IHSG Turun 0,88% dan Tutup Dekat Low, Breadth Berbalik Negatif saat Asing Net Sell Rp510 Miliar
Stabilisasi yang terlihat pada Sesi I tidak bertahan sampai penutupan. Net breadth berubah dari +38 menjadi -74 saham, delapan sektor melemah, dan IDX SMC Composite masuk zona merah. Namun, BYAN, BBCA, TLKM, dan BMRI masih menyumbang sekitar separuh penurunan IHSG, sehingga tekanan belum sepenuhnya merata.
IHSG menutup perdagangan Senin, 21 September 2026 di 6.384,73, turun 56,43 poin atau 0,88%. Indeks sempat mencapai 6.451,33 sebelum turun ke 6.381,57 dan berakhir hanya 3,16 poin di atas titik terendah hariannya.
Perubahan paling penting justru terjadi setelah jeda perdagangan. Pada Midday, IHSG masih berada di 6.423,51 atau turun 0,27%, dengan 329 saham naik dan 291 turun. Pada penutupan, saham yang menguat berkurang menjadi 280, sementara 354 saham melemah.
Sesi II Membalik Pembacaan Midday
Posisi penutupan IHSG hanya sekitar 4,5% di atas low jika diukur terhadap keseluruhan rentang perdagangan hari itu. Pemulihan setelah tekanan pagi tidak mampu bertahan dan IHSG kembali mendekati titik terendah menjelang penutupan.
Perubahan ini membuat pembacaan EOD berbeda dari kondisi Midday. Pada Sesi I, low baru IHSG belum disertai pelemahan internal pasar yang luas. Menjelang penutupan, sebagian penyangga tersebut ikut melemah.
Penutupan dekat low menunjukkan tekanan kembali menguat pada Sesi II. Konfirmasi tren turun baru tetap membutuhkan bukti pada perdagangan berikutnya.
Breadth, Sektor, dan Small-Mid Caps Ikut Melemah
Perubahan breadth menjadi salah satu pembeda utama antara Midday dan EOD. Net breadth berubah dari +38 saham pada Sesi I menjadi -74 saham saat penutupan, atau bergeser 112 saham secara bersih.
Perubahan juga terlihat pada saham berkapitalisasi kecil-menengah. IDX SMC Composite yang masih naik 0,26% pada Midday berakhir turun 0,31%. IDX30 melemah 0,95% dan LQ45 turun 0,93%, sedikit lebih dalam daripada IHSG.
Delapan dari sebelas sektor BEI ditutup negatif. Infrastructure melemah paling dalam sebesar 1,38%, disusul Non-Cyclicals 0,94% dan Energy 0,93%. Transportation & Logistics masih naik 0,55%, Healthcare menguat 0,21%, sementara Property tidak berubah.
Perubahan ini menunjukkan pelemahan sudah menjangkau lebih banyak bagian pasar dibanding kondisi Midday.
Separuh Penurunan IHSG Masih Berasal dari Empat Saham Besar
Meski tekanan melebar pada Sesi II, distribusinya tetap terkonsentrasi pada sejumlah saham besar.
BYAN menjadi penekan terbesar IHSG dengan kontribusi sekitar -11,41 poin, diikuti BBCA -6,62 poin, TLKM -5,54 poin, dan BMRI -4,90 poin. Gabungan keempat saham tersebut menekan IHSG sekitar 28,47 poin.
Angka itu setara sekitar 50,4% dari total penurunan IHSG sebesar 56,43 poin.
Konsentrasi tersebut menjadi batas penting dalam membaca perdagangan 21 September. Internal pasar memang lebih lemah dibanding Midday, tetapi saham berkapitalisasi besar tetap memainkan peran besar dalam menentukan besarnya penurunan indeks.
Asing Net Sell Rp510 Miliar
Bursa Efek Indonesia mencatat investor asing membukukan net sell sekitar Rp510,06 miliar. Pada Midday, net sell All Market masih sekitar Rp216,24 miliar. Dengan demikian, penjualan bersih asing bertambah hampir Rp294 miliar selama Sesi II.
Di pasar reguler, data platform mencatat net sell sekitar Rp503,12 miliar.
Estimasi Stockbit Sekuritas menunjukkan penjualan asing terbesar terjadi pada BMRI, ANTM, BBCA, dan TLKM. Angka per saham berikut merupakan estimasi platform, bukan statistik resmi BEI.
Top 10 Net Foreign Buy
| Saham | Estimasi Net Buy |
|---|---|
| TINS | Rp50,02 miliar |
| PTRO | Rp37,90 miliar |
| COIN | Rp31,19 miliar |
| CUAN | Rp29,42 miliar |
| BBRI | Rp23,11 miliar |
| AADI | Rp22,72 miliar |
| DSSA | Rp22,61 miliar |
| TPIA | Rp21,51 miliar |
| TAPG | Rp20,91 miliar |
| BULL | Rp16,85 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell
| Saham | Estimasi Net Sell |
|---|---|
| BMRI | Rp140,61 miliar |
| ANTM | Rp139,93 miliar |
| BBCA | Rp131,34 miliar |
| TLKM | Rp114,62 miliar |
| MDKA | Rp32,42 miliar |
| ASII | Rp26,38 miliar |
| CPIN | Rp25,81 miliar |
| ADRO | Rp22,32 miliar |
| BBNI | Rp21,98 miliar |
| AMMN | Rp18,47 miliar |
JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.813 per dolar AS, melemah sekitar 0,38% dari Rp17.745 pada Jumat. Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan net sell asing di pasar saham. Data 21 September belum menunjukkan apakah kedua pergerakan tersebut memiliki hubungan langsung.
Snapshot pukul 13:39 WIB menunjukkan yield SUN 10 tahun di 7,12%, turun sekitar 3,7 basis poin. Karena data tersebut bukan angka penutupan, pergerakan SUN digunakan sebagai konteks intraday, bukan konfirmasi kondisi EOD.
Breadth dan Foreign Flow Menjadi Ujian Berikutnya
Kekuatan sinyal negatif dari penutupan 21 September sekarang bergantung pada apakah pelemahan internal bertahan pada perdagangan berikutnya.
Konfirmasi tambahan akan muncul jika breadth kembali negatif, IDX30 dan LQ45 tetap tertinggal, sektor negatif tetap dominan, dan asing kembali mencatat net sell. Sebaliknya, pemulihan breadth, penguatan sektor yang lebih luas, stabilisasi saham likuid, serta perbaikan foreign flow akan mengurangi bobot sinyal negatif dari penutupan hari ini.
Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.