menutup perdagangan di atas area itu, validasi pemulihan akan membaik. Sebaliknya, jika indeks kembali turun ke bawah 5.700, penguatan 2 Juli berisiko hanya menjadi relief sementara.
Indikator berikutnya adalah foreign flow. Pasar akan terlihat lebih sehat jika asing mulai mencatat net buy di regular market, bukan hanya membeli selektif di beberapa saham besar.
Saham bank juga perlu dipantau. BBCA dan BMRI menjadi penopang utama indeks, tetapi tekanan asing di BBRI perlu mereda agar sektor Financials terlihat lebih solid.
Rupiah tetap menjadi filter risiko. Selama JISDOR masih dekat Rp18.000 per dolar AS, tekanan terhadap aset rupiah belum bisa diabaikan.
Rebound Perlu Konfirmasi Lanjutan
IHSG 2 Juli memberi sinyal bahwa tekanan pasar mulai mereda. Sebaran saham naik-turun membaik, 9 dari 11 sektor menguat, dan saham likuid seperti BBCA, BMRI, BRPT, serta ANTM ikut menopang indeks.
Namun, penguatan ini masih perlu diuji. IHSG gagal bertahan di atas 5.750, asing masih net sell, dan rupiah tetap dekat Rp18.000 per dolar AS.
Untuk H+1, fokusnya bukan sekadar apakah IHSG kembali hijau. Yang lebih penting adalah apakah indeks mampu mengunci level lebih tinggi dengan foreign flow yang membaik.
Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.