Banyu Capital

IHSG Kehilangan 115 Poin dari Midday dan Asing Catat Net Sell Rp1,22 Triliun, tetapi Tekanan Belum Merata

IHSG berakhir di 6.315,31, hanya sekitar 8,67 poin di atas titik terendah harian. Tekanan terutama terlihat pada BBCA, saham berkapitalisasi besar, dan indeks likuid, sedangkan tujuh sektor serta kelompok small-mid cap masih bertahan positif.

IHSG sempat berada di 6.430,15 atau naik 1,51% pada sesi pertama perdagangan Kamis, 23 Juli 2026. Seluruh sektor masih menguat dan investor asing mencatat net buy Rp164,60 miliar secara All Market.

Struktur pasar berubah pada sesi kedua. IHSG kehilangan hampir 115 poin dari posisi Midday dan ditutup turun 0,30%. Investor asing juga berbalik membukukan net sell Rp1,22 triliun. Konfirmasi rebound pada saham besar tidak bertahan, tetapi pelemahan belum berkembang menjadi tekanan yang merata di seluruh pasar.

Dashboard Market Notes EOD 23 Juli 2026 tentang IHSG turun ke 6.315 dan investor asing mencatat net sell Rp1,22 triliun
Dashboard Market Notes EOD 23 Juli 2026. IHSG kehilangan 114,84 poin dari posisi Midday dan ditutup di 6.315,31, sementara investor asing mencatat net sell Rp1,22 triliun. Sumber: IDX, RTI Business, Stockbit Sekuritas, dan Banyu Capital.

IHSG Ditutup Dekat Level Terendah setelah Sempat Menyentuh 6.454

IHSG dibuka di 6.346,62 dan sempat naik hingga 6.454,31. Indeks kemudian turun ke 6.306,65 sebelum berakhir di 6.315,31.

Dari posisi Midday, IHSG kehilangan sekitar 114,84 poin. Dari titik tertinggi harian, koreksinya mendekati 139 poin.

Struktur intraday tersebut memberi gambaran yang lebih lengkap daripada perubahan penutupan sebesar minus 0,30%. Pembelian pada sesi pertama tidak mampu mempertahankan indeks di atas 6.400, sedangkan tekanan masih terlihat menjelang penutupan.

Sejumlah indikator konfirmasi yang dipantau pada Midday juga tidak bertahan. IHSG kembali berada di bawah penutupan 22 Juli sebesar 6.334,48. Foreign flow berubah negatif, sektor finansial berbalik turun, sedangkan LQ45 dan IDX30 melemah lebih dalam daripada IHSG.

Meski demikian, satu sesi negatif belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh rebound beberapa hari terakhir telah berakhir. Penutupan ini masih perlu diuji melalui ketahanan area 6.300, arah arus asing, serta keluasan tekanan pada perdagangan berikutnya.

Foreign Flow Berubah Sekitar Rp1,39 Triliun dari Midday ke Penutupan

Investor asing mencatat net sell Rp1,22 triliun secara All Market. Berdasarkan data RTI Business, sekitar Rp712,21 miliar berasal dari pasar reguler, sedangkan Rp512,07 miliar berasal dari pasar tunai dan negosiasi.

Pada Midday, investor asing masih membukukan net buy Rp164,60 miliar. Perubahan posisi bersih dari sesi pertama menuju penutupan dengan demikian mencapai sekitar Rp1,39 triliun.

Pembalikan arus asing berjalan bersamaan dengan tekanan pada beberapa saham besar. Namun, angka agregat ini tidak berarti investor asing menjual seluruh pasar secara seragam.

Top 10 Estimasi Net Foreign Sell

Saham Estimasi nilai
BBCA Rp484,34 miliar
TPIA Rp367,86 miliar
ASII Rp130,28 miliar
BBRI Rp98,47 miliar
DSSA Rp89,74 miliar
BREN Rp54,66 miliar
BNBR Rp47,96 miliar
TLKM Rp32,44 miliar
ENRG Rp20,62 miliar
ERAA Rp20,49 miliar

Top 10 Estimasi Net Foreign Buy

Saham Estimasi nilai
CUAN Rp95,73 miliar
PTRO Rp90,43 miliar
AMMN Rp78,18 miliar
BRPT Rp57,26 miliar
BUMI Rp55,50 miliar
TINS Rp41,15 miliar
BRMS Rp35,82 miliar
AKRA Rp35,28 miliar
MDKA Rp33,73 miliar
KOTA Rp25,23 miliar

Nilai per saham merupakan estimasi Stockbit, bukan statistik resmi BEI. Polanya menunjukkan penjualan besar pada sejumlah big cap berlangsung bersamaan dengan pembelian selektif pada saham komoditas, pertambangan, dan beberapa saham non-bank.

BBCA dan Indeks Likuid Tertekan, tetapi Small-Mid Cap Masih Positif

BBCA menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi sekitar minus 19,86 poin. Angka tersebut sedikit lebih besar daripada total penurunan IHSG sebesar 19,17 poin.

ASII mengurangi indeks sekitar 6,11 poin, TLKM 4,61 poin, BBRI 4,38 poin, dan BMRI 3,27 poin. Secara agregat, lima saham tersebut menekan IHSG sekitar 38,23 poin.

Sebagian tekanan diimbangi oleh saham penguat. MPRO menyumbang sekitar 7,77 poin, BUMI 5,51 poin, AMMN 2,95 poin, BYAN 2,85 poin, dan EMAS 2,56 poin. CUAN, MLPT, DEWA, PTRO, dan MDKA juga memberi kontribusi positif.

Divergensi pasar terlihat pada indeks pembanding:

Indeks Perubahan
IHSG -0,30%
LQ45 -0,86%
IDX30 -1,05%
IDX Quality30 -1,35%
PEFINDO Prime Bank -1,75%
IDX Small-Mid Cap Composite +0,38%
IDX Small-Mid Cap Liquid +1,05%

Tekanan lebih berat terjadi pada saham berkapitalisasi besar, likuid, berkualitas, dan perbankan. Penurunan headline IHSG sebesar 0,30% karena itu tidak sepenuhnya menggambarkan tekanan pada pusat bobot dan likuiditas pasar.

Namun, tujuh sektor masih ditutup positif:

Sektor Perubahan
Properti dan real estat +3,13%
Non-cyclical +1,56%
Energi +1,52%
Transportasi dan logistik +1,33%
Teknologi +0,71%
Barang baku +0,23%
Infrastruktur +0,05%

Empat sektor yang melemah adalah industrial sebesar 1,32%, cyclical 1,16%, finansial 0,89%, dan kesehatan 0,10%.

Kekuatan sektoral memang menyusut dibanding Midday. Properti sebelumnya naik 4,46%, energi 4,32%, teknologi 2,83%, dan industrial 2,36%. Finansial yang sempat naik 0,22% juga berbalik negatif.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan belum menyebar secara merata. Namun, ketahanan tujuh sektor juga belum cukup menjadi konfirmasi pasar yang kuat selama saham besar, bank, dan arus asing masih berada di bawah tekanan.

Nilai Transaksi Melampaui Rata-Rata YTD, tetapi Komposisi Volume Perlu Diperhatikan

Nilai perdagangan saham mencapai Rp23,89 triliun, sekitar 4,7% di atas rata-rata harian YTD sebesar Rp22,82 triliun.

Volume mencapai 59,78 miliar saham, sekitar 50% di atas rata-rata YTD sebesar 39,86 miliar saham. Frekuensi transaksi mencapai 3,15 juta kali, atau 22,8% di atas rata-rata YTD sebesar 2,56 juta kali.

Aktivitas tinggi membuat perubahan intraday hari itu lebih material dibandingkan pergerakan yang terjadi dalam perdagangan sepi. Namun, volume tumbuh jauh lebih cepat daripada nilai transaksi.

BUMI mencatat volume sekitar 12,09 miliar saham atau 20,23% dari total volume perdagangan saham. BNBR, JGLE, ZATA, dan DEWA juga berada dalam kelompok saham dengan volume terbesar.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa lonjakan volume banyak dipengaruhi saham berharga nominal rendah. Total volume yang tinggi karena itu tidak otomatis menunjukkan perbaikan kualitas transaksi pada saham indeks.

Area 6.300 Menjadi Uji Terdekat bagi Struktur Pasar

Penutupan 23 Juli menempatkan pasar dalam kondisi divergensi. Harga, foreign flow, saham besar, dan indeks likuid menunjukkan tekanan. Mayoritas sektor serta kelompok small-mid cap belum ikut melemah.

Dalam base case, IHSG perlu mempertahankan area 6.306 sampai 6.300. Ketahanan pada area tersebut, disertai sektor dan small-mid cap yang tetap relatif kuat, akan mendukung pembacaan bahwa pasar masih mengalami rotasi, bukan koreksi luas.

Konfirmasi pemulihan yang lebih kuat memerlukan IHSG kembali melewati sekitar 6.334, kemudian merebut dan mempertahankan 6.400. Net foreign sell juga perlu menyusut, sementara BBCA, bank besar, LQ45, IDX30, dan sektor finansial perlu berhenti tertinggal.

Sebaliknya, tesis bahwa tekanan belum merata akan melemah apabila IHSG menembus 6.300, penjualan asing berlanjut, indeks small-mid cap ikut negatif, dan mayoritas sektor berbalik turun.

JISDOR berada di Rp17.915 per dolar AS, hanya melemah Rp6 dari sehari sebelumnya. Perubahan tersebut relatif terbatas, sehingga rupiah belum terlihat sebagai penjelasan utama pembalikan IHSG.

Hal yang perlu dibuktikan berikutnya bukan hanya apakah indeks kembali naik, tetapi apakah kenaikan tersebut didukung saham besar, arus asing, dan kepemimpinan sektor yang lebih seimbang.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes