Banyu Capital

IHSG Turun 0,06% Setelah Pulih dari Level Terendah, Asing Net Sell Rp327 Miliar, Empat Bank Besar Catat Estimasi Net Buy Rp393 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG menutup perdagangan Rabu, 2 September 2026, di 6.595,78 atau turun tipis 0,06%. Angka tersebut terlihat hampir datar, tetapi pergerakan intraday jauh lebih lebar. Indeks sempat naik ke 6.629,54, jatuh hingga 6.561,00, kemudian pulih sekitar 34,77 poin dari posisi terendahnya.

Sesi II memperbaiki sebagian besar tekanan yang terlihat pada tengah hari. IHSG bangkit dari 6.561,00 ke 6.595,78, sementara breadth, IDX30, LQ45, dan jumlah sektor positif ikut membaik. Perbaikannya belum lengkap karena breadth tetap negatif dan pasar reguler akhirnya ditutup dengan net foreign sell.

Sehari sebelumnya, IHSG naik 1,14% dengan 407 saham menguat, sementara IDX30 dan LQ45 ikut memberikan konfirmasi. Karena itu, perdagangan 2 September menjadi ujian apakah penguatan tersebut memperoleh follow-through. Sampai Midday, dua dari tiga konfirmasi utama sudah melemah, sementara posisi foreign flow pasar reguler masih belum tersedia.

Dashboard perdagangan BEI EOD 2 September 2026 yang merangkum IHSG, breadth pasar, kinerja indeks likuid, sektor, dan foreign flow
IHSG menutup perdagangan 2 September 2026 turun 0,06% di 6.595,78 setelah sempat menyentuh 6.561,00. Breadth masih negatif dan asing mencatat net sell, meski empat bank besar tetap menerima estimasi pembelian bersih asing. Sumber: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, dan CNBC Indonesia.

IHSG Pulih dari 6.561, tetapi Kenaikan Pagi Tidak Bertahan

IHSG membuka perdagangan di 6.625,39 dan mencapai 6.629,54. Follow-through secara harga sempat muncul karena kedua level tersebut berada di atas penutupan 1 September.

Momentum itu berbalik cepat. Indeks turun hingga 6.561,00 sebelum pulih dan ditutup di 6.595,78. Penutupan berada sekitar 34,77 poin di atas posisi terendah, tetapi masih 29,62 poin di bawah pembukaan.

BEI mencatat nilai perdagangan saham sekitar Rp16,80 triliun dengan volume 63,13 miliar saham dan frekuensi sekitar 2,44 juta kali.

Pergerakan tersebut membuat penurunan 0,06% perlu dibaca dengan konteks. Pasar tidak berjalan datar sepanjang hari. Tekanan sempat cukup dalam sebelum terjadi pemulihan pada Sesi II.

Sesi II Memperbaiki Breadth dan Indeks Likuid, tetapi Belum Membalik Kondisi Internal

RTI Business mencatat 282 saham menguat, 321 melemah, dan 186 stagnan pada penutupan. Rasio saham naik terhadap saham turun sekitar 0,88 kali.

Posisi itu lebih baik daripada Midday, ketika 265 saham menguat dan 326 melemah dengan rasio sekitar 0,81 kali. Selama Sesi II, jumlah saham naik bertambah 17, sementara jumlah saham turun berkurang lima.

Perbaikan serupa terlihat pada indeks saham likuid. IDX30 yang turun 0,67% pada Midday akhirnya ditutup -0,33%, sedangkan LQ45 membaik dari -0,67% menjadi -0,39%. Meski begitu, keduanya masih tertinggal dari IHSG yang hanya turun 0,06%. IDX SMC Composite justru ditutup naik 0,32%.

Jumlah sektor positif juga bertambah dari empat menjadi lima. Technology memimpin dengan +3,74%, diikuti Financials +0,63%, Consumer Cyclicals +0,53%, Consumer Non-Cyclicals +0,37%, serta Transportation & Logistics +0,35%.

Enam sektor masih berada di zona negatif. Basic Materials turun 1,34%, Infrastructure 0,95%, Industrials 0,81%, Energy 0,63%, Properties & Real Estate 0,39%, dan Healthcare 0,23%.

Tekanan internal mereda selama Sesi II, tetapi belum berubah menjadi pemulihan yang luas.

Tekanan Foreign Flow Berkurang, tetapi Pasar Reguler Tetap Net Sell

BEI mencatat net foreign sell final sekitar Rp326,64 miliar pada 2 September.

Untuk membaca perubahan intraday dengan metodologi yang konsisten, data Stockbit menunjukkan All Market net sell sekitar Rp379,67 miliar pada Midday dan sekitar Rp326,61 miliar pada EOD. Tekanan jual bersih dengan demikian berkurang sekitar Rp53,06 miliar selama Sesi II.

Namun, indikator yang belum tersedia pada Midday akhirnya memberikan jawaban negatif. Pasar reguler ditutup dengan net foreign sell Rp235,16 miliar, sedangkan pasar tunai dan negosiasi mencatat sekitar Rp91,44 miliar.

Perbaikan foreign flow pada Sesi II belum cukup untuk mengembalikan posisi agregat maupun pasar reguler ke zona positif.

Asing Tetap Net Buy di Empat Bank Besar saat Pasar Secara Keseluruhan Net Sell

Distribusi foreign flow tetap sangat selektif. Ketika pasar secara keseluruhan mencatat net sell, BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI justru membukukan estimasi net buy gabungan sekitar Rp392,82 miliar. Pada Midday, estimasinya masih sekitar Rp263,66 miliar.

Saham Estimasi Net Foreign Buy
BBRI Rp155,28 miliar
BBCA Rp154,48 miliar
BMRI Rp55,50 miliar
SINI Rp52,55 miliar
TAPG Rp52,26 miliar
EMAS Rp43,55 miliar
KOTA Rp35,39 miliar
ERAA Rp30,91 miliar
ARCI Rp29,09 miliar
BBNI Rp27,56 miliar

Keempat bank besar tersebut pada saat yang sama menyumbang sekitar 12,34 poin terhadap IHSG. Data BEI mencatat BBCA memberikan sekitar +6,62 poin, BMRI +3,27 poin, BBRI +1,46 poin, dan BBNI +0,99 poin.

Kekuatan pada empat bank besar tidak berarti pembelian asing telah meluas ke pasar. Penjualan bersih tetap terlihat pada sejumlah saham besar lainnya.

Saham Estimasi Net Foreign Sell
TLKM Rp101,85 miliar
ADRO Rp89,99 miliar
ASII Rp63,72 miliar
PTRO Rp58,88 miliar
TINS Rp53,62 miliar
AMMN Rp53,57 miliar
BREN Rp51,70 miliar
BUMI Rp40,72 miliar
ADMR Rp33,72 miliar
DEWA Rp30,23 miliar

Angka per saham merupakan estimasi Stockbit Sekuritas dan digunakan untuk membaca distribusi foreign flow, bukan sebagai data final resmi BEI per emiten.

Penopang IHSG Terkonsentrasi pada Sejumlah Saham

DCII menjadi kontributor terbesar terhadap IHSG dengan sekitar +7,98 poin. BBCA menyusul +6,62 poin, BELI +6,01 poin, BMRI +3,27 poin, DSSA +2,57 poin, BBRI +1,46 poin, dan BBNI +0,99 poin.

Di sisi berlawanan, BYAN mengurangi sekitar 5,70 poin IHSG, AMMN 3,79 poin, ASII 3,26 poin, EMAS 2,79 poin, BREN 2,71 poin, ADRO 2,33 poin, dan TLKM 1,84 poin.

Komposisi tersebut menjelaskan mengapa IHSG dapat kembali mendekati penutupan sehari sebelumnya meskipun saham yang melemah masih lebih banyak. Penopang indeks terkonsentrasi pada beberapa saham besar, bukan berasal dari pemulihan pasar yang merata.

Rupiah dan Pasar Regional Belum Menambah Dukungan

JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.770 per dolar AS pada 2 September, dibanding Rp17.727 sehari sebelumnya. Rupiah dengan demikian melemah sekitar 0,24%.

Pada pasar obligasi, yield SUN 10 tahun berada di sekitar 7,229% pada snapshot sore.

Latar regional juga cenderung lemah. Data BEI sekitar pukul 16.00 WIB menunjukkan Nikkei turun 2,85%, KOSPI 3,99%, Taiwan 1,67%, dan Shanghai Composite 0,97%.

Kondisi eksternal tersebut menambah konteks risiko, tetapi tidak cukup menjelaskan seluruh pola perdagangan domestik. Financials dan Technology tetap menguat, sementara estimasi pembelian asing pada empat bank besar berlanjut.

Tiga Bukti yang Perlu Muncul Berikutnya

IHSG yang kembali positif pada 3 September belum cukup menjadi konfirmasi. Pembacaan akan lebih kuat jika breadth kembali positif, IDX30 dan LQ45 berhenti tertinggal, serta foreign flow pasar reguler membaik.

Jika ketiganya terjadi, pelemahan 2 September akan lebih konsisten dengan konsolidasi setelah kenaikan kuat sehari sebelumnya. Sebaliknya, jika breadth kembali memburuk, saham likuid tertinggal lebih dalam, dan penjualan asing mulai meluas ke bank besar, dukungan internal terhadap rebound akan kembali melemah.

Level 6.561 menjadi titik evaluasi terdekat. Area 6.535 sampai 6.525,48 yang dipantau sejak Midday juga belum diuji.

Dengan kondisi tersebut, pemulihan Sesi II lebih tepat dibaca sebagai perbaikan parsial, belum sebagai pemulihan penuh.

Sumber Data: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes