Banyu Capital

IHSG Kembali di Bawah 6.000, Net Sell Asing Rp1,17 Triliun Terkonsentrasi di GOTO

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG kembali di bawah 6.000 pada sesi I 2 Oktober 2026. Breadth masih negatif dan 10 dari 11 sektor melemah, tetapi low 1 Oktober belum ditembus. Sementara itu, net sell asing Rp1,17 triliun terlihat besar karena sebagian besar terkonsentrasi di GOTO.

Dashboard Market Notes Midday 2 Oktober 2026 yang merangkum IHSG, breadth pasar, sektor, dan foreign flow sesi pertama
IHSG berada di 5.990,20 pada akhir sesi I 2 Oktober 2026. Breadth masih negatif, tetapi low 1 Oktober belum ditembus. Net sell asing Rp1,17 triliun sangat dipengaruhi transaksi di GOTO. Sumber: Stockbit Sekuritas dan RTI Business.

IHSG kembali berada di bawah 6.000 pada sesi I Jumat, 2 Oktober 2026. Indeks turun 19,30 poin atau 0,32% ke 5.990,20 setelah sempat menguat hingga 6.044,26.

Struktur pasar masih lemah. Sebanyak 404 saham turun dan 10 dari 11 sektor berada di zona merah. Namun, beberapa ukuran tekanan belum memburuk dibanding 1 Oktober: titik terendah sebelumnya belum ditembus, breadth sedikit membaik, dan koreksi indeks saham likuid lebih kecil.

Di sisi lain, investor asing membukukan net sell Rp1,17 triliun di seluruh pasar. Angka tersebut terlihat jauh lebih besar daripada sehari sebelumnya, tetapi komposisinya sangat terkonsentrasi pada GOTO.

IHSG Gagal Bertahan di Atas 6.000, tetapi Belum Membuat Low Baru

IHSG dibuka di 6.018,08 dan sempat naik ke 6.044,26. Penguatan itu tidak bertahan. Menjelang jeda perdagangan, indeks berbalik ke 5.990,20.

Titik terendah sesi pertama berada di 5.979,98. Posisi tersebut masih sekitar tujuh poin di atas low 1 Oktober di 5.973,16.

Nilai transaksi All Market mencapai sekitar Rp6,39 triliun dengan volume 804,48 juta lot, setara sekitar 80,45 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sekitar 947,14 ribu kali.

Pada perdagangan sebelumnya, IHSG turun 1,02% dan sempat menyentuh 5.973,16 sebelum pulih sebagian menjelang penutupan. Pada sesi pertama hari ini, tekanan kembali muncul tetapi belum memperpanjang titik terendah tersebut.

Artinya, struktur harga masih lemah, tetapi belum ada konfirmasi bahwa penurunan telah memasuki kaki baru.

Breadth Masih Negatif, tetapi Sedikit Lebih Baik dari Sehari Sebelumnya

RTI Business mencatat 230 saham menguat, 404 melemah, dan 151 tidak berubah.

Jumlah saham turun masih jauh lebih banyak daripada saham naik. Meski demikian, angka tersebut sedikit membaik dari perdagangan 1 Oktober ketika 450 saham turun dan hanya 206 saham menguat.

Tekanan juga tersebar di hampir seluruh sektor. Dari 11 indeks sektoral, hanya energi yang menguat 0,30%.

Transportasi turun paling dalam sebesar 1,55%, disusul perindustrian 1,12%, infrastruktur 1,10%, bahan baku 0,71%, properti 0,57%, dan keuangan 0,54%.

Indeks saham likuid juga masih berada di zona merah. LQ45 dan IDX80 masing-masing turun 0,47%, KOMPAS100 melemah 0,53%, sedangkan IDX30 turun 0,26%.

Tekanannya tetap luas, tetapi magnitudonya lebih ringan daripada 1 Oktober ketika LQ45 melemah 1,46% dan IDX30 turun 1,41%.

Pasar belum menunjukkan pemulihan breadth. Namun, data sesi pertama juga belum memperlihatkan pelebaran tekanan dibanding sehari sebelumnya.

Net Sell Rp1,17 Triliun Perlu Dibaca Bersama Konsentrasi GOTO

Investor asing membukukan pembelian Rp1,70 triliun dan penjualan Rp2,87 triliun di seluruh pasar hingga akhir sesi pertama. Selisihnya menghasilkan net sell sekitar Rp1,17 triliun.

Angka tersebut sudah sekitar 4,8 kali net sell All Market sepanjang 1 Oktober sebesar Rp241,86 miliar. Periode keduanya berbeda karena angka hari ini baru mencakup sesi pertama, sedangkan pembanding 1 Oktober mencakup perdagangan sehari penuh.

Komposisi transaksi memberi konteks yang lebih penting.

GOTO mencatat net foreign sell Rp844,04 miliar. Besarnya setara sekitar 72% dari angka net sell agregat Rp1,17 triliun.

Rasio tersebut tidak berarti 72% seluruh penjualan bruto asing terjadi di GOTO. Nilai yang dibandingkan adalah nilai bersih, sehingga posisi net buy dan net sell antar-saham saling mengoffset pada tingkat pasar.

Secara aritmetika, setelah net sell GOTO dikeluarkan dari angka agregat yang telah dibulatkan, tersisa sekitar Rp326 miliar.

Tekanan asing di luar GOTO karena itu tetap ada, tetapi skalanya jauh lebih kecil daripada yang terlihat dari angka agregat Rp1,17 triliun.

Top 10 Net Foreign Buy/Sell Sesi I

No. Net Foreign Buy Nilai Net Foreign Sell Nilai
1 ASII Rp19,54 miliar GOTO Rp844,04 miliar
2 EMAS Rp16,58 miliar BBRI Rp93,66 miliar
3 PTBA Rp10,26 miliar BBCA Rp55,57 miliar
4 SMGR Rp6,22 miliar BMRI Rp47,16 miliar
5 GGRM Rp5,94 miliar TLKM Rp38,73 miliar
6 UNTR Rp5,36 miliar DSSA Rp38,37 miliar
7 PTRO Rp4,92 miliar SINI Rp38,15 miliar
8 INCO Rp3,76 miliar INET Rp25,70 miliar
9 PANI Rp3,68 miliar AMMN Rp10,40 miliar
10 ESSA Rp3,64 miliar BRMS Rp9,66 miliar

Daftar tersebut memperlihatkan ketimpangan yang jelas antara nilai terbesar di sisi beli dan jual. GOTO jauh mendominasi sisi net sell, sementara tekanan asing juga terlihat pada tiga bank besar, TLKM, DSSA, SINI, dan INET.

Namun, konsentrasi foreign sell di GOTO tidak otomatis berarti saham tersebut menjadi penyebab utama pelemahan IHSG. Data yang tersedia tidak merinci kontribusi poin indeks masing-masing saham pada snapshot sesi pertama.

Karena itu, foreign flow lebih tepat digunakan untuk membaca distribusi arus dana daripada sebagai penjelasan tunggal atas pergerakan indeks.

Rupiah Menguat pada Snapshot Intraday

USD/IDR berada di 17.870,40 atau turun 0,36% pada snapshot yang tersedia. Dalam kuotasi USD/IDR, pergerakan tersebut berarti rupiah menguat terhadap dolar AS.

Data itu belum cukup untuk menyatakan risiko makro telah membaik. Fungsinya lebih terbatas: pelemahan IHSG pada sesi pertama tidak berlangsung bersamaan dengan pelemahan rupiah pada snapshot tersebut.

Bukti utama untuk membaca sesi pertama karena itu tetap berasal dari struktur pasar domestik, yaitu harga indeks, breadth, kinerja saham likuid, sektor, dan penyebaran foreign flow.

Tiga Bukti yang Menentukan Sesi II

Referensi pertama adalah low 1 Oktober di 5.973,16. Jika level tersebut ditembus bersamaan dengan breadth yang kembali memburuk, pembacaan bahwa tekanan belum berakselerasi perlu direvisi.

Bukti kedua adalah partisipasi saham. Pemulihan indeks akan lebih kuat secara struktur jika jumlah saham yang menguat bertambah dan pelemahan tidak lagi mendominasi hampir seluruh sektor.

Bukti ketiga adalah penyebaran foreign flow. Jika penjualan asing semakin meluas dari GOTO ke bank besar dan saham likuid lain, tekanan asing akan menunjukkan karakter yang lebih luas. Jika konsentrasinya tetap tinggi di GOTO sementara saham lain mulai stabil, angka agregat Rp1,17 triliun perlu dibaca secara lebih proporsional.

Sampai sesi pertama berakhir, pasar masih lemah, tetapi belum memperbarui low 1 Oktober dan breadth sedikit membaik. Sementara itu, tekanan asing meningkat tajam secara agregat, tetapi sebagian besar terkonsentrasi pada GOTO.

Sesi II akan menentukan apakah perbedaan tersebut bertahan atau harga, breadth, saham likuid, dan foreign flow kembali memburuk secara bersamaan.

Sumber Data: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes