IHSG Rebound ke 5.792, tetapi Net Buy Asing Masih Tipis
IHSG memberi validasi awal rebound pada sesi 1 perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Indeks berada di 5.792,167, naik 97,051 poin atau 1,70%. Secara intraday, IHSG dibuka di 5.709,842, sempat menyentuh high 5.806,715, dan bertahan di atas low 5.704,499.
Kenaikan ini penting karena terjadi setelah perdagangan 1 Juli masih menyisakan pekerjaan rumah. Saat itu, IHSG memang memantul 0,92% ke 5.695,116, tetapi belum berhasil mengunci area 5.700 sampai penutupan. Asing juga masih mencatat net sell Rp577,68 miliar, sementara sektor Financials belum ikut pulih.
Pada sesi 1 hari ini, sebagian sinyal membaik. IHSG sudah bergerak di atas zona uji 5.700 sampai 5.750, jumlah saham naik jauh lebih banyak daripada saham turun, dan semua sektor berada di zona hijau. Namun, rebound ini belum bisa disebut konfirmasi penuh karena net foreign buy asing masih sangat tipis.
IHSG Melewati Area Uji pada Sesi 1
Data RTI Business menunjukkan nilai transaksi sesi 1 mencapai Rp6,493 triliun, dengan volume 13,084 miliar saham dan frekuensi 925.909 kali. Kapitalisasi pasar tercatat Rp10.170,987 triliun.
Dari sisi market breadth, kondisi pasar membaik cukup jelas. Ada 438 saham naik, 172 saham turun, dan 166 saham stagnan. Ini memberi sinyal bahwa kenaikan IHSG tidak hanya ditopang oleh satu atau dua saham besar.
Indeks likuid juga ikut menguat lebih besar daripada IHSG. LQ45 naik 2,48%, IDX30 naik 2,43%, dan SRI-KEHATI naik 2,33%. Artinya, saham besar dan likuid ikut menjadi bagian dari rebound sesi 1.
Namun, pembacaan tetap perlu hati-hati. Rebound sesi 1 belum sama dengan konfirmasi penutupan. Pada 1 Juli, IHSG juga sempat menembus 5.700 secara intraday, tetapi gagal bertahan sampai akhir perdagangan. Karena itu, area 5.750 dan 5.700 tetap menjadi batas penting untuk membaca kualitas sesi 2.
Semua Sektor Hijau, Basic-Industry Memimpin
Penguatan sesi 1 terlihat lebih merata karena seluruh sektor utama bergerak hijau.
Basic-Industry menjadi sektor terkuat dengan kenaikan 3,64%. Setelah itu, Industrial naik 3,17%, Transport menguat 3,14%, Cyclical naik 1,84%, Energy naik 1,26%, Property naik 1,24%, dan Infrastructure naik 1,16%.
Finance juga menguat 0,98%. Ini sinyal yang lebih baik dibanding 1 Juli, ketika Financials masih menjadi salah satu titik lemah. Namun, kenaikan Finance masih lebih rendah daripada IHSG. Artinya, sektor keuangan membaik, tetapi belum menjadi mesin utama rebound.
Technology naik 0,57%, Non-Cyclical naik 0,06%, dan Health naik 0,03%. Kenaikan kecil di dua sektor terakhir menunjukkan pasar memang hijau merata, tetapi tenaga utama masih datang dari Basic-Industry, Industrial, Transport, dan saham likuid.
Dengan struktur ini, tekanan pasar terlihat mereda. Tetapi kualitas rebound masih perlu diuji oleh arus asing dan kemampuan IHSG bertahan sampai penutupan.
Net Buy Asing Belum Menjadi Konfirmasi Kuat
Data Stockbit Sekuritas menunjukkan foreign buy All Market sebesar Rp2,57 triliun dan foreign sell Rp2,56 triliun. Hasilnya, asing mencatat net foreign buy hanya Rp7,75 miliar.
Secara arah, ini lebih baik dibanding penutupan 1 Juli yang masih mencatat net sell besar. Namun, secara skala, Rp7,75 miliar masih terlalu kecil untuk disebut sebagai dukungan arus asing yang kuat.
Ini poin penting. Pembaca perlu membedakan antara tekanan jual asing yang mereda dan asing yang benar-benar kembali membeli pasar secara luas. Data sesi 1 baru menunjukkan tekanan jual mereda. Validasi EOD masih perlu ditunggu.
Pola arus asing juga masih selektif. BBCA menjadi saham dengan net foreign buy terbesar, disusul BMRI, ANTM, BRPT, dan TPIA. Namun, BBRI masih menjadi pusat net foreign sell terbesar dengan nilai Rp175,54 miliar.
Artinya, sektor bank tidak bisa dibaca satu arah. BBCA dan BMRI dibeli asing, tetapi BBRI masih dijual besar. Sektor keuangan mulai membaik dari sisi harga, tetapi belum sepenuhnya mendapat validasi arus dana.
Top 10 Net Foreign Buy
| No | Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|---|
| 1 | BBCA | Rp125,92 miliar |
| 2 | BMRI | Rp74,31 miliar |
| 3 | ANTM | Rp54,80 miliar |
| 4 | BRPT | Rp39,70 miliar |
| 5 | TPIA | Rp36,38 miliar |
| 6 | BBNI | Rp18,21 miliar |
| 7 | UNTR | Rp10,34 miliar |
| 8 | FILM | Rp9,11 miliar |
| 9 | WIFI | Rp7,65 miliar |
| 10 | PTRO | Rp6,64 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell
| No | Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|---|
| 1 | BBRI | Rp175,54 miliar |
| 2 | MAPI | Rp35,30 miliar |
| 3 | DSSA | Rp32,63 miliar |
| 4 | ASII | Rp24,26 miliar |
| 5 | RAJA | Rp20,81 miliar |
| 6 | BRMS | Rp19,77 miliar |
| 7 | RATU | Rp15,40 miliar |
| 8 | CUAN | Rp14,90 miliar |
| 9 | JPFA | Rp10,38 miliar |
| 10 | BUVA | Rp9,73 miliar |
Rupiah Masih Jadi Risiko Lintas Aset
Dari sisi lintas aset, risiko rupiah masih perlu dipantau. Snapshot Stockbit menunjukkan USD/IDR berada di 17.987, naik 0,17%. Level ini dekat dengan area psikologis 18.000 per dolar AS.
Jika rupiah kembali melemah lebih jauh, minat asing terhadap aset rupiah berisiko tertahan. Ini penting karena net foreign buy sesi 1 masih sangat tipis. Dengan kata lain, arus asing belum cukup kuat untuk menetralkan risiko kurs.
Komoditas juga belum memberi dukungan yang seragam. Brent, crude oil, nickel, copper, tin, dan zinc melemah pada snapshot yang sama. CPO hanya naik tipis, sementara Newcastle coal relatif datar. Karena itu, penguatan Basic-Industry dan Energy pada sesi 1 lebih tepat dibaca sebagai rebound ekuitas domestik dan rotasi sektor, bukan validasi langsung dari harga komoditas global.
Yang Perlu Dibuktikan Sesi 2
Pesan utama sesi 1 cukup jelas: IHSG memberi validasi awal rebound, tetapi belum mengunci konfirmasi penuh.
Data harga, breadth, dan sektor membaik. IHSG sudah berada di atas 5.750, saham naik jauh lebih banyak dari saham turun, dan semua sektor hijau. Ini membuat pantulan hari ini lebih kuat dibanding 1 Juli.
Namun, arus asing belum cukup kuat. Net foreign buy baru Rp7,75 miliar, sementara BBRI masih menjadi saham dengan tekanan jual asing terbesar. Rupiah juga masih dekat area 18.000 per dolar AS.
Untuk sesi 2, ada empat indikator utama yang perlu dipantau. Pertama, IHSG perlu bertahan di atas 5.750. Kedua, foreign flow perlu tetap positif atau setidaknya tidak kembali menjadi net sell besar. Ketiga, tekanan jual asing di BBRI perlu mereda. Keempat, rupiah perlu tetap terkendali di sekitar area 18.000.
Jika indikator ini membaik bersama, rebound sesi 1 mendapat dasar yang lebih kuat. Jika tidak, kenaikan hari ini masih perlu dibaca sebagai validasi awal yang belum sepenuhnya teruji.
Sumber: RTI Business, Stockbit Sekuritas, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.