Banyu Capital

IHSG Melonjak 5,65%, tetapi Asing Masih Jual Bersih Rp2,19 Triliun

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Seluruh 11 sektor menguat, sementara IDX30 naik 8,92% dan LQ45 sebesar 8,58%. Saham bank besar menopang kenaikan indeks, tetapi investor asing masih mencatat penjualan bersih dalam jumlah besar.

Dashboard Banyu Capital Market Notes EOD 20 Oktober 2026. IHSG naik 5,65% ke 5.278,89, seluruh sektor menguat, IDX30 naik 8,92%, LQ45 naik 8,58%, dan investor asing mencatat net sell Rp2,19 triliun.
Dashboard perdagangan BEI, Selasa, 20 Oktober 2026. IHSG menguat 5,65% dengan dukungan seluruh sektor dan saham likuid, tetapi investor asing masih mencatat jual bersih Rp2,19 triliun. Sumber: Bursa Efek Indonesia dan Stockbit.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, di level 5.278,89, naik 282,28 poin atau 5,65%. Seluruh sektor berakhir positif, sementara indeks saham likuid mencatat kenaikan lebih tinggi daripada IHSG.

Di tengah penguatan tersebut, investor asing masih mencatat net sell sebesar Rp2,19 triliun di seluruh pasar saham, menurut statistik Bursa Efek Indonesia (BEI). Penjualan bersih terbesar justru terjadi pada saham bank-bank utama yang menjadi penopang kenaikan indeks.

Perdagangan ini menandai pemulihan harga setelah tekanan tajam pada 16 dan 19 Oktober menyusul pengumuman konsultasi MSCI. Namun, arah transaksi investor asing belum menunjukkan pembalikan yang sejalan dengan kenaikan harga.

IHSG Melanjutkan Kenaikan hingga Penutupan

IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 4.980,16, di bawah penutupan sebelumnya sebesar 4.996,61. Indeks kemudian berbalik menguat dan mencapai 5.204,63 pada akhir sesi pertama.

Penguatan berlanjut pada sesi kedua. IHSG bertambah 74,26 poin dari posisi tengah hari dan menutup perdagangan tepat di level tertinggi harian, 5.278,89.

Menurut BEI, nilai perdagangan saham di pasar reguler, tunai, dan negosiasi mencapai Rp26,47 triliun, dengan volume 54,85 miliar saham dan frekuensi sekitar 2,47 juta transaksi.

Penutupan di titik tertinggi harian menunjukkan bahwa kenaikan berlanjut hingga akhir perdagangan. Kendati demikian, IHSG masih sekitar 9,97% di bawah posisi penutupan 15 Oktober, sebelum dua sesi tekanan besar akibat kekhawatiran terhadap MSCI.

Kenaikan Meluas, Saham Likuid Mengungguli IHSG

Statistik BEI menunjukkan sebanyak 694 saham menguat, 111 melemah, dan 158 tidak berubah. Dari saham yang naik, 610 mencatat kenaikan lebih dari 2%.

Seluruh 11 indeks sektoral juga menguat. Transportasi memimpin dengan kenaikan 8,55%, diikuti barang baku sebesar 6,62% dan infrastruktur sebesar 5,60%. Sektor kesehatan mencatat penguatan paling kecil, yakni 2,25%.

Saham likuid turut memimpin pemulihan. IDX30 naik 8,92%, sedangkan LQ45 bertambah 8,58%. Keduanya melampaui kenaikan IHSG sebesar 5,65%.

Kombinasi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan harga menjangkau banyak saham, termasuk emiten berkapitalisasi besar. Pemulihan tidak hanya bergantung pada pergerakan segelintir saham yang memiliki bobot besar terhadap indeks.

Bank Besar Menopang Indeks, Asing Tetap Menjual

BBRI, BBCA, dan BMRI secara bersama-sama menyumbang 97,72 poin atau sekitar 34,6% dari kenaikan IHSG.

Menurut BEI, kontribusi BBRI mencapai 36,82 poin, BBCA sebesar 34,60 poin, dan BMRI sebesar 26,30 poin. Harga ketiganya menguat masing-masing 9,84%, 7,88%, dan 9,82%.

Namun, data transaksi investor menunjukkan arah yang berbeda. Di pasar reguler, investor asing mencatat net sell sekitar Rp966,1 miliar pada BBCA, Rp355,4 miliar pada BBRI, dan Rp269,8 miliar pada BMRI.

Pada ketiga saham tersebut, pembelian bersih domestik mengimbangi penjualan bersih asing. Harga tetap meningkat meskipun investor asing secara agregat menjadi penjual bersih. Kondisi ini memperlihatkan kemampuan permintaan domestik menyerap tekanan jual pada sesi tersebut, tetapi belum memastikan pola yang sama akan bertahan.

Top 10 Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell

Pasar reguler, 20 Oktober 2026. Nilai dalam miliar rupiah.

Net Foreign Buy Rp Miliar Net Foreign Sell Rp Miliar
TLKM 254,95 BBCA 966,10
TPIA 98,49 BBRI 355,39
GOTO 34,40 BMRI 269,82
PTRO 32,59 ISAT 125,65
DEWA 27,69 MDKA 117,82
BRPT 25,57 ICBP 107,38
UNTR 22,19 AADI 84,24
RAJA 19,75 TINS 68,61
EXCL 14,14 ADRO 63,44
CDIA 14,02 BRIS 62,30

Sumber: Stockbit, 20 Oktober 2026. Nilai pada kolom Net Foreign Sell ditampilkan sebagai besaran jual bersih untuk memudahkan perbandingan. Data per saham mencakup pasar reguler, sedangkan angka jual bersih asing Rp2,19 triliun pada pembukaan artikel mengacu pada seluruh pasar saham berdasarkan BEI.

TLKM menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar, sekitar Rp254,95 miliar, disusul TPIA sebesar Rp98,49 miliar.

Sebaliknya, BBCA, BBRI, dan BMRI masih mendominasi penjualan bersih asing. Aliran dana tersebut menunjukkan bahwa investor asing melakukan pembelian secara selektif, tetapi belum kembali menjadi pembeli bersih di pasar secara keseluruhan.

Respons BEI Belum Mengakhiri Ketidakpastian MSCI

Pemulihan harga terjadi ketika otoritas bursa mulai merespons kekhawatiran MSCI mengenai transparansi kepemilikan dan keterdagangan saham Indonesia.

Pada 15 Oktober 2026 waktu Amerika Serikat, MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi indeks Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Keputusan final dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027.

BEI kemudian mengumumkan rencana mengeluarkan 80 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Saham-saham tersebut memiliki bobot sekitar 18% terhadap indeks. Jadwal efektif penerapannya belum dirinci dalam pengumuman yang tersedia.

Langkah ini menjadi bagian dari respons terhadap persoalan konsentrasi kepemilikan. Namun, MSCI menekankan pentingnya pelaksanaan reformasi secara konsisten dan bukti perubahan yang berdampak nyata terhadap keterdagangan saham.

Dari sisi nilai tukar, JISDOR Bank Indonesia berada di Rp18.006 per dolar AS pada 20 Oktober, dibandingkan Rp18.050 sehari sebelumnya. Rupiah menguat berdasarkan kurs acuan tersebut, meskipun perkembangan satu hari belum cukup untuk menunjukkan perubahan kondisi risiko pasar secara menyeluruh.

Sesi Berikutnya Akan Menguji Ketahanan Rebound

Penguatan 20 Oktober mendapat dukungan dari kenaikan saham likuid, seluruh sektor yang positif, dan partisipasi pasar yang luas. Ujian berikutnya adalah apakah kondisi tersebut dapat bertahan ketika investor asing masih mencatat penjualan bersih.

Pada perdagangan berikutnya, indikator penting meliputi arah LQ45 dan IDX30, jumlah saham yang menguat, serta perubahan foreign flow pada BBCA, BBRI, dan BMRI.

Penjualan bersih asing yang menyusut, disertai kelanjutan penguatan saham likuid, akan memperkuat pemulihan. Sebaliknya, jika bank-bank besar kembali melemah, jumlah saham turun mendominasi, dan net sell asing tetap besar, kenaikan 20 Oktober berisiko kehilangan momentumnya.

Kenaikan harga telah terjadi. Bukti berikutnya harus datang dari ketahanan permintaan, partisipasi saham likuid, dan perubahan arah arus modal asing.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes