Banyu Capital

IHSG Kembali di Atas 6.000, Net Sell Asing Rp1,27 Triliun Terkonsentrasi di GOTO

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG bangkit dari low 5.979 dan ditutup naik 0,46%. Indeks saham likuid ikut menguat, tetapi breadth baru tipis positif dan tekanan asing belum hilang.

IHSG menutup perdagangan 2 Oktober 2026 di 6.036,89, naik 27,39 poin atau 0,46%. Indeks sempat turun ke 5.979,98 sebelum berbalik hingga menyentuh 6.053,24.

Sesi II mengubah karakter perdagangan. Tekanan yang membawa IHSG ke bawah 6.000 pada pagi hari tidak berlanjut hingga penutupan, sementara LQ45 dan IDX30 berakhir lebih kuat daripada indeks utama.

Namun satu hari belum cukup untuk menunjukkan bahwa area low sudah selesai diuji.

Dashboard Market Notes EOD BEI 2 Oktober 2026 yang menampilkan IHSG di 6.036,89, net sell asing Rp1,27 triliun, breadth pasar, dan sektor utama
IHSG kembali ditutup di atas 6.000 setelah sempat menyentuh 5.979,98. Penguatan indeks saham likuid dan tujuh sektor memperbaiki kondisi, tetapi breadth baru tipis positif. Net sell asing Rp1,27 triliun juga sangat terkonsentrasi di GOTO. Sumber: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, dan Bank Indonesia.

Net Sell Asing Besar, tetapi Sangat Terkonsentrasi

BEI mencatat net foreign sell All Market sebesar Rp1,27 triliun pada 2 Oktober.

Angka agregat tersebut perlu dibaca bersama distribusinya. GOTO mencatat net foreign sell sekitar Rp935,9 miliar, setara sekitar 73,5% dari net sell agregat All Market.

Angka 73,5% ini membandingkan saldo neto GOTO dengan saldo neto seluruh pasar, bukan dengan seluruh nilai penjualan kotor investor asing.

Secara aritmetis, setelah GOTO dikeluarkan, saldo neto saham lainnya masih sekitar minus Rp337 miliar. Tekanan asing karena itu belum hilang, tetapi distribusinya jauh lebih terkonsentrasi daripada kesan yang muncul dari angka agregat Rp1,27 triliun.

GOTO tetap naik 7,14% pada hari yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa arah harga dan arus asing tidak selalu bergerak searah dalam satu sesi.

Aktivitas GOTO juga sangat dominan. Berdasarkan statistik BEI, nilai transaksinya mencapai sekitar Rp2,75 triliun atau 22,43% dari nilai transaksi saham pada hari itu.

Top 10 Net Foreign Buy

Peringkat Saham Net Foreign Buy
1 BBCA Rp44,2 miliar
2 TGUK Rp40,6 miliar
3 EMAS Rp29,6 miliar
4 PTBA Rp29,1 miliar
5 ASII Rp18,1 miliar
6 ULTJ Rp16,1 miliar
7 DEWA Rp14,6 miliar
8 BUMI Rp13,3 miliar
9 SMGR Rp10,4 miliar
10 TINS Rp8,8 miliar

Top 10 Net Foreign Sell

Peringkat Saham Net Foreign Sell
1 GOTO Rp935,9 miliar
2 BBRI Rp171,4 miliar
3 SINI Rp85,4 miliar
4 BMRI Rp66,0 miliar
5 TLKM Rp30,5 miliar
6 MSIN Rp30,0 miliar
7 INET Rp28,8 miliar
8 AADI Rp21,9 miliar
9 CUAN Rp20,8 miliar
10 DSSA Rp16,2 miliar

Sumber: Stockbit Sekuritas, Foreign All Market, 2 Oktober 2026.

Daftar tersebut memperjelas ketimpangan distribusi arus asing. Nilai net sell GOTO jauh melampaui saham lain, sedangkan sisi net buy terbesar hanya mencapai Rp44,2 miliar pada BBCA.

Namun tekanan asing juga tidak berhenti di GOTO. BBRI dan BMRI masih berada di sisi net sell, sementara TLKM, INET, AADI, CUAN, dan DSSA turut mengalami arus keluar asing. Karena itu, konsentrasi di GOTO tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa tekanan asing pada pasar sudah selesai.

Di sisi lain, net buy pada BBCA, PTBA, ASII, ULTJ, DEWA, BUMI, SMGR, dan TINS menunjukkan bahwa aliran asing tidak bergerak satu arah pada seluruh saham.

Indeks Likuid Lebih Kuat, Breadth Masih Tipis

LQ45 ditutup naik 0,52% dan IDX30 0,77%, dibanding kenaikan IHSG 0,46%.

Penguatan indeks saham likuid memberi perbedaan penting dibanding kondisi ketika kenaikan IHSG hanya ditopang sebagian kecil saham. Namun distribusi kenaikan belum cukup kuat untuk disebut pemulihan pasar yang luas.

Saham berkapitalisasi besar tetap memberi dukungan material terhadap indeks. BBCA menjadi kontributor positif terbesar dengan sekitar +9,12 poin terhadap IHSG. DCII menyumbang +7,26 poin, ASII +4,87 poin, GOTO +3,70 poin, dan BRMS +3,34 poin.

Breadth juga membaik, meski belum meyakinkan. BEI mencatat 357 saham naik dan 332 turun, sementara 274 saham tidak berubah. Selisih antara saham naik dan turun hanya 25 saham.

Artinya, pembeli mulai kembali muncul, tetapi belum mendominasi pasar secara luas.

Tujuh Sektor Menguat, tetapi Pemulihan Belum Merata

Perbaikan juga terlihat pada level sektoral.

Technology memimpin dengan kenaikan 1,51%, diikuti Energy 1,12% dan Consumer Non-Cyclicals 0,67%. Basic Materials naik 0,47%, Property & Real Estate 0,39%, Healthcare 0,20%, dan Financials 0,19%.

Sebaliknya, Industrials turun 1,70%, Transportation & Logistics melemah 1,38%, dan Infrastructure turun 0,90%. Consumer Cyclicals juga masih sedikit negatif sebesar 0,07%.

Dengan tujuh dari sebelas sektor berakhir positif, tekanan pasar memang tidak lagi seluas sesi sebelumnya. Namun empat sektor masih tertinggal dan breadth saham individual baru tipis positif.

Kombinasi tersebut lebih konsisten dengan stabilisasi awal daripada penguatan pasar yang sudah terkonfirmasi luas.

Area 5.973 Menjadi Batas Pembuktian Berikutnya

Low 2 Oktober di 5.979,98 masih berada sedikit di atas low 1 Oktober sekitar 5.973,16. Jarak antara keduanya hanya sekitar 6,8 poin.

Artinya, IHSG berhasil menghindari low baru, tetapi ruang antara harga dan area terendah sebelumnya masih sangat tipis.

JISDOR menguat dari Rp17.937 pada 1 Oktober menjadi Rp17.898 per dolar AS pada 2 Oktober. Pada saat yang sama, yield SUN 10 tahun berada sekitar 7,159%.

Data tersebut ditempatkan sebagai konteks pemantauan, bukan sebagai bukti bahwa tekanan lintas aset sudah berakhir.

Area 5.973 sampai 5.980 karena itu menjadi batas pembuktian berikutnya. Jika area tersebut bertahan sementara breadth membaik, indeks saham likuid tetap kuat, dan tekanan asing tidak semakin menyebar, tanda stabilisasi akan memperoleh konfirmasi tambahan.

Sebaliknya, penembusan area low bersama breadth yang kembali negatif dan net sell asing yang meluas akan melemahkan pembacaan tersebut.

Penutupan 2 Oktober menunjukkan perbaikan setelah tekanan intraday. Namun bukti yang tersedia belum cukup untuk menyatakan proses pembentukan bottom telah selesai.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes