Banyu Capital

IHSG Naik 1,12%, 10 Sektor Menguat; Asing Jual Rp1,49 Triliun

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG menutup perdagangan di 5.387,91 setelah kenaikannya berkurang dari 1,70% pada sesi I menjadi 1,12% di akhir hari. Mayoritas sektor dan saham likuid menguat, sementara investor asing mencatat jual bersih Rp1,49 triliun.

Dashboard Market Notes EOD Banyu Capital 22 Oktober 2026. IHSG menguat 1,12% ke 5.387,905, sebanyak 10 dari 11 sektor naik, sementara investor asing mencatat jual bersih Rp1,49 triliun di seluruh pasar.
Dashboard Market Notes EOD, 22 Oktober 2026. IHSG naik 1,12% ke 5.387,91 dengan dukungan 10 sektor dan saham likuid, tetapi investor asing masih mencatat jual bersih Rp1,49 triliun di seluruh pasar saham. Sumber: Bursa Efek Indonesia, Stockbit Sekuritas, dan RTI Business.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, menguat 59,545 poin atau 1,12% ke posisi 5.387,905. Sebanyak 10 dari 11 sektor BEI berakhir positif, sementara LQ45 dan IDX30 mencatat kenaikan lebih besar daripada indeks utama.

Rebound bertahan setelah IHSG sempat turun tajam pada awal perdagangan. Namun, sebagian kenaikan yang terbentuk hingga sesi pertama berkurang menjelang penutupan. Sejumlah sektor kehilangan momentum, bahkan teknologi berbalik melemah.

Investor asing juga mencatat jual bersih (net sell) Rp1,49 triliun di seluruh pasar.

Penguatan IHSG mendapat dukungan luas dari sektor dan saham likuid. Meski demikian, penjualan bersih asing masih menjadi tekanan yang perlu diperhatikan. Keberlanjutan rebound akan bergantung pada kemampuan pasar mempertahankan penguatan tersebut dalam perdagangan berikutnya.

Rebound Bertahan, tetapi Kenaikan Sesi I Berkurang

IHSG bergerak dalam rentang lebar sepanjang perdagangan. Indeks dibuka di 5.247,979, turun hingga 5.185,527, kemudian berbalik menguat dan mencapai titik tertinggi 5.422,587.

Pada akhir sesi pertama, IHSG berada di 5.418,998 atau naik sekitar 1,70%. Penguatan tersebut berkurang menjadi 1,12% ketika perdagangan ditutup di 5.387,905.

IHSG kehilangan sekitar 31,09 poin dari posisi akhir sesi pertama, tetapi penutupannya masih berada sekitar 34,68 poin di bawah puncak harian.

Posisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan pada sesi kedua belum menghapus pemulihan harga yang terbentuk setelah penurunan tajam pada awal perdagangan.

Nilai transaksi saham di seluruh pasar mencapai Rp16,185 triliun, dengan volume 36,575 miliar saham dan frekuensi sekitar 2,08 juta kali, berdasarkan IDX Daily Statistics. Angka tersebut mencakup perdagangan saham di pasar reguler, tunai, dan negosiasi.

Kenaikan harian ini juga belum menghapus tekanan dalam periode yang lebih panjang. Data RTI Business menunjukkan IHSG masih turun 8,12% dalam lima hari perdagangan, sedangkan BEI mencatat penurunan sebesar 37,69% sejak awal tahun.

Sepuluh Sektor Menguat, tetapi Momentum Sesi II Tidak Merata

Sektor energi memimpin kenaikan dengan penguatan 1,88%, diikuti transportasi dan logistik sebesar 1,64%, infrastruktur 1,28%, serta keuangan 1,25%.

Teknologi menjadi satu-satunya sektor yang melemah, turun 0,66%.

Perbandingan dengan sesi pertama memperlihatkan perubahan momentum yang cukup jelas.

Pada sesi I, seluruh 11 sektor masih menguat. Energi naik 3,24%, transportasi dan logistik 2,60%, serta bahan baku 2,27%. Ketiganya kemudian ditutup dengan kenaikan lebih kecil, masing-masing 1,88%, 1,64%, dan 0,94%.

Teknologi berbalik dari penguatan 1,06% pada sesi pertama menjadi penurunan 0,66% saat penutupan. Sebaliknya, sektor keuangan justru memperbesar kenaikannya dari 0,87% menjadi 1,25%.

Penyusutan kenaikan IHSG dengan demikian tidak terjadi secara seragam. Sektor keuangan mempertahankan momentum lebih baik ketika sejumlah sektor lain mulai kehilangan sebagian penguatannya.

Secara keseluruhan, statistik BEI mencatat 489 saham menguat, 216 melemah, dan 258 tidak berubah dari 963 saham tercatat.

Indeks saham likuid juga mengungguli IHSG. LQ45 menguat 1,64%, IDX30 naik 1,45%, sedangkan IDX BUMN20 mencatat kenaikan lebih besar, yakni 3,41%.

Dukungan saham berkapitalisasi besar terlihat pada kontribusi terhadap indeks. BBRI menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan 13,25 poin, disusul BMRI sebesar 11,96 poin, AMMN 8,00 poin, TLKM 7,37 poin, dan BREN 6,21 poin.

Sebaliknya, BBCA menekan IHSG sebesar 9,11 poin, diikuti ASII sebesar 4,46 poin dan MORA 3,83 poin.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penguatan IHSG tidak berarti seluruh saham berkapitalisasi besar bergerak searah. Bahkan di sektor perbankan, arah harga dan arus dana memperlihatkan kondisi yang berbeda.

Asing Jual Bersih Rp1,49 Triliun, Sejumlah Saham Besar Tetap Menguat

Investor asing membukukan jual bersih Rp1.486,59 miliar di seluruh pasar saham pada 22 Oktober 2026, menurut BEI.

Di pasar reguler, RTI Business mencatat jual bersih sekitar Rp1,47 triliun. Perbedaan kedua angka berasal dari cakupan transaksi pasar negosiasi dan tunai.

Penjualan bersih asing terbesar terjadi pada BBCA, TLKM, dan BBRI. Namun, harga ketiga saham tidak bergerak seragam.

BBCA melemah 1,90% dengan jual bersih asing sekitar Rp624,6 miliar. Sebaliknya, BBRI tetap naik 3,20% meskipun mencatat jual bersih asing Rp257,9 miliar. TLKM juga menguat 3,77% di tengah jual bersih asing Rp332,2 miliar.

BMRI menunjukkan pola berbeda. Saham ini naik 4,05% sekaligus mencatat pembelian bersih asing Rp152,3 miliar.

Perbedaan tersebut penting karena arus dana bersih dan perubahan harga mengukur dua hal yang tidak identik. Penjualan bersih investor asing menunjukkan arah transaksi suatu kelompok investor, sedangkan perubahan harga terbentuk dari interaksi seluruh permintaan dan penawaran di pasar.

Karena itu, kenaikan harga di tengah penjualan asing tidak dapat langsung diartikan sebagai akumulasi yang berkelanjutan. Respons harga pada perdagangan berikutnya tetap diperlukan untuk menilai apakah permintaan mampu bertahan.

Top 10 Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell

22 Oktober 2026 | Seluruh pasar | Rp miliar

No. Net Foreign Buy Nilai Net Foreign Sell Nilai
1 BMRI 152,3 BBCA 624,6
2 DMAS 52,5 TLKM 332,2
3 AMMN 51,3 BBRI 257,9
4 GOTO 43,0 BRIS 82,1
5 SINI 22,9 ASII 77,7
6 MDKA 19,0 BBNI 75,5
7 MEDC 17,6 TINS 43,8
8 ARKO 14,8 BRMS 40,8
9 PTRO 14,6 ANTM 34,7
10 SQMI 12,9 PTBA 31,2

Sumber: Stockbit Sekuritas, 22 Oktober 2026. Nilai merupakan pembelian atau penjualan bersih investor asing pada seluruh pasar, dibulatkan ke satu angka desimal. Daftar disusun berdasarkan peringkat masing-masing sisi transaksi.

Tekanan asing terlihat cukup besar pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama BBCA, TLKM, dan BBRI. Di sisi lain, BMRI, DMAS, dan AMMN masih mencatat pembelian bersih asing.

Pola tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan sektor keuangan belum disertai pembelian bersih asing yang merata pada seluruh saham bank utama.

IHSG Menguat Ketika Rupiah dan Bursa Asia Tertekan

Penguatan IHSG berlangsung di tengah pelemahan sejumlah pasar saham utama Asia.

Berdasarkan statistik BEI, Hang Seng turun 3,03%, Nikkei 225 melemah 2,65%, dan KOSPI terkoreksi 3,52%. Shanghai Composite juga turun 1,48%.

Kinerja positif IHSG menunjukkan perbedaan arah dengan sejumlah bursa regional pada hari yang sama. Namun, satu hari penguatan belum cukup untuk memastikan pasar Indonesia telah terpisah dari tekanan global.

Di pasar valuta asing, JISDOR Bank Indonesia berada di Rp18.047 per dolar AS, dibandingkan Rp17.986 pada 21 Oktober. Kenaikan kurs dolar sebesar Rp61 menunjukkan pelemahan rupiah sekitar 0,34%.

Sehari sebelumnya, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00%, dan mempertahankan Lending Facility sebesar 6,50%.

Bank Indonesia juga memperkuat insentif instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk mendukung stabilisasi rupiah dan mendorong arus modal asing.

Keputusan tersebut memperlihatkan perhatian bank sentral terhadap stabilitas nilai tukar. Meski kebijakan moneter menjadi konteks penting perdagangan, data yang tersedia belum menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung antara keputusan BI dan rebound IHSG pada 22 Oktober.

Stabilitas rupiah tetap menjadi indikator yang relevan karena pergerakannya dapat memengaruhi ekspektasi arus modal, biaya pendanaan, dan valuasi sejumlah sektor.

Area 5.422 Menjadi Ujian Berikutnya

Penguatan 22 Oktober memberikan bukti awal bahwa permintaan pasar masih mampu mengangkat IHSG setelah tekanan besar pada awal perdagangan.

Sebanyak 10 sektor berakhir positif, saham likuid mengungguli indeks utama, dan penutupan tetap berada di bagian atas rentang harian.

Konfirmasi berikutnya memerlukan lebih dari sekadar kenaikan indeks.

Jika IHSG mampu melewati titik tertinggi 22 Oktober di 5.422,587, pergerakan tersebut akan lebih berarti apabila disertai kekuatan LQ45 dan IDX30, penguatan sektor yang tetap luas, serta tekanan jual asing yang mengecil.

Sebaliknya, pelemahan kembali di bawah penutupan sebelumnya pada 5.328,360 perlu diperhatikan apabila berlangsung bersama penyusutan jumlah saham menguat, pelemahan indeks likuid, dan penjualan bersih asing yang berlanjut.

Kedua angka itu merupakan titik observasi berdasarkan perdagangan terakhir, bukan batas support atau resistance yang sudah teruji melalui pergerakan berulang.

Perkembangan arus dana pada BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM juga layak dipantau karena saham-saham tersebut memiliki kontribusi penting terhadap indeks.

Ujian berikutnya bukan sekadar apakah IHSG kembali naik, melainkan apakah penguatan tersebut dapat bertahan dengan partisipasi pasar yang luas dan tekanan jual asing yang lebih terbatas.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes