Banyu Capital

IHSG Turun 1,69% dan Tutup Dekat Low, 533 Saham Melemah saat Asing Net Sell Rp672 Miliar di Pasar Reguler

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG menutup perdagangan 22 September 2026 dengan tekanan yang tetap luas. Breadth melemah, indeks saham likuid dan small-mid caps ikut turun, sementara net sell asing di pasar reguler jauh lebih besar daripada yang terlihat dari angka All Market.

Dashboard Market Notes EOD 22 September 2026 yang menampilkan pelemahan IHSG, breadth pasar, indeks saham likuid dan small-mid caps, serta foreign flow pasar reguler dan All Market
IHSG turun 1,69% pada 22 September 2026 dengan 533 saham melemah. Tekanan asing di pasar reguler mencapai Rp671,63 miliar, jauh lebih besar dibanding net sell Rp131,72 miliar di All Market. Sumber: Bursa Efek Indonesia, RTI Business, Stockbit/Stockbit Sekuritas, dan Bank Indonesia.

IHSG ditutup di 6.277,04, turun 107,68 poin atau 1,69%. Tekanan tetap luas hingga penutupan: 533 saham melemah, 10 dari 11 sektor berada di zona negatif, sementara IDX30, LQ45, dan indeks saham kecil-menengah ikut turun.

Tekanan juga terlihat dari arus asing di pasar reguler. Investor asing mencatat net sell Rp671,63 miliar di Regular Market, jauh lebih besar daripada net sell Rp131,72 miliar di All Market. Selisih tersebut terjadi karena transaksi Tunai dan Negosiasi mencatat net buy Rp539,91 miliar.

Karena itu, angka All Market saja memberi gambaran yang kurang lengkap mengenai tekanan asing pada perdagangan reguler hari itu.

IHSG Memantul dari Low, tetapi Tetap Berakhir di Bagian Bawah Rentang Harian

IHSG membuka perdagangan di 6.392,34 dan sempat naik ke 6.423,84 sebelum tekanan jual membawa indeks turun hingga 6.258,44.

Indeks kemudian memantul dan ditutup di 6.277,04, sekitar 18,61 poin di atas titik terendah hariannya. Pemulihan menjelang penutupan ada, tetapi belum cukup membawa IHSG keluar dari bagian bawah rentang perdagangan.

Dibanding posisi Midday di 6.313,57, IHSG kehilangan sekitar 36 poin lagi pada Sesi II. Jumlah saham melemah juga bertambah dari 513 menjadi 533, sementara saham menguat turun dari 147 menjadi 139.

Breadth dengan demikian memburuk sampai akhir perdagangan, meski tekanan indeks sempat mereda dari titik terendah intraday.

Breadth Tetap Lemah meski Consumer Cyclicals Berbalik Positif

Sebanyak 533 saham berakhir melemah, 139 menguat, dan 118 tidak berubah berdasarkan RTI Business.

Tekanan juga terlihat pada beberapa lapisan pasar. IDX30 turun 1,63%, LQ45 melemah 1,37%, IDX SMC Composite turun 1,36%, dan IDX SMC Liquid terkoreksi paling dalam sebesar 1,92%.

Kondisi sektoral sedikit membaik dibanding Midday. Seluruh 11 sektor masih negatif pada Sesi I, sedangkan Consumer Cyclicals berhasil berbalik naik 0,33% saat penutupan.

Energy menjadi sektor terlemah dengan penurunan 2,76%, diikuti Industrials 2,31%, Property & Real Estate 2,01%, dan Basic Materials 1,97%.

Kombinasi breadth negatif serta pelemahan saham likuid dan small-mid caps menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada satu kelompok kapitalisasi. Kembalinya Consumer Cyclicals ke zona hijau sekaligus menjadi batas untuk menyebut pelemahan terjadi secara seragam di seluruh pasar.

Net Sell Asing di Pasar Reguler Mencapai Rp671,63 Miliar

Investor asing mencatat pembelian sekitar Rp4,53 triliun dan penjualan Rp4,66 triliun di All Market. Secara agregat, transaksi tersebut menghasilkan net sell Rp131,72 miliar.

Gambarnya berbeda di pasar reguler. Asing mencatat net sell Rp671,63 miliar, sedangkan transaksi Tunai dan Negosiasi menghasilkan net buy Rp539,91 miliar.

Perbedaan tersebut membuat lokasi transaksi menjadi penting. Tekanan asing pada perdagangan reguler jauh lebih besar daripada yang terlihat dari angka All Market.

CARE mencatat net foreign buy sekitar Rp509,4 miliar di All Market, tetapi tidak masuk kelompok pembelian asing terbesar di Regular Market. Perbedaan tersebut konsisten dengan besarnya transaksi asing di luar pasar reguler pada hari itu. Data yang tersedia belum merinci distribusi transaksi CARE berdasarkan masing-masing venue.

Top 10 Net Foreign Buy Regular Market

Saham Net buy
TAPG Rp36,89 miliar
AADI Rp30,33 miliar
DEWA Rp27,60 miliar
MDKA Rp25,24 miliar
CUAN Rp24,12 miliar
SINI Rp22,41 miliar
LSIP Rp21,74 miliar
DSSA Rp21,59 miliar
AMMN Rp19,90 miliar
AALI Rp19,02 miliar

Top 10 Net Foreign Sell Regular Market

Saham Net sell
BBRI Rp339,42 miliar
TINS Rp110,75 miliar
BBCA Rp101,44 miliar
BMRI Rp85,24 miliar
TPIA Rp83,72 miliar
TLKM Rp54,41 miliar
BYAN Rp34,28 miliar
PTRO Rp30,48 miliar
MEDC Rp28,46 miliar
BRPT Rp24,04 miliar

BBRI mencatat tekanan asing terbesar, dengan net foreign sell sekitar Rp339,42 miliar. Nilainya lebih dari tiga kali posisi TINS yang berada di urutan kedua.

BYAN dan BBRI Menekan Indeks, tetapi Breadth Menunjukkan Tekanan Lebih Luas

BYAN menjadi penekan terbesar IHSG dengan kontribusi sekitar -20,75 poin, disusul BBRI sebesar -17,49 poin.

DSSA memberi tekanan sekitar -3,85 poin, DCII -3,83 poin, BRMS -3,72 poin, BMRI -3,26 poin, BUMI -2,94 poin, TLKM -2,77 poin, BREN -2,71 poin, dan BRPT -2,61 poin.

Sepuluh saham tersebut secara gabungan menyumbang sekitar 63,93 poin tekanan, setara sekitar 59,4% dari penurunan IHSG sebesar 107,68 poin.

Kontribusi tersebut menunjukkan bahwa saham berkapitalisasi besar tetap memainkan peran penting dalam pelemahan indeks. Namun dominasi 533 saham melemah, sepuluh sektor negatif, serta penurunan IDX30, LQ45, dan indeks small-mid caps menunjukkan tekanan tidak berhenti pada sepuluh saham tersebut.

Konfirmasi Berikutnya Ada pada Breadth dan Foreign Flow Reguler

Perdagangan berikutnya perlu menunjukkan apakah tekanan 22 September mendapat follow-through atau mulai kehilangan kekuatan.

Perbaikan breadth akan mendapat konfirmasi lebih kuat jika saham menguat kembali mendominasi dan pemulihan tidak hanya bergantung pada beberapa big caps.

Arus asing di Regular Market juga penting. Berkurangnya net sell, terlebih jika berbalik menjadi net buy, akan menunjukkan bahwa tekanan pada transaksi reguler mulai mereda.

Konfirmasi yang lebih kuat muncul jika perbaikan breadth berjalan bersama pemulihan IDX30, LQ45, dan IDX SMC Liquid. Sebaliknya, dominasi saham turun yang berlanjut bersama net sell asing reguler akan menjaga risiko tekanan lanjutan tetap terbuka.

Rupiah juga layak dipantau. JISDOR 22 September berada di Rp17.883 per dolar AS, dibanding Rp17.813 sehari sebelumnya. Pelemahan rupiah belum cukup untuk menjelaskan penurunan IHSG secara tunggal, tetapi tetap menjadi salah satu variabel risiko untuk sesi berikutnya.

Validasi berikutnya terletak pada apakah breadth, saham likuid, small-mid caps, dan arus asing reguler mulai pulih bersama atau kembali menunjukkan tekanan.

Sumber Data: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes