Banyu Capital

IHSG Pulih ke 6.334, tetapi Asing Net Sell Rp920 Miliar dan Saham Likuid Tertinggal

IHSG menutup perdagangan Rabu, 22 Juli 2026, dengan penurunan tipis 0,09% setelah sempat menyentuh 6.284,88. Namun, 340 saham masih melemah, IDX30 dan LQ45 turun lebih dalam, nilai transaksi berada di bawah rata-rata YTD, serta asing tetap mencatat net foreign sell Rp920,23 miliar.

Sehari setelah naik 1,74%, IHSG sempat melanjutkan penguatan hingga 6.394,69. Kenaikan tersebut tidak bertahan. Indeks turun menembus 6.300 sebelum memangkas sebagian tekanan dan kembali ditutup di 6.334,48.

Penutupan ini lebih tepat dibaca sebagai perbaikan intraday daripada konfirmasi lanjutan rebound. Level indeks memang membaik dari titik terendah, tetapi breadth, saham likuid, nilai transaksi, dan arus asing belum bergerak searah.

Dashboard Market Notes EOD 22 Juli 2026 yang menampilkan IHSG 6.334,48, net foreign sell Rp920,23 miliar, breadth negatif, serta ketertinggalan IDX30 dan LQ45
IHSG pulih 49,59 poin dari titik terendah dan menutup perdagangan di 6.334,48. Namun, jumlah saham turun masih lebih banyak, indeks saham likuid tertinggal, dan asing tetap mencatat penjualan bersih. Sumber data: Bursa Efek Indonesia, Stockbit Sekuritas, dan RTI Business, 22 Juli 2026.

IHSG Pulih Hampir 50 Poin dari Titik Terendah, tetapi Belum Merebut 6.340

IHSG dibuka di 6.366,01 dan sempat naik ke 6.394,69 sebelum turun hingga 6.284,88. Rentang perdagangan mencapai 109,80 poin, mencerminkan pergerakan intraday yang lebar setelah kenaikan tajam sehari sebelumnya.

Pada akhir sesi pertama, IHSG berada di 6.315,55 atau turun 0,39%. Indeks kemudian bertambah sekitar 18,93 poin pada sesi kedua dan menutup perdagangan di 6.334,48.

Dibandingkan titik terendah, IHSG pulih 49,59 poin. Namun, indeks tetap berakhir 5,54 poin di bawah penutupan sebelumnya dan belum merebut kembali 6.340.

Dengan demikian, kata “pulih” dalam perdagangan ini merujuk pada perbaikan dari titik terendah dan posisi sesi pertama, bukan pembalikan menjadi kenaikan harian.

Tujuh Sektor Menguat, tetapi Saham Turun Masih Lebih Banyak

Kondisi pasar membaik dibandingkan sesi pertama. Jumlah saham naik bertambah dari 238 menjadi 272, sedangkan saham turun berkurang dari 366 menjadi 340.

Rasio saham naik terhadap turun meningkat dari sekitar 0,65 menjadi 0,80. Meski membaik, rasio tersebut masih berada di bawah satu. Artinya, jumlah saham turun tetap lebih banyak daripada saham naik.

Jumlah sektor yang menguat juga bertambah dari empat pada sesi pertama menjadi tujuh saat penutupan. Teknologi memimpin dengan kenaikan 1,58%, disusul barang konsumsi primer 0,78%, properti 0,68%, industri 0,63%, barang konsumsi nonprimer 0,47%, energi 0,22%, dan keuangan 0,18%.

Transportasi dan logistik turun 1,73%, kesehatan melemah 1,09%, infrastruktur turun 0,46%, dan bahan baku terkoreksi 0,26%.

Perluasan sektor penguat menunjukkan bahwa perbaikan sesi kedua terjadi pada beberapa kelompok industri. Namun, jumlah sektor yang naik tidak otomatis membuat breadth positif. Pergerakan beberapa saham berkapitalisasi besar dapat mengangkat indeks sektor meskipun jumlah saham yang melemah masih dominan.

Saham Likuid Tertinggal ketika BREN dan CASA Menahan IHSG

Tekanan lebih besar terlihat pada kelompok saham likuid. IDX30 turun 0,58%, LQ45 melemah 0,64%, dan IDX80 turun 0,54%, lebih dalam dibandingkan IHSG yang hanya turun 0,09%.

Sebaliknya, IDX Small-Mid Cap Composite naik 0,29%, IDX Small-Mid Cap Liquid menguat 0,42%, dan indeks Development Board bertambah 1,45%.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perbaikan pasar belum merata berdasarkan kapitalisasi dan tingkat likuiditas saham.

BREN menjadi penopang terbesar IHSG dengan kontribusi 8,12 poin. CASA menambah 5,48 poin, sedangkan VKTR menyumbang 4,92 poin. Ketiganya secara gabungan memberi sekitar 18,52 poin kepada indeks.

Di sisi lain, BBRI mengurangi 7,30 poin, AMMN menekan 5,90 poin, BMRI mengurangi 4,90 poin, dan TLKM menjadi pemberat sebesar 4,61 poin. Keempat saham tersebut secara gabungan mengurangi sekitar 22,71 poin IHSG.

Tarik-menarik antara beberapa penopang dan tekanan pada bank serta saham berkapitalisasi besar menjelaskan mengapa IHSG dapat ditutup nyaris datar, sementara IDX30 dan LQ45 tetap melemah lebih dalam.

Stabilitas level IHSG karena itu belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan pada kelompok saham likuid dan berkapitalisasi besar.

Volume Ramai, tetapi Nilai Transaksi dan Arus Asing Belum Mengonfirmasi Rebound

Nilai transaksi saham mencapai Rp18,52 triliun, sekitar 18,8% di bawah rata-rata harian YTD sebesar Rp22,81 triliun.

Volume perdagangan mencapai 44,63 miliar saham, sekitar 12,4% di atas rata-rata YTD. Frekuensi transaksi juga mencapai 2,70 juta kali, sekitar 5,5% lebih tinggi daripada rata-rata tahun berjalan.

Artinya, aktivitas perdagangan ramai berdasarkan jumlah saham dan frekuensi, tetapi belum disertai nilai dana yang setara dengan rata-rata harian YTD. Kondisi tersebut tidak cukup untuk membuktikan adanya akumulasi luas.

Arus asing tetap menjadi titik lemah. Bursa Efek Indonesia mencatat net foreign sell Rp920,23 miliar.

Berdasarkan data Stockbit, penjualan bersih di pasar reguler mencapai sekitar Rp1,11 triliun. Pembelian bersih di pasar tunai dan negosiasi mengurangi nilai penjualan bersih pada perhitungan All Market.

Dibandingkan posisi sesi pertama sebesar Rp943,75 miliar, net foreign sell All Market hanya menyempit sekitar Rp23,52 miliar. Perubahan tersebut belum cukup untuk disebut sebagai pembalikan arus dana.

Berdasarkan estimasi Stockbit, net foreign buy terbesar terlihat pada TINS, ANTM, BNBR, VKTR, dan BUMI. Sementara itu, net foreign sell terbesar terlihat pada DSSA, BBRI, ASII, AMMN, dan TPIA.

Tekanan asing pada sejumlah saham berkapitalisasi besar selaras dengan lemahnya IDX30 dan LQ45. Namun, angka per saham tersebut merupakan estimasi platform dan perlu dibedakan dari statistik agregat resmi BEI.

6.340, Breadth, dan Arus Asing Menjadi Uji Berikutnya

Perdagangan 22 Juli menunjukkan bahwa tekanan sesi pertama tidak berkembang menjadi koreksi tajam. IHSG kembali ke atas 6.300, breadth membaik, dan tujuh sektor menguat.

Namun, konfirmasi rebound masih membutuhkan beberapa bukti. IHSG perlu merebut kembali 6.340 dan kemudian menguji titik tertinggi 6.394,69. Jumlah saham naik juga perlu melampaui saham turun, sementara IDX30 dan LQ45 perlu berhenti tertinggal.

Dukungan berikutnya perlu datang dari nilai transaksi yang kembali mendekati rata-rata YTD serta perubahan arus asing dari net sell menjadi net buy di pasar reguler, terutama pada saham likuid dan berkapitalisasi besar.

Sebaliknya, kegagalan mempertahankan 6.300 akan membuka risiko pengujian kembali 6.284,88. Jika titik tersebut ditembus bersamaan dengan breadth yang memburuk dan penjualan asing yang tetap besar, perbaikan sesi kedua lebih tepat dibaca sebagai pantulan intraday.

Penutupan 22 Juli belum membuktikan bahwa rebound telah berakhir. Namun, data juga belum cukup untuk menyatakan bahwa rebound kembali kuat.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes